NovelToon NovelToon
Hidden Lines

Hidden Lines

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Angst
Popularitas:9.1k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

Bebas dari tuduhan konspirasi penculikan yang dirancang mantan kekasihnya, Michaela Hokked (24) memilih mati demi melepaskan diri dari masa lalu yang busuk.

Namun, takdir memiliki selera humor yang kejam.

Pelariannya menuju Los Angeles hancur bersama taksi yang ia tumpangi dalam kecelakaan maut yang meremukkan wajahnya.

Enam bulan koma dan melewati enam
Kali operasi wajah, Michaela terbangun dengan rupa baru: wajah cantik milik Cecilia Lynch, wanita bermata teduh yang kecelakaan bersamanya.

Kini, Michaela terjebak sebagai 'Cecilia' di hadapan Killian Vale-Knight (28 th) pria berkuasa yang mengaku sebagai kekasih jarak jauh Cecilia.

Tanpa kecurigaan, keluarga miliarder itu menghujaninya dengan kasih sayang yang tak pernah ia miliki.

Namun, kenyataan pahit menghantam: Cecilia asli tewas dalam keadaan hamil, Mencuri identitas Cecilia adalah tiket kebebasannya, atau justru awal dari labirin misteri yang mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

001

...Hallo guys! Ini ADALAH CERITA BARU KU YANG KESEKIAN! 😂...

...Beranak pinak terus yaa, mohon maklum....

...First of all, sungkem dulu sama para pembaca setiaku yang masih stay dari Cerita sebelumnya. Utang tamat cerita sebelah belum lunas, eh tangan udah gatel bikin yang baru. 🙈...

...Author mau bilang MA'ACIW BANYAK buat kalian semua, para readers tersayang yang masih setia stay dan nggak capek baca tulisan-tulisanku 🫶🏻...

...Semoga cerita baru ini bisa bikin kalian senyum-senyum sendiri, atau minimal bikin kalian pengen garuk tembok bareng 🤣...

...Selamat membaca! 🌷...

...ΩΩΩΩΩ...

Riuh rendah suara bisik-bisik di dalam ruang sidang Pengadilan Tinggi Los Angeles siang itu bagaikan dengung lebah yang memenuhi kepala.

Udara pengap, aroma parfum mahal bercampur keringat kecemasan, dan kilatan lampu kamera dari balik pintu kaca yang sesekali terbuka membuat atmosfer semakin mencekam.

Semua orang di ruangan itu—mulai dari barisan kursi pengunjung, para jurnalis yang siap mencatat, hingga jaksa penuntut umum sedang menantikan satu hal: kesaksian dari seorang korban.

Rekaman drama hukum yang telah menyita perhatian publik selama Satu bulan terakhir kini mencapai puncaknya.

Di tengah pusaran ketegangan itu, Michaela Hokked duduk tegak di kursi tersangka.

Wanita berusia 24 tahun itu mengenakan kemeja putih sederhana yang tampak agak longgar di tubuhnya yang sedikit mengurus akibat masa penahanan.

Namun, tidak ada gurat ketakutan di wajahnya.

Sebaliknya, sebuah senyum sinis tersungging di sudut bibirnya yang dicat merah pudar.

Matanya yang tajam menatap lurus ke depan, tanpa raut wajah terkekang, tanpa kepasrahan, dan yang paling memicu amarah publik: sama sekali tanpa rasa bersalah.

Mengapa dia harus merasa bersalah untuk sesuatu yang tidak pernah dilakukannya?

Kasus penculikan anak berusia lima tahun yang dituduhkan atas namanya adalah sebuah lelucon besar.

Sebuah konspirasi murah yang dirancang dengan rapi untuk menghancurkannya.

Sampai detik ini, Michaela tidak pernah dan tidak akan pernah mengakui dakwaan tersebut.

Dia dijebak.

Mantan kekasihnya, bajingan sialan bernama Julian, telah menjebaknya hingga dia harus duduk di kursi ini.

Michaela mengingat kembali malam terkutuk satu bulan lalu.

Dia sama sekali tidak menculik bocah itu.

Hari itu, Julian datang mengetuk pintu kamarnya dengan napas terengah-engah, menggendong seorang anak laki-laki kecil yang tertidur lelap.

Julian, yang kebetulan juga merupakan tetangga di koridor flat tempat Michaela menyewa kamar di sudut kota San Francisco yang bising, memasang wajah paling melas yang pernah Michaela lihat.

"Dia keponakanku, Michaela. Ibunya kecelakaan dan sekarang di rumah sakit. Aku harus masuk sif malam di dermaga dan aku tidak tahu harus menitipkan dia pada siapa lagi. Tolong aku, hanya malam ini," Rintih Julian malam itu.

Di kota yang begitu besar, dingin, dan acuh tak acuh—Michaela luluh.

Dia menerima bocah itu.

Dia membuatkan susu, memasak sup hangat, dan menemaninya bermain lego hingga anak itu tertawa.

Siapa yang menyangka bahwa keesokan paginya, pintu kamarnya didobrak paksa oleh selusin agen kepolisian dengan senjata laras panjang?

San Francisco adalah kota metropolitan dengan jutaan penduduk dan teknologi forensik tercanggih, namun bisa-bisanya polisi-polisi itu menuduhnya sebagai pelaku utama penculikan anak hanya berdasarkan keberadaan bocah itu di kamarnya.

Julian menghilang bak ditelan bumi setelah malam itu, meninggalkan Michaela sebagai tumbal.

...oOo...

"Bisa kita mulai, Yang Mulia?" Suara bariton dari pengacara publik yang mendampingi Michaela memecah lamunan pahitnya.

Hakim ketua, seorang pria paruh baya dengan kacamata yang bertengger di ujung hidungnya, mengangguk.

"Silakan panggil saksi korban ke mimbar."

Pintu samping ruang sidang terbuka.

Seorang bocah laki-laki berusia lima tahun berjalan pelan, dituntun oleh seorang petugas pengadilan. Namanya Leo.

Begitu melihat Michaela, mata bulat bocah itu tidak memancarkan ketakutan.

Tidak ada histeria. Leo justru memberikan senyum kecil yang ragu-ragu ke arah Michaela.

Suasana sidang mendadak hening seketika saat Leo didudukkan di kursi khusus yang disesuaikan dengan tingginya.

Jaksa penuntut mendekat dengan senyum yang dipaksakan, berusaha tampak ramah di depan anak kecil.

"Leo, Sayang," ujar Jaksa dengan nada lembut yang terdengar memuakkan di telinga Michaela.

"Bisa kamu tunjukkan pada Paman Hakim, siapa orang yang membawamu pergi dari rumah dan mengurungmu di kamar yang gelap?"

Jaksa itu mengarahkan telunjuknya secara halus ke arah Michaela, berharap Leo akan langsung menunjuk wanita itu dan menangis.

Namun, di luar dugaan semua orang, Leo menggelengkan kepalanya yang berambut ikal.

"Bukan dia," suara cicit Leo terdengar jelas melalui pengeras suara.

Jaksa tertegun, senyumnya membeku.

"Leo, jangan takut. Wanita di sana itu, apakah dia yang menahanmu?"

"Bibi Michaela sangat baik padaku," ucap Leo lantang, jemari kecilnya memainkan ujung bajunya.

"Dia memberiku makan sup yang enak. Dia menyuapiku sampai habis. Padahal... padahal Mommy saja tidak pernah menyuapiku. Mommy selalu sibuk dengan ponselnya. Tapi Bibi Michaela sangat baik. Jangan tangkap dia. Jangan masukkan dia ke tempat jelek."

Boom.

Kata-kata jujur dari mulut seorang anak berusia lima tahun itu menghantam ruang sidang bak bom waktu yang meledak.

Bisik-bisik yang tadinya pelan kini berubah menjadi gemuruh kebingungan dan keterkejutan.

Para wartawan langsung mengetik dengan kecepatan tinggi di laptop mereka.

Di barisan kursi pengunjung bagian depan, seorang wanita dengan pakaian desainer bermerek dan riasan tebal—ibu kandung Leo—langsung berdiri dengan wajah merah padam karena malu sekaligus murka.

"Dia sudah diancam, Yang Mulia! Bocah itu sudah dicuci otaknya!" teriak wanita itu, suaranya melengking tinggi, memecah ketenangan ruang sidang.

"Wanita jalang itu pasti mengancam akan membunuhnya jika dia tidak mengatakan hal itu! Jangan percaya pada ucapan anak kecil! Dia penculik murahan!"

Michaela memutar bola matanya perlahan. Dia menatap wanita yang berstatus sebagai ibu Leo itu dengan pandangan merendahkan.

Dalam hati, Michaela mendengus sinis.

Wah, ibu sialan. Lihatlah dia. Dia sama sekali tidak peduli pada trauma anaknya. Dia hanya takut kehilangan muka, atau lebih tepatnya, dia pasti ingin memenangkan gugatan ini demi mendapatkan uang kompensasi psikologi anaknya yang bernilai ratusan ribu dolar. Menjijikkan.

"Harap tenang! Nyonya Miller, silakan duduk kembali atau Anda akan dikeluarkan dari ruang sidang!" tegur Hakim sambil mengetukkan palunya sekali.

Namun, Nyonya Miller tidak bisa dikendalikan.

"Tidak bisa, Yang Mulia! Anakku masih kecil, dia tidak tahu apa-apa! Dia ketakutan! Bagaimana bisa pengadilan ini mendengarkan pembelaan dari seorang anak kecil untuk pencuri murahan yang pantas membusuk di penjara?!"

"Tidak, Yang Mulia!" Leo tiba-kira berteriak, air mata mulai menggenang di pelupuk mata kecilnya karena melihat ibunya mengamuk.

"Mommy berbohong! Mommy yang bilang padaku kalau aku harus mengatakan Bibi Michaela jahat supaya kita bisa beli mobil baru! Mommy berbohong!"

Ruang sidang benar-benar pecah.

Riuh rendah kepanikan, makian, dan kepuasan batin berbaur menjadi satu.

Beberapa petugas keamanan segera bergerak maju untuk menahan Nyonya Miller yang mencoba merangsek ke arah mimbar saksi, sementara suaminya berusaha menarik wanita itu kembali ke kursinya dengan wajah yang menanggung malu luar biasa.

Fakta menjijikkan tentang eksploitasi anak demi uang asuransi dan ganti rugi kini telanjang di depan semua orang.

Jaksa penuntut terduduk lemas di kursinya, menyadari bahwa kasus yang mereka bangun dengan susah payah telah hancur berkeping-keping dalam hitungan menit oleh kejujuran seorang anak kecil.

Michaela tersenyum lebar kali ini.

Sebuah senyum kemenangan yang dingin.

Hakim ketua mengetukkan palunya berkali-kali ke atas bantalan kayu.

Tok! Tok! Tok!

Suara itu menggema kuat, membungkam seluruh ruangan yang tadinya seperti pasar malam.

Hakim memeriksa beberapa berkas di hadapannya, membetulkan letak kacamata, lalu menatap langsung ke arah Michaela dengan tatapan yang kini dipenuhi rasa sesal normatif.

"Berdasarkan kesaksian langsung dari saksi korban, serta kurangnya bukti material yang mengikat saudari terdakwa dengan motif penculikan terencana... maka dalam lima menit ini, pengadilan menyatakan bahwa Nyonya Michaela Hokked..."

Hakim menjeda sejenak, mengambil napas dalam. "...tidak bersalah. Dan dibebaskan atas segala tuduhan secara bersih dan mutlak."

Tok! Tok! Tok!

Ketukan palu terakhir itu terdengar bagai musik paling indah di telinga Michaela. Bebas. Dia akhirnya bebas.

Namun, saat pengacaranya menjabat tangannya dengan penuh suka cita, dan para petugas mulai melepaskan garis pembatas di sekelilingnya, tatapan mata Michaela mendadak berubah menjadi sedingin es.

Pikirannya tidak lagi berada di ruang sidang ini.

Pikirannya melesat keluar, menembus dinding-dinding beton, menuju ke sebuah tempat di mana seorang pria mungkin sedang bersenang-senang dengan uang yang didapat dari hasil menjebaknya.

Aku akan membunuhmu, brengsek, ucap Michaela Hokked dalam hati, membayangkan wajah tampan namun busuk milik Julian.

Satu bulan ini, hidupnya hancur.

Dia telah muak dengan kata 'tahanan rumah'.

Satu bulan mengenakan gelang pelacak elektronik di pergelangan kakinya, tidak bisa pergi ke mana-mana, kehilangan pekerjaannya dan yang paling parah: wajah dan fotonya terpampang jelas di majalah kriminal serta koran setiap pagi sebagai 'Predator Anak dari San Francisco'.

Setiap tetangga menatapnya seolah dia adalah monster.

Semua itu karena Julian.

Michaela berdiri dari kursinya, tidak sudi berlama-lama di dalam ruangan yang penuh kepalsuan itu.

Dia berjalan melewati koridor ruang sidang dengan kepala tegak, mengabaikan jepretan kamera para jurnalis yang kini berbalik arah mengejarnya untuk meminta maaf atau meminta komentar eksklusif.

Dan hakim, yang masih merapikan berkas-berkas di atas mejanya, hanya bisa menatap punggung wanita muda itu yang berjalan menjauh.

Ada sesuatu dari cara berjalan Michaela—sesuatu yang dingin, penuh dendam, dan berbahaya—yang membuat sang hakim sadar bahwa meski persidangan di ruangannya telah selesai, persidangan yang sesungguhnya di luar sana baru saja dimulai.

Langkah kaki Michaela menghentak keras di atas lantai marmer lobi pengadilan yang dingin.

Dia mengabaikan rentetan pertanyaan yang diteriakkan para wartawan yang menyodorkan mikrofon ke arah wajahnya.

Pengacara publiknya berusaha menahan kerumunan itu, memberikan Michaela ruang untuk melesat keluar menembus pintu kaca besar menuju pelataran gedung.

Udara siang yang panas langsung menerpa wajahnya. Untuk pertama kalinya dalam Tiga Puluh hari, tidak ada gelang pelacak yang memeluk pergelangan kakinya.

Tidak ada bayang-bayang penjara yang mengintai. Dia benar-benar bebas. Bebas secara mutlak.

Namun, alih-alih merasakan kelegaan yang membuncah, dada Michaela justru bergemuruh oleh lahar kemarahan yang sudah tertahan terlalu lama.

Begitu berhasil melepaskan diri dari kejaran media dan berdiri di sudut trotoar yang agak sepi di bawah bayangan pohon palem, Michaela merogoh tasnya.

Dia mengeluarkan ponselnya—benda yang selama satu bulan ini disita dan baru saja dikembalikan oleh petugas pengadilan.

Jarinya yang gemetar karena amarah menekan deretan nomor yang sudah sangat dihafalnya di luar kepala.

Nomor pria brengsek yang telah menariknya ke dalam masalah sampah ini.

Nomor Julian.

Michaela menempelkan ponsel itu ke telinganya.

Jantungnya berdentum gila-gilaan. Setiap nada sambung yang terdengar seperti hitungan mundur menuju ledakan.

Klik.

Panggilan itu tersambung.

Tidak ada suara dari seberang sana, hanya kedengaran helaan napas yang teratur dan samar-samar suara bising khas musik bar di latar belakang.

Julian tahu siapa yang menelepon.

Tanpa basa-basi, bendungan amarah Michaela pecah seketika.

"Heh, bajingan sialan!" maki Michaela, suaranya bergetar hebat, ditekan sedemikian rupa agar tidak menarik perhatian orang lewat namun sarat dengan racun yang mematikan.

"Kau pikir kau bisa lari setelah melemparkan kotoranmu padaku, hah?! Kau pria pengecut, sampah, tidak tahu diri! Kau menjebakku, Julian! Kau membiarkan aku membusuk di dalam tahanan atas perbuatan busukmu sendiri!"

Michaela menarik napas pendek, air matanya hampir menetes bukan karena sedih, melainkan karena tingkat kemurkaan yang sudah mencapai ubun-ubun.

"Satu bulan! Satu bulan hidupku hancur! Namaku busuk di seluruh negeri karena ulahmu, brengsek! Aku bersumpah demi apa pun, kau akan membusuk di neraka atas apa yang kau lakukan padaku!"

Di seberang saluran telepon, terdengar suara kekehan pelan yang teramat santai.

Suara tawa khas Julian yang dulu pernah Michaela cintai, namun kini terdengar seperti suara iblis yang paling memuakkan.

"Wow, tenanglah, sayang. Selamat atas kebebasanmu," ucap Julian dengan nada meremehkan yang amat kental.

Sama sekali tidak ada nada bersalah atau ketakutan dalam suaranya.

"Jangan panggil aku dengan sebutan menjijikkan itu!" bentak Michaela, cengkeramannya pada ponsel begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.

Julian tertawa lagi, kali ini lebih keras, seolah maki-maki Michaela hanyalah sebuah hiburan makan siang baginya.

"Lagipula, untuk apa kau semarah itu? Coba pikirkan lagi... bagaimana rasanya menjadi terkenal, huh? Bukankah dari dulu cita-citamu adalah ingin menjadi terkenal dan wajahmu masuk majalah?"

Darah Michaela terasa mendidih mendengarkan sarkasme murahan itu. Julian sengaja mengungkit impian masa mudanya hanya untuk menginjak-injak harga dirinya yang tersisa.

"Fotomu masuk koran setiap pagi, namamu dicari di Google oleh jutaan orang..." Julian melanjutkan dengan nada mengejek yang berpura-pura kagum.

"Harusnya kau berterima kasih padaku, Michaela. Aku membuatmu jadi bintang utama di kota ini."

"AKU BENAR-BENAR AKAN MEMBUNUHMU, BRENGSEK!!!!!"

Michaela berteriak dengan seluruh kekuatan pengorbanannya, tidak peduli lagi pada beberapa orang di trotoar yang kini menatapnya dengan pandangan ngeri.

Napasnya memburu hebat, matanya memerah menatap aspal jalanan.

Pip.

Julian memutus sambungan telepon itu secara sepihak.

Michaela menurunkan ponsel dari telinganya.

Layar benda digital itu menampilkan wajahnya yang kini mengeras bagai batu. Julian mengira ini adalah akhir dari leluconnya.

Julian mengira Michaela adalah mangsa lemah yang bisa dia permainkan lalu ditinggalkan begitu saja.

Pria itu salah besar.

Sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku dengan sentakan kasar, Michaela menatap lurus ke arah jalanan Los Angeles yang padat.

Gelar tersangka mungkin sudah lepas dari namanya, tetapi status baru telah dia sematkan untuk dirinya sendiri. Dia Tidak akan lagi jadi korban.

1
Mita Paramita
lanjut killian 🔥🔥🔥
Mita Paramita
😍😍😍
nayla tsaqif
Ini badainya udah berlalu belom,,,?? gk ada badai madam roses kan,,?? Barang kali madam tua itu tantrum,, 😌
Bakul Lingerie
Millian ga hadir? jgn2 Cecilia hamil sama Millian😅.. eh
Rosdianah 🌷: hihihi Millian Lapak sebelah ada cerita nya sendiri ya kak, Judulnya "My Fake Knight" 🫶🏻
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor 🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: Author Up besok ya kak🫶
total 1 replies
Bakul Lingerie
aku liat sinopsisnya berasa lagi baca novel terjemahan.. menarik...lanjooot
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak🫶
total 1 replies
Mia Camelia
sup ayam dan jus melon 🤔🤔🤔kombinasi sempurna tuh, jadi laper nih ngebayangiin nya🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: Hahah kak reader bisa aja 😅
total 1 replies
Sarinah Quinn
ceritanya pasti akan lebih rumit lagi bagi Michaela 😢 karena kalau nanti killian sudah mencintai nya maka Cecilia asli akan muncul dan mengambil tempat Michaela lebih menyakitkan lagi killian tidak bisa membedakan keduanya Krn wajah yang sama. kasian Michaela thor kenapa sih dia tidak mengaku SJ sebagai Michaela bukan Cecilia.... pokoknya jangan buat Michaela menderita lagi thor 🙏🙏🙏
Rosdianah 🌷: author ikut maunya kak reader 🤭
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍
Rosdianah 🌷: ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
Mita Paramita
udah jatoh ketiban tangga nih killian 😭😭😭 nyesek banget mesti melepas Mischa 🤣🤣🤣lagian jangan gengsi kalo suka sama istrinya kn sekarang situasi udah diujung tanduk nih 🤨🤨🤨
Rosdianah 🌷: ntar menyesal 🤣🤣
total 1 replies
Mita Paramita
killian panik kehilangan micha 🤣🤣🤣 gimana kalo kontrak nikah udh berakhir mungkin gak mau cerai nih 😈😈😈
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭🤣
total 1 replies
nayla tsaqif
Yg paling sedih disini,, rahim micha memiliki masalah pasca kcelakaan hasil sabotasemu yin,, dan kau memperburuknya dg obat kontrasepsi,, kau hampir menghancurkan harta berharga seorang wanita,,mommy pasti kecewa luar biasa, putranya menjadi seorang monster😌kutuk aja mom,, kutuk yin jadi marcusuar,, 😌
Rosdianah 🌷: huhuhu 🥲
total 1 replies
Mia Camelia
ehmmm hamil gak yah🤔🤔🤔
Rosdianah 🌷: aman kak🤣🤣
total 1 replies
Mia Camelia
hahaaha semua rencana killian ketauan semua🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: Mom memang paling peka🤭
total 1 replies
Mita Paramita
akhirnya micha bisa lepas dari killian berkat momy Suzy 🤣🤣🤣🤣
Rosdianah 🌷: mommy best🥳🤭
total 1 replies
Mita Paramita
killian gagal total rencana licik ny udah dibongkar orang tua ny 🤣🤣🤣 semoga micha cepet Hamidun 🔥🔥🔥
Rosdianah 🌷: hehehe iya kak
total 1 replies
Mita Paramita
😍😍😍 keren visual nya
Rosdianah 🌷: Ma'aciww kak 🫶
total 1 replies
nayla tsaqif
Good job daddy mommy,, 👏👏👏🥰
Rosdianah 🌷: yeee🥳
total 1 replies
Ainun Mahya
mana nih lanjutannya kak😄
Rosdianah 🌷: Nanti malam ya kak🤭🤣
total 1 replies
Mita Paramita
lanjut Thor yang banyak 🤣🤣🤣
itu Mischa kenapa muntah? mungkin kah hamil 🤨🤨🤨
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!