NovelToon NovelToon
Mencintai Istri Pria Lain

Mencintai Istri Pria Lain

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:14.5M
Nilai: 4.9
Nama Author: Bundew

"Kenapa kau suka sekali ikut campur dengan urusan pribadiku?"

"Karena aku sedang mencari celah untuk mendekatimu dan merebut dirimu dari suamimu yang brengsek itu," jawab Hansel blak-blakan.

Jatuh cinta pada seorang gadis bukanlah hal yang memalukan. Tapi bagaimana jika ternyata kau jatuh cinta pada seorang wanita yang berstatus sebagai istri dari pria lain?

Hal inilah yang dirasakan oleh seorang Hansel Abraham. Hansel jatuh cinta pada Hanni, perawat pribadinya yang saat ini menyandang status sebagai istri dari Raymond Damara.

Langkah apa yang akhirnya akan diambil oleh seorang Hansel Abraham?
Apakah Hansel akan merelakan Hanni tetap bersama Raymond?
Atau Hansel akan menggunakan segala cara untuk merebut Hanni dari pelukan Raymond?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bundew, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MENGUPING

Setelah menghubungi perawat yang menjaga bu Halimah, Hanni ganti mengirim pesan pada Raymond.

[Hai, maaf baru bisa membalas pesanmu. Aku baik-baik saja, Ray. Apa acaramu hari ini lancar?] -Hanni-

Lima menit....

Sepuluh menit....

Lima belas menit....

Tidak kunjung ada balasan pesan dari Raymond.

Hanni mencoba berpikir positif. Mungkin acaranya memang belum selesai.

Hanni menyimpan ponselnya ke dalam saku dan memilih untuk merebahkan dirinya di atas sofa. Hanni melirik sekilas ke ranjang Hansel, tuan muda itu sepertinya sudah tidur nyenyak.

Baiklah, Hanni juga akan tidur sebentar.

Hanni baru sejenak memejamkan matanya saat tiba-tiba ponselnya bergetar menadakan ada panggilan masuk.

Raymond.

Hanni kembali melirik ke ranjang Hansel. Tidak ada pergerakan.

Sepertinya tidak masalah jika Hanni bicara pada Raymond disini. Hansel sudah tidur, jadi tuan muda itu tak mungkin mendengarnya.

"Halo, Ray," sambut Hanni setelah mengangkat panggilan dari Raymond.

"Halo, Sayang. Kau sedang dimana? Aku menelponmu sedari pagi dan kau tidak mengangkatnya," cecar Raymond khawatir.

"Iya, maaf. Aku sedang bekerja, Ray. Jadi aku tidak tahu kau menelpon," jawab Hanni tergagap.

"Kamu kerja? Kerja dimana?" Cecar Raymond sekali lagi.

"Iya, ada yang menawariku pekerjaan. Dan kebetulan aku sedang butuh uang untuk membeli obat ibu. Jadi aku mengambilnya," Hanni menjelaskan.

"Maaf, Han! Seharusnya kau dan ibu menjadi tanggung jawabku," nada bicara Raymond terdengar sedih.

"Tidak apa, Ray! Jangan menyalahkan dirimu seperti itu. Ini semua bukan salahmu. Perusahaanmu juga sedang bermasalah, jadi aku benar-benar tidak mau membebanimu," Hanni berusaha menghibur Raymond.

"Terima kasih, Han!"

"Kenapa berterimakasih?" Tanya Hanni bingung.

"Terima kasih karena sudah menjadi istri yang pengertian," ucap Raymond tulus.

Tes!

Airmata Hanni meluncur tanpa permisi. Secepat kilat, Hanni menghapusnya.

"Bagaimana acaramu bersama Renata hari ini? Apa semuanya berjalan lancar?" Suara Hanni bergetar saat mengucapkan nama Renata. Ada sesak yang sedang Hanni tahan saat ini.

Airmata Hanni kembali jatuh di kedua pipinya. Hanni berulang kali menarik nafas panjang dan menguatkan hatinya.

"Ya, aku dan Renata sudah resmi menjadi suami istri sekarang," jawab Raymond lesu.

"Maafkan aku, Hanni! Aku janji ini tidak akan lama," suara Raymond terdengar tercekat.

Hanni rasa pria itu juga sedang menangis sekarang.

Hanni sendiri sudah tidak mampu berkata-kata.

Lidah Hanni terasa kelu, dan dada Hanni begitu sesak. Hanni berulang kali menyeka airmata di kedua pipinya, namun sepertinya hanya sia-sia.

Airmata bodoh itu terus saja turun dan mengalir di kedua pipi Hanni.

"Ray!" Panggil Hanni lirih.

Hanni bahkan tak tahu lagi hendak berucap bagaimana.

"Aku benar-benar minta maaf, Hanni! Aku memang suami yang bodoh dan tak berguna," sesal Raymond yang terus saja menyalahkan dirinya sendiri.

"Ray, aku baik-baik saja," Hanni kembali menyeka airmatanya.

"Kau suamiku yang terbaik Ray. Aku mencintaimu," ucap Hanni menahan sesak di dadanya.

"Aku juga mencintaimu, Hanni. Aku harus pergi sekarang. Aku akan menelponmu lagi nanti," pungkas Raymond mengakhiri panggilannya.

Hanni belum sempat menjawab, dan Raymond sudah mematikan begitu saja teleponnya. Hanni hanya bisa menatap lesu pada layar ponselnya. Masih terpajang dengan manis fotonya bersama Raymond dua tahun yang lalu saat mereka resmi menyandang status sebagai sepasang suami istri.

Hanni memandangi cincin yang melingkar di jari manisnya. Berulang kali Hanni mengecupnya. Saat ini Hanni sangat merindukan Raymond.

Hanni dan Raymond berada di kota yang sama, namun Hanni belum ada kesempatan untuk menemui Raymond.

"Jadi, siapa Renata? Selingkuhan suamimu?" Suara dari Hansel yang sudah duduk di atas ranjangnya membuat Hanni terlonjak kaget.

Sejak kapan tuan muda kepo itu bangun?

Apa dia menguping pembicaraan Hanni dan Raymond barusan?

Seharusnya Hanni tadi menerima telpon dari Raymond di teras saja atau di dalam kamar mandi.

Hanni tak berhenti merutuki kebodohannya. Wanita itu menyeka sisa-sisa airmata di wajahnya dengan kasar.

Hansel tersenyum mengejek.

"Jadi, apa semua wanita memang sebodoh dirimu? Sudah diselingkuhi tapi masih bilang aku mencintaimu. Seperti tidak ada harga diri saja," cecar Hansel seraya berdecih.

"Tidak perlu sok tahu jika anda tidak tahu keadaan yang sebenarnya!" Gertak Hanni galak.

"Apa sekarang kau ingin marah-marah kepadaku karena suamimu selingkuh?" Sahut Hansel tak kalah galak. Mata pria itu sudah melotot tajam ke arah Hanni.

Hanni membuang pandangannya dan hendak keluar dari kamar Hansel.

"Kau mau kemana? Jam kerjamu belum selesai!" Tegur Hansel marah.

Hanni menghentikan langkahnya.

"Kesini!" Perintah Hansel masih dengan nada kasar dan marah.

Bahu Hanni naik turun menahan emosi yang sudah membuncah di dadanya. Namun wanita itu bisa apa sekarang selain menurut pada tuan muda temperamental itu?

Hanni mendekat ke ranjang Hansel.

"Lebih dekat!" Bentak Hansel lagi.

Hanni mendekatkan dirinya ke arah tuan muda pemarah tersebut.

Apa boleh jika Hanni mencekiknya sekarang, agar pria ini berhenti marah-marah?

Hansel meraih tangan Hanni dengan kasar lalu melepaskan cincin yang ada di jari manis Hanni dengan kasar juga.

"Apa yang anda lakukan?" Hanni berontak.

Tapi Hansel sudah terlanjur melepas cincin itu sekarang.

"Untuk apa menangisi suami yang sudah mengkhianatimu? Kenapa tidak bercerai dan membuang saja cincin murahan ini?" Ucap Hansel seraya menunjukkan cincin yang sudah terlepas dari jari Hanni.

"Kembalikan!" Hanni berusaha merebut kembali cincinnya.

Namun Hansel malah melempar cincin kecil itu ke sembarang arah. Dan sekarang cincin itu hilang tak tahu rimbanya.

"Apa yang sudah anda lakukan?" Hanni melempar tatapan tajam ke arah Hansel. Mata wanita itu kini berkaca-kaca.

"Aku baru saja menyelamatkanmu dari seorang suami brengsek. Bukankah seharusnya kau berterima kasih?" Jawab Hansel enteng.

Hanni mencari-cari cincinnya ke setiap sudut kamar sambil berurai airmata.

"Hanni!" Panggil Hansel.

Hanni pura-pura tuli dan terus saja melanjutkan mencari cincinnya yang hilang.

"Hanni!!" Panggil Hansel sekali lagi dengan nada yang lebih tinggi.

Hanni masih tak menyahut.

"Hanni apa kau tuli?!"

Praaang!!

Hansel melempar gelas yang ada di atas nakas ke tembok kamar.

Hanni menghentikan aktivitasnya karena kaget. Wanita itu menatap ke arah Hansel dengan wajah yang sudah penuh airmata.

"Aku memanggilmu berulang kali. Apa kau tidak punya telinga?" Sergah Hansel yang kini wajahnya merah padam menahan amarah.

Hanni mendekat ke arah Hansel seraya menundukkan kepalanya. Sesekali tangan Hanni menghapus airmata yang masih memenuhi wajahnya.

"Maaf," ucap Hanni lirih.

"Duduk!" Perintah Hansel seraya menepuk ruang kosong di atas tempat tidur tepat disampingnya.

Hanni masih diam mematung.

"Duduk! Apa kau tuli?" Perintah Hansel sekali lagi dengan nada meninggi.

Secepat kilat, Hanni segera duduk di samping tuan muda tersebut.

"Anda butuh sesuatu?" tanya Hanni tergagap.

Hansel tak menjawab sepatah katapun dan malah meraup Hanni kedalam pelukannya.

"Kau ingin menangis? Menangislah sepuasmu dan tidak perlu menahannya!"

.

.

.

Terima kasih yang sudah mampir hari ini.

Jangan lupa like dan komen.

Untuk yang ingin vote karya ini, bisa klik pita ungu bertuliskan "lomba update tim" agar vote kalian masuk dan terhitung sebagai dukungan untuk othor. Terima kasih 😙

1
lantol
raymon serakah
syh 03
Luar biasa
inayah machmud
Hanni ga inget kalo sudah lepas kb.
inayah machmud
😭😭😭😭😭
Titik Novrianti
emang bodoh bin goblok lh si hanni ini
sintesa destania
sumpah ku menangisssss
sintesa destania
dan kenapa aku manengis tersedu sedu sekali😭😭😭
sintesa destania
kok aku sakit hati ya
Sri Wahyuni
💪💪💪👍👍👍💐💐🌼🌼🌻🌻💗💗❤💐🌼💐💐
minarni 0714
Luar biasa
inayah machmud
calon anak mu lagi protes Hansel karena kelaparan. 🤭😂😂😂😂😂
inayah machmud
gimana Hani gak hamil orang kamu garap sampai pagi.
Vien Habib
Luar biasa
Lilisdayanti
nyimak dulu 🤭🤭 aahhhh apa ya judul nya ko aqu ga perhatikan tadi 🤭🤭
Lilisdayanti
iyakah,,ber alibi kebanyakan tipu daya 🤭
ayu nuraini maulina
Hans bego
ayu nuraini maulina
ap Hans g ingat pas anu2 sama hani
ayu nuraini maulina
11 12 Kaka beradik sama2 keras
ayu nuraini maulina
tensi naik hans
ayu nuraini maulina
elo ng suami goblok yg masih d ketek ortumu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!