Lin Tian lahir dengan seluruh meridian tertutup rapat. Di mata dunia kultivasi, ia tak lebih dari sampah—mustahil menyerap qi, mustahil berdiri sejajar dengan siapa pun. Namun di balik tubuh "cacat" itu, tersimpan sebuah segel kuno yang justru menjadi alasan keluarganya dibantai hingga tak bersisa.
Ketika seorang pengembara tua bernama Mo Cang membuka segel tersebut, Lin Tian akhirnya mengenal qi untuk pertama kali. Sayang, kebahagiaannya hanya bertahan sebentar. Musuh lama sang guru datang, dan Mo Cang tewas di hadapannya.
Kehilangan keluarga. Kehilangan harga diri. Kini kehilangan satu-satunya orang yang menganggapnya anak.
Dari abu tragedi itu, bangkitlah seorang kultivator yang tak kenal ampun. Ia tidak membunuh demi kesenangan—tapi siapa pun yang menghalangi jalannya, tak akan pernah melihat matahari esok hari.
Istana Langit Hitam telah memilih mangsa yang salah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Restu Agung Nirwana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7 - Sumpah di Atas Abu
Rasa sakit di bahu kanannya membangunkan Lin Tian dari ketidaksadaran. Bau tanah gosong dan darah kering langsung menyerbu hidungnya. Ia membuka mata, mendapati dirinya terbaring di antara reruntuhan altar dewa kota.
Langit di atasnya tidak lagi merah. Kabut darah formasi telah lenyap, digantikan oleh fajar yang kelabu dan dingin. Hujan gerimis mulai turun, membasahi jubah compang-campingnya yang keras oleh lumpur dan darah.
Lin Tian memaksakan dirinya duduk. Setiap inci ototnya menjerit protes. Tulang rusuknya terasa bergeser, dan napasnya tersenggal membawa rasa amis di tenggorokan. Namun, rasa sakit fisik itu tidak ada artinya dibandingkan lubang menganga di dadanya.
Bayangan Zhao Yan yang menginjak kepala Mo Cang terus berputar di kepalanya, sejelas siang hari.
Ia tidak berteriak. Ia tidak menangis. Air matanya seolah telah menguap bersama ledakan qi perak gurunya tadi malam. Lin Tian memungut pedang beracun yang tergeletak di dekatnya, menggunakan bilah itu sebagai tongkat untuk menyeret tubuhnya berdiri.
Ia harus kembali ke pusat kota. Ia harus menemukan jasad kakek tua itu.
Perjalanan menuju alun-alun kota terasa seperti berjalan di neraka. Kota Qingshui telah rata dengan tanah. Rumah-rumah kayu hangus menjadi arang, dan jalanan dipenuhi oleh mayat-mayat yang hangus. Tidak ada suara tangisan, tidak ada suara anjing menggonggong. Hanya kesunyian yang memekakkan telinga.
Di tengah kawah raksasa bekas benturan qi perak dan formasi darah, Lin Tian menemukan apa yang ia cari. Tubuh Mo Cang terbaring telentang. Jubah abu-abunya hancur lebur, menyisakan kain yang menyatu dengan daging yang terbakar.
Dan tepat seperti yang dilihat Lin Tian tadi malam, kepala pria tua itu sudah tidak ada.
Lin Tian berlutut di samping jasad tanpa kepala itu. Tangannya yang gemetar meraih ke leher gurunya, menyentuh potongan daging yang menghitam. Di samping tangan kanan Mo Cang yang kaku, tergeletak sebuah labu arak kayu yang retak menjadi dua.
Cairan bening yang biasa diminum pria tua itu telah tumpah, bercampur dengan darah dan air hujan.
Lin Tian memungut pecahan labu itu. Kayu itu masih terasa hangat, seolah menyimpan sisa detak jantung pemiliknya. Ia menggenggamnya erat-erat hingga ujung kayu yang patah menusuk telapak tangannya. Darah segar menetes dari celah jarinya, jatuh menimpa dada Mo Cang yang berlubang.
"Kakek," suara Lin Tian terdengar serak, pecah di tenggorokannya. "Kau bilang dunia kultivasi tidak mengenal kata tidak bersalah. Kau bilang kebaikan akan menjadi racun. Tapi kau mati karena melindungiku."
Tidak ada jawaban. Hanya suara angin yang menderu melewati reruntuhan kota. Lin Tian memasukkan pecahan labu arak itu ke dalam pakaiannya, tepat di dekat jantungnya. Ia menyarungkan pedang beracunnya, lalu mulai menggali tanah dengan tangan kosong.
Qi di dantiannya yang baru terbuka ia salurkan ke kedua telapak tangan. Energi liar itu masih sulit dikendalikan, sering kali meledak dan merobek kulit jarinya sendiri. Namun Lin Tian tidak peduli.
Ia terus mencangkul tanah keras itu dengan tangan kosong, mengabaikan kuku-kukunya yang patah dan berdarah.
Butuh waktu tiga jam baginya untuk membuat lubang yang cukup dalam. Ia mengangkat tubuh Mo Cang dengan hati-hati, membaringkannya di dalam liang lahat. Tanpa nisan, tanpa batu peringatan. Hanya gundukan tanah basah yang ia tutupi dengan batu-batu besar agar tidak digali oleh binatang buas.
Lin Tian berdiri di depan gundukan tanah itu. Hujan gerimis semakin deras, membasahi rambutnya yang lepek. Ia menatap ke arah utara, arah di mana Zhao Yan dan anjing-anjing Istana Langit Hitam menghilang.
"Istana Langit Hitam," bisik Lin Tian. Suaranya pelan, namun membawa berat yang seolah mampu membelah hujan. "Zhao Yan. Siapa pun yang memegang pisau, memberi perintah, atau sekadar menutup mata."
"Aku akan memotong akar kalian. Aku akan merobek sekte kalian. Aku akan membunuh sampai tidak ada satu pun dari kalian yang tersisa untuk dikuburkan."
Sumpah itu tidak diucapkan dengan teriakan histeris. Itu adalah janji yang dipahat ke dalam tulang sumsumnya, dingin dan mutlak. Lin Tian berbalik, meninggalkan Kota Qingshui yang mati tanpa menoleh sedikit pun.
Ia tahu ia tidak bisa tinggal di sini. Ledakan qi tadi malam pasti menarik perhatian faksi-faksi lain. Zhao Yan mungkin terluka parah, tetapi Istana Langit Hitam memiliki ribuan mata. Dengan kultivasi Pengumpulan Qi tingkat satu yang bahkan belum stabil, ia hanyalah semut yang bisa diremas kapan saja.
Lin Tian berjalan menuju Hutan Pegunungan Ular di sebelah barat kota. Itu adalah satu-satunya tempat yang cukup berbahaya untuk menyembunyikan jejaknya dari para pemburu. Di dalam hutan itu, ia harus menstabilkan dantiannya dan mempelajari dasar-dasar sirkulasi qi yang diajarkan Mo Cang.
Baru setengah hari berjalan menyusuri jalur setapak yang sempit, tubuh Lin Tian tiba-tiba terhenti. Rasa panas yang tidak wajar menjalar dari pusarnya, langsung menyebar ke seluruh pembuluh darahnya. Dantiannya bergetar hebat, seolah ada api yang membakar di dalam perutnya.
Lin Tian jatuh berlutut, mencengkeram perutnya sambil terengah-engah. Keringat dingin membasahi wajahnya dalam hitungan detik. Ia ingat peringatan Mo Cang saat segelnya dibuka paksa.
Segel ini telah menutup meridianmu sejak lahir, Tian'er. Membukanya dengan paksa berarti meridianmu belum beradaptasi dengan aliran qi langit dan bumi. Jika kau tidak segera menstabilkannya dengan teknik sirkulasi, dantianmu akan meledak dalam tiga hari.
Rasa sakit itu datang bergelombang, membuat pandangannya kabur. Qi liar di dalam tubuhnya mulai menabrak dinding meridian yang rapuh, mencari jalan keluar secara paksa. Jika ia tidak menemukan tempat aman untuk bermeditasi dan mengatur napas sekarang, ia akan mati konyol di pinggir jalan.
Lin Tian memaksakan dirinya berdiri, menyeret kakinya masuk ke dalam kerimbunan Hutan Pegunungan Ular. Ia harus menemukan gua atau celah batu untuk bersembunyi. Namun, baru sepuluh langkah ia masuk ke dalam bayangan pepohonan raksasa, telinganya yang tajam menangkap suara dahan patah.
Bukan suara binatang. Langkah kaki itu terlalu berat dan terukur. Lin Tian segera menjatuhkan tubuhnya ke balik semak berduri, menahan napasnya. Melalui celah dedaunan, ia melihat tiga sosok berjubah biru tua berjalan menyusuri jalur setapak.
Di dada jubah mereka, terdapat sulaman berbentuk pedang perak yang melingkar. Lambang Sekte Pedang Perak. Salah satu sekte besar yang berkuasa di wilayah ini. Namun, yang membuat darah Lin Tian membeku bukanlah lambang sekte mereka.
Pemimpin dari ketiga orang itu memegang sebuah kompas perunggu yang jarumnya berputar liar. "Jejak qi-nya berhenti di sekitar sini," kata pria berjubah biru itu, matanya menyapu semak belukar. "Tuan Zhao dari Istana Langit Hitam membayar mahal untuk kepala bocah ini. Cari sampai dapat."
Lin Tian mencengkeram gagang pedang beracunnya. Dantiannya yang terbakar terasa semakin sakit, tetapi matanya menatap ketiga pemburu itu dengan kilatan gelap. Ia belum bisa menggunakan qi dengan sempurna, dan tubuhnya sedang di ambang kehancuran. Tetapi anjing-anjing ini baru saja menghalangi jalannya.
Ia tahu tiga orang ini berada di tahap Pengumpulan Qi tingkat tiga atau empat. Dalam kondisi normal, ia tidak akan memiliki harapan untuk menang. Namun, qi liar yang membakar dantiannya saat ini justru memberinya ledakan tenaga sesaat yang brutal.
Lin Tian perlahan mengatur napas, membiarkan rasa sakit di perutnya menajamkan fokusnya. Ia tidak akan lari. Lari hanya akan memancing insting berburu mereka. Satu-satunya cara untuk bertahan hidup dari anjing-anjing pelacak adalah dengan memenggal kepala mereka lebih dulu.
Tangan kirinya meraba tanah, menggenggam segenggam abu dan kerikil tajam. Otot-otot kakinya menegang pelan, mengumpulkan sisa tenaga untuk satu serangan kejutan. Pria berjubah biru itu melangkah lebih dekat, ujung sepatunya hanya berjarak tiga langkah dari semak tempat Lin Tian bersembunyi.
Kompas perunggu di tangan pria itu tiba-tiba bergetar lebih kencang, jarumnya menunjuk lurus ke arah dada Lin Tian. "Dia ada di sini!" seru pria itu, langsung menghunus pedangnya.
Namun, sebelum bilah baja itu sempat terlepas sepenuhnya dari sarung, bayangan hitam sudah melesat keluar dari semak berduri. Lin Tian menebarkan abu dan kerikil tepat ke wajah pria itu, disusul oleh ayunan pedang beracun yang menyasar leher.