NovelToon NovelToon
Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Tangan Emas: Dokter Muda dengan Sistem Ilahi

Status: sedang berlangsung
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter
Popularitas:5k
Nilai: 5
Nama Author: Elang

"Surya Pratama hanyalah seorang dokter magang miskin di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Diputusin pacarnya di depan umum, dihina oleh si kaya Kevin Hartono — hidupnya hancur.

Tapi di saat paling rendah, sebuah **Sistem Dokter Ilahi Super** terbangun dalam pikirannya.

Setiap nyawa yang ia selamatkan mengisi **Botol Pahala**. Setiap botol yang penuh membuka kemampuan baru: **Tangan Emas** yang membuat tangannya tak pernah gemetar, **Mata Tembus** yang melihat menembus tubuh manusia, **Mimpi Ilahi** yang membaca ingatan terakhir orang mati.

Level demi level, Surya naik — dari dokter magang yang diremehkan semua orang menjadi Kepala IGD termuda dalam sejarah rumah sakit."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9 — Batas yang Dijaga

Nama dr. Anindya Kusuma langsung membuat ruang jaga ramai.

"Lulusan terbaik programnya," kata Rizki sambil membaca profil internal. "Nilai akademiknya bikin nilai kita kelihatan seperti nomor antrean."

Pintu terbuka.

Seorang perempuan berjas putih masuk dengan langkah tenang. Rambutnya diikat rapi, kartu identitas tergantung lurus, dan sebatang permen lolipop berada di sudut bibirnya.

"Siapa yang nilainya seperti nomor antrean?" tanyanya.

Rizki menunjuk Surya tanpa ragu. "Dia."

Anindya memandang Surya dari kepala sampai kaki. "Dokter yang membuka dada orang di McDonald's?"

"Kalau itu pujian, saya terima."

"Belum tentu. Saya mau lihat rekam operasinya dulu."

Itulah cara Anindya bergabung dengan IGD: tanpa basa-basi, tanpa terpesona oleh julukan Tiga Pendekar, dan tanpa sedikit pun niat menjadi pengikut siapa pun.

Dalam beberapa minggu berikutnya, nama Surya terus bergerak dari satu bagian ke bagian lain. Bedah Ortopedi memintanya membantu kasus sulit. Onkologi memanggilnya saat batas tumor tidak jelas. IGD menyerahkan pasien yang diagnosisnya membingungkan.

Surya juga menggunakan Kapsul Memori pada satu malam tanpa jadwal jaga. Selama delapan jam, dia membaca atlas anatomi, protokol onkologi, jurnal endokrin reproduksi, dan laporan kasus langka. Setiap tabel, gambar, serta catatan kaki tersimpan sejelas saat pertama dilihat.

Rizki menemukannya pagi-pagi dengan enam buku terbuka.

"Lo belum tidur?"

"Sudah selesai belajar."

Rizki mengambil satu jurnal berbahasa Inggris dan membuka halaman acak. "Kalau benar hafal, baris ketiga halaman ini apa?"

Surya mengucapkannya kata demi kata, lalu membetulkan satu istilah yang salah cetak.

Rizki menutup jurnal perlahan. "Gue memutuskan tidak akan pernah belajar bareng lo lagi. Ini merusak harga diri."

Pengetahuan tersebut tidak menaikkan Level secara otomatis. Namun kini Surya memiliki landasan ilmiah untuk menjelaskan kemampuan bedahnya dan mengurangi ketergantungan pada insting yang tidak bisa dia ungkapkan kepada siapa pun.

Botol Pahala terisi, penuh, lalu kosong kembali.

Pada satu putaran, sistem meningkatkan daya tarik personalnya hingga sembilan puluh persen. Wajah Surya tetap sama. Orang lain kini lebih mudah menangkap ketenangan dan keyakinannya saat berbicara.

Pada putaran berikutnya, dia memperoleh pemahaman tingkat dunia tentang terapi kanker payudara.

Namun hadiah terberat datang dalam bentuk pasien.

Seorang ibu membawa putrinya yang berusia tiga belas tahun dengan benjolan pada payudara. Pemeriksaan ultrasonografi kategori lima dan biopsi memastikan kanker. Lebih buruk lagi, kadar estrogen pasien sangat tinggi dan tubuhnya menghasilkan sel telur dalam jumlah abnormal karena kondisi bawaan langka.

"Mengangkat tumor saja tidak cukup," kata Surya dalam rapat keluarga. "Pemicu hormonalnya harus dikendalikan. Salah satu pilihan adalah mengangkat jaringan payudara yang terdampak, kelenjar aksila yang perlu, dan satu ovarium yang menjadi sumber dominan. Ovarium lainnya dipertahankan."

Ibu pasien berdiri dengan wajah marah. "Anak saya baru tiga belas tahun. Dokter mau mengambil masa depannya?"

"Karena dia masih tiga belas tahun, keputusan ini tidak boleh terburu-buru," jawab Surya. "Kami akan libatkan Onkologi, Obgin, psikolog anak, dan komite etik. Saya tidak menjanjikan tanpa dampak. Saya menjanjikan kami akan melindungi nyawanya sekaligus mempertahankan fungsi sebanyak mungkin."

Anindya yang duduk di seberang meja menambahkan, "Menolak operasi juga keputusan besar. Bedanya, kanker tidak menunggu sampai keluarga siap."

Nada suaranya dingin, tetapi dia mendorong kotak tisu ke arah ibu tersebut.

Setelah dua kali konseling, opini kedua, dan persetujuan keluarga, operasi dilakukan. Surya memimpin di bawah supervisi Pak Hendra, dengan tim Onkologi dan Obgin berada di meja yang sama.

Tiga setengah jam kemudian, tumor terangkat, kelenjar yang terlibat ditangani, dan hanya satu ovarium yang harus diangkat. Organ yang lain dipertahankan.

Anindya menonton dari ruang observasi bersama Bayu.

"Kamu datang melihat operasi atau melihat Surya?" tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari monitor.

Bayu menjawab datar, "Operasi."

"Tentu. Dan saya makan permen karena suka tongkatnya."

Bayu memilih diam.

Keberhasilan itu membuat status Surya berubah. Dia tetap dokter umum muda dalam jalur kredensial, tetapi konsultannya mulai memperlakukannya seperti operator senior. Kasus yang biasanya dijaga ketat justru dikirim kepadanya karena semua orang tahu satu hal: jika Surya menerima kasus, dia akan mempelajarinya sampai tak ada celah tersisa.

Di tengah jadwal tersebut, Dian Safitri mulai lebih sering muncul di ruang jaga.

Kadang membawa laporan. Kadang membawa kopi. Kadang tidak membawa alasan apa pun.

"Kamu sengaja lewat sini?" tanya Surya suatu sore.

"Koridor ini milik rumah sakit."

"Tiga kali dalam satu jam?"

Dian menatap gelas di tangannya. "Kalau kamu tidak mau kopinya, saya bawa kembali."

"Saya tidak bilang tidak mau."

Kencan pertama mereka berlangsung di sebuah akuarium kota. Surya memilih tempat itu karena tenang. Dian memilih waktu sore agar bisa pulang sebelum terlalu malam.

Di depan terowongan kaca, cahaya biru bergerak di wajah mereka. Ikan pari melintas di atas kepala.

"Saya tidak pandai menebak maksud orang," kata Dian. "Jadi saya akan bicara langsung. Saya menyukai kamu. Kalau kamu juga serius, kita bisa mencoba."

Surya tersenyum. "Saya juga menyukai kamu."

"Ada satu hal lagi."

Nada Dian membuat Surya ikut serius.

"Saya menjaga diri untuk suami saya kelak. Saya tidak mau hubungan yang menekan saya melewati batas sebelum menikah."

Surya mengangguk. "Batasmu bukan sesuatu yang harus saya tawar. Kalau kita mencoba, kita berjalan dengan aturan yang membuat kita berdua aman."

Ketegangan di bahu Dian menghilang.

"Baik," katanya. "Berarti kita mencoba."

Hubungan itu tidak mengubah Dian menjadi pengagum tanpa suara. Ketika Surya terlambat dua jam tanpa kabar, dia marah. Ketika Surya mengambil kasus melebihi jadwal, dia menuntutnya tidur. Dan ketika seorang perawat menggoda Surya di depan meja, Dian tidak membuat keributan—dia hanya meletakkan kopi di depan Surya dan berkata, "Dokter ini sudah punya janji makan malam."

Rizki hampir tersedak mendengarnya.

Kejutan berikutnya datang dari Budi Gendut.

Seusai jaga malam, sebuah Lamborghini hitam berhenti di depan IGD. Sopir berseragam turun dan membukakan pintu belakang untuk Budi.

Rizki menatap mobil, lalu sandal murah Budi. "Lo mencuri mobil siapa?"

"Mobil keluarga."

Pak Bambang keluar dari lobi dan menepuk kepala Budi. "Kamu masih membuat sopir menunggu dua jam?"

Surya melihat mereka bergantian.

Budi menghela napas. "Baiklah. Pak Bambang itu kakak tiri gue. Dian keponakan gue. Dan ya, keluarga gue punya beberapa perusahaan."

"Beberapa?" Rizki menunjuk Lamborghini. "Definisi beberapa kita berbeda."

Dian datang dari belakang dan memanggil, "Om Budi, Ayah menunggu."

Rizki memegang dinding agar tidak jatuh. "Jadi selama ini gue curhat soal mengejar Dian kepada omnya sendiri?"

"Makanya gue selalu bilang peluang lo kecil," jawab Budi.

Tawa mereka belum selesai ketika Pak Hendra mengirim pesan ke grup IGD.

Besok ada pasien penting untuk Reza. Dia dibebaskan dari semua antrean biasa.

Reza membalas paling cepat.

Siap, Pak. Saya akan memberikan pelayanan terbaik.

Pak Hendra melihat dua ratus berkas pasien perawatan luka wasir yang sudah disusun di kantor Bedah Digestif, lalu mengirim emoji bunga merah.

"Besok," katanya kepada Surya, "kita lihat seberapa tulus Reza melayani orang penting."

1
Mayang
jangan mendadak tamat y thor/Tongue/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!