Anindiya dikenal sebagai seorang makeup artist berbakat yang memiliki sanggar rias pengantin ternama di kotanya. Setiap hari, ia membantu para calon pengantin mewujudkan impian mereka tampil sempurna di hari bahagia. Hidupnya berjalan tenang hingga suatu hari ia mengunjungi sebuah butik tua untuk mencari beberapa gaun pengantin baru.
Di antara deretan gaun mewah, pandangannya terpaku pada sebuah gaun putih yang dipajang anggun di atas manekin. Ada sesuatu yang aneh sekaligus memikat dari gaun itu. Seolah memiliki kehidupan, gaun tersebut memanggilnya tanpa suara. Meski sang pemilik butik memperingatkan agar tidak menyentuhnya, Anindiya justru membawanya pulang.
Sejak saat itu, kejadian-kejadian mengerikan mulai menghantui hidupnya. Bisikan misterius terdengar di tengah malam, bayangan pengantin berlumuran darah muncul di setiap cermin, dan setiap pengantin yang mengenakan gaun tersebut mengalami nasib tragis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andhig Rosdiana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CHAPTER 32
Didorong oleh rasa bersalah yang makin membakar dada dan ketakutan yang merayapi setiap jengkal pikirannya, Anindiya memutuskan untuk kembali mendatangi butik tua di sudut kota tua itu. Ia butuh jawaban. Ia harus memaksa sang pemilik butik bicara—wanita tua itu pasti tahu sesuatu yang disembunyikan dari gaun bermasalah tersebut.
Namun, disaat anindiya melangkah masuk ke gang sempit kawasan kota tua siang itu membuat Anindiya menghentikan langkahnya. Udara tempat itu tidak lagi tercium aroma kain tua dan kayu lapuk, melainkan bau sangit kayu yang menyengat dan menusuk hidung.
Langkah Anindiya mempercepat, dan jantungnya berdegup kencang saat matanya menangkap pemandangan di depan.
Bangunan kayu bergaya kolonial yang dua bulan yang lalu berdiri kokoh itu kini hanya berupa puing-puing hitam yang hangus terbakar. Garis polisi kuning melintang mengelilingi sisa-sisa bangunan yang masih mengepulkan asap tipis.
Anindiya mematung, lututnya terasa lemas.
"Mbak... cari pemilik butik ini?" suara serak seorang kakek penjual jamu di seberang jalan memecah kebuntuan.
Anindiya dengan cepat mendekati kakek tersebut. "Mbah... apa yang terjadi? Dua bulan yang lalu saya baru saja dari sini!"
Kakek itu menggelengkan kepala dengan raut wajah penuh duka dan ketakutan yang tersirat.
"Hari itu, Mbak... tepat setelah dua orang perempuan keluar membawa gaun putih itu, orang tua pemilik butik langsung mengunci pintunya dari dalam. Warga sekitar heran karena dia menutup butik lebih awal dari biasanya. Tidak sampai dua jam kemudian, api tiba-tiba membumbung tinggi dari dalam. Sangat cepat, Mbak... seperti ada sesuatu yang membakar tempat itu dari dalam."
"Lalu... pemiliknya?" bisik Anindiya dengan suara bergetar.
"Terjebak di dalam," jawab sang kakek lirih. "Anehnya, mbah tidak mendengar suara teriakan minta tolong sama sekali. saat itu Mbah jualan diseberang butik ,Petugas pemadam kebakaran hanya menemukan jasadnya di tengah-tengah ruangan... tepat di posisi manekin gaun putih yang dua perempuan itu beli itu berdiri."
Darah Anindiya serasa membeku. Pemilik butik itu tidak sekadar menjual gaun tersebut padanya—ia seolah memang telah menunggu seseorang untuk mengambil gaun itu agar tugasnya menjaga kutukan tersebut selesai, walau harus dibayar dengan nyawanya sendiri.
Kakek itu kemudian mendekat, berbisik dengan nada bergetar, "Pemilik butik itu pernah bercerita sedikit pada saya puluhan tahun lalu... Gaun itu dijahit tahun 1980-an oleh seorang penjahit berbakat untuk putri tunggalnya. Namun di hari pernikahan, sang putri dibunuh secara kejam oleh calon suaminya tepat di atas gaun itu. Sebelum menghembuskan napas terakhir, jiwanya terikat pada setiap benang kain putih tersebut. Dia bersumpah... tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun mengenakan gaun itu untuk mencapai kebahagiaan."
Anindiya mundur beberapa langkah, napasnya memburu. Peringatan pemilik butik waktu itu kini bergema ulang di kepalanya dengan arti yang jauh lebih mengerikan:
"Gaun itu sudah menemukan pemilik barunya. Dan setelah lepas dari tempat ini, tempat ini tak lagi punya alasan untuk ada."
Kini Anindiya sadar. Pemilik butik tidak membiarkannya membawa gaun itu karena uang, melainkan karena takdir kelam gaun itu telah memilih Anindiya sebagai panggung teror berikutnya. Dan dengan terbakarnya butik tersebut, tidak ada lagi jalan untuk mengembalikan gaun itu.
Kutukan itu kini sepenuhnya menjadi milik Anindiya.