Aurelia baru saja akan menikmati masa mudanya sebagai gadis single yang bebas, sampai sebuah kecelakaan menyeret jiwanya ke tubuh Nadia Atmaja. Saat terbangun di ranjang rumah sakit, hal pertama yang ia rasakan bukanlah sakit kepala, melainkan beban berat di bagian perutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 4
***
Suara gemericik air dari kamar mandi perlahan berhenti, menyisakan keheningan yang mencekam di dalam kamar mewah itu. Aurelia, yang kini menghuni tubuh Nadia, masih terduduk di tepi ranjang. Ia mengelus perutnya yang terasa sedikit kencang. Entah kenapa, sejak masuk ke tubuh ini, indra penciumannya menjadi sepuluh kali lebih tajam, dan jantungnya berdegup aneh tiap kali membayangkan sosok Raditya.
"Sabar ya, Nak. Papa kamu emang ganteng, tapi mulutnya perlu disekolahin lagi biar nggak pedes-pedes amat," gumam Aurelia pelan.
Cklek.
Pintu kamar mandi terbuka. Uap hangat tipis-tipis keluar dari sana, membawa aroma sabun maskulin yang maskulin dan segar. Aurelia menoleh secara refleks, dan detik itu juga, dunianya seolah berhenti berputar.
Raditya melangkah keluar hanya dengan selembar handuk putih yang melilit pinggangnya. Rambutnya yang basah berantakan, dengan tetesan air yang mengalir turun dari rahang tegasnya, melewati leher, hingga jatuh ke sela-sela otot dadanya yang bidang. Perutnya? Jangan ditanya. Sixpack yang terbentuk sempurna itu tampak berkilau karena sisa air mandi.
Aurelia melongo. Mulutnya sedikit terbuka. Matanya memindai dari ujung kepala hingga ujung kaki pria di depannya tanpa berkedip sedikit pun.
"Astaga... itu roti sobek atau otot beneran?" gumam Aurelia tanpa sadar, suaranya cukup keras untuk didengar di kamar yang sunyi itu.
Raditya yang awalnya mengira Nadia akan berteriak malu atau memalingkan wajah seperti biasanya, justru tertegun. Ia menghentikan langkahnya tepat di depan lemari pakaian besar. Ia menoleh dan mendapati istrinya sedang menatapnya dengan tatapan "lapar" yang sangat tidak tahu malu.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Raditya dengan suara berat, mencoba menutupi rasa canggung yang tiba-tiba menyerang.
Bukannya malu, Aurelia justru bangkit dari tempat tidur. "Sial, kenapa aku ingin sekali memegang otot perutnya, dan mencium aromanya?" ucapnya lirih, seolah bicara pada dirinya sendiri, namun matanya tetap terkunci pada perut Raditya.
Raditya mengernyit, merasa harga dirinya sedikit terancam oleh tatapan "buas" istrinya. "Nadia! Jaga matamu. Di mana rasa malumu yang biasanya?"
Aurelia tersadar dari lamunannya, tapi jiwa barbarnya justru tertawa. Ia malah melangkah mendekat ke arah Raditya dengan gaya yang santai, membuat sang CEO secara refleks mundur satu langkah hingga punggungnya menyentuh lemari.
"Mas... ini bawaan bayi, tahu! Anak kamu pengen lihat Papanya tampil fresh begini," alibi Aurelia sambil tersenyum nakal. Ia kini berdiri tepat di depan Raditya. Jarak mereka sangat dekat sampai Aurelia bisa merasakan panas tubuh Raditya.
"Minggir, Nadia. Saya mau ambil baju," perintah Raditya, namun suaranya terdengar tidak se-dingin biasanya. Ada getaran aneh di sana.
"Biar Nadia bantu cariin ya?" Aurelia mengabaikan perintah itu. Tangannya yang mungil dan putih mulai bergerak lincah membuka pintu lemari, tepat di samping lengan Raditya. "Mas mau pake apa? Celana training panjang aja ya? Biar kalau tidur nggak kedinginan. Lagian, Mas kalau nggak pake baju begini terus, bisa-bisa aku khilaf."
Raditya menelan saliva dengan susah payah. Ia menatap puncak kepala Nadia dari atas. Dari posisi ini, ia bisa melihat lekuk leher Nadia dan aroma harum melati yang menguar dari tubuh istrinya. Kenapa Nadia jadi begitu berani? Dan kenapa jantungnya sendiri justru berkhianat dengan berdetak kencang?
"Nadia, saya bilang minggir," Raditya mencoba bicara tegas, tangannya bergerak hendak menjauhkan bahu Nadia.
Namun, Aurelia justru sengaja berbalik dengan cepat hingga tubuhnya hampir menempel pada dada bidang Raditya yang masih basah. Ia mendongak, menatap mata Raditya dengan sorot mata yang sayu namun licik.
"Mas... rambutnya masih basah lho. Nanti pusing. Sini, Nadia keringin pake handuk," ucap Aurelia sambil meraih handuk kecil yang tersampir di bahu Raditya.
Tanpa menunggu persetujuan, Aurelia mulai menggosok rambut Raditya dengan lembut. Raditya terpaku. Ia ingin membentak, ia ingin mendorong wanita ini menjauh, tapi entah kenapa, sentuhan tangan Nadia di kepalanya terasa sangat nyaman. Wajah Nadia yang hanya berjarak beberapa sentimeter darinya terlihat begitu cantik, putih bersih, dan bercahaya.
"Nadia..." suara Raditya melemah.
Tiba-tiba, Aurelia menghentikan gerakannya. Ia memegang perutnya dengan raut wajah sedikit meringis. "Aduh... Nak, jangan nendang kencang-kencang dong. Papa kamu lagi aku urusin nih."
Melihat wajah Nadia yang tiba-tiba tampak sedih dan kesakitan sambil memegang perut, amarah Raditya yang sempat ingin meledak seketika sirna. Rasa bersalah muncul di dadanya. Ia teringat kata-kata Nadia tadi: Aku sakit juga gara-gara kepikiran Mas yang nggak pernah pulang.
"Kenapa? Sakit?" tanya Raditya, tangannya tanpa sadar terangkat untuk memegang lengan Nadia, seolah ingin menjaganya agar tidak jatuh.
Aurelia mendongak, matanya berkaca-kaca (tentu saja akting level Oscar). "Sedikit Mas... mungkin dia kangen Papanya. Sejak di rumah sakit, Mas nggak pernah elus dia."
Raditya berjalan mendekat ke arah ranjang. Langkahnya pelan namun berwibawa.
"Mas mau ngapain?" tanya Aurelia. Suaranya sedikit bergetar, setengah karena akting, setengah lagi karena memang merasa terintimidasi oleh kehadiran pria itu. Di dalam hatinya, Aurelia bersorak, Yes! Si Kulkas mulai goyah!
Tanpa menjawab, Raditya duduk di tepi ranjang. Kasur yang empuk itu sedikit amblas karena beban tubuhnya. Jarak mereka kini hanya terpaut belasan sentimeter. Bau sabun maskulin yang bercampur dengan aroma alami tubuh Raditya menyengat indra penciuman Aurelia.
Raditya menatap perut Nadia yang menonjol di balik kain satin tipis itu. Tangannya yang besar dan hangat bergerak perlahan, tampak sangat ragu-ragu di udara. Ada jeda beberapa detik sebelum akhirnya telapak tangan itu mendarat dengan lembut di atas perut buncit Nadia.
Aurelia menahan napas. Rasanya seperti ada aliran listrik kecil yang menjalar dari perutnya ke seluruh tubuh.
"Mas?" bisik Aurelia lirih.
Raditya tidak menatapnya. Ia justru sedikit menundukkan kepalanya ke arah perut itu.
"Jangan berisik di dalam sana," ucap Raditya dengan nada yang sangat rendah, hampir seperti bisikan rahasia. "Kasihan Mamamu... dia baru saja pulang dari rumah sakit. Dia butuh istirahat."
Aurelia hampir saja meledak tawanya saat itu juga. Astaga, si CEO dingin ini beneran bisa ngomong sama perut? Lucu banget! pikirnya.
Namun, di balik rasa ingin tertawanya, ada kehangatan yang mendesak di dadanya. Ternyata, si Kulkas Hadiwinata punya sisi manusiawi jika menyangkut darah dagingnya sendiri.
"Anaknya dengar kok, Mas," sahut Aurelia lembut. "Tadi dia nendang karena ngerasa Papanya cuek banget. Sekarang kayaknya dia langsung tenang pas Mas pegang."
Raditya terdiam, tangannya masih belum bergeming dari perut Nadia. "Saya tidak cuek. Saya hanya sibuk."
"Sibuk sama cuek bedanya tipis, Mas," pancing Aurelia berani. Ia memberanikan diri menyandarkan kepalanya di bahu Raditya yang kokoh dan keras. "Makasih ya, Mas, sudah mau elus dia. Sejak aku hamil, ini pertama kalinya Mas pegang perut aku seserius ini."
Raditya membeku. Tubuhnya menegang seperti batu saat merasakan kepala Nadia bersandar di bahunya. Biasanya, jika ia melakukan hal sekecil ini, Nadia akan menangis haru atau justru ketakutan. Tapi kali ini, Nadia justru tampak sangat tenang dan... nyaman.
"Nadia, jangan terlalu banyak berharap," ucap Raditya datar, meski tangannya justru mengelus perut itu dengan ibu jarinya tanpa sadar.
Aurelia terkekeh kecil di bahu pria itu. "Berharap apa? Aku cuma pengen anak aku tahu kalau Papanya itu ada. Walaupun Papanya hobi banget pasang muka kaku kayak belum dibayar gajian."
Raditya menoleh sedikit, membuat wajahnya berada sangat dekat dengan rambut Nadia. "Kamu benar-benar berubah setelah jatuh dari tangga. Kamu tidak pernah bicara selantang ini sebelumnya."
"Mungkin karena kepalaku sempat kebentur, jadi saraf keberanian aku mendadak nyambung semua, Mas," jawab Aurelia asal, sambil mendongak menatap Raditya.
Mata mereka bertemu. Dalam jarak sedekat itu, Raditya bisa melihat binar jenaka di mata Nadia sesuatu yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Nadia yang ia kenal hanya memiliki ketakutan dan kesedihan di matanya. Tapi wanita ini? Dia seolah menantangnya.
"Mas... Mas tahu nggak?" bisik Aurelia lagi.
"Hm?"
"Mas kalau lagi mode lembut begini, beneran bisa bikin jantung mau copot. Jangan sering-sering ya, nanti aku serangan jantung beneran," ucap Aurelia jujur dengan nada setengah bercanda.
Raditya segera menarik tangannya dari perut Nadia dan menjauhkan tubuhnya seolah baru saja tersengat api. Ia berdeham keras, mencoba mengembalikan wibawanya yang hancur berantakan dalam sepuluh menit terakhir.
"Tidurlah. Saya mau lanjut kerja sebentar di sofa," ucap Raditya ketus sambil beranjak berdiri.
Aurelia melihat punggung pria itu yang berjalan dengan langkah sedikit terburu-buru menuju meja kerja di sudut kamar. Ia menarik selimutnya dengan perasaan puas.
Nadia yang sekarang benar-benar berbahaya bagi kewarasanku, batin Raditya sambil pura-pura fokus pada tablet di tangannya, padahal pikirannya masih tertinggal pada sensasi kulit perut istrinya yang hangat dan kepala yang bersandar di bahunya tadi.
Sementara itu, Aurelia memejamkan mata dengan senyum kemenangan. "Babak pertama... dimenangkan oleh Bumil Barbar!"
***
Bersambung
kl d blangin sm suami tu nurut...
udh tau bnyak msuh,mlah sntai bgt kluar sndrian.....mnimal ingt lh sm perutmu yg ada bayi d dlm,jgn cma mkirin diri sndri......
aku udh mmpir....slm knal....
Aku syuka crtanya........tipe istri yg ga menye2,trs suami posesif.....mskpn d awl dia acuh,tp akhrnya jd bucin.....
d tnggu up'ny.....smngtt.....😘😘😘
ehhhh
suka semua ceritamu deng🤣
tunggu aksi luar biasa bumil thor