Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.
Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.
"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."
Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.
Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 20
Dominic tidak memberi tahu siapa pun akan tindakannya untuk mengawasi Vivienne. Dia ingin tahu apa yang dilakukan istrinya tanpa sepengetahuannya itu.
Dua hari kemudian, laporan pertama masuk. Dominic langsung membukanya. Ia membaca kalimat pertama.
Vivienne meninggalkan rumah setelah Dominic berangkat kerja.
Dominic menggeser layar. Tujuan berikutnya membuat alisnya langsung terangkat, sebuah kafe. Di sana, Vivienne bertemu dengan seorang wanita.
Dominic mengenali wajah tersebut dari beberapa foto yang pernah ia lihat. Estelle Prescott, sahabat Vivienne.
"Bukannya Estelle di luar negeri? Apa ini alasan Vivi sering keluar rumah, untuk bertemu Estelle?" batin pria itu.
Dominic terus membaca. Laporan mengatakan keduanya duduk cukup lama ngobrol. Tidak lama kemudian, mereka meninggalkan kafe bersama.
Tujuan berikutnya adalah kantor Laurent Group.
Dominic membeku. "Kantor?"
Ia membaca laporan itu sekali lagi. Vivienne datang ke kantor. Namun pada hari tersebut, Dominic sendiri tidak bertemu dengannya. Tidak ada satu pun laporan dari bawahannya yang mengatakan Vivienne datang.
Dominic menatap layar dengan wajah penuh keterkejutan. Ia berdiri dari kursinya.
"Bagaimana mungkin?"
Vivienne datang ke kantornya. Namun, tidak menemuinya atau memberitahunya. Bahkan keberadaannya seolah sengaja disembunyikan.
Dominic berjalan mondar-mandir di dalam ruangannya. Semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
Apa yang dilakukan Vivienne di kantor? Kenapa dia harus datang diam-diam? Kenapa harus bertemu Estelle terlebih dahulu? Dan kenapa semua itu dilakukan tanpa sepengetahuannya?
Dominic berhenti di depan jendela. Tangannya mengepal.
"Apa Vivi sedang melakukan sesuatu di belakangku?" gumamnya dengan suara cemas.
Dominic merasa dirinya bukan lagi orang yang mengendalikan keadaan. Justru dirinya yang sedang diawasi oleh keadaan.
Dominic menatap pantulan wajahnya sendiri di kaca. Ada kegelisahan yang tidak bisa lagi ia sembunyikan.
"Vivi." Ia menarik napas panjang. "Apa sebenarnya yang sedang kamu lakukan?"
Siang itu, Estelle sedang duduk santai di ruang kerja apartemennya ketika ponselnya bergetar. Nama Killian muncul di layar. Estelle segera mengangkat panggilan tersebut sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.
"Ada apa?" tanya Estelle santai.
"Dominic mulai bergerak," jawab Killian dari seberang sambungan dengan suara serius.
Senyum Estelle langsung menghilang. Ia menegakkan tubuhnya dan menatap layar ponsel. "Bergerak bagaimana?" tanyanya.
"Dia menyewa seseorang untuk mengawasi Vivienne," jawab Killian tegas.
Estelle terdiam sesaat. Bukannya panik, sudut bibirnya justru terangkat membentuk senyum tipis. "Serius?" tanyanya.
"Serius," jawab Killian singkat.
"Berarti dia mulai curiga," ujar Estelle sambil memainkan ujung rambutnya.
"Sepertinya begitu," jawab Killian.
Pria itu terdengar mengembuskan napas panjang sebelum melanjutkan, "Orang yang dia sewa sudah mulai mengikuti kegiatan Vivienne."
Estelle mengambil gelas air di atas meja dan meneguknya perlahan. Setelah meletakkan gelas, ia malah terkekeh.
"Kasihan sekali Dominic," ejeknya.
Killian mengernyit. "Kenapa malah kasihan?" tanyanya.
"Karena dia tidak tahu kalau orang yang dia suruh mengawasi Vivienne justru mungkin sedang diawasi oleh orang lain," jawab Estelle sambil menahan tawa.
Killian terdiam.
Estelle semakin curiga. Ia menyipitkan mata sambil tersenyum jahil. "Atau jangan-jangan ...," ujar Estelle menggoda, "kamu juga diam-diam mengawasi Vivienne?"
"Jangan mulai, Estelle," balas Killian dengan suara dingin.
Estelle langsung tertawa kecil. "Aku belum mengatakan apa-apa," kilahnya sambil menutup mulut agar tawanya tidak terlalu keras.
"Kamu jelas-jelas sedang menuduhku," jawab Killian sewot.
"Kalau tidak penting, kenapa kamu tahu Dominic menyewa seseorang untuk mengikuti Vivienne?" tanya Estelle dengan nada menggoda.
Killian tidak langsung menjawab.
Estelle langsung tertawa puas. "Nah! Ketahuan!" serunya.
"Diam!" bentak Killian.
"Jadi kamu juga mengawasi Vivienne?" tanya Estelle lagi sambil terkekeh.
"Aku hanya memastikan dia aman," jawab Killian ketus.
"Bedanya apa?" tanya Estelle sambil mengangkat kedua alisnya.
Killian menghela napas panjang. "Bedanya, aku tidak punya niat buruk," jawabnya akhirnya.
Estelle tersenyum lebar. "Oh, begitu."
"Sudah. Jangan membahas itu lagi," potong Killian.
"Baiklah. Tapi aku harus memberi tahu Vivi," jawab Estelle.
"Jangan membuatnya panik," pesan Killian.
Estelle terkekeh. "Justru aku yakin dia tidak akan panik."
Killian terdiam beberapa saat. "Kamu yakin?" tanyanya.
Estelle tersenyum sambil menatap kosong ke depan. "Dia sudah berubah," jawabnya yakin.
Beberapa saat kemudian, Estelle tiba di sebuah kafe tempat ia sudah membuat janji dengan Vivienne. Wanita itu sudah duduk di sudut ruangan yang cukup tenang. Tangannya sibuk mengaduk teh hangat, sementara sebuah buku kehamilan terbuka di hadapannya.
Begitu Estelle duduk di hadapannya, Vivienne langsung menatap sahabatnya.
"Ada apa?" tanya Vivienne sambil meletakkan sendok kecil di atas tatakan cangkir.
Estelle tidak langsung menjawab. Ia justru melihat sekeliling untuk memastikan tidak ada orang yang terlalu dekat dengan mereka. Setelah merasa cukup aman, ia sedikit mendekat.
"Killian mengirim pesan," ujar Estelle pelan.
Vivienne mengangkat alis. "Pesan apa?" tanyanya.
Estelle mengeluarkan ponselnya lalu menunjukkan pesan dari Killian. "Dominic menyewa seseorang untuk mengawasimu," ujar Estelle.
Tangan Vivienne yang sedang memegang cangkir berhenti sesaat. Tidak ada kepanikan di wajahnya. Tidak ada perubahan ekspresi yang berarti. Vivienne justru meniup permukaan tehnya sebelum menyesapnya perlahan.
"Aku sudah menduganya," jawab Vivienne tenang.
Estelle langsung mengerjapkan mata. "Kamu sudah tahu?" tanyanya terkejut.
Vivienne mengangguk. "Beberapa hari terakhir aku merasa ada yang berbeda," jawabnya.
"Apa?" tanya Estelle penasaran.
"Beberapa kali aku melihat mobil yang sama berada tidak jauh dari rumah," jawab Vivienne sambil meletakkan cangkirnya.
Estelle mendengarkan dengan serius.
"Awalnya kupikir hanya kebetulan," lanjut Vivienne.
"Lalu?" tanya Estelle.
"Sampai tadi pagi aku melihat orang yang sama berada di tempat lain," jawab Vivienne.
Estelle menggeleng sambil tertawa kecil. "Jadi kamu sudah tahu?" tanyanya.
"Tadi belum yakin," jawab Vivienne. Ia mengangkat cangkirnya kembali. "Sekarang aku yakin."
Estelle mengamati wajah sahabatnya. Tidak ada ketakutan di sana. Yang terlihat justru ketenangan yang membuat Estelle sedikit merinding.
"Kamu tidak takut?" tanya Estelle.
Vivienne menggeleng. "Kenapa harus takut?" jawabnya tenang. Ia tersenyum tipis. "Kalau Dominic ingin tahu ke mana aku pergi, biarkan dia mencari tahu."
Estelle mengangkat alis. "Vivi..." panggilnya.
"Hm?" jawab Vivienne.
"Kamu punya rencana?" tanya Estelle.
Vivienne mengusap perutnya perlahan. "Aku hanya akan melakukan hal-hal yang memang biasa kulakukan," jawabnya.
"Dan kalau orang itu terus mengikutimu?" tanya Estelle.
Vivienne tersenyum. "Biarkan," jawabnya santai.
"Biarkan?" ulang Estelle tidak percaya.
"Iya," jawab Vivienne. Ia menatap Estelle dengan mata tenang. "Justru lebih mudah kalau dia selalu berada di belakangku."
Estelle terdiam beberapa detik. Setelah memahami maksud sahabatnya, ia tertawa kecil.
"Kamu benar-benar mulai menikmati permainan ini," ejek Estelle.
Vivienne mengangkat bahu. "Aku hanya tidak ingin membuang tenaga untuk sesuatu yang tidak perlu," jawabnya.
"Bagaimana kalau Dominic menemukan sesuatu?" tanya Estelle.
Vivienne tersenyum tipis. "Dia hanya akan menemukan apa yang ingin kubiarkan dia lihat," jawabnya.
Estelle langsung memahami maksud tersebut. "Jadi?" gumam Estelle.
"Biarkan dia mengawasi," potong Vivienne. Ia mengambil cangkir tehnya lalu menyesapnya dengan tenang.
"Kadang-kadang, orang yang terlalu sibuk mencari rahasia justru akan percaya pada kebohongan yang sengaja diletakkan di depan matanya," ujar Vivienne.
Estelle tersenyum lebar. "Jahil," ejeknya.
Vivienne tertawa kecil. "Aku belajar dari pengalaman," jawabnya.
Sementara itu, di tempat lain, Killian berdiri di depan meja kerjanya sambil membaca sebuah laporan. Alex berdiri beberapa langkah di hadapannya sambil memegang tablet.
"Dokter Malcom sudah mengonfirmasi jadwal kepulangannya," ujar Alex sambil membuka data penerbangan.
Killian mengangkat wajah. Lalu, menutup map yang sejak tadi berada di tangannya. "Pastikan orang-orang kita sudah berada di bandara" perintahnya.
***
Jangan lupa selalu tinggalkan jejak like dan komentar. Semoga karya ini bagus retensi dan dapat bab terbaik.
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
dasar keluarga parasit 😡😡😡
dasar lintah darat 😡😡