Raina, wanita mandiri yang sudah bercerai, mencari pelarian di malam yang kelam. Di tengah kebingungan karena mabuk, ia tanpa sengaja menghabiskan malam bersama Dika—seorang mahasiswa muda tampan yang ternyata merupakan pewaris tunggal keluarga kaya raya.
Perbedaan usia, masa lalu yang kelam, serta penolakan keras dari orang tua Dika menjadi tembok tinggi yang memisahkan mereka. Namun takdir seolah punya rencana lain, menumbuhkan cinta tulus di antara dua dunia yang berbeda.
Mampukah sebuah kesalahan semalam, berubah menjadi takdir cinta yang abadi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Muarofah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15
Bab 15: Kembali Pulang
Matahari sore mulai merunduk ke arah barat, menyisakan semburat warna jingga keunguan yang indah di langit. Cahaya hangat itu menyelinap masuk lewat jendela kamar, menyinari wajah Raina yang tampak gelisah saat merapikan pakaiannya. Tangannya sedikit gemetar saat ia memilih gaun yang paling sopan dan sederhana yang ia miliki.
Di belakangnya, Dika berdiri diam memperhatikan istrinya dengan pandangan penuh kasih sayang. Ia bisa melihat betapa berat beban yang sedang dipikul wanita itu.
"Kau masih cemas, Sayang?" tanya Dika pelan, suaranya lembut namun tegas memecah keheningan kamar.
Raina berhenti bergerak sejenak, menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia menghela napas panjang yang terasa berat di dadanya.
"Aku tidak bisa tidak merasa cemas, Dik..." jawabnya pelan dengan suara bergetar halus. "Ini pertama kalinya aku akan kembali ke rumah orang tuamu setelah pernikahan kita diakui. Dan kau tahu sendiri bagaimana pandangan mereka tentangku sebelumnya. Aku lebih tua darimu, aku pernah gagal dalam rumah tangga... Aku takut mereka masih memandangku rendah. Aku takut aku tidak pantas duduk di meja makan yang sama dengan keluargamu."
Dika melangkah maju perlahan, lalu berdiri tepat di belakang istrinya. Ia melingkarkan kedua lengannya kuat namun lembut di pinggang ramping Raina, meletakkan dagunya di bahu wanita itu. Melalui pantulan cermin, ia menatap mata Raina lekat-lekat.
"Dengar aku baik-baik, Raina," ucap Dika dengan suara yang penuh keyakinan. "Kau bukan beban untukku. Kau bukan kesalahan yang harus aku sembunyikan. Kau adalah istriku. Wanita yang aku pilih dengan sadar dan sepenuh hati. Wanita yang aku cintai lebih dari apa pun di dunia ini."
Ia memutar tubuh Raina perlahan agar menghadapnya.
"Apakah kau lupa apa yang sudah kita lalui bersama? Apakah kau lupa bagaimana kita saling menguatkan saat dunia seolah menentang kita? Apa pun yang terjadi nanti di sana, aku akan selalu berada di sebelahmu. Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu, bahkan jika itu adalah keluargaku sendiri."
Raina menatap manik mata Dika yang bening dan tulus. Rasa takut di hatinya perlahan tergantikan oleh rasa hangat yang menenangkan. Ia mengangguk pelan, lalu tersenyum tipis.
"Terima kasih, Dik. Terima kasih sudah selalu ada untukku."
"Selalu, Sayang. Selalu," bisik Dika lembut sebelum mengecup kening istrinya dengan penuh rasa hormat.
Tak lama kemudian, mereka berangkat menuju rumah besar keluarga Adhitama. Perjalanan terasa sunyi namun tidak lagi berat. Raina menyandarkan kepalanya di bahu Dika sepanjang jalan, menarik kekuatan dari kehadiran suaminya di sampingnya.
Sesampainya di depan gerbang rumah mewah yang dulu pernah membuatnya merasa sangat kecil dan tidak berharga itu, jantung Raina kembali berdegup kencang. Namun kali ini, ia tidak sendirian. Dika menggenggam tangannya erat sepanjang jalan masuk menuju pintu utama.
Saat pintu terbuka, Ibu Dika berdiri di ambang pintu dengan wajah yang sulit dibaca. Di belakangnya terlihat Ayah Dika duduk di kursi tamu utama dengan wajah datar, serta beberapa kerabat jauh yang sengaja diundang seolah ingin melihat sosok "istri tak diharapkan" itu secara langsung.
"Selamat datang," sapaan Ibu Dika terdengar sopan namun masih terasa kaku.
"Terima kasih sudah mengundang kami, Bu," jawab Dika ramah sambil menuntun Raina masuk.
Raina menundukkan kepala sedikit memberi salam. "Selamat sore, Pak, Bu."
Suasana ruang tengah terasa berat dan canggung. Beberapa pasang mata menatapnya dari atas sampai bawah dengan pandangan menilai, seolah sedang mencari-cari kesalahan atau kekurangan dari wanita yang dinikahi putra kesayangan mereka.
Makan malam pun disajikan. Sepanjang hidangan disajikan, percakapan hanya berputar pada hal-hal umum yang tidak menyinggung. Namun Raina bisa merasakan pandangan-pandangan yang menyudutkan itu.
Hingga akhirnya, salah satu bibi jauh Dika berdehem pelan, lalu menatap Raina dengan senyum yang dibuat-buat.
"Jadi Raina..." ucap wanita itu dengan nada sedikit merendahkan. "Kau kan sudah pernah menikah sebelumnya ya? Bukankah itu berarti kau sudah pernah gagal mengurus rumah tangga? Kami semua khawatir sekali dengan Dika. Dia kan masih muda, belum punya pengalaman. Bagaimana kalau kau malah tidak bisa menjaganya dengan baik?"
Pertanyaan itu langsung membuat suasana meja makan menjadi hening total. Semua mata tertuju pada Raina. Wajah Ayah Dika mengeras, sementara Ibu Dika hanya diam menunduk menunggu jawaban.
Raina menelan ludah dengan susah payah. Rasa sakit lama kembali menyentak dadanya, namun sebelum ia sempat menjawab dengan gugup, tangan hangat Dika menepuk punggung tangannya yang diletakkan di atas meja.
Dika meletakkan sendoknya perlahan, lalu menatap seluruh orang di meja makan itu dengan pandangan yang tenang namun tegas.
"Maaf Bibi," ucap Dika dengan suara rendah namun sangat jelas terdengar. "Izinkan aku yang menjawab pertanyaan itu."
Ia menoleh sejenak menatap Raina dengan senyum menenangkan, lalu kembali menatap kerabat dan orang tuanya.
"Benar, Raina pernah menikah sebelumnya. Dan benar juga, pernikahan itu berakhir dengan perpisahan. Tapi apakah Bibi tahu kenapa pernikahan itu gagal?"
Dika berhenti sejenak, membiarkan kata-katanya meresap.
"Pernikahan itu gagal bukan karena Raina tidak mampu, bukan karena Raina tidak berusaha sekuat tenaga. Pernikahan itu gagal karena dia tidak dihargai. Dia tidak dihormati. Dia dianggap tidak berharga oleh orang yang seharusnya menjaganya."
Suara Dika perlahan mengeras, penuh dengan rasa bangga pada istrinya.
"Selama ini, Raina belajar menjadi wanita yang sangat kuat. Dia belajar untuk bangkit dari keterpurukan sendirian. Dia belajar untuk berjuang demi harga dirinya. Dan karena itulah, dia menjadi wanita yang paling tulus, paling sabar, dan paling mengerti arti rasa sakit."
Dika menggenggam erat tangan Raina yang kini berkeringat dingin.
"Justru karena pengalaman itulah, Raina sangat tahu bagaimana cara menghargai sebuah pernikahan. Dia tahu betapa berharganya rasa saling percaya dan kasih sayang. Selama kami bersama, dialah yang mengajarkanku untuk lebih menghargai setiap detik waktu yang kami miliki. Dialah yang membuat rumah kami terasa hidup dan penuh kehangatan."
Ia menatap langsung ke arah Ayah dan Ibunya.
"Ayah, Ibu... Aku tidak pernah merasa lebih bahagia dan lebih lengkap selain saat berada di sisi Raina. Dia tidak pernah memintaku menjadi orang lain selain diriku sendiri. Dia menerima kekuranganku dan tetap mencintaiku apa adanya. Jika kalian mengkhawatirkan aku, maka percayalah: bersama Raina, aku berada di tangan yang paling aman."
Keheningan panjang menyelimuti ruangan itu. Tak ada satu pun yang berani bersuara. Kata-kata Dika yang tulus dan tegas begitu kuat hingga membuat siapa pun yang mendengarnya merasa tersentuh.
Perlahan, pandangan Ibu Dika yang tadinya dingin mulai melembut. Matanya berkaca-kaca menatap pasangan muda di hadapannya. Ia melihat ketulusan yang begitu nyata di mata putranya, dan ia melihat kelembutan serta rasa hormat yang terpancar dari wajah Raina.
Ayah Dika yang biasanya tegas dan sulit didekati, menghela napas panjang. Wajahnya yang kaku perlahan melemas.
"Maafkan pandangan kami selama ini, Raina," ucap Ayah Dika tiba-tiba dengan suara berat namun tulus. "Kami hanya terlalu khawatir akan masa depan putra kami. Tapi melihat ketulusan Dika dan melihat sikapmu yang begitu tenang dan rendah hati... Kami sadar, kami telah salah menilai."
Raina tertegun, matanya seketika berkaca-kaca menahan haru.
"Terima kasih, Pak..." jawabnya dengan suara bergetar pelan.
Ibu Dika pun tersenyum tulus, senyum yang pertama kali terlihat begitu hangat sejak mereka datang.
"Maafkan Ibu juga ya, Nak," ucap Ibu Dika lembut. "Mulai sekarang, anggap rumah ini juga sebagai rumahmu sendiri. Kalian berdua adalah bagian dari keluarga kami."
Malam itu berakhir dengan kehangatan yang tidak pernah terbayangkan oleh Raina sebelumnya. Kerabat yang tadinya menyudutkannya kini mulai mengajaknya berbicara dengan ramah, bertanya tentang kehidupan sehari-hari mereka dengan penuh minat.
Saat pulang nanti malam, di dalam mobil yang melaju perlahan membelah jalanan kota yang sunyi, Raina menyandarkan kepalanya di bahu Dika.
"Terima kasih, Dik..." bisiknya pelan. "Kau membuatku merasa berharga di hadapan mereka semua."
Dika mencium punggung tangan istrinya lembut.
"Kau memang berharga, Raina. Sangat berharga bagiku. Dan mulai hari ini, semua orang akan tahu itu."
Malam itu, Raina menyadari satu hal penting: rumah bukan hanya tentang bangunan tempat tinggal. Rumah adalah tempat di mana ada seseorang yang akan selalu berdiri di sampingmu, membela nama baikmu, dan mencintaimu tanpa syarat apa pun. Dan baginya, rumah itu bernama Dika.