Nyai Seruni, seorang dukun yang menghabiskan masa mudanya menghancurkan kebahagiaan orang lain lewat racun petunduk karena rasa iri, kini terjebak dalam tubuh yang membusuk namun menolak mati. Di ambang sakaratul maut yang abadi, ia harus menyeret tubuhnya yang lumpuh untuk bersujud di kaki para korbannya—orang-orang yang hidupnya ia curi—hanya demi satu hal : izin untuk meninggal dunia.
Assalamualaikum semua, aku datang dengan tulisanku.
Bantu ramaikan dengan Like, komentar dan bagikan jika suka.
Insya Allah besok pagi jika banyak peminat, 😉
Mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat, 🙏
#cerbung
#cerpen
#ceritahoror
#hobimenulis
Cerita Hantu
Cerita Misteri , Mitos , Sejarah Di Dunia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Selie Noris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14 : Kobaran Api Hijau dan Rahasia Telaga Darah
Kobaran api hijau yang memercik dari ujung tongkat naga Mbah Jiwo Suro meliuk-liuk ganas, menjilati udara dingin Gua Sendang Biru. Bau belerang pekat bercampur aroma minyak mayat bertiup menyengat, menggantikan wangi cendana murni yang tadinya menguar dari Kitab Usada Tengger.
Di atas pulau batu yang terisolasi di tengah kolam, Marno menggenggam martil besinya hingga buku-buku jarinya memutih. Dua pilar batu yang menjadi akses jalan keluar telah hancur lebur dihantam kobaran api ghaib. Cairan di dalam kolam yang tadinya tenang kini kembali bergejolak, memancarkan uap beracun yang mulai mengikis permukaan batu tempat mereka berdiri.
"Sari, mundur di balik pilar altar!" bisik Marno tegas tanpa menoleh sedikit pun. Dadanya kembang kempis, pasokan udara bersih di dalam aula gua kian menipis terdesak oleh asap hitam.
Si Mbah bertengger di puncak altar batu hitam. Kera itu melengkingkan suara peringatan yang tinggi, “Uuk! Uuk-uuk!”, sembari meraih batu-batu sisa runtuhan stalaktit di atasnya.
Mbah Jiwo Suro melangkah perlahan melayang di atas pilar-pilar batu yang tersisa. Matanya yang buta dan memutih tampak mengerikan dalam remang pendar api hijau. "Marno... kau pikir otot besi dan martil karatmu itu sanggup menahan ilmu ilmu dari Gunung Tengger? Lima puluh tahun lalu, Seruni menyembah di kakiku hanya untuk meminta sedikit minyak petunduk. Dan kau, keponakan ingusan, merasa bisa menentangku?"
"Seruni sudah mati!" teriak Sari berani dari balik punggung Marno. Tangannya meremas Kitab Usada Tengger erat-erat ke dadanya. "Dia mati membawa penyesalan atas kejahatan yang kau ajarkan! Dan aku tidak akan pernah menyerahkan kitab ini untuk kau pakai menindas orang lain lagi!"
Mbah Jiwo Suro menghentikan langkahnya. Wajah keriputnya berkerut tajam, mengukir senyuman yang teramat dingin. "Bicara manis khas manusia lemah. Jika kau tidak mau menyerahkannya secara sukarela, maka aku akan mencabut nyawamu dan meminum darahmu langsung dari atas kitab itu!"
Pria tua itu mengayunkan tongkat berkepala naganya melingkar di udara. Srrrrk!
Tiga gulungan asap hitam berbentuk kepala ular raksasa menyembur keluar dari mulut naga tembaga tersebut. Ular-ular asap itu meraung nyaring, menerjang melintasi udara menuju pulau batu, berniat meremukkan Marno dan Sari dalam satu gigitan!
"HURAAAAGH!"
Marno tidak tinggal diam. Pande besi itu memutar martil raksasanya dengan kekuatan penuh. Gesekan besi martil pada udara tebal di dalam gua menimbulkan percikan api murni. Dengan satu pukulan melintang yang dahsyat, Marno menghantam gulungan asap ular pertama!
BOMMM!
Dentuman keras bergaung menggetarkan seluruh aula gua. Ular asap pertama terurai menjadi abu hitam, namun benturan energi ghaib itu membuat Marno terhuyung mundur tiga langkah, telapak tangan kirinya berdarah melepuh terkena hawa panas api hijau.
"Kang Marno!" jerit Sari cemas.
"Aku tidak apa-apa!" seru Marno sambil mengusap darah di dagunya. "Si Mbah! Sekarang!"
Si Mbah yang telah bersiap di atas altar langsung melempar dua batu stalaktit berukuran besar tepat ke arah wajah Mbah Jiwo Suro! Lemparan itu begitu kencang dan presisi.
Mbah Jiwo Suro hanya mengibaskan ujung jubah hitamnya. TAK! TAK! Batu-batu raksasa itu hancur menjadi serbuk halus sebelum sempat menyentuh kain jubahnya. Namun, serangan Si Mbah berhasil mengalihkan perhatian sang ketua aliran ghaib selama beberapa detik.
Kesempatan singkat itu dimanfaatkan oleh Sari.
Sembari memeluk kitab kulit kerbau tersebut, matanya yang cermat membaca barisan aksara Jawa kuno di lembar pertama yang terbuka. Di sana, tertulis kalimat rahasia yang diukir khusus oleh Nyai Seruni sebelum meninggal:
'Air Sendang Biru adalah penawar sekaligus racun. Jika api hijau Tengger menyala, campurkan darah keturunan Seruni dengan air bersih Sendang Biru untuk mematikan inti ajian Mbah Jiwo Suro.'
Sari tersentak sadar. Ia menatap telapak tangan kirinya yang masih mengalirkan darah akibat teriris belati tadi. Tanpa ragu sedikit pun, Sari mencelupkan tangan kirinya yang berdarah ke dalam wadah air minum bambu milik perbekalannya yang berisi air jernih dari mata air murni Gua Sendang Biru.
Darah merah murni bercampur dengan air jernih itu, berubah warna menjadi merah muda berkilau.
"Kang Marno! Siramkan ini ke tongkat naganya!" teriak Sari seraya melemparkan tabung bambu tersebut ke arah Marno.
Marno dengan tangkas menangkap tabung bambu itu di udara dengan tangan kanannya yang kaku. Pande besi itu memahami rencana Sari secara instan. Tanpa memberi waktu bagi Mbah Jiwo Suro untuk menyadari apa yang terjadi, Marno menerjang maju, melompati celah kolam yang mendidih menuju pilar batu tempat Mbah Jiwo berdiri!
"Cari mati kau, Marno!" raung Mbah Jiwo Suro sambil mengarahkan ujung tongkat naganya yang membara hijau tepat ke dada Marno.
Namun Marno tidak menangkis dengan martilnya. Pande besi itu dengan sengaja membiarkan pundak kirinya tersengat api hijau, demi mendapatkan jarak yang cukup dekat. Sambil menahan rasa sakit mendidih yang membakar daging pundaknya, Marno menyiramkan seluruh isi air bambu campuran darah dan air murni itu tepat ke atas kepala naga tembaga Mbah Jiwo Suro!
PYURRR!
PSSSSSSSSSSST!
Suara desisan dahsyat memekakkan telinga meledak di tengah gua! Asap putih pekat membumbung tinggi saat air darah itu menyentuh tongkat ghaib tersebut. Api hijau yang membara di ujung tongkat seketika padam total! Tongkat naga tembaga itu retak-retak hebat, mengeluarkan cairan hitam berbau busuk sebelum akhirnya hancur berkeping-keping menjadi serbuk logam tak berguna!
"TIDAK! AJIAN TENGGERKU!" jerit Mbah Jiwo Suro histeris. Ia terhuyung mundur, memegang matanya yang buta. Hilangnya energi ghaib dari tongkat itu membuat benteng pertahanannya runtuh seketika.
Marno yang tak menyia-nyiakan momentum emas itu langsung mengayunkan martil besinya dari arah bawah!
BUKKK!
Hantaman martil besi Marno mengenai dada Mbah Jiwo Suro dengan telak! Ketua Perguruan Gunung Tengger itu terlempar jauh ke belakang, menghantam dinding tebing batu sebelum akhirnya jatuh terperosok ke dalam pusaran air beracun di tepi kolam Sendang Biru.
"ARGGGHHHH!" raungan kesakitan Mbah Jiwo Suro bergema tragis sebelum tubuhnya tenggelam sepenuhnya digulung oleh asam beracun yang dulu ia ciptakan sendiri untuk menumbalkan korban-korbannya.
Keheningan melingkupi aula Gua Sendang Biru secara mendadak.
Kobaran api hijau telah padam, digantikan oleh remang cahaya biru alami dari dasar kolam. Uap asam perlahan-lahan mereda, menyisakan bau tanah basah dan kesegaran air murni.
Marno berlutut di atas pilar batu, memegang pundak kirinya yang terbakar hebat. Mukanya pucat penuh keringat dingin.
"Kang Marno!" Sari berlari melompati pilar-pilar batu yang tersisa, dihampiri oleh Si Mbah yang menjerit-jerit cemas.
Sari segera membuka Kitab Usada Tengger ke halaman obat luka bakar ghaib. Dengan cepat, ia mengambil penawar herbal berupa serbuk daun katuk dan minyak cendana yang disebutkan dalam kitab tersebut, lalu mengoleskannya ke pundak Marno yang melepuh.
Rasa dingin yang menyejukkan seketika meredakan luka bakar Marno. Pande besi itu menghela napas lega, bersandar pada martil besinya.
"Kita... berhasil, Sari," bisik Marno dengan senyum tipis di bibirnya yang kering.
"Iya, Kang. Kita berhasil," jawab Sari dengan mata berkaca-kaca. Ia memeluk Kitab Usada Tengger erat-erat. Musuh terbesar dari masa lalu bibinya telah tewas, dan rahasia penawar racun kini berada di tangan mereka.
Namun, saat Sari hendak membantu Marno berdiri untuk jalan pulang, lantai gua tempat mereka berada mendadak bergetar hebat. Gempa lokal mengguncang dinding-dinding batu. Stalaktit-stalaktit raksasa di atap gua mulai retak dan berjatuhan satu per satu!
BAM! BAM! BAM!
Tewasnya Mbah Jiwo Suro rupanya memicu runtuhnya mantra penyangga yang menopang struktur Gua Sendang Biru selama ratusan tahun. Langit-langit gua mulai runtuh membabi buta, menimbun pulau batu dan jalan keluar yang tadi mereka lalui!
"Guanya mau rubuh!" teriak Marno panik. "Lari ke lorong belakang altar! Cepat!"
Di tengah debu dan reruntuhan batu raksasa yang dijatuhkan dari atap gua, Sari, Marno, dan Si Mbah berlari sekuat tenaga menerobos kegelapan lorong rahasia di balik altar—memulai pelarian menegangkan baru dari dalam perut Gunung Tengger yang kian runtuh.