Usia 50 tahun. Menantu durhaka, anak tak tahu diuntung, dan suami yang membuang Suparti Wijaya di depan umum hanya delapan hari setelah ibu mertuanya meninggal.** Tapi Tuhan memberinya kesempatan kedua — Suparti terlahir kembali, kembali ke hari paling menghinakan dalam hidupnya. Kali ini, ia tidak menangis. Ia tidak memohon. Ia menandatangani surat cerai dengan tangan gemetar penuh dendam, lalu menampar Prof. Handoko Susanto dan simpanannya, Jenny Wongso, di depan seluruh kantor catatan sipil — membongkar rahasia kelam 34 tahun pernikahan yang selama ini ia telan sendirian: uang bulanan receh, penghinaan tanpa henti, dan pengorbanan yang dibalas pengkhianatan.
Diusir tanpa sepeser pun harta, Suparti justru bangkit dari titik paling rendah — memulung sampah, mencuci piring di warung orang, tidur beralaskan kardus. Tapi wanita yang dulu dianggap "sudah tidak berguna" ini justru membangun **Bank Sampah Hidup Baru**, dari gerobak rongsokan kecil menjadi kerajaan bisnis daur ulang yang disegani seantero kota. Setiap orang yang dulu meremehkannya kini harus menunduk memanggilnya Bos.
Dan di tengah kebangkitannya, muncul sosok yang tak pernah ia duga: **Jenderal Alexander Sena Wiranata**, pria berkuasa yang selama ini selalu "kebetulan" ada di dekatnya — melindunginya diam-diam selama tiga puluh empat tahun tanpa pernah mengaku. Semua orang mengira ini keberuntungan. Tapi benarkah semua "kebetulan" itu murni kebetulan? Ataukah ada rahasia yang jauh lebih besar, yang menyangkut nyawa Suparti di kehidupan sebelumnya — rahasia yang baru akan terungkap ketika cinta mereka sudah tak bisa lagi dipisahkan? Balas dendam sudah dimulai. Kerajaan sudah dibangun. Tapi cinta sang jenderal... baru saja akan berbicara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Stellune, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 21
Hujan belum benar-benar berhenti ketika Suparti keluar dari aula kecil rumah sakit.
Payung cokelat panjang itu ia pegang dengan kedua tangan. Telapak tangannya masih panas akibat latihan, bahunya pegal, tetapi ada rasa aneh yang membuat langkahnya lebih tegak.
Benda itu miliknya.
Ratih berjalan di sisi kirinya sambil memasukkan berkas ke tas kerja. Aditya mengikuti di belakang, masih menahan senyum sejak pelatih tadi bergumam soal berat payung.
"Bu Suparti, tangan Ibu sakit?" tanya Ratih.
"Sakit," jawab Suparti jujur.
Aditya langsung tampak cemas. "Kalau begitu kita antar pulang saja. Latihan pertama memang jangan dipaksa."
Suparti menoleh pada mereka. Dua orang muda itu sudah terlalu sering membantunya tanpa banyak bicara.
Ia tidak mau semua hidup barunya hanya berisi luka.
"Kalian sudah makan?" tanyanya.
Ratih berkedip. "Belum, Bu."
"Saya traktir."
"Tidak usah, Bu Suparti," kata Aditya cepat. "Kami bekerja sesuai tugas."
"Kalau sesuai tugas, kalian tidak perlu menunggu saya latihan sampai magrib." Suparti mengangkat payung sedikit. "Saya tahu bedanya tugas dan hati baik."
Ratih terdiam sebentar, lalu tersenyum kecil. "Kalau begitu, tempatnya Ibu yang pilih."
Kedai Pangsit Mama Cen berdiri dekat rumah sakit. Lampu kuning di depan kedai berkedip, dan dari dapur terbuka keluar bau kaldu ayam, bawang putih goreng, serta minyak wijen. Mejanya plastik, lantainya agak licin.
Namun justru di sanalah Suparti merasa bisa bernapas.
Ia memilih meja dekat dinding. Payung cokelat ia sandarkan di kursi sebelah. Ratih memesan pangsit kuah. Aditya akhirnya memesan pangsit goreng tambahan setelah pelayan menyebut stok terakhir baru saja diangkat dari wajan.
"Ibu pesan apa?" tanya Ratih.
"Yang hangat saja. Kuah banyak."
"Sup tomat tidak ada, Bu," kata Aditya sambil membaca menu lusuh yang dilaminasi.
Suparti menahan tawa. "Saya tidak mencari sup tomat di kedai pangsit."
Kalimat itu baru selesai ketika seseorang berhenti di depan meja.
"Sayang sekali," suara laki-laki itu rendah, tenang, dan terlalu mudah dikenali. "Padahal saya masih ingat rasa sup tomat buatan Ibu."
Suparti mengangkat wajah.
Alexander berdiri di sana dengan kemeja gelap yang lengan kanannya digulung rapi. Rambutnya sedikit lembap kena gerimis. Di tangannya ada kantong kertas kecil dari apotek. Tetapi mata Ratih yang langsung menunduk hormat membuat Suparti tahu kedatangannya tidak sesederhana itu.
"Bapak?" Ratih bangkit setengah berdiri.
Alexander memberi isyarat agar ia duduk. "Saya lewat. Ajudan Doni bilang kalian belum makan."
Aditya batuk pelan. "Saya tidak bilang ke Ajudan Doni, Pak."
"Tapi ponselmu berbagi lokasi ke tim."
Aditya langsung menutup mulut.
Suparti memandangi mereka bergantian. Ada kehangatan kecil yang merayap di dadanya, tetapi ia menahannya agar tidak terlalu tampak. "Jadi saya sedang diawasi?"
Alexander menarik kursi di sisi meja, tetapi tidak langsung duduk sebelum Suparti mengangguk. "Dijaga, Bu Suparti. Kalau Ibu keberatan, saya akan minta mereka lebih jauh."
Jawaban itu membuat Suparti tidak bisa marah.
Di rumah Susanto, kata "menjaga" dulu sering berarti mengunci. Dari mulut Alexander, kata itu terdengar berbeda karena ia memberi ruang untuk menolak.
"Duduklah," kata Suparti akhirnya. "Tapi malam ini saya yang traktir."
Alexander duduk. Wajahnya tetap tenang, tetapi Ratih dan Aditya saling melirik. Aditya bahkan menunduk terlalu dalam untuk menyembunyikan senyum.
"Apa yang lucu?" tanya Suparti.
"Tidak ada, Bu," jawab Aditya cepat.
Ratih menyikutnya pelan. "Pak Alexander jarang sekali membiarkan orang lain membayar."
"Kalau begitu malam ini dia belajar," kata Suparti.
Untuk beberapa detik, meja kecil itu sunyi. Lalu Alexander menunduk, sudut bibirnya bergerak tipis.
"Baik," katanya. "Saya belajar."
Pangsit datang dalam mangkuk putih besar. Uapnya naik mengenai wajah Suparti, membuat matanya sedikit perih. Kuah pertama menyentuh lidahnya dengan rasa asin ringan dan hangat yang sederhana.
Ratih makan dengan rapi. Aditya meniup pangsitnya berkali-kali karena terlalu lapar untuk sabar. Alexander tidak banyak bicara, tetapi ia memindahkan semangkuk kecil sambal lebih dekat ke Suparti setelah melihat tangannya sulit menjangkau.
Gerakannya kecil. Justru karena kecil, Suparti merasakannya.
"Terima kasih," katanya.
"Sama-sama."
Ratih membuka percakapan soal latihan berikutnya. "Pelatih menyarankan dua kali seminggu. Bukan untuk menyerang, Bu, hanya supaya tubuh Ibu tahu jarak aman."
"Saya paham," jawab Suparti. "Payung ini bukan untuk mencari masalah."
"Tapi kalau masalah datang?" tanya Aditya.
Suparti menatap payung basah di sebelahnya. "Saya tidak akan berdiri diam."
Alexander menatapnya tanpa senyum. "Itu sudah cukup."
Ucapan itu pendek, tetapi Suparti merasa keberanian kecilnya benar-benar terlihat.
"Pak Alexander tadi bilang masih ingat sup tomat," kata Ratih, sengaja mengalihkan suasana. "Sudah tiga puluh empat tahun, kan?"
Sendok Suparti berhenti.
Alexander menjawab lebih dulu. "Ada hal yang tidak hilang hanya karena waktu lama."
Aditya yang biasanya lincah mendadak diam. Ratih juga tidak meneruskan godaan. Di antara uap pangsit dan suara hujan di seng, kalimat itu jatuh terlalu pelan, tetapi terlalu jelas.
Suparti menelan kuah dengan hati-hati. Banyak hal ingin ia tanyakan, tetapi malam itu ia memilih tidak memburu jawaban.
Ia baru saja belajar memegang payung. Perasaan yang terlalu berat belum ingin ia sentuh.
Setelah makan selesai, Suparti berdiri lebih dulu dan membawa dompet kainnya ke kasir. Namun pemilik kedai menggeleng sambil menunjuk meja mereka.
"Sudah dibayar, Bu."
Suparti menoleh tajam.
Alexander masih duduk tenang dengan gelas teh tawar di tangan.
"Katanya mau belajar," ucap Suparti.
"Saya belajar," jawab Alexander. "Tapi saya belum lulus."
Aditya menunduk lagi. Kali ini bahunya benar-benar bergetar menahan tawa. Ratih menutup mulut dengan tisu.
Suparti ingin marah, tetapi yang keluar justru napas pendek yang hampir seperti tawa. "Lain kali saya bayar duluan sebelum duduk."
"Kalau begitu kita perlu lain kali."
Kalimat itu membuat udara di antara mereka berubah.
Tidak ramai. Hanya satu kalimat sederhana yang membuka pintu kecil.
Ratih berdeham. "Bu Suparti, mungkin lebih praktis kalau Ibu punya nomor Pak Alexander. Untuk kondisi darurat."
"Nomor Ratih sudah cukup."
"Kalau Ratih sedang rapat?" tanya Aditya, cepat membantu.
Suparti memandang dua orang muda itu. Mereka terlalu kompak untuk disebut kebetulan.
Alexander tidak ikut mendesak. Ia hanya meletakkan ponselnya di meja, layar menghadap ke bawah, seolah keputusan tetap ada di tangan Suparti.
Itu lagi.
Ruang untuk menolak.
Suparti mengeluarkan ponselnya. Jari-jarinya masih agak kaku, tetapi ia membuka WhatsApp dan menyodorkannya.
"Tulis sendiri. Saya tidak hafal cara menyimpan kontak dengan benar."
Alexander menerima ponsel itu dengan kedua tangan, hati-hati seperti menerima benda penting. Ia mengetik singkat, lalu mengembalikannya.
Di layar tertulis: Alexander.
Bukan gelar. Bukan pangkat. Bukan sesuatu yang membuat jarak.
Suparti menatap nama itu lebih lama dari seharusnya.
"Kalau ada apa-apa, kirim pesan," kata Alexander. "Tidak harus perkara besar."
"Kalau hanya hujan?"
"Saya jawab."
Suparti tidak tahu harus membalas apa. Maka ia memasukkan ponsel ke tas dan mengambil payungnya. Di luar, hujan berubah menjadi gerimis halus. Lampu jalan memantul di genangan air, membuat gang kecil depan kedai tampak seperti digores warna kuning.
Mereka baru sampai di teras ketika suara sepatu hak berhenti di dekat mobil hitam di seberang jalan.
Suara perempuan yang lembut dan terlalu manis memotong gerimis.
"Sena... akhirnya ketemu juga."