Maryati meninggal di malam hujan, membeku di gang sempit, setelah ketiga anaknya menolak membuka pintu.
Seumur hidup dia mengabdi. Gaji suaminya — Hartono — dia yang kelola supaya cukup untuk makan sekeluarga. Menantu pertamanya, Watini, menampar dan memaki sesuka hati. Anak sulungnya, Darmanto, bungkam saja. Anak keduanya, Bagus, cuma datang kalau butuh uang. Satu-satunya yang sayang — Lestari, anak perempuannya — justru dibuang ke kampung terpencil dan mati muda.
Lalu Tuhan memberi kesempatan kedua.
Maryati membuka mata dan mendapati dirinya kembali ke usia lima puluh tahun. Kali ini, dia bukan lagi ibu yang menunduk. Kali ini, dia melawan.
Hari pertama: dia menampar balik Watini dan merebut seluruh gaji keluarga. Hari kedua: dia mengusir siapa pun yang berani menginjak harga dirinya. Dan tujuan terbesarnya? Menyelamatkan Lestari sebelum terlambat — naik kereta sendirian ke kampung terpencil, menghadapi keluarga preman yang menyandera anaknya, dan membawa Lestari pulang dengan tangannya sendiri.
Tapi membebaskan anak perempuannya baru permulaan.
Maryati harus berhadapan dengan suami yang lebih memilih selingkuhan daripada istri, menantu yang licik di balik senyum manisnya, dan anak-anak yang menganggap pengorbanan ibu adalah hal yang wajar. Ketika cukup sudah — **dia menggugat cerai di usia lima puluh tahun, keluar dari rumah dengan satu tas kecil, dan membuktikan bahwa hidup seorang perempuan tidak berakhir setelah ditinggal suami.
Dari buruh pabrik tekstil biasa, Bu Yati naik menjadi ketua serikat pekerja wanita. Dia mendirikan asrama perlindungan untuk pekerja perempuan korban kekerasan. Dia menemukan kakak kandung yang terpisah sejak kecil. Dan satu per satu, perempuan-perempuan di sekitarnya — Wulandari si anak yang dikorbankan untuk adik laki-laki, Ayu yang dijual untuk dinikahkan, Ningsih yang tertipu laki-laki brengsek — bangun dari tidur panjang mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 14
Bab 14: Wawancara
Di wajahnya, duka dan dosa berdiri berdampingan.
Sesudah pemakaman Ratih, rumah Pak Tono seperti kehabisan suara. Bahkan Watini yang biasanya selalu punya sindiran pun lebih sering menutup pintu kamar. Bukan karena ia ikut berduka sepenuh hati, melainkan karena kematian yang tiba-tiba membuat orang kampung mudah mencari salah siapa.
Bu Parmi datang dua kali setelah itu. Pertama menangis di teras, kedua membawa dua kerabat laki-laki dan mulai menuntut uang untuk "kerugian keluarga". Bu Yati tidak memberinya kesempatan berdiri lama.
"Kalau mau bicara soal warisan, tunggu tanah kubur anakmu kering dulu," katanya di depan tetangga.
Bu Parmi menjerit bahwa Bu Yati tidak punya hati.
Bu Yati mengambil sapu lidi.
"Aku masih punya hati. Makanya cucuku tidak kubiarkan dijadikan alat tawar."
Kerabat laki-laki Bu Parmi langsung mundur ketika Bagus keluar dari dalam rumah. Wajah Bagus pucat kurang tidur, tetapi matanya cukup gelap untuk membuat orang berpikir dua kali. Hari itu, Bu Parmi pulang sambil menyumpah. Setelah itu ia hanya mengirim pesan panjang yang tidak dibalas.
Malam-malam berikutnya lebih berat.
Melati sering terbangun. Kadang ia menangis tanpa suara, kadang duduk di depan pintu menunggu. Bu Yati dan Tari bergantian menemaninya. Jika Tari menyanyikan sholawat pelan, Melati akan memeluk boneka kain dan menutup mata. Jika Bu Yati mengelus kepalanya, ia akan bertanya hal yang sama.
"Mak marah sama Mel?"
Setiap kali, dada Bu Yati seperti diremas.
"Tidak, Cucu. Makmu sudah jauh. Yang marah itu orang dewasa, bukan salahmu."
Bagus mencoba ikut, tetapi Melati masih sering kaku di dekatnya. Anak kecil tahu siapa yang sering pergi malam. Anak kecil juga tahu siapa yang benar-benar menunggu saat demam.
Pada hari ketiga setelah tahlilan kecil di rumah, Bagus pulang membawa kabar buruk.
"Aku diberhentikan dari kerja proyek," katanya sambil meletakkan helm di lantai. "Sering izin, sering hilang, mandor sudah cari orang lain."
Pak Tono langsung bangkit. "Makanya dari awal kerja tetap itu harus diberikan ke kamu. Laki-laki butuh pegangan. Tari bisa kerja apa?"
Tari yang sedang menyisir rambut Melati berhenti.
Bu Yati meletakkan gelas teh dengan pelan. "Tari bisa kerja kalau diberi kesempatan. Bagus bisa cari jalan kalau otaknya dipakai. Yang tidak bisa apa-apa itu laki-laki yang cuma minta diselamatkan."
Pak Tono tersinggung. "Aku cuma mikir masa depan keluarga."
"Masa depan keluarga bukan cuma anak laki-laki."
Bagus tidak membela ayahnya. Ia justru mengeluarkan beberapa kertas catatan dari tas.
"Aku sudah mulai coba jual barang lewat Tokopedia dan Shopee," katanya. "Dari Endang, aku dapat kontak orang kampung yang bisa kirim gula aren, keripik, sama bawang goreng. Modal kecil dulu. Aku titip jual ke warung dan online."
Bu Yati menatapnya. "Uang dari mana?"
"Sebagian dari tabunganku. Sebagian... nanti aku putar."
"Jangan pinjam ke orang yang bikin lehermu diikat."
Bagus tersenyum tipis. "Aku tahu, Bu."
Bu Yati tidak sepenuhnya percaya, tetapi ia menyimpan komentar. Di kepala Bagus terlalu banyak pintu rahasia. Namun untuk sekarang, ia butuh anak itu tetap berdiri, karena Melati butuh bapak yang tidak runtuh.
Pagi berikutnya giliran Tari.
Bu Yati mengeluarkan baju baru dari lemari, kemeja krem sederhana dan rok hitam yang ia beli saat perjalanan dari kampung. Tari memegangnya seperti memegang barang mahal.
"Ma, ini untuk wawancara?"
"Iya. Jangan pakai baju yang mengingatkanmu pada sawah itu."
Tari menunduk. "Kalau mereka tanya pengalaman?"
"Jawab jujur. Kamu lulusan SMA, bisa baca tulis, bisa hitung uang, bisa melayani orang. Jangan bilang kamu cuma bisa kerja sawah. Itu bukan kemampuan kecil, tapi bukan semua dirimu."
Tari mengangguk, tetapi tangannya gemetar saat memasang kancing. Bu Yati mendekat dan membetulkan kerahnya.
"Kamu tidak datang minta belas kasihan. Kamu datang mencari kerja."
Kontak wawancara itu didapat dari jalur yang membuat Watini menggigit bibir semalaman. Setelah uang empat juta dulu dipaksa keluar dari keluarga Prawiro, Bu Yati juga menagih janji kecil yang pernah disebut Sumiyem: saudara jauh mereka mengenal kepala toko di pusat perbelanjaan. Watini ingin menolak, tetapi Bu Yati cukup bertanya di depan Anto, apakah keluarga Prawiro mau dianggap tidak menepati omongan.
Akhirnya nama Tari masuk daftar wawancara.
Bagus mengantar Tari ke mal dengan motor yang ditempeli jaket ojol pinjaman temannya. Katanya sekalian belajar jalur, siapa tahu nanti bisa sambil antar pesanan. Bu Yati naik angkot lebih dulu dan menunggu di depan pintu masuk, karena ia tidak mau Tari merasa sendirian.
Di perjalanan, Tari duduk menyamping, kedua tangan memegang tas. Bagus melirik dari kaca spion.
"Mbak, kalau ditanya bisa kerja shift, bilang bisa. Tapi kalau ada laki-laki nyuruh ikut ke tempat sepi, jangan mau."
Tari terdiam.
Bagus menghela napas. "Aku serius."
"Iya, Mas Gus."
Ponsel Bagus bergetar di dashboard motor. Nama Narti muncul sekilas. Bagus cepat-cepat membalik layar.
Tari melihat gerakan itu, tetapi tidak bertanya.
Di mal, udara dingin dari AC membuat Tari menggigil. Toko pakaian tempat wawancara penuh lampu terang dan manekin dengan baju warna-warni. Seorang perempuan muda memanggil namanya. Bu Yati berdiri di luar kaca, menahan diri agar tidak ikut masuk.
Wawancara berlangsung lebih lama dari yang ia kira. Dari luar, Bu Yati melihat Tari berdiri tegak, menjawab dengan tangan sesekali saling meremas. Ada saat kepala toko menunjuk mesin kasir, lalu Tari mengangguk dan mencoba menghitung harga diskon di kertas. Wajahnya tegang, tetapi ia tidak menangis.
Bu Yati membeli semangkuk bakso dari gerobak di area parkir. Kuahnya panas, aromanya membuat perut kosong terasa hidup. Ia menunggu sambil memegang mangkuk itu, tidak peduli beberapa orang melihat perempuan tua berdiri sendirian dengan wajah terlalu serius.
Ketika Tari keluar, langkahnya pelan.
Bu Yati hampir tidak berani bertanya.
Lalu Tari tersenyum.
"Katanya aku bisa mulai training minggu depan, Ma."
Bu Yati menutup mata sebentar. Rasanya seperti ada batu besar turun dari dadanya.
"Makan dulu," katanya, menyodorkan bakso. "Orang yang baru dapat jalan hidup baru harus makan panas-panas."
Tari tertawa sambil menangis. Mereka duduk di pinggir parkir, berbagi satu mangkuk bakso. Bagus berdiri di dekat motor, pura-pura sibuk mengecek pesanan, padahal matanya beberapa kali merah.
Sore itu mereka pulang dengan hati sedikit lebih ringan.
Namun saat angkot berhenti di mulut gang, Bu Yati melihat sesuatu yang membuat langkahnya melambat.
Di depan rumah, sebuah motor ojol berhenti. Sri berdiri dekat Pak Tono dengan jilbab rapi dan wajah dibuat sayu. Di tangannya ada sebuah amplop cokelat.
Pak Tono tampak seperti orang yang ketahuan menyimpan api di balik sarung.