NovelToon NovelToon
Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Sang Konglomerat Berlutut di Hadapannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / CEO
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Mutiara Putri

Enam bulan menjadi "burung kenari" konglomerat paling berkuasa di Jakarta, Keira Salim menyelesaikan misinya -- membalas dendam untuk kakaknya yang koma akibat perundungan -- lalu pergi tanpa jejak.
Rayhan Hartono terbangun di apartemen kosong. Cincin berlian merah yang dipesan khusus dari Jerman masih di sakunya. Surat perpisahan Keira hanya berisi satu kalimat: *"Terima kasih. Kita impas."*
Baru saat kehilangan, sang pewaris Hartono Group menyadari -- dia bukan yang menyelamatkan Keira malam itu. Keira-lah yang merancang segalanya sejak awal.
Dan sekarang, pria yang tidak pernah berlutut di hadapan siapa pun... bersedia merangkak ke ujung dunia demi membawanya pulang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutiara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 26: Mimpi Singkat

Lalu ia memasukkan flash drive ke laptopnya malam itu.

Dua hari kemudian, topeng Vanessa benar-benar retak di tangan orang-orang yang dulu membelanya.

Lilian Hartono memutus hubungan total dengan keluarga Tanujaya. Investasi bersama ditarik, undangan makan keluarga dibatalkan, kontak Vanessa diblokir dari ponsel pribadinya. Engkong tidak banyak bicara, tetapi ketika sekretaris lama menanyakan apakah jadwal pertemuan dengan keluarga Tanujaya tetap disiapkan, ia hanya menjawab, "Tidak perlu."

Di dunia hiburan, nama Vanessa mulai turun seperti lampu yang satu per satu dimatikan. Endorsement kosmetik membekukan kontrak. Brand fashion menghapus foto kampanye. Rumah produksi yang kemarin membela mulai berkata mereka sedang mengevaluasi situasi.

Rayhan, dari luar negeri, ikut menarik sumber daya bisnis yang sempat ia pasang sebagai kompensasi. Tidak ada pernyataan cinta. Tidak ada penjelasan kepada publik. Hanya satu instruksi dingin yang membuat orang-orang paham bahwa perlindungan untuk Vanessa sudah selesai.

Keira membaca semua berita itu di apartemennya.

Ia tidak tersenyum.

Keadilan belum datang penuh. Itu baru akan datang setelah Bu Farida membuka semua bukti. Namun jalan keluar untuk Vanessa mulai menyempit, dan Keira tahu waktu yang tersisa di Jakarta juga ikut menyempit.

Malam itu, ia mulai mengemas.

Bukan baju lebih dulu.

Keira membuka laci paling bawah, tempat ia menyimpan semua dokumen yang pernah Rayhan berikan tanpa bertanya apakah ia mau. Sertifikat unit apartemen mewah. Surat kepemilikan mobil. Kartu akses fasilitas privat. Beberapa kartu kredit tambahan yang tidak pernah ia pakai. Semua dimasukkan ke dalam map plastik transparan, diberi label, lalu diletakkan di kotak cokelat besar.

Ia menulis daftar pengembalian di kertas A4, bukan di aplikasi. Tulisan tangannya rapi, hampir tanpa tekanan. Properti. Kendaraan. Kartu. Perhiasan. Barang pribadi. Di samping setiap item, ia memberi tanda centang setelah benda itu masuk kotak. Cara itu membuat semuanya terasa seperti inventaris kantor, bukan perpisahan.

Mungkin itu yang ia butuhkan.

Di lemari, ada tas branded yang dikirim Rayhan setelah pertengkaran kecil. Masih ada tag harga di beberapa bagian. Keira membungkusnya dengan dust bag asli, menaruh silica gel, lalu menata satu per satu.

Di kotak perhiasan, berlian dan safir berkilau di bawah lampu meja. Kalung safir yang dulu berisi pelacak sudah tidak ia simpan bersama yang lain. Benda itu berada di amplop terpisah, bersama modul mikro yang sudah dilepas teknisi. Keira menatapnya sebentar, lalu menutup amplop tanpa rasa sayang.

Jam tangan. Gelang. Anting. Kunci mobil. Kartu kamar hotel yang pernah Rayhan simpan sebagai kenangan aneh dari London. Semua masuk daftar.

Tidak satu pun ia bawa.

Tidak satu pun.

Tari datang sebentar membawa makan malam, tetapi berhenti di ambang pintu ketika melihat kotak-kotak memenuhi ruang tamu.

"Ci..."

"Aku bersih-bersih."

Tari jelas tidak percaya, tetapi ia juga mengenal nada suara itu. Ia hanya meletakkan kantong makanan di meja. "Kalau butuh bantuan, panggil aku."

"Pulanglah. Besok kamu masih kerja."

"Ci juga."

"Aku tahu."

Setelah Tari pergi, Keira mengatur layanan kurir premium dengan jadwal tertunda. Semua kotak akan dikirim ke Hartono Estate setelah ia meninggalkan Jakarta. Alamat tujuan ditulis jelas. Penerima: Rayhan Hartono. Catatan: barang pribadi, jangan dibuka di perjalanan.

Operator kurir menanyakan apakah nilai barang perlu diasuransikan.

"Ya," jawab Keira.

"Perkiraan total?"

Keira melihat kotak-kotak itu. Ia tidak tahu angka pastinya. Rayhan sering memberi sesuatu seperti orang melempar kunci ke meja, tanpa menjelaskan harga.

"Tulis nilai maksimum layanan kalian."

"Baik, Bu."

Ketika telepon ditutup, Keira menyadari tangannya tidak gemetar. Itu membuatnya lebih sedih daripada jika ia menangis.

Saat menutup kotak terakhir, tangannya berhenti pada kalung berlian kecil berbentuk ombak yang dibeli Rayhan di Bali.

Benda itu tidak bersalah.

Rayhan juga tidak sepenuhnya bersalah dalam semua hal. Itu justru bagian tersulit. Jika ia hanya kejam, pergi akan mudah. Jika semua yang diberikannya hanya rantai, Keira bisa memutusnya tanpa menoleh. Namun di antara kesalahan, ada bubur asin, sofa kecil, drone yang menunggu izin, dan suara rendah yang pernah berkata aku cinta kamu.

Keira menggenggam kalung itu sampai ujung liontinnya menekan telapak tangan.

Anggap saja semua ini, kamu dan aku, hanya mimpi singkat.

Ia meletakkan kalung itu ke kotak perhiasan dan menutupnya.

Pukul sebelas malam, Keira menelepon Kevin.

"Transfer ke HEALER Surabaya sudah disetujui," kata Kevin. "Secara administrasi, kamu bisa mulai minggu depan. Untuk Safira, rumah sakit swasta Surabaya sudah menerima berkas. Ambulans medis bisa jalan di hari yang sama dengan keberangkatanmu."

"Bagus."

"Kamu yakin tidak memilih beasiswa luar negeri?"

"Aku tidak akan meninggalkan Fira sejauh itu."

Kevin terdiam sebentar. "Rayhan?"

Keira melihat kotak-kotak di ruang tamu. "Dia bukan bagian dari rencana setelah ini."

"Kalimat itu terdengar seperti sesuatu yang kamu paksa agar benar."

"Kev."

"Baik. Aku diam."

Setelah telepon berakhir, pesan dari Rayhan masuk.

Besok aku pulang. Tunggu aku.

Keira membaca pesan itu lama.

Di ruang tamu, kotak-kotak cokelat menunggu seperti saksi bisu.

Setelah semua barang masuk, rak yang dulu penuh hadiah mendadak kosong. Debu tipis membentuk bekas persegi di atas kayu.

Seperti ada yang pernah tinggal di sana.

Ia meletakkan ponsel menghadap bawah, mengambil lakban, lalu melanjutkan mengemas sendirian.

1
kitty ❤
lanjut Thor 😍🔥
kitty ❤
Semangat Thor 😍🔥
kitty ❤
lanjut Thor 🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!