NovelToon NovelToon
Bukan Ibu Tiri Biasa

Bukan Ibu Tiri Biasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Asmara / Reinkarnasi / CEO / Anak Genius / Ibu Tiri
Popularitas:10.6k
Nilai: 5
Nama Author: Vionique

Ning terbangun di ranjang rumah sakit dengan tubuh yang bukan miliknya.
Perutnya rata. Bayinya hilang. Dan tahun di kalender menunjukkan angka yang mustahil — enam belas tahun telah berlalu sejak malam kecelakaan yang merenggut nyawanya.
Tapi anaknya masih hidup.
Kian Nie, 16 tahun. Pewaris tunggal Semesta Group. Remaja berambut perak dengan tatapan sedingin es — yang langsung mengusirnya begitu mendengar namanya.
Karena nama Ning... adalah nama mendiang ibunya.
Ning tahu ia tidak bisa mengaku. Tidak kepada Kian yang masih memendam luka ditinggal ibunya. Tidak kepada Kevin Nie — suami lamanya yang kini menjadi CEO paling berkuasa di Jakarta, yang masih memakai cincin pernikahan mereka setelah enam belas tahun, yang masih menonton video terakhirnya setiap malam sebelum tidur.
Yang tidak Ning tahu: Kevin sudah mengenalinya. Matanya, caranya tertawa, kebiasaannya yang tak mungkin dipelajari orang lain.
Dan ia akan melakukan apapun untuk tidak kehilangan Ning — untuk kedua kalinya.
Pernikahan kilat. Identitas yang tersembunyi. Seorang anak yang diam-diam memanggil "Mama" saat mengira ia tidur. Dan satu keluarga yang bersekongkol menjaga rahasia terbesar mereka — bahwa ibu tiri baru Kian... bukan ibu tiri biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vionique, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 9

Bab 9: Menyelamatkan Anak-Anak

Tiga hari setelah kecelakaan itu, Ning menerima pesan dari Felix saat sedang menunggu KRL.

Ci Ning, emergency.

Kian di kantor polisi.

Jantung Ning hampir jatuh ke perut.

Pesan berikutnya datang sebelum ia sempat mengetik balasan.

Bukan cuma Kian. Aku juga. Remo, Sean, Yuga juga. Tolong jangan kasih tahu Mama dulu. Aku literally belum siap mati.

Ning langsung menelepon.

Felix mengangkat dengan suara berbisik panik. "Ci, jangan marah dulu, ya. Ini semua salah paham. Maksudku, bukan salah paham juga sih, kita memang berantem, tapi penyebabnya mulia."

"Lokasi."

"Polsek dekat JEIS."

"Kalian terluka?"

Felix diam setengah detik. "Remo agak parah. Tapi dia bilang gak apa-apa. Orang kayak Remo kalau bilang gak apa-apa biasanya artinya perlu dijahit, jadi..."

"Saya ke sana sekarang."

Ning menutup telepon dan langsung memesan ojol. Sepanjang perjalanan, tangannya tidak lepas dari ponsel. Bayangan Kian dengan pelipis merah setelah kecelakaan kembali muncul. Tubuhnya belum benar-benar pulih, tetapi rasa takut membuatnya lupa pada pusing.

Polsek itu tidak besar. Di ruang tunggu, lima remaja duduk berjajar seperti anak kucing basah yang dipaksa terlihat garang.

Kian duduk paling ujung, wajahnya dingin. Sudut bibirnya luka. Felix di sebelahnya terus bicara pada Sean yang tampak lebih banyak menghela napas. Yuga memegang kompres di pipi. Remo duduk paling tenang, tetapi punggung tangannya berdarah dan tulang pipinya membiru.

Begitu melihat Ning, Felix berdiri cepat. "Ci Ning!"

Kian ikut menoleh. Ekspresinya berubah sangat singkat, hampir tidak terlihat. Lega. Lalu langsung tertutup lagi.

"Lo kenapa datang secepat itu?" katanya.

"Karena kamu di kantor polisi."

"Gue gak minta dijemput."

"Felix minta."

Felix mengangkat tangan. "Aku mengaku. Tapi demi kebaikan bersama."

Seorang polisi berusia empat puluhan keluar membawa beberapa lembar formulir. "Ibu dari pihak keluarga?"

Kian membuka mulut, tetapi Ning menjawab lebih dulu dengan tenang, "Saya penanggung jawab sementara dari rumah Kian. Saya tutor privatnya. Keluarga sudah diberi tahu bahwa saya datang lebih dulu."

Itu setengah benar. Kevin belum diberi tahu, tetapi jika ia menunggu semua orang tua datang, lima anak ini akan duduk lebih lama dengan luka yang belum dibersihkan.

Polisi itu membaca nama di formulir. "Bu Ning?"

"Iya."

"Anak-anak ini berkelahi di dekat sekolah. Pihak lawan juga sudah dimediasi. Karena tidak ada luka berat dan pihak sekolah akan menangani disiplin internal, mereka bisa pulang setelah ada orang dewasa yang bertanggung jawab menandatangani berita acara."

Ning menatap lima remaja itu.

Felix langsung menunduk.

Sean pura-pura melihat lantai.

Yuga memandang dinding.

Remo tetap tenang, tetapi jari-jarinya mengepal kecil.

Kian hanya menatap balik, seolah menantang Ning untuk memarahinya.

Ning mengambil pulpen. "Saya tanda tangan."

Kian mengerutkan kening. "Gak tanya dulu?"

"Setelah keluar."

Ia menandatangani sebagai penanggung jawab sementara, mencatat nomor ponsel, lalu meminta izin membersihkan luka mereka sebelum pergi. Pak Budi, polisi itu, memberi kotak P3K kecil.

Di kursi panjang ruang tunggu, Ning mulai dari Remo.

"Tanganmu."

"Tidak apa-apa, Ci," jawab Remo sopan.

"Kalau tidak apa-apa, darahnya tidak akan keluar."

Felix langsung menunjuk Remo. "Nah! Aku sudah bilang, kan? Dia sok cool banget. Tadi mukanya hampir dipukul dua kali masih bilang santai."

Remo meliriknya. "Kamu juga dipukul."

"Tapi aku tidak sok pahlawan."

"Kamu berteriak duluan."

"Itu strategi intimidasi."

Ning hampir tersenyum, tetapi ia menahan. Ia membersihkan luka Remo dengan hati-hati. Anak itu tidak meringis sama sekali. Terlalu tenang untuk anak seusianya.

"Kenapa berkelahi?" tanya Ning.

Tidak ada yang menjawab.

Kian akhirnya berkata, "Ada yang cari masalah."

"Dengan siapa?"

"Remo."

Sean menambahkan pelan, "Remo ranking satu paralel. Ada beberapa anak yang tidak terima. Mereka bilang macam-macam soal keluarganya."

Wajah Remo tetap datar.

Tapi Ning melihat rahangnya mengeras.

"Lalu kalian berlima memutuskan solusi terbaik adalah berkelahi?"

Felix mengangkat telunjuk. "Secara teori, bukan terbaik. Tapi saat itu terasa paling cepat."

Ning menatapnya.

Felix menurunkan telunjuk. "Oke. Salah."

Ning selesai memasang plester di tangan Remo. "Membela teman itu baik. Tapi kalau kalian semua masuk kantor polisi, yang senang justru orang yang memancing kalian."

Kian mendecak. "Jadi harus diam aja?"

"Tidak." Ning menoleh padanya. "Kalian bisa melapor ke sekolah, rekam bukti, panggil orang dewasa yang bisa menekan pihak lawan. Kalau tetap harus melawan, pastikan kalian tidak memberi mereka senjata untuk menyalahkan kalian."

Lima remaja itu terdiam.

Yuga berbisik, "Ci Ning serem juga."

Felix mengangguk cepat. "Serem tapi elegan."

Ning akhirnya tersenyum. "Sekarang, kalian makan."

"Hah?" Kian menatapnya.

"Kalian habis berkelahi. Gula darah turun. Luka juga harus diurus. Saya traktir."

Felix langsung hidup kembali. "Ci, serius? Aku boleh pilih?"

"Boleh. Tapi jangan terlalu mahal."

Lima belas menit kemudian, Ning sadar ia salah memberi Felix hak memilih.

Mereka duduk di restoran all you can eat Jepang yang cukup ramai dekat sekolah. Felix meyakinkan bahwa ada promo pelajar. Ternyata promo itu tetap membuat Ning menelan ludah saat melihat harga. Namun sebelum ia sempat mundur, Kian sudah membayar di kasir dengan wajah datar.

"Gue yang bayar."

"Kian, saya yang mengajak."

"Lo udah tanda tangan di kantor polisi. Itu cukup."

Felix berbisik pada Sean, "Anjir, sudah mulai protect."

Kian menendang kakinya di bawah meja.

Saat makanan datang, suasana berubah aneh hangat. Sean memanggang daging untuk semua orang. Yuga mengambil minum. Felix terus menaruh makanan di piring Ning sambil berkata, "Ci harus makan banyak, tadi mukanya pucat banget." Remo diam-diam menukar piring Ning yang terlalu dekat dengan kompor agar tangannya tidak kepanasan.

Ning duduk di tengah mereka, sedikit kewalahan.

"Kalian tidak perlu melayani saya seperti ini."

"Perlu," kata Felix. "Ci sudah menyelamatkan kami dari hukuman orang tua."

"Saya belum yakin kalian benar-benar selamat."

"Setidaknya sebelum malam ini."

Remo tersenyum tipis. "Kian biasanya tidak membiarkan orang dewasa ikut campur."

Kian langsung menatapnya. "Makan aja."

"Tapi kali ini dia menelepon Felix untuk minta kamu datang," lanjut Remo tenang.

Kian hampir tersedak. "Gue gak minta."

Felix mengangkat tangan lagi. "Secara teknis, dia cuma bilang, 'Telepon dia.'"

Ning menatap Kian.

Telinga Kian memerah. "Karena kalian ribut."

"Iya, iya," kata Sean, menahan senyum.

Ning menunduk untuk menyembunyikan senyum. Di dadanya, sesuatu yang hangat tumbuh pelan. Bukan penerimaan penuh. Belum. Tapi Kian sudah membuka satu celah kecil.

Ketika Ning menaruh potongan salmon panggang ke piring Remo karena luka anak itu paling banyak, Kian tiba-tiba meletakkan satu piring daging matang di depan Ning.

"Makan punya lo sendiri."

Ning berkedip. "Saya makan."

"Dari tadi ngurusin Remo terus."

Meja mendadak sunyi setengah detik.

Felix menutup mulut dengan tisu. Bahunya bergetar menahan tawa.

Remo menatap piringnya dengan tenang, tetapi sudut mulutnya naik.

Ning mengambil daging itu. "Terima kasih, Kian."

"Bukan buat lo senang. Biar lo gak pingsan."

"Iya."

Setelah makan, yang lain dijemput sopir masing-masing. Kian justru ikut Ning berdiri di pinggir jalan menunggu ojol.

"Kamu tidak pulang dengan mobil?"

"Mobil belum datang."

Padahal lima menit sebelumnya Ning melihat mobil keluarga Nie berhenti tidak jauh dari restoran.

Ojol datang. Kian naik lebih dulu, lalu menoleh. "Ayo."

Ning ragu. "Kamu ikut?"

"Gue anter sampai jalan depan kontrakan. Jangan banyak tanya."

Di atas motor yang bergerak pelan keluar dari area restoran, Kian duduk di belakang Ning dengan jarak kaku. Angin sore menyentuh wajah mereka.

Beberapa menit berlalu sebelum Kian bicara.

"Lo tahu Pak Kevin orangnya gimana?"

Ning menegang.

Kian menatap jalan di depan, suaranya lebih rendah.

"Menurut lo, dia orang yang seperti apa?"

1
Siti Hawa
ceritanya bagus, ku kasih Bintang 5 thoor..
Siti Hawa
lanjut thoor.. mawar untuk mu
Anbu Hasna
sementang aku juga punya pr essay Bahasa, aku disuru tunggu juga. sama kayak Kian... 🤣🤣🤣
neng ade
sukaa banget dengan interaksi keluarga kecil ini .. ❤️
neng ade
akhirnya Ning menemukan kebahagiaan nya bersama anak dan suami nya ❤️
neng ade
😭😭 selamatkan Ning
neng ade
nyesek ..🥹
neng ade
sedikit demi sedikit mulai ada titik terang
neng ade
syukurlah mereka semua nya baik-baik aja
neng ade
semoga Ning bisa selalu dekat dengan Kian dan Kevin ❤️
neng ade
semoga suatu saat nanti Kian bisa menerima kehadiran Ning
Anbu Hasna
hal yang sama yg aku ucapin tiap Mama ketemu bestinya... "setengah bulan lagi kujemput, aku mau tidur". 🤣🤣
dan sekarang kata-kata itu dipakai si Abang kalau antar aku ketemu bestieku... buah jatoh sepohon-pohonnya
Anbu Hasna
Kian mulai ogah punya bapak kulkas
End Shara
sukaa ceritanya,beda dr yg lain...semangat k up yg banyak
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!