Dua minggu sebelum pernikahan, dunia Larasati runtuh saat memergoki Arjuna, tunangan sekaligus pacar pertamanya yang ternyata sudah menghamili wanita lain.
Tanpa air mata, Larasati melempar cincin dan membatalkan pernikahan demi harga diri. Namun, pengkhianatan itu justru membawa Larasati ke pelukan Dewa Dirgantara, CEO konglomerat tempatnya bekerja yang siap pasang badan melindunginya.
Sementara itu, Arjuna menyesal bersama selingkuhannya yang tinggal di sebuah rumah kecil.
Sanggupkah Larasati menyembuhkan lukanya demi cinta Dewa? Dan bagaimanakah akhir dari penyesalan sang mantan tunangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Umma Khummaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Larasati tidak bisa tenang duduk di kursi kebesarannya. Setelah merenungkan kembali ucapan Dewa Dirgantara di ruangannya tadi, akal sehat Larasati sebagai wanita yang memprioritaskan profesionalisme di atas segalanya mulai menolak. Ia merasa keputusan sepihak Dewa untuk memutus kontrak dengan perusahaan Arjuna adalah tindakan impulsif yang berisiko merugikan reputasi agensinya sendiri.
Dengan tarikan napas panjang, Larasati bangkit berdiri dari meja kerjanya. Ia berjalan tegas menuju lift, kembali naik ke lantai teratas untuk mengetuk pintu ruang kerja sang CEO, lalu melangkah masuk dengan tatapan ketegasan seorang wanita karier yang matang.
"Pak Dewa, maaf saya harus kembali menginterupsi. Saya rasa rencana Anda untuk memutus kontrak kerja sama dengan perusahaan Arjuna karena masalah pribadi saya, adalah tindakan yang kurang profesional. Secara hukum dan bisnis, perusahaan mereka tidak melakukan pelanggaran dalam proyek ini, dan pemutusan sepihak justru akan merusak nama baik Dirgantara Media Group sebagai mitra yang impulsif. Saya tidak ingin masalah pribadi saya dijadikan alasan runtuhnya sebuah kerja sama yang menguntungkan bagi agensi kita." ucap Larasati dengan suara yang berwibawa, lugas, dan penuh dengan argumen logis yang tidak terbantahkan.
Dewa Dirgantara tertegun di balik meja marmer hitamnya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya, ada seorang karyawan perempuan yang berani mengonfrontasi keputusannya secara langsung dengan argumen sekuat itu. Alih-alih marah, sudut bibir Dewa perlahan terangkat tipis, memancarkan rasa kagumnya yang semakin tidak bisa ia sembunyikan dari wanita berusia 35 tahun di hadapannya ini.
Tepat saat keheningan yang intens itu tercipta, pintu ruangan terbuka sedikit. Sesosok pria muda berpenampilan necis menyembulkan kepalanya dengan cengiran tanpa dosa. Pria itu adalah Evan, asisten pribadi sekaligus tangan kanan Dewa yang terkenal bermulut tajam namun sangat setia. Ternyata, dia adalah sosok dibalik pengirim pesan perselingkuhan kemarin.
"Permisi, Bos Besar yang terhormat. Saya tidak sengaja menguping dari balik pintu, dan saya 100 persen setuju dengan Mbak Larasati. Lagipula, mentang-mentang baru pertama kali naksir perempuan setelah melajang selama 38 tahun, jangan langsung grasak-grusuk memutus kontrak orang dong, Bos. Nanti kelihatan banget cemburunya, kan tidak lucu." celetuk Evan dengan nada menggoda yang sangat santai. Ia mengedipkan sebelah matanya kepada Larasati, tanpa rasa takut sedikit pun pada tatapan mematikan yang langsung dilayangkan Dewa ke arahnya.
"Evan, keluar atau saya potong bonus tahunanmu sekarang juga!" ancam Dewa dengan suara baritonnya yang mendadak sedingin es, membuat Evan langsung menarik kepalanya keluar sambil tertawa cekikikan di balik pintu.
Dewa kembali mengalihkan pandangannya pada Larasati, berdehem pelan untuk menutupi rasa canggungnya akibat ulah asisten usilnya itu.
"Baiklah, Larasati. Demi profesionalisme yang kamu agungkan, kontrak kerja sama itu tidak akan saya putus. Perusahaan mereka tetap menjadi mitra kita."
Larasati mengangguk hormat dengan seulas senyum lega. "Terima kasih atas kebijaksanaannya, Pak Dewa. Saya permisi kembali ke ruangan saya." Larasati berbalik dan melangkah keluar dengan hati yang jauh lebih tenang.
Dan, satu hal yang belum Larasati sadari adalah keputusannya mempertahankan kontrak justru akan membawa Arjuna menghadapi siksaan mental melihat mantan tunangannya didekati oleh sang penguasa tertinggi perusahaan.
XXXXXX
Mobil sedan hitam milik Arjuna membelah keheningan malam menuju ke arah Jagakarsa. Di kursi penumpang, Selly duduk diam sambil memeluk tas pakaian besarnya dengan perasaan yang campur aduk. Ia mengira, setelah skandal ini terbongkar Arjuna akan langsung membawanya masuk ke rumah keluarga besar mereka dan memperlakukannya seperti ratu. Tapi kenyataannya, sepanjang perjalanan Arjuna hanya membisu dengan rahang mengeras, memancarkan aura dingin yang belum pernah Selly rasakan sebelumnya dari pria itu.
"Mas, kita sebenarnya mau ke mana? Ini bukan jalan menuju rumah orang tuamu, kan?" tanya Selly dengan nada suara yang sengaja dibuat serapuh mungkin, berharap bisa mencairkan suasana membeku di dalam mobil."
Jangan banyak bertanya, Selly. Ayah dan Ibu masih sangat marah dan muak melihat mukamu, jadi mereka ga mau kalau kita tinggal disana. Kamu akan tinggal di rumah kecil milik keluargaku di pinggiran kota ini sampai hari pernikahan darurat kita tiba dua minggu lagi. Turuti saja semua aturan orang tuaku jika kamu masih ingin anak di dalam kandunganmu itu memiliki status hukum yang jelas!" jawab Arjuna dengan nada suara yang ketus, dingin, dan tanpa perasaan, membuat senyum kemenangan di hati Selly seketika memudar digantikan oleh rasa waswas.
Sementara Selly mulai mencicipi dinginnya perlakuan keluarga Arjuna, di tempat lain, keluarga besar Larasati tidak tinggal diam dalam menghadapi badai ini. Baskoro, sang ayah yang memiliki pengaruh kuat di lingkaran bisnis, bergerak cepat malam itu juga bersama tim hukum keluarga untuk menyebarkan surat konfirmasi resmi berbentuk cetak dan digital kepada seluruh relasi, kolega kerja, serta keluarga besar mereka.
Langkah taktis ini sengaja diambil agar pihak Arjuna tidak memiliki celah sedikit pun untuk memutarbalikkan fakta atau membuat alasan palsu demi menyelamatkan nama baik mereka sendiri. Pesan konfirmasi itu tertulis dengan sangat elegan namun menohok: “Dengan hormat, kami mengumumkan bahwa rencana pernikahan antara Larasati dan Arjuna resmi DIBATALKAN per tanggal hari ini karena adanya ketidakcocokan prinsip yang tidak dapat ditoleransi dari pihak calon mempelai pria. Seluruh sengketa materiil terkait vendor pernikahan saat ini sedang ditangani oleh kuasa hukum kami.” Kata-kata tegas dalam pengumuman tersebut langsung menyebar cepat di kalangan pebisnis kota, membuat semua orang tahu secara tersirat bahwa Arjunalah yang melakukan kesalahan fatal, sekaligus mengunci rapat seluruh sisa harga diri keluarga mereka sebelum mereka sempat menyebarkan kebohongan tentang ganti mempelai wanita.
Siksaan mental untuk Selly sudah dimulai sejak sebelum menikah, dan langkah keluarga Larasati yang super cerdas ini benar-benar menutup ruang bagi pihak Arjuna untuk cuci tangan.
tadi diawal ngomongnya manis bet ke Selly.
sekarang ditinggal Laras ngomongnya manis ke laras. hadeuh🤭🤭
bagus lah kalian pasang yg cocok sama" bobrok