NovelToon NovelToon
Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Gadis Buta Dan Pemuda Buruk Rupa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Diam-Diam Cinta / Orang Disabilitas
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: ELIYONA_5758

Melati, gadis miskin dan buta, yang dijual oleh bibinya. Demi utang. Tak pernah mengira, pelariannya dari kejaran anak buah Juragan Herwanto akan menuntunnya pada dekapan masa lalu.

Di sebuah gang sempit, ia dipertemukan kembali dengan Satya, sahabat karibnya saat tumbuh bersama di panti.

Lima tahun berpisah, takdir kembali mempertemukan keduanya, dalam balutan nestapa yang berbeda.

Melati tidak pernah tahu bahwa Satya hidup dalam bayang-bayang wajah yang cacat, akibat kebakaran hebat masa lalu. Tragedi maut yang menewaskan orang tuanya. Satya sengaja didepak dan dianggap mati oleh pamannya yang picik demi menguasai harta warisan keluarga Utama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ELIYONA_5758, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33. Aku Hamil Bagas!

"Mbak bisa mati di meja operasi kalau nekat melakukan aborsi!" bentak Dokter Reni tegas. "Resikonya bukan cuma infeksi berat atau kemandulan permanen, tapi keselamatan jiwa Mbak sendiri. Rahim Anda bisa robek dan memicu komplikasi fatal. Saya tidak akan pernah menyetujui aborsi! Terlalu beresiko."

"Dokter jahat! Dokter sengaja mau hancurin hidup saya, kan?!" Mawar merancau. Menyapu beberapa kertas di meja dokter hingga berhamburan ke lantai.

"Mbak Mawar, kendalikan emosi Anda!" seru Dokter Reni seraya menekan tombol panggil untuk memanggil suster. "Menolak kenyataan tidak akan mengubah keadaan. Bayi itu ada di dalam rahim Anda, dan tindakan nekat hanya akan mengorbankan nyawa Anda sendiri."

Mawar membatu di tempat. Perlahan mulai terisak histeris. Bahunya berguncang hebat. Uang miliaran di rekeningnya, rumah mewah yang baru dibelinya, dan seluruh impian menjadi nyonya kaya, seketika musnah. Digantikan ketakutan yang mencekam.

Ia meremas perutnya dengan rasa benci yang teramat sangat. Seolah terperangkap dalam sangkar dosa yang tidak sengaja diciptakannya.

---

Mawar memacu sepeda motor matic-nya melintasi gerbang Cluster Permata.

Mengabaikan angin sore yang menampar wajah sembab-nya.

Beberapa tetangga kompleks elite yang sedang bersantai di teras rumah. Tampak menatap sinis ke arahnya.

Merasa heran, sebab gadis yang kemarin pamer kemewahan, kini justru pulang mengendarai motor dengan wajah tampak tak karuan.

Mawar bukan tidak tahu, tapi ia memilih tak peduli pada tatapan merendahkan itu.

Otaknya dipenuhi kepanikan liar. Ia hamil dan tidak menginginkan bayi dalam perutnya.

“Aku tak mau benih Herwanto tua,” pekiknya panik. “Biar bagaimana pun, bayi ini harus mati!”

Pikirannya mulai sibuk menyusun rencana paling nekad dalam hidupnya.

Begitu sampai di halaman rumah mewahnya. Mawar membanting motornya hingga roboh. Berlari masuk ke kamar, mengabaikan Turi yang menatapnya bingung. Memilih mengunci pintu.

Dengan tangan gemetar, Mawar mengambil gawai di dalam tas. Mencari nomor Bagas, lalu menekan tombol panggil. “Ini satu-satunya yang bisa aku coba lakukan,” gumamnya kacau.

"Halo? Mawar? Mau apa lagi kamu telepon aku?!" celetuk suara Bagas di ujung telepon, terdengar penuh rasa tidak nyaman. "Bukannya sisa uangmu sudah masuk? Urusan kita sudah selesai!"

"Bagas ... hiks ... tolong aku, Gas ...." Mawar merancau, sengaja memicu tangisan histeris demi memancing simpati sekaligus rasa empati pria itu.

"Kamu kenapa, sih?! Jangan buat drama baru deh!" gertak Bagas, nadanya mulai tegang.

"Aku hamil, Gas! Aku hamil anakmu!" teriak Mawar di antara isak tangis palsunya, melancarkan gertakan sekaligus tekanan.

Di seberang sana, Bagas seketika bungkam.

Suara deru napasnya mendadak terdengar memburu dan panik. "A-apa?! Jangan bercanda kamu, Mawar! Kita cuma berhubungan sekali waktu itu. Nggak mungkin kamu hamil! Pasti itu bukan anakku!”

"Tapi kenyataannya aku positif hamil. Dan aku Hanya berhubungan dengan, kamu! Bagas Utama!" cercar Mawar, menyela tanpa memberi celah. "Aku baru saja pulang dari dokter! Untuk konsultasi mengenai operasi virginity, tapi ternyata … hiks. Hasil USG dan tes darah mengatakan kalau aku hamil.”

"Gugurkan!" bentak Bagas, suaranya gemetar menahan syok luar biasa. "Aku transfer lima ratus juta, untuk tambahan. Tapi aku mau bayi itu mati!’

"Nggak bisa, Bagas! Nggak bisa!" Mawar makin histeris, memanfaatkan peringatan dokter tadi sebagai senjata. "Dokter bilang rahimku tipis! Kalau aku nekat aborsi, aku bisa pendarahan hebat dan mati di meja operasi! Bayi ini tidak bisa digugurkan!"

"Bangsat!" umpat Bagas kasar. "Lalu kamu mau apa, Mawar?”

"Kamu harus bertanggung jawab!" desak Mawar, matanya berkilat penuh ancaman. "Kalau kamu menolak, aku bakal datang ke kantor Utama Group! Aku bakal bongkar ke semua media ... kalau calon pewaris Utama Group sudah menghamiliku dan menolak bertanggung jawab!"

Bip.

Mawar memutus panggilan sepihak, menyunggingkan senyum tipis di balik sisa air matanya. Meninggalkan Bagas yang kini hancur dalam cengkeraman panik.

---

Sementara itu, di dalam ruang kerja megah di kediaman Utama, Bagas berdiri mematung. Gawainya merosot dari genggaman, jatuh menimpa karpet tebal. Wajahnya pias seakan tanpa darah. Dadanya naik turun mengandalkan napas yang mulai sesak.

"Tidak ... ini tidak boleh terjadi," gumam Bagas dengan suara tercekat. Ia meremas rambutnya frustrasi, melangkah bolak-balik di depan meja kerja. "Bagaimana aku bicara pada Ayah? Kalau Mama tahu aku bisa mati. Dia alergi orang miskin. Tahu kalau Mawar adalah sepupu pacar Bram … arkkkkkh!”

Bagas mencoba merangkai kata-kata di dalam benaknya. Panik setengah mati memikirkan nasib nama baik keluarga dan posisinya di perusahaan. "Aku harus bilang apa? ‘Ma, Mawar hamil anakku'? 'Ma, aku terpaksa harus menikahi Mawar'? Tidak, Mama pasti membunuhku ...."

"Siapa yang hamil, Bagas?"

Suara berat dan dingin mendadak menggelegar dari ambang pintu membuat jantung Bagas seolah berhenti berdetak.

Bagas berbalik perlahan dengan tubuh kaku. Di sana, berdiri Heru Utama dengan tangan bersedekap, menatap putra tunggalnya itu dengan kilat mata murka yang sangat mengerikan.

“A-ayah ..," bisik Bagas, suaranya mendadak hilang di tenggorokan, tercekik oleh tekanan atmosfer yang seketika berubah panas dan mencekam.

Heru melangkah masuk ke dalam ruang kerja dengan pijakan kaki yang berat. Matanya tertuju lurus, menghampiri Bagas yang tampak kacau di dekat meja kerja.

Pemuda itu berdiri mematung dengan wajah pucat pasi, ketakutan jelas terpancar dari gelagat tubuhnya yang gemetar.

“Jawab pertanyaan Ayah, Bagas!” bentak Heru, suaranya menggelegar memenuhi setiap sudut ruangan. “Siapa yang hamil? Perempuan mana yang baru saja bicara denganmu di telepon? Jawab!”

Bagas menelan ludah dengan susah payah. Tenggorokannya terasa tersumbat, seolah tak ada udara yang sanggup lewat. “A-Ayah … sejak kapan Ayah berdiri di situ?”

“Jangan berbelit-belit!” Heru memukul permukaan meja kerja dengan telapak tangannya.

Brak!

“Ayah mendengar semuanya! Ayah mendengar perempuan itu menuntut tanggung-jawab! Siapa dia, Bagas? Katakan!”

“Mawar, Yah,” suara Bagas terdengar lirih. Ia menundukkan kepala, tak sanggup beradu pandang dengan sorot mata ayahnya yang berkilat murka. “Mawar dia salah satu staff Ayah. Dia … mengaku hamil anak Bagas.”

Dahi Heru berkerut dalam, mencoba mengingat nama yang tak asing itu. “Mawar? Mawar customer service Kantor Pembiayaan Utama?’

Bagas mengangguk pelan, jemarinya meremas tepi kemejanya sendiri. “Iya, Yah. Mawar yang itu.”

Heru memajukan langkahnya, menatap putranya dengan pandangan tak percaya sekaligus muak. “Tunggu dulu. Dia mengundurkan diri secara mendadak kemarin. Menyombongkan diri kalau calon suaminya pria kaya. Apakah pria yang dia maksud itu kamu, Bagas?”

“A-aku tidak tahu kalau dia menyombongkan hal itu di kantor, Yah,” aku Bagas dengan suara bergetar.

“Apa jangan-jangan ….” Heru menudingkan jarinya tepat ke depan wajah Bagas. “Pengunduran dirinya atas desakan-mu?”

“Iya, Yah! Aku yang menyuruhnya keluar!” pekik Bagas, akhirnya pertahanannya jebol di bawah tekanan bertubi-tubi. Ia memegangi kepalanya yang mendadak terasa dihantam paku. “Aku yang bayar dia ... tiga milyar. Supaya dia keluar dari kantor dan menjauh dari hidupku! Aku tidak mencintainya, Yah!”

“Kenapa kamu melakukan itu kalau kamu tidak punya rasa padanya? Kenapa kamu harus memberi dia uang kalau kamu tidak berbuat jahat padanya?!” cecar Heru, nadanya naik satu oktaf.

“Karena aku panik, Yah! Aku takut!” teriak Bagas, matanya mulai berkaca-kaca menahan frustrasi yang membakar dada. “Malam itu … di hotel beberapa minggu lalu … aku benar-benar mabuk berat! Aku sama sekali tidak mengingat apa pun tentang malam terlarang itu, Yah! Demi Tuhan, aku tidak ingat pernah menyentuhnya!”

1
Lianty Itha Olivia
semakin byk nama tokoh pemerannya sampai GK kenal alur ceritanya, rumit dan berliku
ELIYONA: semangat
total 1 replies
Lianty Itha Olivia
semoga sebelum pernikahan mawar dan Bagas sudah ketahuan KLO hamilnya mawar BKN Krn Bagas biar mampus tu mawar berduri
Lianty Itha Olivia
kubusukan ht mawar hanya akan berbuah petaka utnya sendiri
Lianty Itha Olivia
ibu turi kebanyakan makan pecel sayur Turi makanya otaknya pekok
Lianty Itha Olivia: 😆😆😆💪💪💪💪💪💪💪
total 2 replies
Lianty Itha Olivia
😭kasihan melatinya
ELIYONA: banget sis🤭
total 3 replies
Ery Sithi Badriyyah
seru kak😍
Lianty Itha Olivia
waaaoo mawar yg sangat berduri dan kejam
Harsoemi Akm
lanjutksn
Hesty Gemini
lanjut, jangan lupa mampir ya di karya aku. 🙏
ELIYONA: makasih.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!