"Bagaimana setangkai mawar membalas dendam saat kelopaknya ditarik habis?"
Dicap kutukan karena berambut red wine dan bermata storm silver, Annaline diusir dan kamarnya dibakar oleh keluarga kandungnya. Namun, pelarian ke Imperium Aethelgard justru membangkitkan rahasia darah 400 tahun lalu: Thread Magic, sang Sihir Benang Takdir.
Bersama prajurit misterius bermata perak yang menyimpan otoritas tertinggi, Annaline mulai merajut jaring perang dan bisnis lewat butik barunya.
Siapakah pria itu sebenarnya? Dan rahasia kelam apa yang akan terkoyak saat sang putri terbuang mulai menarik benang kehancuran mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SweetMoon2025, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2. Tuduhan Keji di Malam Badai
"Lady Veronika ... Aku tidak pernah menggoda siapa pun! Kita semua sedang berduka hari ini!" Annaline berseru, suaranya gemetar menahan getaran hebat di dadanya. Makam neneknya saja masih basah, bisa-bisanya keluarga kandungnya sendiri memfitnahnya begitu kejam.
PLAK!
Satu tamparan keras mendarat di pipi kiri Annaline. Begitu kuat hingga wajahnya menoleh ke samping dan sudut bibirnya mengeluarkan darah segar sewarna rambutnya. Rasa panas dan perih langsung menjalar, namun rasa sakit di hatinya jauh lebih menghancurkan dan dalam.
"Masih berani kau membantah, hah?! Jangan bawa-bawa ibu yang sudah tidak ada disini. Harusnya kamu malu disaat dia pergi kamu merangkak menjadi wanita murahan seperti ini." Lady Veronica melangkah maju, dadanya kembang kempis diselimuti amarah yang memuncak.
Di belakangnya, sesosok gadis dengan gaun tidur satin merah muda dengan menampilkan lekuk tubuh melangkah masuk. Itu Helena, kakak kandung Annaline, yang kini tengah menyandarkan wajahnya di bahu tunangannya yaitu Tristan Whitmore.
Helena menangis terisak-isak dalam rengkuhan tunangannya, namun dibalik cahaya remang ruangan sepasang matanya menatap Annaline dengan binar penuh kelicikan yang dingin dan puas.
"Ibu, lihat itu ... dia bahkan masih memakai jubah akademinya untuk menarik perhatian Tristan! Tadi aku melihatnya sendiri, dia sengaja menjatuhkan sapu tangannya di depan Tristan yang melangkah di teras rumah!"
Annaline terbelalak tidak percaya, ucapan kakak kandung satu-satunya ini sungguh membuatnya kaget luar biasa. Lalu, ia menatap Tristan, pria berambut pirang klimis yang kini berdiri dengan tatapan bersalah yang dibuat-buat dengan tangannya sibuk meraba-raba naik turun badan Helena.
'Dasar mesum!' batinnya melihat itu.
Tristan adalah anak dari pengusaha kapas terbesar di negeri ini. Dia pewaris tunggal keluarga Whitmore, yang terkenal 'peduli' dan 'baik hati'. Tristan dan Helena baru saja bertunangan bulan lalu, sebagai bentuk pernikahan bisnis di masa depan. Hal ini sangat umum di lakukan di kalangan bangsawan seperti mereka.
"Tristan! Katakan yang sebenarnya! Kita bahkan tidak bertemu seharian ini!" tuntut Annaline, suaranya meninggi meminta keadilan.
Dia tahu Tristan selalu memandangnya dengan tatapan lapar saat secara tidak sengaja mereka berpapasan. Tapi, selama ini Annaline selalu berusaha menghindar dan berjalan cepat. Sepanjang mereka kenal, Annaline hanya dua kali berbicara dengannya itupun saat acara keluarga. Di luar itu dia sama sekali berusaha menghindarinya.
Tristan berdehem pelan, sengaja memalingkan wajah seolah-olah dia adalah korban yang tidak berdaya.
"Maafkan aku, Annaline. Tapi ... kau memang menemuiku tadi di teras samping diam-diam. Kau memohon padaku untuk membatalkan pertunanganku dengan kakakmu, Helena karena kau merasa lebih pantas menjadi nyonya Whitmore dengan nama keluarga dan prestasimu."
"Kau bohong!" Jeritan Annaline menggema di dinding kamar kecil ini. "Kalian semua memfitnahku!"
"Cukup!" Suara berat Duke Alaric yaitu sang ayah, tiba-tiba terdengar dari ambang pintu. Pria paruh baya itu masuk dengan jubah kebesarannya. Wajahnya dingin, tanpa ada sedikitpun rasa bangga dengan prestasi putrinya hari ini atau rasa iba saat melihat sudut bibir anak bungsunya berdarah hasil tamparan istrinya.
"Ayah ...." Lirih Annaline, secercah harapan terakhirnya bertumpu pada pria itu. "Ayah tahu aku tidak mungkin melakukannya. Hari ini Nenek meninggal, aku hanya berada di kamar—"
"Jangan bawa-bawa nama ibuku untuk menutupi kelakuan tak bermoralmu itu, Annaline!" Potong Duke Alaric tajam.
"Kehadiranmu di rumah ini sudah cukup menjadi aib. Dan sekarang, kau mencoba merusak masa depan House of Golden Rose dengan merebut tunangan kakakmu sendiri? Kau benar-benar anak tidak tahu diuntung."
Lady Veronica mendengus sinis, lalu merogoh kantong sutra lusuh di pinggangnya. Dengan gerakan kasar, ia melemparkan sekantong koin itu ke atas meja kayu usang Annaline. Suara kantong itu berdenting nyaring di atas meja usang di pojok kamar.
"Itu seratus koin emas. Anggap saja itu uang santunan, sekaligus modalmu untuk pergi dari sini," ujar Lady Veronica dengan nada sedingin es.
Annaline membeku di tempat, matanya terbelalak tidak percaya dengan apa yang dia dengar. "Pergi?"
"Ya. Mulai malam ini, namamu resmi dihapus dari silsilah keluarga Virelle. Kau bukan lagi bagian dari keluarga ini. Dan kau ... diusir!" Lady Veronica menunjuk ke arah pintu luar. Hujan badai tiba-tiba pecah di langit Volcalia tanpa peringatan. "Bawa barang-barang sampahmu dan enyah dari rumahku! Sekarang!"
"Ibu, ini tengah malam dan di luar sedang hujan badai! Kemana aku harus pergi?!"
Tangis Annaline akhirnya pecah. Dia tidak peduli lagi dengan harga dirinya, ia sampai berlutut di lantai yang dingin memohon ampun, memandang satu per satu wajah orang-orang yang berbagi darah dengannya. Namun, yang ia temukan hanya tatapan jijik dari ibunya, senyum kemenangan dari Helena, kepuasan dari Tristan, dan kepasrahan tanpa mau menatap wajah putri bungsunya dari ayahnya sendiri.
Tidak ada yang membelanya satu orang pun. Tidak ada tempat untuk si mata perak di rumah ini lagi.
"Pengawal! Cepat kemasi barang-barangnya sekarang juga. Masukkan dia ke pedati yang biasa dia pakai. SEKARANG!" perintah Duke Alaric kepada dua pengawal yang berjaga di luar. Pria itu kemudian berbalik tanpa sekalipun menoleh lagi pada putrinya yang bersimpuh di lantai.
Helena berjalan mendekati Annaline, membungkuk sedikit hingga wanginya yang beraroma parfum mawar mahal terasa di hidung Annaline. "Selamat tinggal, Penyihir Hitam. Nikmati malam badaimu di jalanan, Adik manis," bisiknya penuh kemenangan sebelum berbalik pergi bersama Tristan dan saling merangkul menoleh sinis.
Lady Veronica melangkah mundur menuju pintu, menatap kamar pengap itu untuk terakhir kali sebelum memberi perintah keji pada kepala pelayan di luar sana yang setia menunggu. "Bantu dia mengemas baju-baju rongsoknya. Setelah jalang ini pergi, bakar seluruh paviliun ini sampai rata dengan tanah. Aku tidak ingin ada sisa-sisa kutukannya yang tertinggal di kediamanku mulai sekarang."
"Baik, Nyonya"
Deg
'Dibakar? Apa harus sampai seperti ini?' batin Annaline terasa tertancap ribuan duri mawar. Sakit. Kenangannya tumbuh di paviliun ini bersama sang Nenek melekat erat. Senyum hangat dan pelukan menenangkannya sudah tidak bisa dia rasakan lagi. Kenangan satu-satunya di kamar ini pun sekarang harus berakhir juga.
"Cepat bangun, Nona!" tarikan kasar pengawal membuyarkan lamunannya.
Dua pasang tangan kekar pengawal langsung mencengkram bahu Annaline secara kasar, menyeret tubuhnya yang lemas melewati lantai marmer menuju badai di luar, sementara di sudut matanya, ia melihat obor berapi mulai dilemparkan ke dalam kamarnya, membakar semua yang ada di dalam termasuk gaun perca kelulusan yang baru saja selesai ia jahit.
lanjut yaaaaa