Liburan keluarga Pak Gunawan dan Bu Sri yang sedang hamil tua berakhir tragis ketika mereka, bersama dua pelayan dan seorang tukang kebun, ditemukan tewas mengenaskan di vila mereka.
Penyelidikan mengungkap bahwa pembantaian tersebut dipicu oleh aksi perampokan yang berubah menjadi pembunuhan brutal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maple_Latte, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kembali ke tempat yang sama!
"Sepertinya, Pakde Rasman tidak masuk ke hutan ini. Tidak ada tanda-tanda orang yang lewat sebelum kita," kata Tedi sambil menyeka keringat dingin di dahinya.
Kang Tono menghentikan ayunan goloknya, lalu mengarahkan senter ke sekeliling.
"Benar juga yang dibilang Tedi. Dari tadi kita jalan, ranting-ranting di depan kita ini masih rapat semua. Daun-daun kering di tanah juga masih rapi, tidak ada bekas injakan kaki atau jalur yang terbuka."
Bagas ikut mengamati hamparan tanah di depan mereka menggunakan senternya yang terang.
"Iya, Pak. Kalau ada orang yang lewat, apalagi dalam kondisi gelap dan terburu-buru dua malam lalu, pasti ada semak yang rebah atau jejak sepatu yang kentara. Tapi di depan kita ini jalurnya benar-benar bersih dari tanda-tanda manusia."
Sri melangkah mundur satu pijakan, merapatkan jaketnya karena hawa dingin hutan yang semakin menusuk.
"Kalau di sini sama sekali tidak ada tanda-tanda, berarti kemungkinan besar Pakde Rasman tidak pernah mengambil jalan pintas hutan ini."
Pak Basir menghela napas panjang, bersandar pada sebatang pohon jati sambil menggelengkan kepala.
"Kalau begitu, tebakan kita keliru. Kita sudah menyisir cukup jauh dan hasilnya nihil."
"Lalu sekarang bagaimana, Pak?" tanya Tedi, melirik ke arah kegelapan di belakang mereka.
"Apakah kita mau lanjut menebas jalan ke depan, atau kita balik kanan saja?"
"Karena hari sudah akan semakin gelap, san tanda-tanda Rasman tidak ada, sebaiknya kita patah balik saja." Kata Pak Basri akhirnya.
"Iya, Pak, saya setuju. Jalur ke depan juga makin rimbun, bahaya kalau kita paksakan tanpa persiapan," timpal Kang Tono sembari menyarungkan kembali goloknya ke pinggang.
Bagas dan Sri saling berpandangan, lalu mengangguk tanda sepakat. Rasa lelah dan ketegangan yang sedari tadi menggantung di pundak mereka perlahan mulai terasa.
Berada di dalam hutan yang pekat dalam kondisi tanpa petunjuk sama sekali tentu bukan pilihan yang bijak.
"Ayo, semuanya berbalik. Tetap merapat seperti tadi, jangan sampai ada yang tertinggal di belakang.
"Instruksi Pak Basir seraya membalikkan badannya, memimpin jalan kembali menuju batas luar hutan.
Tedi yang berada di barisan paling belakang kini berpindah ke depan, menemani Pak Basir membuka jalan pulang. Sri dan Bagas berjalan di tengah, sementara Kang Tono menjaga barisan dari belakang.
Cahaya senter mereka yang tadinya menyebar ke segala arah, kini difokuskan ke satu jalur lurus ke depan, membelah kegelapan malam yang telah sepenuhnya turun.
Sepanjang perjalanan kembali, keheningan menyelimuti kelima orang itu. Pikiran mereka dipenuhi oleh teka-teki yang sama. Kemana perginya Rasman, ataukan kelompok lain sudah berhasil menemukan dia?
Sayup-sayup dari kejauhan, suara serangga malam mulai bersahutan, mengiringi langkah kaki mereka yang bergegas keluar dari rimbunnya hutan jati menuju pemukiman warga.
Namun, setelah berjalan beberapa menit, sepertinya mereka Kemabli ke tempat yang sama.
Langkah kaki Pak Basir mendadak terhenti. Sorot senternya yang mulai agak meredup tertuju pada sebatang pohon besar di depan mereka.
Pohon itu memiliki guratan kulit yang khas dengan dahan rendah yang patah menggantung, pohon yang sangat familier.
"Tunggu, tunggu sebentar..." gumam Pak Basir, suaranya mendadak berubah agak serak.
Kang Tono yang berada di barisan belakang langsung ikut berhenti, membuat Sri dan Bagas hampir saja menabraknya dari belakang.
"Ada apa, Pak?"
"Ton, Tedi... coba kalian lihat pohon di depan kita ini," kata Pak Basir, tangannya agak bergetar mengarahkan cahaya senter ke batang pohon tersebut.
"Bukannya ini pohon besar tempat kita berhenti tadi?"
Tedi maju selangkah, memicingkan mata dengan tajam. Seketika itu juga, wajahnya berubah.
"I...iya, Pak... Ini pohon yang tadi. Lihat itu, ada bekas tebasan parang saya di ranting sebelah kiri waktu saya bersihkan jalan tadi."
Mendengar ucapan Tedi, bulu kuduk Sri seketika meremang hebat. Ia refleks mencengkeram lengan jaket Bagas dengan erat.
"Bagas... kita tadi jalan lurus ke depan kan? Tidak ada berbelok sama sekali?"
Bagas tidak langsung menjawab. Ia mengarahkan senter gila miliknya ke sekeliling, mencoba mencari kejelasan logis. Namun, semakin ia mengamati hamparan daun kering dan kerapatan pohon di sekitar mereka, dadanya kian bergemuruh.
"Benar, Sri. Tadi kita balik kanan dan jalan lurus mengikuti jalur bekas kita datang. Harusnya kita sudah hampir sampai di pinggir jalan utama." kata Bagas, mencoba tetap tenang meski suaranya tidak bisa menyembunyikan rasa tegang.
"Ya Gusti... bagaimana bisa kita putar-putar di sini lagi?" gumam Kang Tono, tangannya reflex memegang gagang golok di pinggangnya.