Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.
Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:
punya rumah sendiri.
Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.
Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.
Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.
Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.
Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.
Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teror itu Mulai Datang
Ketika dendam menemukan jalan pulang, ia tidak selalu datang membawa pisau atau racun. Kadang ia memilih cara yang jauh lebih keji—menggerogoti tubuh korbannya perlahan, sambil membuat semua orang percaya bahwa itu hanyalah penyakit biasa...😔
-----
Seminggu setelah persidangan Anggun berakhir, hidupku perlahan kembali berjalan seperti semula.
Ruko Ci Gouw kembali beroperasi. Musik dangdut kembali terdengar dari lantai bawah. Tawa para tamu kembali bercampur dengan aroma parfum mahal dan asap rokok yang memenuhi lorong-lorong sempit gedung tua itu.
Aku dan Marni kembali sibuk dengan pekerjaan kami.
Mencuci.
Mengepel.
Mengangkat jemuran.
Menjadi bayangan yang nyaris tak terlihat di antara kehidupan para penghuni mes.
Sekilas, semuanya tampak normal.
Namun ternyata, petaka baru saja dimulai.
Di sebuah rumah tua yang berdiri sendirian di pinggiran kota, seorang wanita paruh baya duduk gelisah di hadapan meja kayu yang dipenuhi sesajen.
Bu Alice.
Wajahnya tampak lebih tua dibanding beberapa minggu lalu. Matanya sembab akibat terlalu sering menangis memikirkan nasib Anggun yang kini mendekam di balik jeruji besi.
Di hadapannya duduk seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun dengan rambut panjang sebahu dan sorot mata yang membuat siapa pun merasa tidak nyaman.
Namanya Sagim.
"Jadi perempuan itu yang menyebabkan anak Ibu dipenjara?" tanyanya pelan.
Bu Alice mengangguk.
"Namanya Amira."
Nada suaranya dipenuhi kebencian.
"Kalau bukan karena dia bersaksi di pengadilan, Anggun tidak akan dihukum seberat itu."
Sagim tersenyum tipis.
Senyuman yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.
"Kalau begitu kenapa datang ke sini?"
"Aku ingin dia menderita."
Jawaban Bu Alice keluar tanpa ragu.
"Aku tidak ingin dia mati cepat. Aku ingin dia merasakan ketakutan. Merasakan sakit. Sedikit demi sedikit."
Ruangan mendadak sunyi.
Hanya suara bara dupa yang sesekali berderak pelan.
Sagim membuka sebuah kotak kayu tua yang terletak di sampingnya.
Aroma busuk langsung menyeruak keluar.
Bu Alice spontan menutup hidung.
Di dalam kotak itu terdapat berbagai benda aneh. Tulang-tulang kecil, rambut yang diikat benang merah, serta sebuah patung kayu hitam setinggi telapak tangan.
Sagim mengambil foto Amira yang dibawa Bu Alice.
Lalu meletakkannya di bawah patung tersebut.
"Kalau Ibu meminta kematian, itu mudah."
Tatapan Sagim tidak lepas dari foto itu.
"Tapi kalau Ibu meminta penderitaan..."
Sudut bibirnya terangkat perlahan.
"...itu membutuhkan kesabaran."
Malam harinya.
Jakarta diguyur gerimis tipis.
Jam dinding di kamar kami menunjukkan pukul dua belas lewat sembilan belas menit.
Aku baru saja selesai membersihkan lorong lantai empat.
Seluruh tubuh terasa pegal.
Yang kuinginkan saat itu hanya satu.
Tidur.
Aku mendorong pintu kamar dan melangkah masuk.
Namun baru dua langkah...
JLEB!
Rasa sakit luar biasa menghantam perut kiriku.
Aku langsung berhenti.
Napas tercekat.
Seolah ada sesuatu yang menusukkan benda tajam jauh ke dalam tubuhku.
"Akhh...!"
Tubuhku membungkuk refleks.
Tanganku mencengkeram pinggang sebelah kiri.
Rasa nyeri itu begitu hebat hingga membuat pandanganku berkunang-kunang.
Marni yang sedang duduk di atas kasur langsung berdiri.
"Amira!"
Dia berlari menghampiriku.
"Kamu kenapa?"
"Sakit..."
Aku bahkan kesulitan bicara.
"Perutku..."
Keringat dingin membasahi seluruh wajahku.
Marni tampak panik.
Dia membantuku duduk di tepi ranjang sebelum buru-buru mengambil minyak kayu putih dan obat pereda nyeri dari dalam lemari.
"Mungkin kecapekan."
Suara Marni terdengar jauh.
"Seharian kamu kerja terus."
Aku hanya mengangguk lemah.
Saat itu aku juga berpikir begitu.
Mungkin memang karena terlalu lelah.
Mungkin hanya masuk angin.
Mungkin hanya salah makan.
Tak ada satu pun dari kami yang menyadari bahwa rasa sakit itu bukan berasal dari tubuhku sendiri.
Setelah obat mulai bekerja, nyeri itu perlahan mereda.
Kelopak mataku terasa berat.
Aku akhirnya tertidur.
Dan tepat ketika kesadaranku tenggelam ke dalam mimpi...
Sesuatu bergerak di sudut kamar.
Perlahan.
Nyaris tanpa suara.
Bayangan hitam pekat merayap di sepanjang plafon seperti seekor laba-laba raksasa.
Tubuhnya tinggi.
Terlalu tinggi untuk ukuran manusia.
Matanya menyala merah di tengah kegelapan.
Makhluk itu berhenti tepat di atas tempat tidurku.
Lalu menundukkan kepalanya.
Menatapku.
Seolah sedang menikmati mangsa yang baru saja ditandainya.
Sementara aku terus terlelap tanpa mengetahui apa pun.
Tanpa mengetahui bahwa sejak malam itu...
sesuatu telah ikut tinggal bersamaku di dalam kamar tersebut.
Dan sesuatu itu sedang menunggu waktu yang tepat untuk mulai memakan hidupku sedikit demi sedikit.
(Bersambung)