Di balik gaun megah bertabur mawar merah dan dansa yang begitu mesra, tersimpan sebuah rahasia yang mematikan.
Melanie mengira ia telah menemukan cinta sejatinya pada diri Glen, seorang pria menawan yang memperlakukannya bak seorang ratu tanpa cela, seperti mawar merah yang indah tanpa duri (Thornless Red Rose). Namun, Melanie tidak pernah tahu bahwa di balik tatapan penuh kehangatan itu, Glen sedang merajut jaring balas dendam yang kejam terhadap keluarganya.
Ketika kebenaran perlahan mulai terkuak, Melanie harus menghadapi kenyataan pahit: apakah cinta Glen kepadanya murni nyata, ataukah ia hanya sekadar bidak dalam permainan balas dendam yang dirancang untuk menghancurkan hidupnya?
Sebuah kisah tentang cinta yang tumbuh di atas bara dendam, di mana batas antara ketulusan dan pengkhianatan menjadi begitu tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sketsa di Antara Dua Sunyi
Suasana di paviliun belakang rumah mewah itu mendadak begitu berat, seolah-olah udara di sekeliling mereka telah membeku. Melanie menatap lurus ke arah sang ayah yang masih memalingkan wajah, menyembunyikan gurat penyesalan yang mendalam. Di sampingnya, sang ibu masih menggenggam kain sulaman dengan jemari yang gemetar, menanti dengan cemas kalimat apa lagi yang akan keluar dari bibir putri tunggalnya.
Melanie mengepalkan tangannya di atas pangkuan. Detak jantungnya bergemuruh, berkejaran dengan rasa takut yang tiba-tiba menyergap. Ia tahu, jika ia mendesak lebih jauh, jika ia menuntut jawaban detik ini juga, dinding-dinding berlapis emas di rumah ini akan menjadi saksi sebuah perdebatan yang sengit. Ia tidak ingin berteriak pada pria yang selama ini menghujaninya dengan kasih sayang, dan ia tidak ingin melihat ibunya menangis histeris membela masa lalu.
Menelan kembali seluruh rasa penasaran yang membakar dadanya, Melanie akhirnya menurunkan pandangan. Ia menarik napas panjang, lalu memaksakan sebuah senyuman tipis yang terasa hambar.
"Mboten nopo-nopo, Pak, Bu... Melanie namung tanglet perkawis rasan-rasan ing kampus," bohong Melanie, suaranya sengaja dilembutkan untuk mencairkan ketegangan yang sempat memuncak. "Ngapunten nggih, sampun nggawe Bapak kalih Ibu kaget. Melanie bade teng kamar rumiyin, badhe ngesani barang-barang." (Tidak apa-apa, Pak, Bu... Melanie cuma tanya perkara desas-desus di kampus. Maaf ya, sudah membuat Bapak sama Ibu kaget. Melanie mau ke kamar dulu, mau merapikan barang-barang).
Tanpa menunggu balasan dari kedua orang tuanya, Melanie bangkit berdiri. Langkah kakinya yang terburu-buru membawanya menaiki anak tangga marmer menuju kamarnya sendiri. Begitu pintu kayu jati itu tertutup rapat, ia menyandarkan punggungnya di sana, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga terduduk di atas lantai yang dingin. Di dalam kemewahan kamarnya yang luas, Melanie menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut, membiarkan sunyi malam itu menelan rasa bersalah yang kian merayap tak kasat mata.
🥀🥀🥀_______
Sementara itu, di sudut lain kota Jogja yang jauh dari kesan mewah, atmosfer yang berbeda justru sedang menyelimuti sebuah kamar kost yang sempit. Kamar itu dipenuhi oleh tumpukan buku-buku tebal, beberapa pakaian yang menggantung tak rapi, dan aroma kopi hitam yang mulai mendingin di atas meja kayu.
Thone sedang berbaring di atas kasur lipatnya sembari memainkan ponsel, sementara di sudut meja belajar, Glen duduk diam di bawah temaramnya lampu belajar. Glen tidak pulang ke rumah besarnya malam ini. Jiwanya yang gundah membawanya mengetuk pintu kost Thone beberapa jam lalu, mencari tempat pelarian dari labirin pikiran yang menyesatkannya.
Di atas meja, bukan buku sastra tua atau catatan bab tragedi yang sedang terbuka. Glen memegang sebuah pensil sketsa, jemarinya bergerak dengan ritme yang lambat namun penuh penekanan di atas selembar kertas putih yang agak usang.
Di atas kertas itu, goresan hitam pensil Glen membentuk sebuah gambar seorang wanita berambut panjang yang tampak begitu familier. Wanita dalam gambar itu sedang merangkul beberapa tangkai bunga mawar di dadanya, sebuah visualisasi nyata dari adegan di kelas Teater Praktis beberapa waktu lalu. Namun, alih-alih membiarkan gambar itu selesai dengan indah, jemari Glen mendadak bergerak kasar. Ia menarik beberapa garis tebal secara acak, membuat coretan-coretan hitam yang sengaja merusak keindahan kelopak mawar dan wajah suci dalam sketsa tersebut.
Thone mengalihkan pandangannya dari layar ponsel, melirik ke arah sahabatnya yang masih menekur dalam diam. Ia menghela napas panjang, lalu bangkit dan duduk di tepi tempat tidur, menatap punggung tegap Glen yang tampak begitu kaku.
"Kalau kamu terus-menerus merusak kertas itu, pensilmu bisa patah, Glen," ujar Thone memecah kesunyian kamar dengan nada suara yang tenang, tak ingin memancing kemarahan sahabatnya.
Glen tidak langsung menjawab. Ia menyelesaikan satu coretan tajam di atas gambar mawar, lalu meletakkan pensilnya dengan ketukan pelan di atas meja. "Gambar ini terlalu melenceng dari naskah asli yang kutulis, Thone."
"Naskahmu yang salah sejak awal, bukan gambarnya," sahut Thone, berdiri berjalan mendekati meja dan bersandar di tepinya, menatap sketsa yang kini dipenuhi coretan hitam itu. "Kamu menggambar Melanie dengan mawar di pelukannya, tapi kamu mencoretnya karena kamu takut mengakui bahwa mawar itu memang indah tanpa duri. Sampai kapan kamu mau menyiksa dirimu sendiri dengan kepura-puraan ini?"
Glen memalingkan wajahnya ke arah jendela kamar kost yang menampilkan rintik gerimis di luar. Sepasang mata elangnya meredup, kehilangan kilat angkuh yang biasa ia pamerkan di kampus.
"Dia sedang berada di rumah mewahnya sekarang, Thone," bisik Glen, suaranya terdengar begitu rendah dan parau, sebuah nada suara yang sarat akan kekalahan batin yang teramat sangat. "Rumah yang dibangun dari puing-puing kehancuran keluargaku. Setiap kali aku mengingat mawar yang dia peluk, aku selalu teringat pada air mata ayahku. Aku harus merusak gambar ini, karena jika tidak... aku yang akan hancur oleh rasaku sendiri."
Thone menepuk bahu Glen pelan, membiarkan sahabatnya itu bertarung dengan paradoks yang kian merobek dadanya. Di bawah temaram lampu belajar kamar kost yang sempit, sang pangeran sastra yang tertampan di Airrawan itu kini hanyalah seorang pria yang sedang tersesat, mencoret-coret bayangan wanita yang seharusnya ia benci, namun justru kian kuat mencuri ruang di dalam hatinya.
terlalu mengaitkan kisah fiksinya...