Sama seperti bosnya, Adnan juga punya hobi mengambil foto dengan kameranya. Namun hobinya berubah jadi obsesi ketika dia ketagihan mendapatkan job 'fotografer p|us-p|us'. Semua itu berawal saat Adnan menemukan kamera tua milik mendiang ayahnya di lemari.
Kamera tua itu mampu membuat Adnan melihat dalam mode tembus pandang, lalu mode menampilkan yang tak kasat mata, bahkan sampai mode ronsen yang digunakan dalam kedokteran. Gilanya lagi, kamera itu mampu bisa membuat wanita klepek-klepek pada Adnan. Bagaimana bisa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 15 - Salah Kamar
Langkah kaki pengejarnya semakin mendekat, berdentang keras di dinding beton tangga darurat. Napas Adnan tersengal, dadanya terasa sesak seolah dihimpit batu besar. Saat ia baru saja melompat turun ke lantai 3, suara pintu di lantai atas terbuka dengan kasar, mereka sudah sampai di lantai 4. Tidak ada waktu untuk turun lebih jauh. Jika ia terus berlari ke bawah, mereka pasti akan memotong jalannya di lobi.
Tanpa berpikir panjang, Adnan berbalik dan mendorong pintu besi yang menuju ke lorong lantai 3. Pintu itu berdentang keras saat tertutup di belakangnya, namun ia tahu itu hanya penundaan sesaat. Lorong itu panjang dan sepi, hanya dihiasi karpet tebal berwarna merah tua yang menyerap suara langkah kakinya. Ia berlarian menyusuri deretan pintu kamar, tangan kirinya mencoba memutar gagang pintu satu per satu dengan panik.
Pintu nomor 301, terkunci. 303, terkunci. 305, sama saja. Suara gaduh dari arah tangga terdengar semakin jelas. Mereka sudah turun. Waktu habis.
Dengan sisa tenaga yang ada, Adnan meraih gagang pintu nomor 307 dan memutarnya sekuat tenaga. Jantungnya hampir meledak saat pintu itu terbuka, tidak terkunci!
Ia menyelinap masuk dalam sekejap, lalu menarik pintu itu tertutup rapat dan memutar kunci pengamannya hingga terdengar bunyi klik yang melegakan. Punggungnya bersandar berat di balik pintu, napasnya memburu hingga ia nyaris tidak bisa bernapas. Keringat dingin menetes deras di dahinya, tangannya masih gemetar hebat saat memeluk kamera tua itu erat-erat ke dadanya.
Ruangan itu remang-remang, hanya diterangi lampu tidur berwarna kekuningan di samping ranjang. Aroma parfum manis bercampur asap rokok tipis langsung menyambut hidungnya. Adnan mengedarkan pandangan, matanya yang masih beradaptasi dengan cahaya redup itu melihat sosok wanita yang sedang duduk di tepi ranjang.
Wanita itu cantik, dengan rambut panjang bergelombang yang terurai di bahunya, mengenakan gaun tidur tipis berwarna merah menyala yang pas di tubuhnya. Ia sedang memoles kuku jarinya saat kedatangan Adnan, namun seketika ia meletakkan kuteks itu di meja samping tempat tidur dan tersenyum lebar, senyum yang penuh arti, seolah ia sudah menunggu kedatangan ini sejak tadi.
"Kamu cepat sekali sampai, sayang," suaranya lembut dan merdu, sedikit serak namun menggoda.
Adnan yang hendak melangkah maju untuk meminta izin sembunyi dan menjelaskan bahayanya yang mengintai di luar, mengerutkan dahi bingung. "Maaf, saya..."
Belum sempat kalimat itu terucap sepenuhnya, wanita itu sudah bangkit dan berjalan mendekat. Sebelum Adnan sempat mundur, tangan halusnya sudah merambat naik ke dada Adnan, menariknya pelan namun pasti mendekat ke arah ranjang.
"Sudahlah, tidak perlu malu-malu," bisiknya tepat di depan wajah Adnan, matanya yang berbinar nakal menatap lurus ke manik mata pemuda itu. "Aku sudah siap. Lagipula, aku suka yang semangat begini."
"Tunggu dulu, saya mau..." Adnan berusaha melepaskan diri, namun wanita itu, yang kini ia tebak bernama Sherly, malah semakin mendekat, tubuhnya yang lembut menekan dada Adnan hingga memaksa pemuda itu mundur pelan-pelan sampai kakinya menyentuh tepi ranjang dan ia terdorong jatuh duduk di atas kasur empuk itu.
Sherly tidak memberinya kesempatan berbicara lebih jauh. Ia berlutut di hadapannya, lalu perlahan berdiri kembali sambil menarik tali gaun tidurnya. Kain tipis itu meluncur jatuh ke lantai, memperlihatkan tubuhnya yang sempurna di bawah cahaya remang lampu kamar.
"Kamu tahu, aku hampir tidak menyangka," ucap Sherly sambil tersenyum malu-malu namun matanya penuh gairah, ia duduk di samping Adnan, tangannya mulai menyisir rambut pemuda itu yang berantakan karena berlari. "Biasanya klien yang memesan lewat telepon itu sudah tua, perut buncit, dan berwajah suram. Tapi kamu..." Ia menatap Adnan dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan kagum. "...kamu masih muda, tampan, dan tubuhmu masih kencang sekali. Benar-benar rezeki nomplok malam ini."
"Sebenarnya saya..." Adnan berusaha menyela, suaranya tercekat di tenggorokan. Ia bingung harus berbuat apa. Di luar sana, orang-orang berbahaya sedang mencarinya, dan di dalam sini, ia malah disambut seolah tamu kehormatan yang datang untuk urusan lain.
"Sudah, jangan banyak bicara dulu," potong Sherly sambil tersenyum manis, jarinya menyentuh bibir Adnan pelan. "Kita langsung mulai saja ya? Tapi ingat, tarifnya tetap seperti yang kita sepakati tadi. Jangan karena kamu ganteng, jadi mau nawar murah, hehehe." Ia terkekeh pelan sambil mendekatkan wajahnya ke leher Adnan, menghirup napas panjang aroma kulit pemuda itu.
"Kamu tidak tahu betapa bosannya aku menghadapi mereka," keluh Sherly tiba-tiba sambil memeluk lengan Adnan, menyandarkan kepalanya di bahu pemuda itu. Matanya sedikit sayu, sejenak melupakan godaannya. "Kebanyakan dari mereka itu jelek, tua, berbau tidak sedap, dan kasar. Kadang aku harus menahan napas berjam-jam hanya agar tidak muntah. Belum lagi mereka meminta hal-hal aneh dan menyakitkan." Ia menghela napas panjang, lalu menatap Adnan kembali dengan senyum yang lebih tulus, meski masih terselip gairah. "Tapi kamu... ah, seandainya semua klienku seperti kamu, aku pasti tidak akan merasa lelah bekerja."
Tangan Sherly kini bergerak ke arah kancing baju Adnan, melepaskannya satu per satu dengan gerakan luwes yang sudah terlatih. "Dengan kamu, rasanya aku bisa lebih menikmati pekerjaanku malam ini. Gairahku langsung terpacu begitu melihat wajahmu yang ketakutan dan bercucuran keringat ini. Seolah-olah kita sedang melakukan sesuatu yang terlarang, bukan?"
Adnan membeku. Ia menelan ludah dengan susah payah. Di luar pintu itu, bayangan-bayangan mencekam kelompok Gladys mungkin sedang berpatroli. Di dalam sini, ia dikepung oleh situasi yang sama sekali tidak ia duga. Sherly terus berbisik halus di telinganya, mengucapkan kata-kata manis yang seharusnya membuat hati siapa pun meleleh, namun yang dirasakan Adnan hanyalah kecemasan yang semakin meluap.
Ia mencoba sekali lagi, dengan suara yang berusaha ia rendahkan agar tidak terdengar panik. "Nona Sherly, dengarkan saya sebentar. Saya bukan klien Anda. Saya..."
"Hush..." Sherly meletakkan jari telunjuknya di bibir Adnan, lalu tersenyum menggoda sambil menurunkan selimut. "Jangan merusak suasana, sayang. Nikmati saja momen ini. Anggap saja ini kejutan yang menyenangkan."
Di saat yang sama, di luar pintu kamar nomor 307 itu, suara langkah kaki berat terdengar berhenti tepat di depan pintu sebelah. Napas Adnan tertahan seketika. Matanya membelalak menatap pintu kayu itu, sementara di sampingnya, Sherly masih tersenyum polos, sama sekali tidak menyadari bahwa bahaya yang jauh lebih mengerikan daripada sekadar pelanggan kasar sedang berdiri tepat di luar sana.