NovelToon NovelToon
Suami Mafia Sang Polwan

Suami Mafia Sang Polwan

Status: sedang berlangsung
Genre:Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas / Action
Popularitas:115.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nana 17 Oktober

Chantika Rahardja adalah putri dari keluarga pebisnis yang memilih menjadi polwan. Saras, adik tirinya selalu iri dengan prestasi dan kecantikannya. Apalagi sang ayah selalu membandingkan mereka dan lebih membanggakan Chantika.

Saras menjebak Chantika untuk menemani pebisnis yang terkenal playboy agar mendapatkan investasi.

Tapi siapa sangka Chantika malah terlempar ke ranjang Enzo Arkan Pradana, bos mafia yang terkenal tak pernah menyentuh wanita. Pria yang akhirnya bisa tidur tanpa menelan obat saat bersama Chantika.

Kesalahan semalam itu membuat keduanya menikah, tanpa Chantika tahu siapa sebenarnya suaminya. Di balik identitasnya sebagai CEO sebuah perusahaan, pria itu menyembunyikan kekuasaan yang tak seorang pun berani menentangnya.

Seorang penegak hukum menikahi penjahat?

Bagaimana rumah tangga mereka jika Chantika tahu sang suami adalah seorang mafia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Jejak yang Tak Sinkron

Sorot mata salah seorang petugas tanpa sadar tertuju pada dua balok emas di pundak Chantika, lalu bergeser ke papan nama yang terpasang di dada kirinya.

IPTU CHANTIKA P. RAHARDJA.

Kedua petugas itu saling melirik dengan ekspresi tak percaya.

"Iptu..." gumam salah seorang nyaris tak terdengar.

Baru saat itulah mereka menyadari bahwa wanita yang mendapat perlakuan khusus dari pemilik hotel ternyata seorang perwira polisi.

Tanpa menunda lagi, keduanya segera berdiri tegak.

"Selamat malam, Bu."

Mereka menundukkan kepala dengan penuh hormat.

Chantika sempat menghentikan langkahnya.

Namun ia hanya membalas dengan anggukan kecil sebelum melanjutkan langkah memasuki lobby.

Di balik meja resepsionis, seorang wanita muda yang sedang melayani tamu ikut terdiam saat melihat Chantika mendekat.

"Selamat malam, Bu." Sapanya jauh lebih sopan daripada kepada tamu lain. "Ada yang bisa kami bantu?"

Chantika mengangguk. "Saya ingin melihat rekaman CCTV dua hari yang lalu."

Resepsionis itu sedikit terdiam.

Dalam hati Chantika sudah bersiap menerima penolakan. Ia tahu permintaannya bukan bagian dari penyelidikan resmi.

Tanpa surat tugas atau permintaan resmi dari institusi, seharusnya hotel tidak bisa sembarangan memperlihatkan rekaman keamanan kepada siapa pun.

Namun yang terjadi justru sebaliknya.

"Baik, Bu." Resepsionis itu segera mengangkat telepon. "Pak... Ibu sudah datang."

Beberapa detik ia mendengarkan jawaban dari seberang.

"Baik, Pak." Resepsionis menutup telepon, lalu menatap Chantika. "Mohon menunggu sebentar, Bu. Kepala Keamanan akan segera menemui Anda."

Chantika mengernyit pelan. "Semudah ini?"

Tak sampai dua menit, seorang pria berusia sekitar empat puluh tahun datang dengan langkah cepat.

"Selamat malam, Bu." Pria itu sedikit menundukkan kepala. "Perkenalkan, saya Budi, Kepala Keamanan hotel ini."

Chantika membalas anggukan. "Saya ingin melihat rekaman CCTV dua hari yang lalu."

"Tentu, Bu."

Jawabannya begitu cepat hingga Chantika kembali terdiam.

"Silakan ikut saya."

Tanpa meminta kartu identitas, tanpa meminta surat resmi, atau menanyakan alasan Chantika, pria itu langsung mempersilahkannya menuju ruang CCTV.

Semakin lama, langkah Chantika justru semakin pelan. Ada sesuatu yang terasa janggal.

"Kenapa mereka begitu menghormatiku? Apa karena aku polisi?"

Tidak...

Sebagai anggota kepolisian, ia tahu betul prosedurnya. Bahkan penyidik pun tidak akan semudah ini memperoleh akses rekaman CCTV jika bukan bagian dari penyidikan resmi.

Lalu...

Kenapa pihak hotel seolah sudah menunggunya? Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi benaknya.

Tanpa ia sadari, semua pintu yang terbuka dengan begitu mudah malam itu bukan karena pangkat Iptu yang disandangnya. Melainkan karena satu nama.

Enzo.

Pria yang bahkan tanpa sepengetahuannya telah memastikan bahwa seluruh karyawan hotel akan memperlakukannya layaknya pemilik.

"Semua penghormatan ini terjadi sejak pagi setelah aku keluar dari kamar hotel Enzo," gumam Chantika dalam hati. "Jangan-jangan... Ini ada hubungannya sama dia."

 

Tak lama kemudian, Chantika dan Kepala Keamanan tiba di ruang kontrol CCTV.

Begitu pintu terbuka, beberapa operator yang sedang bertugas spontan berdiri.

Mereka tampak sedikit terkejut saat melihat seragam dinas yang dikenakan Chantika.

"Selamat malam, Bu."

Chantika mengangguk singkat. "Saya ingin melihat rekaman CCTV dua hari yang lalu. Sekitar pukul delapan malam."

"Baik, Bu."

Operator segera mengetikkan waktu yang diminta. Beberapa detik kemudian, rekaman mulai diputar.

Layar monitor menampilkan suasana lobby hotel. Tak lama kemudian, terlihat Chantika memasuki hotel bersama Saras. Keduanya berjalan berdampingan menuju lift.

Operator kemudian mengganti tampilan ke kamera koridor lantai tempat kamar Bryan berada. Di layar terlihat Saras mengetuk pintu kamar.

Pintu terbuka.

Bryan muncul, lalu mempersilakan keduanya masuk. Beberapa menit berlalu, Saras keluar lebih dulu. Sementara Chantika belum terlihat.

Operator mempercepat rekaman.

Tak lama kemudian, Chantika akhirnya keluar dari kamar. Langkahnya sempoyongan. Tubuhnya beberapa kali hampir kehilangan keseimbangan sebelum akhirnya berjalan menjauh dari kamera.

Sorot mata Chantika berubah serius. "Putar kamera berikutnya. Saat dia keluar dari hotel."

"Baik, Bu."

Operator segera mengganti sudut kamera, lalu memutar rekaman. Layar memperlihatkan Saras keluar dari kamar Bryan. Namun, alih-alih langsung menuju parkiran, ia lebih dulu berhenti di lobby.

"Pause sebentar," pinta Chantika.

Operator segera menghentikan rekaman.

Tatapan Chantika tertuju pada sosok pria yang berdiri di dekat pintu masuk.

"Perbesar bagian itu."

Beberapa detik kemudian, gambar diperbesar. Terlihat jelas Saras menyerahkan sesuatu kepada pria tersebut.

"Kelihatannya seperti menyerahkan sebuah kunci," gumam Kepala Keamanan.

Chantika tidak langsung menjawab. "Putar lagi."

Rekaman kembali berjalan. Setelah menyerahkan benda itu, Saras berjalan menuju area parkir. Beberapa saat kemudian, sebuah mobil keluar meninggalkan area hotel.

"Itu mobil Saras sendiri," gumam Chantika pelan. "Kenapa tidak ke mobil Bryan?"

Saras benar-benar meninggalkan hotel. Namun...

"Teruskan."

Rekaman dipercepat beberapa menit. Tak lama kemudian, mobil yang sama kembali memasuki area hotel.

Saras turun dari mobilnya, berjalan cepat menuju lobby, lalu menghampiri resepsionis.

Ia tampak berbicara cukup lama dengan resepsionis dan salah seorang petugas keamanan.

Kepala Keamanan yang berdiri di samping Chantika akhirnya membuka suara.

"Saya masih ingat kejadian malam itu, Bu."

Chantika menoleh.

"Gadis yang datang bersama Ibu kembali beberapa menit setelah keluar dari hotel. Dia meminta kami membantu mencari keberadaan Ibu. Dengan alasan nomor Ibu tidak dapat dihubungi dan belum keluar dari hotel ini."

Operator mengangguk membenarkan.

"Iya, Bu. Dia juga terlihat beberapa kali mondar-mandir di lobby sambil menunggu."

Rekaman kembali dipercepat.

Beberapa menit kemudian... Saras kembali menaiki lift. Kamera koridor memperlihatkan ia berjalan menuju kamar Bryan.

Pintu kembali terbuka. Saras masuk. Pintu tertutup.

Operator kembali mempercepat rekaman. Waktu terus berganti hingga pagi. Pukul tujuh lewat.

Pintu kamar Bryan akhirnya terbuka lagi. Saras keluar seorang diri. Langkahnya terlihat lebih pelan dibanding malam sebelumnya. Ia berjalan perlahan menyusuri koridor sebelum memasuki lift.

Operator menghentikan rekaman.

"Itu terakhir kali dia terlihat di lantai itu, Bu."

Chantika masih menatap layar monitor. Dahinya berkerut samar. Ada bagian yang terasa janggal.

"Kalau memang tujuannya mengambil berkas di mobil... kenapa dia gak ke mobil Bryan?"

Baik Kepala Keamanan maupun operator tak berkomentar. Tapi jelas mereka ikut berpikir.

"Bukankah seharusnya setelah mengambil berkas, Saras langsung kembali ke kamar Bryan? Tapi kenapa malah meninggalkan hotel dan saat kembali dia panik mencariku?"

Tatapan Chantika tidak lepas dari layar monitor. Sebagai seorang penyidik, ia memutar kembali seluruh rangkaian kejadian di dalam pikirannya.

 

...🔸🔸🔸...

..."Rekaman hanya memperlihatkan apa yang dilakukan seseorang. Niat yang tersembunyi, hanya bisa diungkap oleh kebenaran."...

..."Kadang kebohongan yang paling berbahaya bukan yang terlihat jelas, melainkan yang disusun begitu rapi hingga tampak seperti kebenaran."...

..."Nana 17 Oktober "...

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

1
Anitha
Pak Raharja tidak sebodoh itu Bryan
Beliau sudah mempersiapkannya sejak dulu,jadi jangan pernah mimpi permainanmu akan berhasil,di samping itu ada Menantu yang sangat berkuasa yang di takuti semua orang yaitu Enzo...

Lihat nanti rumah tangga Saras dan Bryan bakal seperti apa.

Pak Raharja Ayah yang sangat bijak dalam bersikap terhadap putrinya.
Siti Jumiati
lanjuuuut kak nana💪🙏
asih
selagi ada Enzo kayaknya mimpimu g bakal terwujudkan Bryan jangan terlalu PD kau akan kecewa nanti ..di saat kekecewaanmu kalau kau menyakiti laras saat itu juga mimpimu hancur
Puji Hastuti
semakin menarik,Bryan dg pasti kalau rencananya akan berhasil,sedang Raharja sudah siap dg strategi nya.
Oma Gavin
kepedean banget bryan jgn harap mudah raharja bukan orang bodoh apalagi enzo ada di pihak Raharja jgn terlalu percaya diri bryan takutnya ngga sesuai ekspektasi mu dan nyungsep
Anonim
Setelah mendengar jawaban Chantika yang sudah mengajukan izin menikah ke institusinya. Enzo mau ikut pulang bersama Chantika. Mau melamar.

Kalau lamarannya ditolak - Chantika pasti tidak menyangka jawaban dari Enzo 😄.

Kalau ngomong aneh-aneh lalu dihajar Papanya Chantika, Enzo gak apa-apa. Asal setelahnya, putri kesayangannya diserahkan padanya.

Mas kawin dari Enzo untuk Chantika masih rahasia.

Kejutan apa yang akan diberikan Enzo untuk seluruh keluarga Chantika sehubungan dengan mas kawin nanti di saat lamaran.

Sampai segitu yakinnya Enzo setelah acara lamaran dan mas kawin yang diberikan. Sampai berkata - tidak akan ada jalan lagi untuk membiarkan Chantika lepas darinya.

Pastinya, keselamatan Chantika akan aman apabila bersama Enzo.
Anonim
Enzo tidak selalu ada di dekat Chantika. Jadi Chantika punya kesempatan melindungi diri sendiri dengan perhiasan-perhiasan dan jam tangan yang dipakainya.

Chantika pasti sangat terharu, Enzo benar-benar memikirkan semuanya.

Enzo sempat terkejut ketika Chantika langsung memeluknya, dan mengucap terima kasih.

Enzo mengatakan - jangan berterima kasih. Karena tugasnya sebagai suami adalah memastikan istrinya selalu pulang dengan selamat.

Chantika bergumam - masih saja bilang aku istrimu. Dan berkata seperti biasanya - kita belum menikah 😄.
Anonim
Enzo melarang Chantika menemui Bryan sendirian.

Enzo menawarkan bantuannya. Sekelas Ezo saja merasa tidak tenang kalau Chantika berhadapan dengan Bryan. Enzo tahu sepak terjang Bryan - investor playboy.

Enzo benar-benar ingin melindungi Chantika. Ia memberi Chantika perhiasan serta jam tangan yang dirancang sedemikian rupa, terpasang alat untuk melindungi Chantika yang seorang polisi.
Puji Hastuti
aduh kayak buah simalakama
asih
gara² kebodohan satu orang seluruh keluarga jadi susah ..

q juga curiga kekayaan Bryan itu muncul Dari mana .. atau jangan² dia dalang Dari semua barang selundupan atau illegal itu Dan victor atau siapa itu hanya kaki tangannya saja
Fadillah Ahmad
Ayo Kak Nana... Lanjutkan lagi Kak 🙏🙏🙏😁

Semangat Kak Nana... Up Bab Baru-nya ya, Kak 🙏🙏🙏
Fadillah Ahmad
Nay, itu kau tau! 😂😂😂 Kenapa kau malah melakukan itu, ha? Dasar Bodoh! Otak dangkal! 😁😁😁 Mikirn6a cuma untuk saat ini doang. Nggk mikirin juga apa, kedepannya. 😂😂😂 Kalau kau lumpuh Selerti Ryuhan Kai Zander, gimana Coba? ha? Makin susah lagu, hidupmu tau! 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Kaulah yang bodoh! 😂😂😂 Demi menggugurkan janinmu, kau malah menyakiti dirimu sendiri. 😂😂😂 Dasar Bodoh! Kenapa nggk mengakhiri hidup saja sekalian? ha? 😂😂😂 jelas pula kau masuk ke neraka... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Nah kan! 😂😂😂 Aku sudah menduganya sedari awal. Soalnya, pertanyaan kamu oada dokter tadi itu sudah aneh tau... 😂😂😂 Ternyata, memang kau sengaja ya, menggugurkan kandunganmu sendiri? 😂😂😂 Dasar! Kau tidak bisa mengibuli aku tau... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Yaaah, sudah Capek-capek mencelakai diri sendiri, eh... Bayi sialan itu nggk juga keguguran... 😂😂😂🙏
Fadillah Ahmad
Kok, aku merasa pertanyaan kamu ini agak aneh ya, Saras? 🤔🤔🤔 Kayak, seolah-olah kamu sengaka gitu loh, menyelakai dirimu Sendiri! 🤔🤔🤔 Sedikt aneh deh Perranyaanmu itu... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Hahaha, tepat sekali! Aku berpik8ran sama seperti kau Ranti! Aku curiga kalau Saras sengaja menumpahkan sqmbun itu, untuk menggugurkan kandungannya... 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Benarkah? 😂😂😂 Kok, aku nggk percaya ya? 😂😂😂 Aku malah berpikiran, kalau kau sengaja melakukan itu, untuk menggugurkan kandunganmu, iya kab? Kamu sengaja bukan? 😂😂😂
Fadillah Ahmad
Waaah, apakah Saras akan ke guguran dengan sendirinya? Di karenakan tertekan oleh keadaa 🤔🤔🤔
Anitha
Nunggu keputusan dari Pak Raharja apakah Saras akan di nikahkan sama Bryan atau tidak,jadi serba salah...

Enzo saat ini hanya perlu mengawasi saja tidak ikut campur dulu selagi Pak Raharja bisa mengatasinya...

jika nanti Saras nikah dengan Bryan..
tentu saja Enzo dan Chantika bakal pindah ke Apartement Enzo yang lebih nyaman tidak ada parasit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!