“Anda sudah gila?!” Nasya menutup bibirnya menggunakan kedua tangannya.
“Kegilaan yang menguntungkan bukan? Hanya sebatas kontrak saja. Saya tidak akan menggunakan status suami untuk menyentuhmu,” ujar Elgan dan mendekat ke telinga Nasya. “Rasanya tidak sudi juga jika bukan karena terpaksa.” Elgan menjauh setelah berbisik.
Elgan memberikan kartu namanya. Kemudian, dia meninggalkan Nasya yang masih mematung dengan menggenggam pemberiannya tadi. Nasya menggemnya erat, air matanya terus saja mengalir, semakin deras seperti hujan malam ini.
“Kenapa semuanya begitu menyedihkan? Dikhianati pujaan hati yang katanya berjanji akan menikahi dan sekarang apa? Nikah kontrak? Begitu menyakitkan menjadi miskin. Tidak ada pilihan, meski ingin memilih,” batin Nasya meratapi hidupnya.
Bagaimana kelanjutan kisah rumit ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cacctuisie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CTIKCD - Kedatangan
“Makasih ya, Sayang. Memangnya kamu gak capek, kerja terus siapin makan siang buat aku?” Elgan menghampiri Nasya, melepaskan pelukannya pada Reina.
Nasya mengembangkan senyumnya, meski ada rasa yang tidak nyaman. Satu kemenangan yang tak seberapa. Namun, Nasya cukup senang karena suaminya lebih memilih mendatanginya. Nasya memang sengaja untuk berdiam diri dari langkahnya untuk memasuki ruang kerja suaminya. Nasya sedang menunggu reaksi Egan ketika dirinya datang.
“Kayaknya lebih capek semalam, Mas.” Nasya sengaja menatap Reina dari jaraknya yang tak dekat.
“Masih diinget terus? Ayo, duduk sana. Gak papa ada Reina, kan? Dia cuma mau cerita, jadi aku nggak sengaja peluk dia karena terbawa suasana,” ajak Elgan sambil mengambil kotak makan yang Nasya bawa
Nasya mengikuti langkah Elgan mendekati keberadaan Reina yang tertegun tanpa menjawabnya. Tersirat dari raut wajahnya jika tidak senang melihat kehadiran Nasya. Namun, Reina berusaha untuk tetap tenang. Menghapus kembali air matanya itu.
“Maaf, ya. Aku gak tau kalau kamu bakalan datang dan bawain makan siang untuk Elgan. Tadinya, aku mau ajak dia makan juga,” ucap Reina pertama kali.
“Gak papa, memang nantinya akan jadi kebiasaan aku mengantarkan makanan spesial untuk suamiku yang sudah bekerja keras. Kalau mau, kita bisa makan bersama,” jawab Nasya setenang mungkin.
Elgan mengarahkan Nasya untuk duduk di sampingnya. Dengan senyuman singkat, Elgan sangat antusias membuka kotak bekal yang Nasya bawakan tanpa menghiraukan keduanya. Satu per satu, Elgan buka dengan hati-hati. Reina yang melirik-lirik ke arah Elgan menatapnya gusar karena merasa tak diperhatikan.
“Aku tidak menyangka kalau Elgan beneran mau sama wanita seperti dia. Aku pikir pernikahan mereka tidak berarti apa-apa,” batin Reina mengepalkan tangannya yang berada di bawah.
“Mau ikut makan? Daripada ngeliatin Mas Elgan yang udah gak sabaran buka kotak makan. Mending ikut makan juga,” tegur Nasya yang tak mendapat balasan.
Elgan memandangi Nasya dan Reina bergantian. “Aku udah gak sabar mau makan. Rei, ikutan gak? Masalah tadi bisa kita lanjutkan nanti,” kata Elgan.
Reina menggelengkan kepalanya cepat. “Aku udah mau balik. Berarti, besok gak papa kalau aku ke sini?” balas Reina.
“Tentu boleh. Besok juga aku lebih banyak bawa makannya. Biar bisa makan bertiga,” sahut Nasya cepat.
“Gak perlu, aku bukan mau numpang makan. Dan juga gak bisa makan masakan orang asing yang gak aku kenal.” Reina melempar senyum pada Elgan, kemudian beranjak pergi.
“Sombong banget sih mantan kamu itu. Sok banget gak mau makan masakan aku,” gerutu Nasya.
Elgan tertawa pelan yang sejak tadi sambil menikmati makanannya. “Mau aku suapin? Biar gak marah-marah terus,” ucapnya.
Melihat Nasya yang sedang meredam rasa cemburu yang dapat dilihat jelas oleh Elgan menurutnya sangat menyenangkan. Meskipun, tidak dapat dipungkiri jika perkataan Reina sangatlah menyakitkan. Elgan hanya ingin mengalihkan perhatian Nasya agar tak berlarut dan memperburuk suasana hatinya.
“Kamu juga, nih. Mudah banget sih peluk-peluk cewek. Dijaga kenapa perasaan istrinya. Baru juga semalam kita …,” ucapnya terhenti.
“Iya-iya, aku minta maaf. Pokoknya yang semalem harus diulang, ya. Boleh?” sahut Elgan cepat.
“Apaan gak denger.” Nasya mengalihkan pandangannya dari sang suami.
***
“Iren, ngapain sih kita mampir ke sini? Mama gak laper,” protes Alina saat mobil Iren berhenti di rumah makan.
“Mama itu harus coba, deh. Ada menu makanan yang Kak Elgan suka dan resepnya dari Kak Nasya langsung,” jawab Alina.
Lala yang berada di kursi belakang hanya bisa memberikan ekspresi senang yang tak terhingga. Jika membahas Nasya, Lala lah yang paling bersemangat untuk menemuinya. Iren turun dari mobil terlebih dahulu untuk membukakan pintu Lala.
“Mama yakin gak mau turun? Nanti nyesel loh, Ma.” Iren menutup pintu, lalu menggandeng Lala.
Alina menggerutu di dalam mobil dengan banyak pertimbangan. Dia tahu betul bahwa rumah makan yang saat ini ada di hadapannya sedang dikelola oleh menantunya. Elgan sudah memberitahunya lama, tapi Alina memang tidak ingin tahu menahu. Hingga akhirnya, Iren yang mengajaknya untuk pertama kali.
Alina membuka pintunya, raut wajahnya muram tak ada sekalipun senyum. “Terpaksa banget, mending tadi aku gak ikut Iren. Coba kalau gak ada Lala, aku bakalan nolak,” batin Alina yang selalu mempertimbangkan Lala jika perbuatannya tidak baik.
Lala dengan senang hati ikut menggandeng neneknya. “Nenek, ayolah cepat. Lala sudah tidak sabar bertemu Tante Nasya.”
Dengan berat hati, Alina melangkahkan kakinya menyamakan Lala dan Iren. Saat mereka masuk, kebetulan Iren sedang berada di kasir. Melihat mereka dan yang paling mengejutkan ada mertuanya. Nasya bersemangat untuk menyambut. Alina cukup terkejut dengan suasana dan pelanggan yang ramai. Dia tidak menyangka jika Nasya bisa mengelola usahanya dengan cukup baik.
“Mama, Iren, Lala, mari duduk sini,” ajak Nasya di meja kosong.
“Ayo, Ma. Gak enak loh diliatin pelanggannya Kak Nasya,” ajak Iren menegaskan.
“Iya-iya ayolah,” balas Alina mengalah saja daripada dirinya lagi yang salah.
“Dari mana ini kok tiba-tiba banget mampir gak ngabarin, Ren?” tanya Nasya.
“Nih, habis jalan-jalan ngajakin Mama dan si rewel Lala yang mau banget mampir kesini,” jawab Iren yang menggunakan Lala sebagai alasannya.
Lala menggeleng, matanya menyipit. “Bukannya Mama, ya? Lala kan cuma ikut saja, soalnya Lala pikir habis belanja langsung pulang. Ternyata Mama ajak ke tempat Tante Nasya, senang sih tapikan memang bukan Lala yang minta,” protes Lala tak terima jika dirinya yang dilibatkan.
“Yaudah, bukan Lala tapi Nenek yang kesini,” sahut Iren melirik mamanya.
“Jangan mengada-ada ya, Iren. Mama gak minta, kamu aja yang mendadak belokin mobil dan berhenti disini,” balas Alina melirik Nasya sinis.
Nasya dan Iren saling pandang sejenak. Mereka melempar senyuman melihat reaksi mamanya yang sangat terpaksa. Namun, Nasya tahu jika ini rencana Iren. Dia benar-benar menginginkan hubungannya dengan sang mertua lebih baik. Meskipun, rumah tangganya sendiri belum ada titik terang. Terkadang ingin sekali Nasya membantunya, tapi Iren selalu menolak.
“Baiklah, mendingan Mama, Lala dan Iren cari makanan yang mau di makan. Ini menunya biar nanti bisa disiapkan,” ujar Nasya agar tak berlarut membahas siapa yang ingin mampir.
“Mama gak mau makan. Masih kenyang banget,” kata Alina yang jelas menolak makan.
Iren hendak menjawab, tetapi perut Alina tidak bisa membohongi keadaan. Nasya dan Iren kembali saling pandang dengan menahan tawanya. Sedangkan, Lala geleng-geleng kepala melihat tingkah neneknya.
“Nenek tidak bisa berbohong. Nenek itu sedang lapar. Tuh, perutnya udah krucuk-krucuk,” ujar Lala.