NovelToon NovelToon
The Last Crown

The Last Crown

Status: tamat
Genre:Fantasi / Drama / Tamat
Popularitas:652
Nilai: 5
Nama Author: Inkbound

The Last Crown adalah buku pertama dari The Hollow Thorne Trilogy. Bercerita tentang perjalanan Pangeran Kal Valdyr, pewaris takhta Izengard yang kehilangan segalanya setelah istana jatuh dalam pengkhianatan berdarah. Dari seorang pangeran yang dibesarkan untuk memerintah, Kal berubah menjadi buronan yang hanya membawa satu hal, nama keluarganya yang hampir musnah.

Dengan petunjuk terakhir dari ayahnya, Kal mencari Marlow Renad, Nightingale terakhir yang pernah bergerak di balik bayangan mahkota. Bersamanya, Kal mulai menempuh jalan gelap untuk merebut kembali apa yang dirampas darinya.

📢 Visualisasi karakter atau hal penting lainnya dapat dilihat pada postingan di profil saya, Visualisasi itu saya buat dengan bantuan AI berdasarkan gambaran saya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inkbound, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tertinggal

Marlow tidak banyak menjawab ketika aku menanyakan apa yang terjadi. Ia sudah berada di ruang tengah saat aku menyusulnya, berdiri di depan meja kayu dengan tas kulit besar terbuka. Pondok itu remang oleh senja. Cahaya oranye masuk dari sela tirai, tipis dan miring, menyentuh lantai batu, kaki meja, dan abu yang mulai dingin di perapian.

Aku berhenti di ambang ruangan. Tubuhku belum sepenuhnya sadar. Tidur yang baru saja kulewati tidak membuatku segar; ia hanya menarikku ke tempat gelap lalu melemparkanku kembali dengan dada sakit dan tenggorokan kering. Keringat dingin masih menempel di punggung. Pakaian pinjaman Marlow terasa lembap di bagian dalam karena tubuhku sendiri, kasar di kulit, terlalu longgar di bahu dan pergelangan tangan.

Bau pondok itu terasa lebih tajam daripada pagi tadi. Kayu hangus. Sup bawang yang sudah dingin. Kulit tua. Kain lembap. Besi. Sedikit bau obat pahit dari botol-botol kecil di rak. Semua bau itu masuk bersamaan ke hidungku, menempel di lidah, membuat perutku terasa kosong dan tidak nyaman.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

Marlow tidak menoleh.

Tangannya bergerak cepat di atas meja. Beberapa lembar pakaian ia gulung dan masukkan ke dalam tas. Roti keras dibungkus kain. Daging kering. Kantong kecil berisi biji-bijian. Tali rami. Batu api. Gulungan perban. Kain minyak. Botol kaca kecil. Jarum. Pisau lipat.

Benda-benda itu saling bersentuhan dengan bunyi pelan, kulit bergesek, logam mengetuk kayu, tutup botol beradu dengan batu api.

Tidak ada gerakan kacau. Tidak ada benda yang jatuh karena tergesa. Justru ketenangan itu yang membuat dadaku makin sempit. Orang panik mungkin masih bisa salah. Marlow tidak tampak seperti orang yang sedang salah.

Di kursi dekat jendela, ada tas lain. Lebih kecil dari tasnya. Mulutnya sudah terikat rapi. Tali bahunya menjuntai ke sisi kursi, siap diangkat. Tas itu sudah ada di sana sebelum aku bangun. Ia sudah menyiapkannya saat aku tidur, sementara aku terbaring bodoh dengan mimpi buruk menekan dada.

Marlow menunjuk tas itu.

“Bawa itu.”

Aku tetap berdiri. Ujung-ujung jariku terasa dingin, tapi bagian dalam dadaku panas. Bukan panas berani. Panas yang muncul ketika seseorang terlalu lama dipindahkan dari satu keadaan ke keadaan lain tanpa diberi waktu untuk bernapas.

“Marlow.”

Ia mengambil mantel bulu tebal dari paku di dinding, lalu menyampirkannya ke bahu. Setelah itu ia memasang belati di pinggang. Pedang pendek menyusul. Sarungnya gelap dan tua, tanpa ukiran, tanpa hiasan istana. Gagangnya tidak berkilau. Tapi justru benda itu tampak lebih nyata daripada semua pedang upacara yang pernah kulihat.

“Marlow,” ulangku.

Tangannya berhenti di tali pedang. Aku melangkah masuk. Dua langkah saja sudah cukup membuat kepalaku berdenyut. Lantai batu terasa dingin menembus sol sepatu. Tubuhku belum pulih, dan aku membenci cara tubuhku mengingatkanku pada hal itu setiap kali aku mencoba bergerak seperti biasa.

Aku menekan satu tangan ke tepi meja. Kayunya kasar. Ada goresan lama di permukaannya, bekas pisau atau benda tajam lain. Telapak tanganku yang berkeringat terasa lengket di atasnya.

“Aku ikut,” kataku, berusaha menjaga suaraku tetap utuh. “Tapi jangan suruh aku bergerak seperti barang.”

Marlow akhirnya menatapku.

Wajahnya tetap keras. Tidak marah. Tidak lembut juga. Matanya masih biru pucat, tajam, tetapi lelah dengan cara yang tidak pernah ditunjukkan orang-orang istana. Di istana, kelelahan selalu disembunyikan di balik pakaian rapi, senyum, dan kata-kata sopan. Pada Marlow, kelelahan itu ada di garis sekitar mulutnya, di bahunya yang tidak sepenuhnya turun, di cara ia selalu tampak siap mendengar suara dari luar pintu.

“Pasukan Dann menuju Gisa,” katanya.

Kalimat itu pendek, tetapi tubuhku bereaksi sebelum pikiranku selesai memahami.

Perutku mengencang. Nafasku berhenti sesaat. Bunyi kecil dari perapian mendadak terlalu jelas. Bahkan cahaya senja di lantai tampak berubah lebih dingin.

Tempat yang baru saja memberiku pintu masuk, sup panas, dan beberapa jam tidur, sekarang menjadi tempat yang harus kutinggalkan lagi.

Marlow kembali mengencangkan tali tasnya.

“Mereka belum sampai. Tapi cukup dekat.”

Aku melihat ke arah jendela. Tirai tipis bergerak sedikit karena angin dari celah dinding. Di baliknya hanya tampak warna senja yang makin tua. Aku tidak bisa melihat Gisa dari pondok itu.

Aku datang kesini terlalu terbuka. Terlalu letih. Terlalu percaya bahwa kalau aku masih bernapas, ada orang yang akan mengerti dan menyingkirkan jalan untukku.

Sekarang jejak itu terasa seperti tali yang ditarik dari belakang.

Marlow memasukkan kantong air ke sisi tas.

“Kita pergi ke barat,” katanya. “Dark Mountain.”

Aku menatapnya lagi.

“Dua minggu perjalanan. Kalau jalur tidak tertutup.”

Dua minggu, kata itu turun ke tubuhku seperti beban tambahan.

Dua minggu dengan kaki yang belum kuat. Dua minggu dengan punggung yang masih nyeri, luka di pipi, perut yang belum terisi benar, dan tidur yang tidak bisa dipercaya. Dua minggu bersama pria yang berbicara seperlunya dan bergerak seolah dunia selalu sedikit lebih cepat daripada orang yang tidak siap.

Aku berjalan ke kursi.

Tas itu terasa lebih berat begitu kuangkat. Talinya kasar di telapak tangan. Saat kusampirkan ke bahu, bebannya langsung menarik tubuhku ke samping. Paha kananku menegang. Pinggangku nyeri. Ada bagian kecil di punggungku yang seperti ditusuk dari dalam.

Aku menahan wajahku. Marlow mendekat tanpa bertanya. Ia membuka tasku, mengambil satu kantong kecil dari dalamnya, lalu memindahkannya ke tasnya sendiri.

Aku hampir berkata aku bisa membawanya.

Mulutku sudah terbuka sedikit.

Lalu kututup lagi.

Aku tidak ingin terdengar seperti anak yang sedang membela harga dirinya di depan orang dewasa. Lebih buruk lagi, aku tidak ingin ia benar.

Marlow mengikat kembali mulut tasku.

“Lebih baik,” katanya singkat.

Marlow menutup peti. Memeriksa jendela. Mengambil satu kain gelap dari sandaran kursi dan memasukkannya ke tas. Setelah itu ia mendekati perapian dan menyiram sisa bara. Asap tipis naik, putih keabu-abuan, membawa bau abu basah yang tajam. Bau itu langsung mengisi ruangan, membuat mataku sedikit perih.

Aku berdiri di dekat pintu, mendengar suara kecil air menghantam bara.

Ssshh.

Api terakhir mati.

Hanya dengan suara itu, pondok terasa berubah. Sebelumnya, tempat itu tampak seperti rumah yang jelek, tua, dan tidak ramah. Sekarang ia terasa seperti kulit kosong.

Marlow mengambil kunci besi kecil dari meja, membuka pintu, dan udara luar langsung masuk.

Aku melangkah keluar setelahnya.

Pulau kecil itu sudah gelap oleh bayangan. Langit di atas Gisa masih menyimpan sisa oranye, tapi di bawah cabang willow, warna itu hampir tidak sampai. Rumput tinggi menggesek bagian bawah celanaku. Tanah terasa lunak di bawah sepatu, membuat langkahku sedikit tenggelam setiap kali berpijak.

Marlow mengunci pintu. Gerakannya cepat. Tapi tangannya berhenti sebentar pada gagang kayu.

Sebentar saja.

Cukup untuk kulihat.

Lalu ia memasukkan kunci ke kantong mantel dan berjalan lebih dulu ke tepi kanal.

Aku mengikutinya tanpa berkata apa-apa.

Perahu kecil menunggu di bawah akar willow, tersembunyi di antara rumput tinggi dan bayangan. Kayunya hitam, rendah, tanpa lentera. Air di sekelilingnya tampak hampir tidak bergerak. Marlow meletakkan tasnya di bagian depan perahu, lalu turun lebih dulu. Tubuhnya masuk ke dalam perahu dengan ringan, seolah ia sudah berkali-kali melakukan hal ini dalam gelap.

Begitu kakiku menyentuh sisi kayu, perahu miring sedikit. Dingin langsung naik dari air ke telapak kakiku, meski sepatuku tidak basah. Aku kehilangan keseimbangan. Tangan Marlow menangkap lenganku sebelum aku jatuh.

Aku duduk di bangku tengah, meletakkan tas di dekat kaki. Permukaan kayu di bawahku dingin dan sedikit lembap. Bau air kanal lebih kuat dari sana, gelap dan amis, bercampur lumpur.

Marlow melepas tali dari akar willow. Dayungnya menekan air.

Perahu bergerak.

Pulau itu mulai mundur.

Awalnya pondok masih terlihat jelas di antara cabang-cabang willow. Pintu gelap. Dinding kelabu. Atap berlumut. Lalu perlahan-lahan bentuknya pecah oleh kabut tipis dan ranting yang lewat di depan mataku. Kanal berbelok, dan rumah itu hilang.

Marlow tidak mendayung ke arah pemukiman Gisa.

Ia membawa perahu ke arah berlawanan, ke jalur yang lebih sempit. Air di sana lebih gelap. Permukaannya pecah hanya oleh dayung dan gerak lambat perahu. Bau kota pelan-pelan tertinggal. Tidak ada lagi aroma roti atau ikan dari dapur-dapur tepi kanal. Tidak ada suara pedagang menutup lapak. Tidak ada bunyi pintu rumah dan percakapan dari jendela.

Yang tersisa hanya lumpur, rumput basah, daun, dan kayu tua.

Lama-lama suara itu seperti menggantikan detak jantungku sendiri.

Untuk beberapa saat aku hanya duduk diam. Kedua tanganku berada di atas tas. Jari-jariku meremas tali kulitnya tanpa sadar. Bahuku masih terasa ditarik oleh bekas berat tas tadi, meski tas itu sudah kuletakkan di kaki. Tubuhku terlalu mudah mengingat beban.

Lalu ingatan tentang Steadfeet datang secara langsung. Seperti seseorang menancapkan tangan ke dadaku dan menarik sesuatu keluar.

Aku menoleh ke belakang. Gisa sudah tidak tampak jelas. Hanya ada cahaya pucat di balik kabut dan belokan kanal. Kota itu tidak terlihat seperti tempat nyata lagi. Hanya sisa terang yang makin jauh.

“Kudaku masih di sana,” kataku.

Marlow tetap mendayung.

“Aku harus membawanya.”

“Tidak.”

Tanganku mencengkeram sisi perahu. Kayunya lembap di bawah jari.

“Steadfeet membawaku keluar dari Izengard.”

Dayung Marlow melambat.

“Dia tidak mengerti kenapa kutinggalkan,” kataku.

Suaraku terdengar lebih rendah. Lebih kecil. Marlow berhenti mendayung. Perahu bergerak sedikit karena sisa dorongan, lalu hampir diam. Air menepuk sisi kayu dengan suara kecil, pelan, seperti napas.

Untuk beberapa detik, Marlow tidak berkata apa-apa. Aku tetap menatap ke belakang. Kabut menutup jalur kanal sedikit demi sedikit. Kalau aku melompat dari perahu sekarang, aku mungkin bahkan tidak tahu jalan kembali. Pikiran itu memalukan. Aku seorang pangeran yang bahkan tidak tahu cara kembali ke kudanya sendiri di kota asing.

“Untuk malam ini,” kata Marlow akhirnya, “dia punya peluang lebih baik di Gisa.”

Mungkin itu satu-satunya kata jujur yang bisa diberikan.

Aku menunduk.

Dasar perahu di dekat sepatuku basah oleh titik-titik air. Ada serat kayu terangkat di sana. Aku menatapnya terlalu lama, seolah benda kecil itu bisa menahan sesuatu dalam diriku agar tidak tumpah.

Marlow kembali mendayung. Perahu melewati jembatan rendah. Marlow mengangkat satu tangan kecil sebagai tanda. Aku menunduk. Batu basah lewat dekat sekali di atas kepala. Air menetes dari sela batu ke tengkukku. Dingin itu membuat seluruh punggungku menegang.

Di atas jembatan, terdengar langkah.

Dua orang.

Marlow menghentikan dayung.

Perahu hanyut perlahan di bawah lengkung batu. Suara dari atas turun sebagai gumaman samar, bercampur gesekan sepatu dan suara kain. Aku bisa mencium lumut basah di batu jembatan, tajam dan tua. Bisa mendengar air kecil menetes ke permukaan kanal.

Tangannya memegang dayung, tetapi tidak menekannya ke air. Bahunya diam. Kepalanya sedikit menunduk, mendengar. Dalam remang di bawah jembatan, wajahnya hampir hilang, hanya garis rahang dan bagian pucat di matanya yang masih terlihat.

Langkah di atas akhirnya menjauh. Marlow tetap menunggu beberapa detik lagi. Baru setelah itu dayung kembali bergerak.

Perahu keluar dari bawah jembatan. Udara terbuka terasa lebih dingin setelah batu rendah tadi. Aku menarik napas pelan. Dada terasa sakit, mungkin karena terlalu lama menahan udara, mungkin karena tubuhku memang sudah penuh hal-hal yang sakit.

Gisa makin jauh.

Cahaya kota tinggal noda pucat di belakang, terpecah oleh kabut dan cabang-cabang rendah. Kanal menyempit di antara rumput tinggi. Daun-daun basah menyentuh bahuku ketika perahu melewati sisi terlalu dekat. Satu ranting menggores pipiku di dekat luka lama, ringan saja, tapi cukup membuatku mengisap napas.

Marlow menoleh sebentar.

Aku mengangkat tangan ke pipi. Ujung jariku menyentuh kulit yang perih.

“Tidak apa-apa,” kataku, sebelum ia sempat bicara.

Aku mulai merasakan dingin lebih dalam. Bukan dingin tajam yang datang sekaligus, tapi dingin yang pelan-pelan masuk melalui ujung jari, pergelangan tangan, lutut, lalu tinggal di tulang. Kemeja wol pinjaman itu hangat, tetapi terlalu longgar. Angin menemukan celah di leher dan lengan, menyentuh kulit yang masih lengket oleh keringat mimpi buruk.

Di depan, barat terbentang tanpa bentuk jelas.

Aku tidak bertanya apa yang menunggu di sana. Tidak malam itu.

Ada terlalu banyak yang sudah harus kutelan tanpa bertanya.

Marlow mendayung dengan irama yang sama. Bahunya bergerak pelan, naik turun sedikit setiap kali dayung menekan air. Ia tampak seperti bagian dari perahu itu sendiri: keras, diam, terbiasa berjalan di tempat yang tidak ingin dilalui orang lain.

Aku duduk di belakangnya, bukan sebagai pangeran, bukan sebagai pewaris, bukan sebagai apa pun yang pernah diajarkan kepadaku.

Hanya seorang anak laki-laki dengan pakaian orang lain, tas kulit di kaki, luka di wajah, dan nama keluarga yang tiba-tiba menjadi alasan orang memburunya.

Air bergerak di bawah perahu, membawa kami menjauh dari Gisa, menjauh dari Steadfeet, menjauh dari apa pun yang masih bisa kupanggil dengan nama lama.

Semua yang kubawa terasa ringan.

Yang tertinggal jauh lebih berat.

Aku tidak meminta kembali lagi.

1
Annabelle
Oke lah
Annabelle
Numpang mampir
Nomnom Yumyum
ceritanya seru, serasa baca novel translate an luar. ditunggu eps selanjutnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!