NovelToon NovelToon
ISTRI TITIPAN ABANG

ISTRI TITIPAN ABANG

Status: sedang berlangsung
Genre:Bad Boy / Cinta Seiring Waktu / Idola sekolah
Popularitas:3.1k
Nilai: 5
Nama Author: Jeonndhhh

"Satu Janji, Dua Dunia, dan Takdir yang Tertukar."
Di hari pernikahannya, Syarifah Khadijah Al-Eydrus kehilangan Habib Farhan, calon suaminya yang tewas dalam kecelakaan tragis. Melalui sebuah wasiat terakhir, Khadijah terpaksa dinikahi oleh Zaid, adik kandung Farhan yang tampan, dingin, sekaligus berandalan ketua geng motor.
Bagi Zaid, Khadijah hanyalah "titipan" yang menyesakkan. Di bawah satu atap, sang Hafizah berjuang dengan kesabaran, sementara Zaid terus memberontak dalam liarnya kehidupan malam. Namun perlahan, getaran asing mulai tumbuh di antara cadar dan jaket kulit.
Akankah Zaid berubah menjadi imam yang pantas, ataukah Khadijah selamanya hanya menjadi bayang-bayang masa lalu?
"Karena terkadang, Allah mematahkan hatimu hanya untuk mempertemukanmu dengan seseorang yang akan menjagamu selamanya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

IKRAK DI ATAS SAJADAH TUA

Malam di Jakarta merayap semakin larut. Rintik hujan yang memukul kaca jendela kamar Zaid terdengar bagai detak jarum jam yang menghitung mundur menuju hari kelulusan. Di dalam kamar yang temaram, keheningan terasa begitu padat. Zaid masih mendekap Khadijah, meresapi kehangatan tubuh istrinya yang menjadi satu-satunya penenang di tengah badai pikiran yang berkecamuk.

Perlahan, Zaid melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah polos Khadijah yang tanpa cadar. Matanya yang bening memancarkan ketabahan yang luar biasa, membuat Zaid menyadari betapa egoisnya ia selama ini karena mengira bisa menyelesaikan segalanya sendirian.

"Khadijah," panggil Zaid pelan. Suaranya rendah, sarat akan emosi yang selama ini ia pendam rapat-rapat.

"Iya, Mas?" Khadijah menatap suaminya, jemarinya bergerak lembut mengusap rahang tegas Zaid yang tampak kaku.

Zaid menuntun Khadijah untuk duduk di tepi ranjang. Ia sendiri memilih untuk berlutut di atas lantai, tepat di depan istrinya. Posisi yang menanggalkan seluruh keangkuhannya sebagai mantan penguasa jalanan Jakarta.

"Selama ini, aku selalu berlindung di balik kata 'wasiat'. Aku selalu bilang pada diriku sendiri, dan kepadamu, kalau pernikahan ini terjadi hanya karena aku berutang nyawa dan rasa bersalah pada Bang Farhan," Zaid memulai, matanya menatap lurus ke dalam netra Khadijah.

Khadijah terdiam, menyimak setiap kata dengan jantung yang mulai berdesir aneh.

"Aku bohong, Khadijah. Aku berbohong pada duniaku, dan aku membohongi hatiku sendiri," lanjut Zaid, suaranya sedikit bergetar. Ia meraih kedua telapak tangan Khadijah, membawanya ke atas dadanya yang berdegup kencang. "Jantung ini... detak sekencang ini bukan lagi karena adrenalin saat aku memacu motor di jalanan. Detak ini ada karena kamu."

Air mata Khadijah mulai menggenang di pelupuk matanya.

"Aku tidak tahu sejak kapan, mungkin sejak aku melihat keteguhanmu menghadapiku yang berengsek ini, atau sejak wangi melatimu memenuhi kamar ini. Tapi malam ini, di bawah ancaman Raka yang mengintaimu, aku tersadar..." Zaid menjeda kalimatnya, menatap Khadijah dengan tatapan paling intens yang pernah ia berikan.

"Aku mencintaimu, Syarifah Khadijah Al-Eydrus. Bukan sebagai titipan kakaku, bukan sebagai kewajiban takdir. Tapi sebagai wanita yang aku pilih untuk menjadi akhir dari petualangan liarku. Aku mencintaimu lebih dari aku mencintai nyawaku sendiri."

Satu tetes air mata lolos membasahi pipi Khadijah. Ia tak pernah membayangkan Zaid , pria yang dulu menatapnya penuh kebencian dan keterpaksaan bisa mengucapkan ikrar cinta yang begitu menggetarkan jiwa.

Khadijah menarik napas dalam, mencoba menahan isaknya. Ia menunduk, menyentuh keningnya pada kening Zaid yang masih setia berlutut di depannya. "Mas Zaid... demi Allah yang menggenggam jiwa saya, saya sudah menyerahkan seluruh hati ini sejak saya mencium tangan Mas di depan meja akad. Saya tidak pernah melihat Mas sebagai bayang-bayang Kak Farhan. Mas Zaid adalah imam saya, pangeran saya yang sesungguhnya."

Zaid memejamkan mata, merasakan tetesan air mata kebahagiaan Khadijah yang jatuh di pipinya. Malam itu, di atas lantai kamar mereka, dinding pemisah yang bernama masa lalu telah runtuh sepenuhnya.

Setelah momen emosional yang mengikat hati mereka kian erat, Zaid bangkit dan duduk di samping Khadijah. Ketakutan yang tadi sempat melumpuhkan logikanya kini berganti menjadi energi baru yang dingin dan terarah. Cinta telah mengubah kemarahan butanya menjadi ketajaman taktik.

Zaid mengambil secarik kertas kumal dari sakunya alamat gudang tua yang diberikan Sherly dan meletakkannya di atas meja.

"Raka mengira dia memegang kendali karena dia berpikir kita tidak tahu apa-apa," ujar Zaid sambil menunjuk alamat tersebut. "Dia ingin menyerang di hari kelulusan, saat penjagaan di sekitar kita longgar karena euforia acara."

Khadijah memperhatikan kertas itu. "Lalu, apa rencana Mas? Apa Mas akan mendatangi mereka ke sana?"

"Tidak secara langsung," senyum licik khas Zaid muncul, namun kali ini terlihat berbahaya. "Kalau aku mendatangi gudang itu sekarang, Raka akan tahu ada yang bocor dan dia akan mengubah rencananya. Kita akan membiarkan dia merasa di atas angin. Kita akan ikuti permainannya, tapi kita yang menentukan tempat pemberhentian terakhirnya."

Zaid menjelaskan bahwa ia akan membagi tugas. Ia akan menghubungi Haikal malam ini juga untuk menyiapkan anak-anak bengkel dan beberapa jaringan jalanannya yang masih setia. Mereka tidak akan melakukan tawuran massal yang memicu perhatian polisi, melainkan sebuah jebakan senyap.

"Di hari kelulusan, aku akan tetap memakai toga dan berada di dalam aula bersamamu," kata Zaid, menatap Khadijah dengan serius. "Tapi di luar, Haikal dan pasukannya akan mengunci seluruh pergerakan mata-mata Raka. Dan untuk Raka sendiri... aku yang akan menemuinya secara pribadi setelah acara selesai."

Khadijah menggenggam lengan Zaid. "Saya ikut, Mas."

Zaid menggeleng tegas. "Terlalu berbahaya, Khadijah."

"Mas, ingat apa yang saya katakan tadi? Jangan sembunyikan saya di balik dinding kaca lagi," tatapan Khadijah tidak terbantahkan. "Raka mengincar saya sebagai umpan untuk memancing Mas. Jika saya disembunyikan di tempat aman yang terlalu kentara, dia akan curiga dan mencari jalan lain yang lebih nekat. Biarkan saya tetap terlihat sebagai umpan, tapi pastikan Mas Zaid selalu ada di jarak yang dekat untuk menarik tali jebakannya."

Zaid tertegun. Keberanian istrinya benar-benar di luar ekspektasinya. Logika Khadijah ada benarnya—Raka adalah psikopat jalanan yang cerdik; jika umpan tiba-tiba hilang, dia akan menggila secara acak.

Zaid menatap Khadijah lama, lalu menghela napas pasrah namun bangga. "Baik. Tapi kamu harus berjanji, seujung kuku pun situasi tidak berjalan sesuai rencana, kamu harus langsung lari ke arah Haikal."

"Saya berjanji, Suamiku," jawab Khadijah dengan senyum di balik kelegaannya.

Diskusi taktik mereka terhenti ketika suara ketukan perlahan terdengar dari pintu kamar. Zaid dengan sigap berdiri dan membuka pintu. Di depan pintu, berdiri Habib Umar, Abinya, dengan gurat wajah yang tampak lelah namun penuh wibawa.

"Zaid, ikut Abi ke ruang kerja sebentar. Ada hal penting yang harus kita bicarakan," ucap Habib Umar singkat sebelum berbalik arah.

Zaid menoleh ke arah Khadijah, memberikan isyarat lewat mata bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ia lalu melangkah mengikuti Abinya menyusuri lorong rumah yang sepi menuju ruang kerja yang dipenuhi rak-rak kitab tebal.

Habib Umar duduk di balik meja kerjanya, menatap putra bungsunya dengan pandangan yang sulit diartikan. "Abi baru saja mendapat telepon dari salah satu kolega Abi di kepolisian."

Jantung Zaid berdesir. "Soal apa, Bi?"

"Soal Raka dan geng Macan Hitam," jawab Habib Umar, membuat Zaid terkejut karena ternyata Abinya pun memantau pergerakan dari jalurnya sendiri. "Mereka sedang dalam pengawasan ketat karena kasus narkoba dan penganiayaan berat di wilayah Barat. Polisi sedang mencari momentum yang tepat untuk menggulung mereka semua dalam satu kali operasi."

Habib Umar memajukan tubuhnya, menatap Zaid lekat-lekat. "Abi tahu Raka mengincarmu dan Khadijah. Abi juga tahu kamu sedang merencanakan sesuatu dengan teman-teman jalananmu. Zaid... Abi tidak melarangmu melindungi istrimu. Tapi ingat, jangan gunakan cara berandalan yang dulu membuatmu masuk sel. Gunakan hukum, gunakan otakmu."

Zaid terdiam sejenak, lalu mengangguk takzim. "Zaid mengerti, Bi. Zaid tidak akan mengotori tangan Zaid dengan cara yang salah lagi. Zaid punya rencana yang jauh lebih bersih, dan Zaid butuh nomor kontak kolega Abi di kepolisian itu."

Sebuah senyum bangga yang sangat jarang diperlihatkan akhirnya terukir di wajah Habib Umar. Beliau menuliskan sebuah nomor di secarik kertas dan menyerahkannya pada Zaid. "Jadilah laki-laki yang bisa dibanggakan oleh Khadijah, Zaid. Jangan kecewakan wasiat kakakmu, dan jangan kecewakan Abi."

Zaid menerima kertas itu dengan mantap. Potongan-potongan teka-teki kini telah lengkap. Dengan dukungan dari Khadijah, bantuan dari Haikal, dan payung hukum dari kepolisian yang disiapkan Abinya, Zaid siap membalikkan keadaan. Hari kelulusan yang dikira Raka akan menjadi hari kehancuran Zaid, justru akan menjadi hari di mana Macan Hitam akan masuk ke dalam kerangkengnya untuk selamanya.

1
Enz99
Bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!