NovelToon NovelToon
Saat Asa Berkahir Duka

Saat Asa Berkahir Duka

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Idola sekolah
Popularitas:155
Nilai: 5
Nama Author: TastyTeaTime Time

Sebelumya, bunga ini sempat kehilangan pesonanya, dengan kelopak menunduk, bahkan warnanya pudar. Namun, begitu air menyentuhnya, bunga itu pun mekar kembali, mengingatkan kita bahwa kebahagiaan bisa datang jika mau mengusahakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon TastyTeaTime Time, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17

Di hari yang sama. Sepulangnya dari rumah sakit, Valeska langsung istirahat di kamarnya yang begitu nyaman. Dia tidur sekitar dua jam, dengan selimut tebal menutupi setengah badan. Begitu matanya terbuka, Kaivandra langsung bisa melihat mata sang adik yang begitu sayu, namun gadis itu masih berusaha tersenyum.

Kaivandra berjalan dan duduk di samping tempat tidur, mengelus tangan Valeska, dengan penuh kasih sayang.

"Adek gimana tidur siangnya? Apakah ada yang dirasa? Kalau ada, tolong kasih tahu abang ..." tanya Kaivandra dengan suara lembut.

Valeska mengangguk pelan, bahkan suaranya hampir tidak terdengar. "Sebelah sini sakit ... bukan sakit, tapi lemes, gimana ya cara deskripsikannya. Pokonya nggak enak,"

Kaivandra tersenyum hangat. "Kata dokter, itu wajar dek. Karena ini pertama kali kemo, tubuh adek masih beradaptasi dengan obat-obatannya, nanti akan terbiasa,"

Valeska menghela napas, "Adek kira, adek bisa kuat seperti mereka. Tapi ternyata ... baru kemo satu kali aja bikin adek seperti ini,"

"Nggak apa-apa, kan setiap orang itu berbeda-beda. Adek nggak bisa menyamaratakan kemampuan mereka dengan diri adek,"

"Bang, kalau dua minggu kemudian kepala adek botak, gimana? Adek masih cantik nggak?"

Kaivandra tertawa kecil sambil mengusap pipi sang adik. "Cantik, adek abang akan selalu cantik, karena kecantikan adek tumbuh dari hati. Rambut boleh rontok, tapi semangat adek nggak boleh rontok, paham?"

Sejujurnya, Kaivandra ingin menangis saat berkata demikian.

"Adek coba ya, bang. Kalau adek nggak kuat, abang jangan marah," jawabnya.

Tanpa berkata apa pun, Kaivandra langsung membawa tubuh adiknya ke dalam dekapan. Sementara Valeska, dia membalas dengan lemah.

"Adek jangan ninggalin abang ya, adek sakit, abang juga ikut sakit. Adek anak pintar, setiap langkah yang adek ambil, akan abang temani sampai kapanpun,"

"Terima kasih bang, adek sayang banget sama abang," ucapnya setengah berbisik sambil memejamkan mata.

***

Pukul 18 : 00, malam.

Kaivandra keluar dari kamar Valeska. Langkahnya pelan teringat dengan perkataan dokter waktu di rumah sakit. Kaivandra duduk di kursi yang berada di ruangan kemoterapi, membuat dokter Rijal menghampirinya. Dokter Rijal, merasa iba dengan kondisi Valeska, padahal usianya masih remaja, namun kenapa dia harus menerima cobaan seberat ini?

"Seperti yang kamu ketahui, kanker otak grading empat. Penyakit kanker itu bertahap dari grading satu, dua, tiga, sampai empat. Artinya, adik kamu sudah merasakan bermacam-macam gejala, tapi tidak memberitahu siapa-siapa. Penyakit ini bukan penyakit ringan yang minum obat langsung sembuh, tapi tenang, di sini ada saya dan dokter Fahru yang selalu siap membantu," jelas seorang dokter, yang merupakan ayah dari Prisha.

"Dokter, ini bisa sembuh'kan?"

"Bisa, kalau kalian yakin dengan kuasa Tuhan. Berpikiran baiklah, tentang hal apa pun itu, jangan pernah membenci atau menyesali yang sudah terjadi. Maaf ya, saya tidak bisa membantu banyak lantaran di sini saya hanya dokter umum, tapi saya sudah menitipkan kalian berdua ke dokter Fahru dan dokter spesialis onkologi." Jawab sang dokter.

"Terima kasih dok,"

"Oh iya, kemarin dokter Fahru sempat menanyakan keberadaan orang tua dari kalian, cepat atau lambat, orang tua kalian perlu tahu soal ini. Jangan menyembunyikan ini semua dari mereka, bagaimana pun juga, mereka adalah orang tua yang pasti menyayangi anak-anaknya," pesan dokter Rijal.

Kaivandra terdiam sejenak, "I-iya dok ... saya paham, nanti saya akan kasih tahu mereka, jika adik saya meminta. Karena, dari kemarin Valeska meminta ini semua dirahasiakan dari mama papa," balasnya jujur.

Sebenarnya, Kaivandra ingin sekali memberitahu soal ini. Tapi, Valeska bersikeras agar ini semua dirahasiakan terlebih dahulu. Bukan tanpa alasan, karena Valeska tidak ingin membuat mama papanya khawatir, di tengah kesibukan mereka.

Setelah berkecamuk dengan pikirannya sendiri, dia pun langsung berjalan menuju lobi apartemen. Karena ternyata, Girga atau papa Kaivandra sudah menunggunya selama 10 menit. Sesampainya di lobi, Kaivandra langsung menyalami tangan sang papa, lalu mengajaknya untuk naik ke atas menggunakan lift.

"Langsung aja yuk, lama-lama di sini nggak enak," ajak Kaivandra pada papanya.

"Mau beli makan nggak? Siapa tahu kamu laper, bang,"

"Nggak usah, abang udah makan tadi sama adek." Jawabnya, kemudian berjalan menuju lift.

Di sudut ruang televisi, Kaivandra duduk dengan postur kaku. Putra sulung Girga itu memang jarang bicara, kecuali jika papanya lebih dulu bertanya. Sisanya, dia lebih banyak terdiam, seakan ada tembok yang tak kasat mata di antara mereka.

"Bang ..." suara lembut Girga memecah keheningan, membuat Kaivandra menoleh perlahan.

"Ya, Pa?" balasnya singkat namun penuh rasa ingin tahu.

Girga menarik napas sebelum bertanya, "Abang tahu nggak alasan Papa ke sini buat apa?"

Kaivandra mengernyit, bingung. "Jelas nggak tahu, Pa. Orang Papa langsung nelpon, tiba-tiba bilang udah ada di lobi. Heran banget, deh."

Senyum kecil terbit di wajah Girga. "Papa ke sini mau ngasih hadiah untuk abang dan juga adek. Ini Papa beli waktu ada kerjaan di luar negeri. Adek udah tahu, untuk abang, dipilih langsung sama dia."

Mata Kaivandra membulat, tidak percaya. Sejak kapan Adek ikut-ikutan urusan begini? Kenapa dia nggak bilang apa-apa? pikirnya.

"Boleh abang buka sekarang?" tanya Kaivandra sedikit kikuk. Girga mengangguk,memberi izin.

Kaivandra perlahan membuka kotaknya, dan saat isinya terlihat, matanya berbinar. Sebuah jam tangan berwarna hitam dengan aksen emas, desainnya sederhana namun memancarkan kesan mewah. Kaivandra terdiam, terpesona.

"Ini pilihan adek?" tanyanya, tidak percaya. Girga tersenyum lebar. "Iya, katanya abang suka model seperti itu, jadi Papa ngikut saran dari adek,"

Senyum Kaivandra mengembang, jarang sekali ia terlihat begitu bahagia. Kaivandra menatap jam tersebut dengan kagum, lalu mengarahkan pandangannya pada sang papa.

"Makasih ya, Pa ... abang nggak nyangka. Dari semua perlakuan abang yang mungkin pernah bikin Papa sakit hati, ternyata Papa masih mikirin abang ..."

Kata-kata itu membuat Girga terpaku. Baru kali ini, ia mendengar putranya berbicara dengan hati terbuka seperti ini.

"Tidak apa-apa, bang. Papa paham kok, kenapa abang bersikap begitu. Mungkin karena kecewa, marah, atau bahkan benci sama Papa yang selalu sibuk bekerja," ujar Girga, suaranya penuh ketulusan.

Sebelum Kaivandra sempat membalas, suara langkah ringan terdengar dari arah kamar. Valeska muncul dengan wajah pucat, matanya sedikit sembab. Namun, gadis itu memasang senyum ceria, menutupi rasa lelah yang merayapi tubuhnya akibat efek kemoterapi.

"Adek," seru Kaivandra, terkejut.

Kaivandra segera bangkit dan menghampiri adiknya.

"Adek nggak apa-apa, bang. Udah ah, nggak usah lebay." Bisiknya.

"Papa kapan ke sini? Kok nggak ada yang bangunin Adek? Untung adek kebangun karena haus. Kalau nggak, adek pasti melewatkan momen langka ini," ucap Valeska dengan nada manja.

Girga tertawa kecil. "Putri Papa ini bisa aja. Tapi, tumben jam segini baru bangun?" tanyanya dengan nada penuh perhatian.

"Adek kecapekan, Pa. Kemarin kan baru pulang liburan, terus tadi pagi diajak jalan-jalan sama abang," jawab Valeska sambil melirik ke arah yang dituju.

Kaivandra mendengus dalam hati. "Adek ini pintar banget bohong. Belajar dari mana sih? Handal banget."

"Terus, hadiah untuk adek mana?" Valeska memecah keheningan dengan pertanyaannya yang polos, membuat semua tertawa.

Obrolan mereka pun berlanjut, diiringi gelak tawa yang sesekali memenuhi ruangan. Waktu berlalu tanpa mereka sadari, menyisakan kehangatan di tengah malam yang dingin. Malam itu, untuk pertama kalinya dalam waktu lama, hubungan mereka terasa begitu dekat, seolah semua jarak yang pernah ada perlahan sirna.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!