Devano Garendra, merasa bosan dengan pernikahannya bersama sang istri hingga membuatnya bermain perempuan di luar sana.
Sebagian Alice, yang baru saja memulai kehidupannya yang baru harus kembali di pertemukan dengan sosok yang cukup lama bersamanya.
Akankah mereka kembali mengulang masa lalu yang pernah di lewati bersama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tessa Amelia Wahyudi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 19
Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, tidak sepatah katapun yang keluar dari bibir mereka. Baik Rendra mau pun Alice, mereka sama-sama diam merenungi semuanya.
Bahkan ketika sampai di rumah sakit pun, Rendra meninggalkan Alice begitu saja. Karena fokusnya saat ini hanya untuk anaknya saja.
"Sus?" panggil Alice ketika berada di depan ruangan Neil.
"Ini ayahnya anak saya." ucapnya mengenalkan Rendra.
"Ambil sebanyak yang kalian butuhkan. Apapun yang kalian butuhkan, ambil saja." ujar Rendra memberitahu tentang dirinya.
Suster tersebut hanya bisa mengangguk kan kepalanya. Rendra di bawa ke ruangan lain untuk mengambil darahnya. Sementara Alice, dia masih berdiri di depan ruangan Neil. Melihat putranya yang tak sadarkan diri seperti itu.
"Neil, mami udah bawa papi kamu, Nak." ucapnya di depan kaca jendela ruangan Neil.
Bagaimana ini, Alice seperti merasa hidupnya hampa. Tidak ada yang bisa dia lakukan lagi, selain pasal dan berdoa untuk kesembuhan Neil.
Tubuhnya lemas, pandangannya mulai kabur, hingga di detik kemudian tubuhnya ambruk dan tak sadarkan diri.
Brugh...
Alice tergeletak begitu saja di lantai dingin rumah sakit. Tidak ada yang mengetahuinya, hingga sampai Rendra selesai melakukan pengambilan darah, dia terkejut ketika melihat wanita itu tergeletak di lantai.
"Alice?" pekik Rendra menemukan Alice yang seperti itu.
"Alice, bangun. Alice, buka matamu hey." Rendra berusaha membangunkan Alice.
Tubuhnya benar-benar panas, wajah merona itu tidak lagi berwarna. Pucat, keadaan Alice saat ini semakin membuatnya ketakutan.
"Dokter!!!" teriak Rendra di lorong itu, membuat Suster yang menolongnya tadi langsung keluar.
"Tolong, tolong bawa dia ke ruangan. Tubuhnya panas." ucap Rendra kalang kabut.
Dia menggendong tubuh Alice dan membawanya ke ruangan. Alice langsung di beri pertolongan, dan kini sudah dalam perawatan.
Melihat keadaan Alice yang seperti ini membuat Rendra di hantui ada bersalah yang begitu besar.
Di genggamannya telapak tangan yang mulai menghangat itu. Tatapannya terlihat begitu menyedihkan.
"Maaf karena membuatmu merasakan begitu banyak kesulitan selama ini." ucapnya pada Alice, yang tak sadarkan diri saat ini.
Rendra terus menggenggam tangan Alice, berusaha menghangatkannya agar bisa cepat sadar.
"Permisi, Pak. Anda harus segera menyelesaikan administrasi rumah sakit sebelum melakukan operasi." ucap suster yang baru saja datang.
Rendra meninggalkan Alice sejenak, untuk menyelesaikan administrasi rumah sakit untuk putranya dan juga Alice.
Bukan perkara sulit baginya untuk menyelesaikan semua itu. Tapi, saat melihat sosok mungil yang di dorong menuju rumah sakit membuat Rendra runtuh seketika.
Deg!
"Neil?" panggilnya saat mengenali sosok mungil tersebut.
Penyesalan langsung menyelimutinya saat mengetahui bahwa putranya adalah Neil. Anak laki-laki yang beberapa hari ini bermain dengannya.
Anak laki-laki yang membuat hidupnya seperti bangkit lagi. Anak laki-laki yang bahkan bisa membuatnya tersenyum.
Pikiran kembali berputar ke beberapa hari yang lalu, ketika mereka jajan di warung, Neil sempat mengatakan jika dia alergi coklat. Itu sama persis dengan dirinya bukan?
"Ya Tuhan...takdir macam apa ini? Apa yang kau rencanakan, Tuhan?" gumamnya penuh penyesalan setelah mengetahui jika anaknya adalah Neil.
Pantas saja dia merasa dekat dan wajah anak itu juga mirip dengannya. Ternyata memang putranya.
"Kau benar-benar jahat Alice, kau jahat!" umpat Rendra setelah mengetahui semuanya.
Hatinya hancur melihat putranya dalam keadaan seperti itu. "Papi janji, setelah ini kamu tidak akan merasakan kesulitan lagi. Kita akan pulang, dan papi tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu lagi. Papi, janji nak. Papi janji, Neil. Papi janji." ucapnya bersungguh-sungguh.
Setelah Neil sehat, dia akan membawanya tinggal di Amerika. Terserah Alice bersedia atau tidak, yang jelas dia tidak ingin berpisah dengan Neil lagi. Tidak akan.
"Kamu kuat nak, kamu kuat, Neil. Kamu anak hebat papi, Boy." gumam Rendra melihat pintu ruangan operasinya yang sudah di tutup.
Lampu merah menyala, menandakan jika saat ini tim medis sedang melakukan pekerjaan mereka.
Apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tidak ingin meninggalkan Neil sendirian, tapi Alice juga sedang tidak baik-baik saja saat ini.
***