NovelToon NovelToon
Rumah Untuk Elva

Rumah Untuk Elva

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen / Mengubah Takdir / Bad Boy
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: elanut

Dilahirkan di keluarga kaya tidak membuat Elva Ileana bahagia. Dia diabaikan di rumah, dan menjadi korban perundungan di SMA elit tempatnya bersekolah.

Zayn Dominic, putra pemilik yayasan yang dingin, awalnya hanya menonton datar saat Elva dirundung di lorong sekolah. Namun sorenya, Zayn tidak sengaja melihat Elva di belakang gedung tua—tersenyum tulus sambil memberi makan seekor kucing liar, melupakan rasa sakitnya sendiri. Kepolosan di tengah kerapuhan itu seketika mengetuk hati dingin Zayn. Cowok paling berkuasa di sekolah itu pun membuat satu aturan mutlak: “Siapa pun yang menyentuh Elva, artinya memancing kematian dari seorang Zayn Dominic.”

Saat rumah mewahnya terasa seperti neraka, Zayn datang menjadi pelindung yang posesif. Bagi Elva, kemewahan keluarganya tidak ada artinya, karena Zayn adalah tempatnya pulang. Zayn adalah rumah yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elanut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 16

BAB 16: Badai di Area VIP dan Batas Sabar Sang Singa

Keriuhan jam istirahat kedua di SMA Pelita selalu berpusat di kantin utama. Tempat itu lebih menyerupai food court mall mewah daripada kantin sekolah pada umumnya, lengkap dengan pilar-pilar marmer putih dan stan makanan dari restoran-restoran terkenal. Namun siang itu, atmosfer di area luas tersebut mendadak berubah dinamis saat pintu kaca otomatis terbuka lebar.

Zayn Dominic melangkah masuk dengan tangan kanan yang tenggelam di dalam saku celana abu-abunya, sementara tangan kirinya menggenggam erat jemari Elva Ileana. Seperti biasa, Zayn membiarkan almamater sekolahnya terbuka, digantikan oleh jaket kulit hitam andalan yang membungkus bahu tegapnya. Di belakang mereka, Leo, Arkan, dan Kevin berjalan dengan gaya kasual mereka yang populer, membentuk formasi perlindungan tak kasat mata yang menegaskan status kasta tertinggi di sekolah itu.

Murid-murid yang tadinya sibuk mengobrol langsung menghentikan aktivitas mereka. Pandangan mereka tertuju pada tautan tangan Zayn dan Elva. Desas-desus mengenai Elva yang kini resmi berada di bawah perlindungan hukum keluarga besar Dominic membuat tidak ada satu orang pun yang berani melayangkan tatapan sinis. Mereka yang dulu hobi berbisik meremehkan, kini buru-buru menunduk hormat saat rombongan itu lewat.

"Duduk di sini," perintah Zayn rendah setelah menarik sebuah kursi di meja VIP pojok kantin—meja khusus yang selama ini hanya boleh ditempati oleh geng basket Zayn.

"Terima kasih, Zayn," bisik Elva lembut, mendudukkan dirinya dengan anggun. Rambut hitam panjangnya yang halus jatuh dengan rapi di bahunya, membingkai wajah polosnya yang kini memancarkan rona sehat.

"Woi, lo berdua mau pesen apa? Biar gue yang pesenin, mumpung antrean di stan ramen lagi sepi," seru Kevin bersemangat, meletakkan kunci motornya di atas meja marmer.

"Gue samain kayak Elva aja. Pesan ramen ayam panggang dua, jus jeruknya dua. Punya Elva jangan pakai cabai sama sekali," ketus Zayn, memberikan instruksi yang sangat mendetail demi menjaga pencernaan Elva yang baru saja pulih dari sakit.

"Siap, Tuan Muda!" tiru Kevin sambil memberi hormat jenaka, memicu tawa renyah dari Leo dan Arkan yang langsung mengambil posisi duduk di seberang meja.

Selama menunggu makanan, Zayn tidak sedetik pun melepaskan pandangannya dari Elva. Tangan kekarnya bergerak membenarkan letak anak rambut Elva yang sedikit berantakan di dahi dengan kelembutan yang luar biasa—sebuah pemandangan langka yang sukses membuat beberapa siswi di meja seberang menahan napas cemburu. Namun, kedamaian di meja VIP itu mendadak terusik oleh sebuah keributan yang terjadi tidak jauh dari stan minuman.

"Heh! Punya mata nggak sih lo?! Baju gue jadi basah semua nih!"

Sebuah bentakan nyaring bernada melengking seketika memotong keriuhan kantin. Elva tersentak kaget, bahunya refleks menegang. Zayn yang menyadari perubahan reaksi Elva langsung menyipitkan mata tajam, menoleh ke arah sumber suara.

Di dekat stan jus, seorang siswi kelas dua bernama Sherly—yang merupakan sepupu dekat Clarissa sekaligus anak dari salah satu pemegang saham kecil di perusahaan ayah Elva—sedang berdiri dengan wajah merah padam. Di depannya, seorang siswi beasiswa tingkat satu yang bertubuh kurus tampak gemetar ketakutan, memegangi nampan plastik kosong. Jus alpukat milik Sherly tampak tumpah mengotori bagian depan seragam mahal siswi angkuh itu.

"M-maaf, Kak... aku tadi nggak sengaja tersenggol orang dari belakang," cicit siswi kelas satu itu dengan suara yang hampir menangis.

"Alasan! Lo sengaja kan karena sirik liat baju gue baru?!" bentak Sherly kasar. Dia maju selangkah, lalu tanpa belas kasihan mendorong bahu siswi malang itu hingga tubuhnya terhuyung ke belakang dan menabrak pembatas stan.

"Anak beasiswa miskin kayak lo tuh harusnya sadar diri kalau jalan! Nggak usah belagu di sekolah ini!"

Melihat pemandangan perundungan yang begitu familier itu, ingatan Elva seketika terlempar pada masa-masa kelamnya saat diperlakukan serupa oleh Clarissa. Jemari tangan Elva yang berada di atas meja mulai bergetar hebat. Rasa trauma mendadak mencoba merayap kembali ke dalam pikirannya.

Zayn yang sejak awal mengunci fokusnya pada Elva langsung menangkap getaran ketakutan itu. Rahang tegas Zayn mengeras sempurna hingga urat-urat di lehernya menegang. Sepasang mata elangnya berkilat memancarkan amarah murni yang sangat mengerikan. Sifat cemburu dan protektifnya yang sempat mereda karena kehadiran Elva kini mendadak tersulut oleh kebodohan orang lain yang merusak ketenangan gadisnya.

Zayn berdiri dari kursinya dengan sentakan kasar, membuat kursi besi di belakangnya bergeser nyaring di atas lantai marmer.

"Z-Zayn... mau ke mana?" tanya Elva cemas, menahan ujung jaket kulit hitam Zayn dengan sisa kekuatannya.

Zayn menatap Elva sekejap, dan dalam waktu satu detik, kilat mematikan di matanya melunak hanya untuk gadis itu. Dia menepuk tangan Elva lembut.

"Lo tetep di sini. Biar gue yang beresin sampah yang bikin kuping lo berisik," ucap Zayn, suaranya terdengar begitu rendah namun sarat akan otoritas yang mutlak.

Zayn melangkah lebar membelah kantin. Setiap langkah sepatunya seolah membawa beban intimidasi yang luar biasa berat, membuat murid-murid yang berada di jalurnya langsung mundur teratur dengan wajah pucat. Leo dan Arkan yang melihat Zayn bergerak langsung berdiri dan mengikuti di belakangnya dengan raut wajah yang tidak lagi main-main.

"Heh, Sherly," panggil Leo dingin saat mereka sudah berada beberapa langkah di belakang siswi angkuh itu.

Sherly yang tadinya bersiap untuk mengangkat tangannya lagi guna menampar siswi kelas satu itu seketika mematung. Badannya berbalik pelan, dan seluruh warna di wajahnya lenyap seketika begitu mendapati Zayn Dominic sudah berdiri tepat di depannya dengan kedua tangan terbenam di saku jaket kulit hitam.

"Z-Zayn... Kak Leo..." cicit Sherly, suaranya mendadak gagap. Nyali besarnya menguap tanpa sisa saat berhadapan langsung dengan penguasa tertinggi sekolah.

"Gue rasa, telinga lo ditaruh di dengkul ya waktu gue bikin aturan minggu lalu?" tanya Zayn, suaranya sangat tenang, namun justru ketenangan itulah yang membuat seisi kantin merinding ketakutan. Zayn maju satu langkah, menatap Sherly dari atas ke bawah dengan pandangan yang sangat menghina.

"Gue bilang, siapa pun yang bikin keributan atau tindakan merundung di sekolah ini, artinya berurusan sama gue. Terutama kalau keributan bodoh lo itu sampai bikin cewek gue nggak nyaman."

"T-tapi Zayn... dia yang duluan numpahin jus ke baju aku—"

"Gue nggak peduli sama baju murah lo," potong Zayn cepat tanpa perasaan.

"Dengar baik-baik, Sherly. Bokap lo itu cuma pemegang saham recehan di proyek properti Jakarta Barat yang kemarin baru aja dihancurin sama bokap gue. Kalau lo masih mau bokap lo punya modal buat beliin lo seragam baru besok, angkat kaki dari kantin ini sekarang juga. Dan jangan pernah lo keluarin suara cempreng lo lagi di depan Elva."

Sherly terbelalak, tubuhnya bergetar hebat menahan malu dan ketakutan yang amat sangat. Ancaman bisnis dari keluarga Dominic bukanlah hal yang bisa dianggap lelucon. Tanpa membuang waktu lagi, Sherly menyambar tasnya dan berlari kencang keluar dari kantin sambil menangis histeris, diikuti oleh pandangan mencemooh dari murid-murid lain yang kini berbalik merendahkannya.

Zayn melirik ke arah siswi kelas satu yang masih gemetar di lantai. "Lo berdiri. Pergi ke ruang UKS, minta seragam ganti ke petugas di sana. Bilang gue yang suruh," perintah Zayn, nadanya ketus namun tetap memberikan solusi.

"T-terima kasih banyak, Kak Zayn," ucap siswi itu tulus sambil membungkuk berkali-kali sebelum buru-buru pergi dari kantin.

Setelah badai kecil itu reda, Zayn membalikkan badannya dan berjalan kembali menuju meja VIP-nya. Begitu dia duduk di sebelah Elva, wajah tampannya kembali ditekuk kesal. Sifat posesifnya yang menggemaskan kembali keluar karena merasa waktu makannya bersama Elva telah diganggu oleh manusia tidak penting.

Tepat saat itu, Kevin datang membawa nampan berisi dua mangkuk ramen hangat yang mengepulkan aroma gurih. "Nih, ramennya dateng! Gila ya lo, Zayn... baru ditinggal lima menit pesen mie, lo udah bikin satu anak orang nangis bombay di pojokan," goda Kevin sambil terkekeh pelan.

Zayn tidak menyahut. Dia langsung menyambar mangkuk ramen milik Elva, memastikan suhunya tidak terlalu panas sebelum menggesernya kembali ke depan gadis itu. "Makan. Nggak usah dipikirin yang tadi," ketus Zayn sambil melipat kedua tangannya di depan dada, matanya masih merengut kesal ke arah pintu keluar kantin.

Elva menatap tingkah Zayn dengan mata bulatnya yang berbinar jenaka. Rasa cemas dan trauma yang sempat menyerangnya tadi kini telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh rasa hangat yang membuncah di dalam dadanya. Elva mengulurkan tangan kecilnya, menyentuh jemari kekar Zayn di atas meja dan menggenggamnya lembut.

"Zayn... terima kasih ya. Tapi jangan merengut terus dong mukanya, nanti gantengnya hilang," goda Elva dengan senyuman murni yang sangat manis, sebuah keberanian baru yang dia miliki setelah tahu seberapa besar cowok ini mencintainya.

Mendengar godaan polos dari Elva, pertahanan wajah kaku Zayn seketika runtuh. Dia menghela napas pendek, memutar tangannya agar bisa membalas genggaman tangan Elva dengan sangat erat di bawah meja marmer. Sepasang mata elangnya kembali menatap Elva dengan kelembutan yang tiada tara, mengabaikan Leo dan Kevin yang mulai bersiul menggoda mereka di seberang meja.

1
anggita
like👍 iklan☝, Elva... Zayn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!