Elara tumbuh sebagai putri tunggal dari pemimpin organisasi mafia paling kejam di negeri ini. Dididik dengan kekerasan dan dicengkeram doktrin psikopat oleh ayahnya, ia terpaksa mengenakan topeng apatis dan minim empati.
Saat berusia 14 tahun, dalam sebuah misi untuk menghabisi geng lokal, takdir mempertemukannya dengan seorang remaja laki-laki yang tengah dikeroyok.
Bukannya takut melihat aksi kejam Elara, pemuda itu justru jatuh cinta pada pandangan pertama dan dengan sukarela menawarkan dirinya untuk masuk ke dalam dunia hitam organisasi demi bisa bersamanya.
Tahun demi tahun berlalu. Remaja laki-laki itu kini telah tumbuh menjadi pengawal pribadi Elara yang paling tangguh dan tepercaya. Tanpa mengetahui rencana pengkhianatan Elara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 3 : OUROBOROS: BOUND BY BLOOD
Adrian memutar gelasnya dengan kasar. Matanya tidak lepas dari Elara yang duduk tenang di samping Ayah mereka.
𝘋𝘪𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘭𝘶 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘱𝘶𝘳𝘯𝘢, 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘪𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘬𝘶𝘢𝘴𝘢, 𝘴𝘦𝘰𝘭𝘢𝘩 𝘥𝘪𝘢 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶, 𝘣𝘢𝘩𝘸𝘢 𝘴𝘦𝘵𝘪𝘢𝘱 𝘴𝘦𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘪𝘢 𝘨𝘶𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘨𝘢𝘶𝘯 𝘪𝘵𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘢𝘴𝘢𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘥𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨-𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘶𝘣𝘶𝘯𝘶𝘩, pikirnya sinis.
Adrian benci bagaimana Ayahnya memandang Elara. Itu bukan pandangan seorang pemimpin organisasi kriminal, melainkan pandangan kagum terhadap sebuah mahakarya.
"Dia tidak akan bertahan lebih lama lagi, Julian," gumam Adrian sangat pelan, sengaja membiarkan hanya Julian yang duduk di sampingnya yang mendengar. "Dia terlalu angkuh. Dia pikir posisinya sebagai putri akan melindunginya selamanya."
Julian menyesap minumannya dengan tenang, matanya tetap fokus pada Elara, mengabaikan kebencian yang meluap dari Adrian.
"Angkuh atau sekedar tahu harga dirinya, Adrian?" Julian membalas dengan nada ringan, namun ada kilatan aneh di matanya. "Sepertinya Elara lebih berbahaya daripada yang kau kira. Dia tidak perlu berteriak untuk membuat orang tunduk."
Adrian mendengus. "Kau terlalu terpesona dengan wajahnya. Lihat pelayan itu—" Adrian melirik Dante yang berdiri di belakang Elara. "Anjing peliharaannya itu akan kuhabisi jika dia terus menghalangi jalanku."
Julian memijat pelipisnya, pertemuan ini membosankan, namun wanita di depan sana adalah alasan utamanya berada di tempat ini.
Elara.
Julian sudah kenyang mendengar rumor tentang putri bos Ouroboros ini. Katanya dia dingin, tidak tersentuh, dan ogah ikut campur urusan organisasi.
Tapi begitu melihatnya langsung, Julian tahu rumor itu salah. Ada ambisi yang sengaja disembunyikan di balik wajah datarnya.
Julian lalu beralih menatap Dante. Pria itu ancaman nyata. Julian sadar betul bagaimana pundak Dante menegang setiap kali Elara bergerak atau bersuara.
Itu bukan sekadar loyalitas kacung. Itu obsesi seorang pria yang siap membunuh siapa saja yang berani menyentuh miliknya.
𝘔𝘦𝘯𝘢𝘳𝘪𝘬, 𝘴𝘦𝘰𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘯𝘫𝘪𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘯𝘫𝘢𝘨𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘤𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘱𝘢𝘥𝘢 𝘵𝘶𝘢𝘯𝘯𝘺𝘢, pikir Julian, ia menyesap minumannya, merasa geli.
Adrian, si anak angkat yang bodoh ini, mengira bisa memanfaatkan Julian untuk menyingkirkan Elara.
Dia tidak tahu kalau Julian punya rencananya sendiri. Julian ke sini bukan untuk jadi babu Adrian, atau bahkan melayani Tuan Besar Ouroboros. Dia cuma penasaran sekuat apa Elara sebenarnya.
"Jangan salah paham, Adrian," bisik Julian, suaranya merendah. "Aku ke sini bukan untuk menghancurkan wanita itu. Aku cuma mau lihat siapa yang bakal tumbang duluan, anjingnya atau hatinya."
Elara bangkit dari kursinya, gerakan tubuhnya begitu tenang, seolah riak ketegangan, bisik-bisik penuh kebencian dari Adrian dan tatapan penuh selidik dari Julian sama sekali tidak memiliki bobot untuk menahannya lebih lama di ruangan itu.
Bagi Elara, makan malam ini sudah selesai, dan ia tidak berniat membuang energinya untuk drama murahan adik angkatnya atau ambisi tersembunyi si konsultan baru.
"Makan malam yang menarik, Ayah. Saya permisi kembali ke kamar," ucap Elara, suaranya mengalun datar.
Begitu Elara dan Dante menghilang di balik pintu ek yang tertutup rapat, keheningan di ruang makan kembali pecah oleh dengus kesal Adrian.
Ia menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi, menenggak habis sisa 𝘸𝘩𝘪𝘴𝘬𝘦𝘺 di gelasnya dengan satu sentakan kasar.
"Lihat itu?" desis Adrian, matanya menatap pintu yang baru saja tertutup dengan kilat kemarahan. "Dia selalu pergi sesukanya. Dia pikir dia seorang ratu apa?"
Sang Ayah, yang sejak tadi hanya memperhatikan, meletakkan garpunya dengan tenang. Matanya beralih dari pintu menuju Julian, lalu ke Adrian.
Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Tuan Besar berdiri, mengancingkan jasnya, dan memberikan isyarat bahwa jamuan ini benar-benar telah usai baginya.
"Julian, selesaikan diskusimu dengan Adrian. Aku tunggu laporan pertamamu besok pagi," ucap sang Ayah berat, lalu melangkah keluar lewat pintu samping.
Julian menyunggingkan senyum tipis, memutar-mutar tangkai gelasnya dengan gestur yang sangat santai.
"Dia tidak pergi karena merasa seperti ratu, Adrian," ujar Julian memecah kesunyian, nadanya terdengar geli sekaligus kagum. "Dia pergi karena dia tahu, tinggal lebih lama di sini hanya akan merendahkan kelasnya. Kakakmu itu... dia tahu persis bagaimana cara mengendalikan ruangan tanpa perlu mengeluarkan banyak kata."
"Berhenti memujinya, Julian!" Adrian menggebrak meja, membuat sendok di atasnya berdenting. "Kamu bisa ada di sini karena aku yang meyakinkan Ayah. Tugasmu itu membantuku menggeser posisi dia, bukan malah jadi penggemar rahasianya!"
Julian menatap Adrian. Tatapan meremehkan sempat melintas di matanya sebelum kembali berganti jadi ekspresi dingin yang datar. Pria di depannya ini terlalu emosional dan gampang disetir oleh rasa iri. Pion yang sangat mudah ditebak.
"Aku kerja untuk Ouroboros, Adrian. Artinya aku kerja untuk organisasi, bukan untuk balas dendam pribadimu," balas Julian tenang. Dia memajukan tubuhnya, menumpukan kedua tangan di meja. "Kalau mau menjatuhkannya, jangan serang Elara langsung. Dia terlalu dilindungi ayahmu. Dan yang paling penting..."
Julian menjeda kalimatnya, mengingat kembali sorot mata tajam pengawal Elara tadi.
"...kamu harus menyingkirkan pengawalnya dulu."
Adrian menyipitkan mata. Kemarahannya mereda, digantikan rasa tertarik. "Anjing penjaga itu? Dia cuma pelayan yang kebetulan pintar menembak."
"Dia lebih dari sekadar itu," Julian terkekeh rendah. "Pria itu nggak bisa disogok pakai uang atau kesetiaan organisasi. Dia digerakkan oleh sesuatu yang jauh lebih merepotkan: obsesi."
Julian berdiri, merapikan jasnya.
"Orang yang butuh uang bisa kamu beli, Adrian. Tapi orang yang bertaruh nyawa untuk melindungi dunianya... dia bakal membantai siapa pun yang berani mendekat. Kalau mau hancurin Elara, patahkan dulu senjatanya. Buat Dante melakukan kesalahan. Buat dia melanggar aturannya sendiri sampai ayahmu nggak punya pilihan selain mengeksekusinya."
Senyum licik perlahan terukir di wajah Adrian. Dia mulai paham arah permainan Julian. "Dan begitu Dante hilang..."
"Begitu Dante nggak ada, Elara bakal berdiri sendirian," potong Julian. Dia menepuk pundak Adrian sekilas sebelum melangkah pergi. "Pikirkan cara untuk memancing anjing itu keluar dari kandangnya. Sisanya biar aku yang urus."
Nggak bisa nebak endingnya 💪💪
qu rasa nanti hadir laki" yg melebihi mrk smua
juliaaan👍👍
takut nii
semangat kak💪💪
bikin penasaran
kenapa feeling ku bilang ini sad ending yaa🤔🤔
semangat kak💪💪
sebenarnya apa niat dia yaa 🤔
jangan bilang ini belum kemampuan elara yang sebnernya..