"Jangan paksa Humaira Mi... Aku itu Humaira, Humaira bukan Kak Asyifa yang bisa tahan menutup diri pakai jilbab."
Seluruh keluarganya selalu memaksanya menjadi seperti kakaknya yang muslimah namun Humaira merasa belum siap dan sikapnya tidak pantas untuk di jilbapin.
Dunia Humaira yang damai berubah 180 derajat setelah bertemu Bang Ashraf, lelaki yang membuat semua orang salah paham terhadapnya hingga mengikat keduanya di ikatan pernikahan.
Akankah Humaira menemukan cintanya dan bisa bahagia????
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon shakila kanza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Di kamar
Pukul 10.00 malam, setelah semua orang berlalu, Humaira yang memakai kebaya Uminya untuk acara nikahan dadakan, Bang Arsya yang memakai baju Koko putih dan celana hitam, menikah dadakan yang di luar nalar semua orang. Maghrib tadi main, Isyak kepergok Umi dan berlangsung sidang panjang dari Abi Harun dan berakhir memanggil kedua orang tua Bang Ashraf yang puncaknya pernikahan sederhana ala kadarnya.
Yang penting Sah, keunikan pernikahan ini bagai hadiah luar biasa bagi Bang Ashraf yang memang menginginkan menikahi Humaira, perjuangan meminta dia Mama juga menyebut dirinya di setiap doa setelah shalatnya tak di sangka Allah kabulkan dalam waktu yang dekat.
Sedangkan Humaira bingung harus berbuat dan bersikap bagaimana karena dirinya benar-benar belum siap menikah, jadi pernikahan ini bagaikan kecelakaan bagi Humaira. Humaira termenung di ranjang masih dengan kebaya gamis milik Uminya yang biasa di pakai kondangan, juga pasmina yang membuat dirinya nampak cantik di mata Bang Ashraf.
"Humaira... " Bang Ashraf memanggil Humaira yang termenung.
"Humay...." Panggil Bang Ashraf lagi.
"Astaga... May..." Panggil Bang Ashraf lebih dekat namun Humaira tidak bergeming sama sekali.
"Istriku Sayang..." Bisik Bang Ashraf di telinga Humaira membuat Humaira terlonjak kaget dan berdiri.
"Astaghfirullah...." Katanya memegang dadanya.
Bang Ashraf justru tergelak melihat Humaira yang memerah pipinya sambil berdiri di hadapannya. "Ish... Aku masih kagak percaya deh Bang.. Kita tadi beneran udah nikah???" Humaira tidak bertanya sambil duduk di lantai sembari selonjoran.
"Astaghfirullah... Serius lah... Terus ngapain tadi... Mainan??" Kesal Bang Ashraf sambil menarik Humaira ke sisinya biar sadar hingga tubuh Humaira menabrak ke dirinya.
Humaira membeku di tempatnya lalu melepaskan diri dari rangkulan Bang Ashraf saat menarinya tadi, Sungguh ini terlalu cepat dan dadakan dirinya, Humaira rasanya ingin kabur jika bisa, namun tidak mungkin karena ternyata saat ini dirinya benar-benar sudah jadi istri Bang Ashraf.
Humaira bangkit dan meninggalkan Bang Ashraf dengan perasaan kesal, jujur jika saja laki-laki yang di nikahkan saat ini bukan Bang Ashraf mungkin sudah Humaira hajar, namun karena ini Bang Ashraf dan dirinya sudah menganggap sebagai teman sekaligus Abang maka Humaira pun tidak tega menghajarnya dan lagi pula Bang Ashraf orangnya baik meskipun usil terhadapnya.
Humaira masuk ke kamar mandi dengan membawa pakaian ganti, setelah beberapa waktu dirinya keluar dengan memakai celana panjang dan kaos oblong pendeknya. Kemudian menghampiri Bang Ashraf.
"Bang ganti gih..." Kata Humaira sembari memberikan Kaos oblong dan celana Training miliknya, Bang Ashraf mengangguk lalu tergelak setelah menyadari dirinya dan Humaira berbagi pakaian.
"Astaga... Untung kamu bajunya kaya laki-laki, Jadi bayangin kalau kamu pakaiannya gamis dan aku pakai gamismu... Hahaha kayak apa ya..." Kata Bang Ashraf sontak membuat Humaira ikut tertawa mendengar kekonyolan Bang Ashraf yang sudah menjadi suaminya itu.
"Hahaha... Dasar somplak .. Emang Mau Bang...?" Tanya Humaira sembari memegang perutnya yang sakit karena terlalu banyak tertawa.
"Hahaha Ogah lah... Emang Aku Neni Neni.." Kata Bang Ashraf berjalan sambil melambaikan tanganya seolah-olah banci.
"Hahaha... Dasar dah sana, udah malam..." Kata Humaira, kemudian Bang Ashraf pun tertawa hingga masuk ke kamar mandi.
Ternyata menikah dengan Bang Ashraf tidak semengerikan bayangannya, mungkin sementara ini masa perkenalan dulu, anggap saja teman hidup yang tinggal satu kamar bedanya ini laki-laki dan Halal tinggal bersamanya.
Bang Ashraf keluar kemudian duduk di ranjang, "Aku tidur dimana??"Bang Ashraf tau diri bila terlalu cepat jika dirinya meminta lebih atau minta tidur di ranjang.
"Udah santai aja Bang, kita batasi Guling, Aku di selatan Abang di Utara..." Kata Humaira yang membuat hati Bang Ashraf lega.
"Ok... Aku dah ngantuk duluan yah Bang..." Humaira berbaring dan menutup matanya.
"Mimpi indah istriku..." Kata Bang Ashraf lalu menyelimuti Humaira membuat dada Humaira mendadak berdetak tidak karuan dan pipinya pun memerah, meski dia tomboi dirinya juga perempuan yang memiliki hati, Namun karena tak ingin ketahuan Humaira tetap memejamkan matanya.
Bang Ashraf memandangi wajah cantik pujaan hatinya itu, pipi yang tadi putih bersih itu merona meski dengan mata yang tertutup, Bang Ashraf mengulum senyum, tidak apa-apa saat ini Humaira belum memiliki perasaan padanya, yang terpenting saat ini dirinya bisa selalu berada di sisinya itu sudah cukup baginya.
Jam menunjukkan tengah malam namun mata Bang Ashraf tidak bisa segera terpejam melihat selimut tersingkap dan tidur Humaira memeluk guling di tengah-tengah mereka dengan wajah manis dan ayu menghadap ke arahnya membuat Bang Ashraf berdebar tidak karuan dan mendadak suhu ruangan memanas padahal memakai AC, karena berkeringat Bang Ashraf pun akhirnya melepas Kaosnya dan tidur tanpa memakai atasan, barulah kemudian Bang Ashraf bisa tertidur menyusul Humaira
***
dosen kok sumbu pendek..
menantu kocak...