Seina dan Sora adalah saudari kembar yang dibuang oleh orang tua kandung mereka. Takdir membawa Seina diadopsi keluarga kaya, sementara Sora tumbuh dalam kemiskinan.
Diliputi iri hati, Sora berusaha merebut kehidupan adiknya. Namun, ambisinya berakhir tragis. Seina pun tewas setelah diracuni oleh kakaknya.
Ketika waktu berputar kembali, Seina memilih menyerahkan semua yang dulu menjadi miliknya.
"Kalau memang itu yang kau inginkan... ambillah semuanya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
"Kita tidak salah kamar."
Suara tenang itu datang lebih dulu sebelum pintu benar-benar tertutup. Kelima kakak Seina sudah berdiri di dalam kamar mungil itu, seolah memang sengaja menunggunya pulang.
Beberapa hari hidup bersama perlahan mulai mencairkan kecanggungan di antara mereka. Terutama Raka, kakak kedua yang biasanya paling keras kepala. Meski mulutnya masih sering menggerutu, penolakannya terhadap Seina sudah jauh berkurang. Hanya saja, di lubuk hatinya masih tersisa sedikit rasa iri.
Menurutnya, adik perempuan kecil itu hanya memiliki mata untuk Reno, si bungsu dari para kakak. Semua perhatian, semua hadiah, bahkan makanan enak selalu lebih dulu diberikan kepada Reno. Seolah-olah kakak keduanya sama sekali tidak terlihat.
Seina memandang mereka satu per satu dengan heran.
"Ada apa? Kenapa semuanya berkumpul di kamarku?"
Arga, sang kakak sulung, langsung membuka pembicaraan tanpa bertele-tele.
"Seina, katakan yang sebenarnya."
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan Ibu akhir-akhir ini?"
Senyum tipis di wajah Seina perlahan menghilang, ia memang sudah menduga pertanyaan itu akan muncul cepat atau lambat.
Dengan suara pelan, ia menceritakan semua yang terjadi selama beberapa hari terakhir di kediaman Keluarga Sia. Mulai dari Cilia yang sengaja mempersulit pekerjaan Mira, hingga kepala pelayan yang terus menambah beban kerja ibunya setiap hari.
Semakin lama mereka mendengarkan, semakin muram wajah kelima kakaknya.
Rahang Raka mengeras, kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kalau kepala pelayan itu sampai bertemu denganku..." gumamnya dengan suara berat. "Akan kuhajar wajahnya sampai dia tidak bisa dikenali."
Seina hanya menggeleng pelan.
"Aku juga tidak tahu kenapa Ibu menolak melayani Nyonya Besar Sia. Tapi aku yakin beliau punya alasan sendiri."
Ucapan itu membuat Arga terdiam cukup lama, rasa bersalah memenuhi dadanya.
Selama ini Mira bekerja mati-matian hanya demi membiayai sekolah kelima putranya. Sementara mereka terus belajar dengan tenang tanpa benar-benar mengetahui betapa berat beban yang dipikul sang ibu.
'Jika keadaan terus seperti ini... Tubuh ibu mereka pasti akan jatuh sakit.'
Sebagai anak sulung, ia merasa telah gagal.
***
Keesokan paginya, Mira kembali membawa Seina menuju Kediaman Sia.
Begitu mereka memasuki halaman belakang, Cilia yang berdiri tak jauh dari sana langsung memandang mereka sambil menyunggingkan senyum tipis penuh kemenangan.
'Lihat saja... sampai kapan kau bisa bertahan.'
Beberapa hari terakhir, Nyonya Besar Sia terus meminta Mira datang melayaninya, namun setiap kali permintaan itu disampaikan, selalu ada alasan yang membuat Mira tidak bisa memenuhi panggilan tersebut.
Karena itulah perempuan tua itu menyuruh Cilia datang menjemput Mira.
Di depan sang nyonya, Cilia selalu menjawab dengan patuh, tetapi di belakangnya... Ia terus mengutuk Mira sebagai pembantu yang tidak tahu diri.
Baru beberapa langkah memasuki area kerja, kepala pelayan langsung memanggil Mira.
"Hari ini kau kerjakan semuanya."
Ia menunjuk tumpukan pekerjaan yang bahkan biasanya dikerjakan oleh empat orang sekaligus.
"Kalau belum selesai, jangan berharap bisa pulang."
Seina menatap tumpukan pekerjaan itu, lalu menatap ibunya. Dadanya dipenuhi kemarahan karna mereka benar-benar sedang berusaha menyiksa Mira.
Ia ingin maju membantah dan mengatakan bahwa semua ini tidak adil, namun ketika menunduk melihat tubuh kecilnya yang masih berusia enam tahun, Seina hanya menggigit bibir.
Apa pun yang ia katakan sekarang tidak akan mengubah keadaan, bahkan mungkin hanya akan membuat ibunya semakin dipersulit.
"Ibu... Biar aku membantu."
Mira mengusap lembut kepala putrinya.
"Anak baik.. Kau temani Ibu saja. Lalu bermainlah di sana. Jangan mengganggu orang lain."
Seina mengangguk pelan, ia berjalan ke bawah sebuah pohon di sudut halaman, mengambil ranting kecil, lalu mulai menggambar garis-garis acak di atas tanah.
Sekilas ia tampak seperti anak kecil yang sedang bermain. Padahal seluruh perhatiannya tertuju pada percakapan dua pelayan muda yang sedang bekerja tidak jauh darinya.
"Aku mau cerita sesuatu, tapi kau harus janji tidak akan membocorkannya."
Pelayan satunya langsung mendekat dengan penuh rasa ingin tahu.
"Tenang saja... Kapan aku pernah membocorkan rahasia?"
Pelayan pertama menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar. Tatapannya sempat singgah pada Seina yang sedang mencorat-coret tanah.
Melihat anak kecil itu sibuk bermain sendiri, ia langsung merasa aman.
"Dua hari lalu kepala pelayan memberi perintah. Katanya ada tamu agung yang datang ke rumah ini. Kita semua dilarang berkeliaran supaya tidak tanpa sengaja bertemu dengannya."
Pelayan satunya langsung membelalakkan mata dan bertanya, "Siapa tamunya?"
Perempuan itu merendahkan suaranya. "Aku dengar dia adalah Pangeran Adrian."
Seina yang sedari tadi pura-pura menggambar langsung menghentikan gerakan tangannya.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
'Pangeran Adrian... Kenapa dia berada di Kota ini?'
Pelayan satunya semakin bersemangat.
"Benarkah? kalau begitu bukankah kita punya kesempatan?"
"Aku dengar beliau sangat tampan. Siapa tahu beliau jatuh hati kepada kita hingga kitabisa keluar dari kehidupan sebagai pelayan."
Mereka berdua tertawa kecil, larut dalam angan-angan yang mustahil.
Seina hanya menggeleng pelan dalam hati.
Pangeran Adrian memang terkenal luar biasa tampan.
Namun di kehidupan sebelumnya... Ia juga terkenal dingin, kejam, dan tidak pernah memberi kesempatan kepada perempuan mana pun mendekatinya.
Bahkan beredar banyak desas-desus bahwa sang pangeran sama sekali tidak tertarik kepada perempuan.
Pelayan pertama kembali berbisik.
"Aku dengar beliau datang ke sini untuk mencari seseorang."
"Mencari seseorang?"
"Iya."
"Kalau bukan orang penting, mana mungkin beliau datang sejauh ini?"
Mata Seina sedikit menyipit.
'Mencari seseorang? Jangan-jangan... Orang yang dicari adalah Reno?'
cerita nya juga seru