NovelToon NovelToon
Akhir Tragis Pelakor Yang Menghancurkan Hidupku

Akhir Tragis Pelakor Yang Menghancurkan Hidupku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: BI STORY

Aku menyelamatkannya dari kubangan lumpur, tapi dia justru menenggelamkanku ke dalam derita."

​Anita hidup dalam kesempurnaan. Dia memiliki kehormatan, kekayaan, dan Randy suami tercinta yang telah ia temani berjuang dari nol hingga sukses menjadi pengusaha properti kaya raya.

Namun, menara kebahagiaan itu runtuh seketika saat takdir mempertemukannya kembali dengan Valeria, sahabat masa kecilnya yang telah terpisah selama 15 tahun.

​Iba melihat nasib Valeria yang miskin dan terjerumus menjadi wanita malam, Anita dengan tulus mengulurkan tangan. Dia membawa Valeria masuk ke dalam kehidupannya dan memberikannya pekerjaan terhormat sebagai karyawan di kantor Randy.

Anita tidak pernah tahu bahwa malam pertama Valeria terjun ke dunia malam, pelanggan pertamanya adalah Randy. Dan sejak malam terkutuk itu, keduanya telah bermain api di belakangnya.

​Valeria yang digerogoti rasa iri mendalam atas kemewahan Anita, mulai melancarkan aksi liciknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BI STORY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap Di Bawah Hujan

​Matahari membakar kulit dengan begitu kejam di kawasan proyek perumahan Jonggol. Valeria berjalan tertatih-tatih di atas tanah kering yang berdebu. Napasnya terengah-engah. Pakaian kerja katun yang dipakainya kini lepek oleh keringat, dan yang paling parah, hak sepatu pantofelnya baru saja patah setelah terperosok ke dalam lubang galian.

​"Sialan! Kurang ajar kamu, Melati!" umpat Valeria setengah berbisik. Dia menghentakkan kakinya yang kini pincang sebelah.

​Seorang mandor proyek bertopi kuning yang sedang memegang cetak biru bangunan berjalan mendekatinya dengan dahi berkerut.

"Mbak ini staf administrasi baru yang diutus dari kantor pusat? Kok ke lapangan dandanannya begini? Di sini debu semua, Mbak."

​Valeria buru-buru mengubah ekspresi wajahnya menjadi sayu dan lelah.

"Iya, Pak. Saya diminta Kak Melati untuk mengantar berkas ini dan mengecek brosur pemasaran sekarang juga. Maaf jika penampilan saya merepotkan."

​"Aduh, Mbak Melati keterlaluan. Biasanya tugas begini ada kurir khusus. Ya sudah, taruh saja berkasnya di barak sana," ujar sang mandor menggeleng-gelengkan kepala penuh simpati.

​Setelah sang mandor pergi, Valeria tidak langsung menuju barak. Dia duduk di sebuah undakan semen yang panas. Dibukanya ponselnya. Dengan sudut pengambilan gambar yang pas, dia memotret kakinya yang lecet dan memerah akibat sepatu patah, berlatar belakang debu proyek yang gersang. Dia lalu mengirimkan foto itu kepada Randy lewat pesan singkat.

​“Maaf, Pak Randy. Saya agak terlambat menyelesaikan laporan karena tersesat saat naik angkutan umum tadi. Hak sepatu saya patah, tapi saya berjanji akan menyelesaikan tugas dari Mbak Melati dengan baik dan tidak akan mengecewakan perusahaan.”

​Valeria tersenyum puas setelah menekan tombol kirim.

"Kita lihat, siapa yang akan diusir dari kantor setelah ini, Melati," desisnya licik.

​Di kantor pusat, Randy sedang memijat pelipisnya di tengah rapat anggaran yang membosankan saat ponselnya bergetar. Begitu melihat foto kaki Valeria yang lecet dan membaca pesan yang begitu menyedihkan, amarah Randy langsung mendidih.

Amarahnya kepada Melati membubung tinggi, berganti dengan rasa khawatir yang luar biasa pada Valeria.

​Tanpa memedulikan rapat yang belum selesai, Randy berdiri.

"Rapat kita tunda sampai besok. Saya ada urusan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan."

​Randy melangkah lebar keluar ruangan, bahkan tidak menoleh sedikit pun pada Melati yang menatapnya bingung di koridor. Dia langsung menuju basemen, menyalakan mesin mobil mewahnya, dan membelah jalanan menuju Jonggol dengan kecepatan tinggi.

​Langit Jonggol yang tadinya terik mendadak berubah gelap gulita. Angin kencang berhembus, disusul oleh tetesan air hujan yang langsung berubah menjadi badai lebat. Valeria kini berdiri sendirian, mendekap map merahnya di bawah atap halte bus yang rapuh dan bocor di pinggir jalan yang sepi.

Tubuhnya menggigil kencang karena hawa dingin yang menusuk tulang.

​Tin! Tin!

​Sebuah sorot lampu mobil yang terang menembus tirai hujan, berhenti tepat di depan halte. Pintu kemudi terbuka, dan sesosok pria dengan payung besar berlari menghampirinya.

​"Valeria!" panggil Randy, suaranya nyaris tenggelam oleh suara guntur.

​Valeria mendongak, matanya membelalak kaget yang tentu saja sudah dia dramatisasi.

"Mas... Mas Randy? Kenapa Mas bisa ada di sini?"

​"Kamu bodoh ya?! Kenapa mau saja disuruh ke sini sendirian naik angkutan umum dalam kondisi begini?!" bentak Randy, namun nadanya dipenuhi rasa cemas yang mendalam.

Dia langsung menarik tubuh Valeria yang basah ke dalam dekapannya, lalu menuntunnya masuk ke dalam mobil.

​Di dalam mobil yang aman, Valeria duduk menunduk. Air mata buayanya mulai luruh, bercampur dengan sisa air hujan di pipinya.

​"Maaf, Mas... aku cuma gak mau bikin masalah di hari pertama kerjaku. Mbak Melati bilang ini tugas penting. Aku gak mau Mas Randy dicap buruk karena membawa karyawan gak berguna seperti aku," isak Valeria, tubuhnya sengaja dibuat bergetar hebat.

​Randy menatap wanita di sampingnya dengan tatapan melunak. Sisi egois maskulinnya merasa sangat dibutuhkan. Dia mengambil handuk kecil dari kursi belakang, lalu dengan lembut mulai mengeringkan rambut Valeria.

​"Melati udah kelewatan. Besok aku akan memberinya pelajaran. Kamu gak usah memikirkan dia lagi, Val," ucap Randy, suaranya melembut, jemarinya kini berpindah mengusap pipi Valeria yang dingin.

​Valeria menatap mata Randy dengan pandangan polos yang mengundang.

"Aku takut, Mas... aku takut kembali ke tempat malam itu, tapi aku juga takut gak bisa bertahan di kantor ini jika terus-terusan nyusahin."

​"Kamu gak nyusahin aku, Valeria. Justru kamu membuatku gila sejak malam itu," bisik Randy.

Gairahnya yang sempat tertahan kini membakar akal sehatnya. Tatapan matanya turun ke bibir Valeria yang bergetar.

​"Mas Randy... ingat Anita... dia sahabatku," ucap Valeria lemah, sebuah penolakan palsu yang justru semakin memancing insting Randy untuk menerkam.

​"Jangan sebut nama dia sekarang. Di sini hanya ada aku dan kamu," sahut Randy tegas.

​Randy langsung menarik tengkuk Valeria, menyatukan bibir mereka dalam ciuman yang panas di tengah deru hujan yang menghantam kaca mobil.

Valeria membalasnya dengan erat, mengalungkan lengannya di leher Randy. Kemenangan pertamanya sudah di pelupuk mata.

​Drrt... Drrt... Drrt...

​Di tengah suasana intim yang memenuhi ruang sempit mobil itu, ponsel Valeria yang tergeletak di dasbor mendadak menyala dan bergetar hebat. Nama di layarnya membuat Randy seketika menghentikan aksinya.

​Anita Calling...

​Randy terengah-engah, menatap layar itu dengan kilat bersalah yang melintas cepat di matanya.

"Anita... jangan diangkat."

​Valeria justru tersenyum tipis di dalam hati. Ini adalah momen yang paling dia tunggu. Dengan gerakan tenang, dia meraih ponsel tersebut dan menggeser tombol hijau, lalu menyalakan fitur loudspeaker agar Randy bisa mendengar semuanya.

​"Halo, Nita?" ucap Valeria, suaranya mendadak berubah menjadi sangat ceria dan stabil, kontras dengan apa yang baru saja terjadi.

​"Valeria! Ya ampun, syukurlah tersambung. Di luar hujan lebat, kamu di mana? Gimana hari pertama kerjamu di kantor Mas Randy? Semuanya lancar, kan?" Suara Anita di seberang telepon terdengar begitu tulus, penuh kekhawatiran seorang sahabat.

​Valeria melirik Randy yang kini mematung di sampingnya, mendengarkan suara istrinya sendiri. Valeria dengan berani meraih tangan Randy, menyatukan jemari mereka di atas kursi mobil.

​"Semuanya lancar kok, Nita. Tadi sempat ada tugas ke lapangan, tapi sekarang aku udah aman," jawab Valeria sambil mengelus punggung tangan Randy dengan ibu jarinya.

"Kantor suamimu benar-benar luar biasa. Stafnya... sangat perhatian sama aku."

​"Syukurlah kalau begitu, Val! Aku sempat cemas kamu gak betah. Mas Randy gak galak sama kamu, kan? Kalau dia macam-macam, bilang sama aku, ya!" kata Anita diiringi tawa kecilnya yang renyah.

​Randy menelan ludah dengan susah payah. Rasa bersalah menghantam dadanya mendengarkan kebaikan istrinya, namun genggaman tangan Valeria yang hangat dan nakal di paha bawahnya membuat Randy tidak bisa melepaskan diri. Dia terjerat.

​"Hahaha, gak kok, Nita. Pak Randy... sangat, sangat baik sama aku." ucap Valeria penuh arti, matanya menatap Randy dengan tatapan menggoda yang nakal.

"Terima kasih banyak ya, Anita. Kamu memang sahabat terbaikku yang paling mengerti kebutuhanku."

​"Sama-sama, Valeria. Ya sudah, kamu hati-hati di jalan ya kalau pulang nanti. Sampai ketemu besok!"

​"Iya, Nita. Dadah."

​Klik.

​Sambungan telepon terputus. Valeria meletakkan kembali ponselnya, lalu berbalik menatap Randy yang tampak tegang. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Randy, berbisik dengan nada sensual yang mematikan.

​"Istrimu baik banget ya, Mas? Dari kecil memang baik. Tapi sayangnya... dia gak tahu kalau suaminya akan menjadi milikku sepenuhnya."

​Randy tidak bisa berpikir jernih lagi. Rasa bersalahnya terkubur dalam-dalam oleh pesona Valeria yang begitu berani. Sore itu, di bawah guyuran hujan Jonggol, pengkhianatan terbesar dalam hidup Anita semakin kuat tanpa dia sadari sedikit pun.

Bersambung

1
Eridha Dewi
aneh
Ariany Sudjana
semoga Anita bisa diselamatkan, dan pelacur murahan itu, juga Randy, harus dihukum mati
Eneng Farida
autor ini mh salah judul kali ya bkn hrusnya judulnya akhir hidup isri sah bkn sebaliknya
Ariany Sudjana
dasar pelacur murahan yang bodoh kamu itu Valeria, kamu akan menyeret Anita dan Randy, yang ada juga kamu dan Randy yang akan jatuh, Anita sih cerdas, sudah mengamankan aset, dasar pelacur murahan yang bodoh 😂😂🤣🤣 hanya bisa ngangkang demi jadi istri konglomerat, tapi otaknya tolol 😂😂🤣🤣
Ariany Sudjana
hahaha dasar pelacur murahan kamu itu Valeria, gimana rasanya aset yang kamu andalkan itu rusak parah disengat tawon?
Ariany Sudjana
hahahaha pelacur murahan ga mempan sama sengatan tawon ternyata 🤣🤣😂😂
Ariany Sudjana
padahal Anita langsung saja masuk ke kantor Randy, jangan bicara dulu, kan lebih seru jadinya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!