Mereka terpaksa menikah meski sudah berjanji tidak akan menikah lagi setelah menjanda dan menduda untuk menghormati pasangan terdahulu yang sudah tiada.
Tetapi video amatir yang tersebar di grup RT mengharuskan mereka berada dalam selimut yang sama meski sudah puluhan tahun hidup di kuali yang sama.
Ialah, Rinjani dan Nanang, pernah menjadi cinta pertama dan hidup saling membutuhkan sebagai saudara ipar. Lantas, bahagia kah mereka setelah menyatu kembali di usia kepala lima?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon skavivi selfish, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hate, Love, Hate.
“Jangan banyak pikiran.” Rinjani mengangguk ketika besannya yang seorang dokter lansia selesai memeriksanya. “Nanang senang tuh, mukanya cengengesan.”
Rinjani tak menunggu lama meminum obat yang di bawa dokter Brian dari rumah sakit setelah mendengar keluhannya yang panjang hingga dijadikannya alasan mengabaikan keju parut yang di bawa Nanang untuknya.
“Aku ini sebenarnya tidak cuma memikirkan Nanang tok, Mas. Aku memikirkan semuanya. Anakku, cucuku, orang-orang yang kerja denganku dan bapakku. Nanang itu hanya menempati secuil isi kepalaku!”
Nanang tertawa, saking hafalnya dengan nada suaranya yang slalu meningkat ketika membicarakannya.
“Walau pun secuil, tapi posisinya di hatimu paling dalam. Iya toh?” Nanang menggoda, sebab jika tidak menggoda Rinjani sehari saja hidupnya lemas lunglai. Tapi untuk urusan itu, Rinjani diam saja. Dia memilih membalas pesan anak-anaknya yang sontak khawatir setelah kabar asam lambungnya meningkat tersebar.
“Capek aku jawab urusan itu terus.” Rinjani meletakkan ponselnya dan dia tetap memutuskan memusuhi Nanang perihal perasaan. “Ini sudah hampir jam pulang sekolah, jumatan. Kamu mandi-mandi sana, nggak usah nunggu aku!”
Nanang setuju demi mengurangi beban pikiran Rinjani, tetapi itu hanya sejenak. Hanya menggunakan celana kolor dan handuk kecil untuk mengeringkan rambut, Nanang muncul lagi di hadapan Rinjani.
Nenek berkebaya jumputan itu geleng-geleng kepala. “Mau apa lagi?” bentak Rinjani.
“Apa kamu tidak mau menyiapkan baju-bajuku di kamar?” ucap Nanang dengan tampang ngelunjak.
Rinjani meninggalkan besannya yang sibuk video call dengan anak dan cucunya yang ingin melihat nenek mereka itu dengan mengajak Nanang ke kamarnya.
“Kamu lama-lama mulai bikin aku enek. Sudah ngerti kita nikah gara-gara terpaksa, kamu malah makin pingin lengket-lengket. Sadar gitu lho...”
Nanang membiarkan Rinjani tetap mengoceh sambil melihat-lihat pakaiannya di lemari karena orang itu kerjaannya setiap hari. Ndak ngoceh, ndak hidup.
“Pakai kemeja saja, celana kain yang slim fit.”
Rinjani berdehem. “Kamu tahu kenapa aku tidak mau menikah meski sudah tahu wasiat itu?”
Nanang menerima pakaian pilihan Rinjani. Celana slim fit hitam dan kemeja coklat lengan panjang.
“Apa alasannya?”
“Ini.” Rinjani menunjuk dada Nanang lalu pakaian yang diambilnya. “Pengabdian terhadap suami yang sulit aku lakukan dan aku sendiri.”
Rinjani menunjuk dadanya dengan tatapan sayu. “Kamu menanggung dosa-dosaku dan segalanya yang pernah aku lakukan di bumi. Kamu... seharusnya tidak perlu menanggung itu. Aku menjadi bebanmu seumur hidup.”
Nanang menyampirkan handuknya di bahu. Kerongkongannya seperti tercekat. Tidak bisa berkata apa-apa selain menatap mata yang mendadak berkaca-kaca itu. Pikirannya penuh. Rinjani pun memikirkannya.
“Apa aku boleh pakai baju dulu?” ucap Nanang dengan sungkan. “Pembicaraanmu terlalu berat, aku malu seperti ini.”
Rinjani tertawa dan memutuskan duduk di tepi ranjang single parents-nya yang kecil dan hanya muat untuk dirinya sendiri.
Rinjani tersenyum. Pembalasan untuk Nanang yang pertama segera digencarkan.
“Coba kamu pakai baju di depanku.
Nanang terpaksa bersikap lumrah ketika memakai pakaian di depan mantan pacar pertamanya itu. Tidak mudah, dia grogi, padahal dulu dia selalu membuka bajunya setelah mereka menonton konser musik metal bersama, dan dengan mudahnya Rinjani mengelap keringat di tubuhnya dengan ujung kaos lengan panjang yang dikenakannya sebelum menghadiahinya pelukan hangat saat berkendara.
“Sudah.” Nanang meletakkan sisir di meja. Sudah rapi jali dan wangi dia sekarang, tapi wajahnya tidak semangat. Lesu lunglai sebab Rinjani memikirkannya dengan etos kerja yang ugal-ugalan sampai jauh ke akhirat sana.
Rinjani menyunggingkan senyum. “Ya sudah, sana berangkat. Sekalian mampir ke ruang guru, bawa apa gitu, bakpia atau kain batik buat sogokan.”
Nanang tidak bisa tidak tersenyum karenanya. Dia mengamati Rinjani.
“Tidak kamu saja? Gantian gitu. Dulu anak-anakmu yang berbuat ulah aku yang ke sekolah apalagi waktu Pandu bikin sekolah kesurupan massal gara-gara dia mengambil batu pusaka di bawah pohon beringin? Ingat kamu?”
Rinjani tertawa. Momen itu tidak akan pernah bisa dia lupakan mengingat betapa epik dan nakalnya Pandu waktu SMP ke SMA.
“Waktu itu Bapaknya sibuk, jadi otomatis kamu yang ganti orang kamu nganggur. Sudah di bayar juga sama Mas Kaysan, jutaan. Nggak etis kamu nagih balasan sama aku sekarang.” Rinjani bersedekap seraya mengangkat dagunya.
Nanang menuding wajah Rinjani seraya menghela napas. Sudah disabar-sabarin nunggu Rinjani sampai jadi duda dan Rinjani jadi janda tanpa pernah dia inginkan semua itu terjadi, sudah pasti sabarnya sudah berkurang banyak.
Nanang melangkah mundur tanpa mengurangi tatapannya. “Kamu pikir gampang menentramkan Buto Abang ngamuk daripada anakku dan merayu guru-gurunya?”
Rinjani beranjak sebelum pintu tertutup dan terkunci dari luar.
“Nanang... Buka...”
“Nanti malam bukanya, jangan sekarang. Malu. Aku mau jemput anak-anak dan jumatan.”
Rinjani menengok ke belakang
“Nanang! Perutku sakit lagi.” seru Rinjani sambil memukul-mukul daun pintu.
Nanang mengambil ponselnya yang tergeletak di ruang keluarga. Dengan percaya diri, dia mengabadikan wajahnya dan mengirimnya ke Rinjani.
‘Hukuman untukmu! 🤪’
Rinjani jelas membuang ponselnya ke kasur. “Berani-beraninya mengurungku di kamar sempit ini, mana... kenapa kamarmu berantakan!”
Nanang muncul di jendela kamar, bersiul, menyebutkan namanya. “Kamu yang sabar ya. Ini cobaan.”
Rinjani menudingnya dengan ekspresi kesal. “Kamu jangan cari masalah sama aku, nanti aku nangeees!”
Seperti Nanang yang biasanya, dia enggan berkomentar dengan alasan-alasan yang Rinjani sebutkan untuk menghindari pembiasaan diri terhadapnya.
“Habis pulang baru aku buka. Istirahat di kamarku.”
Rinjani nangis beneran setelah Nanang menghilang dari pandangan matanya.
“Sungguh-sungguh aku enggan membebanimu dengan dosa-dosaku. Tetapi kenapa kamu slalu membebaniku dengan cintamu? Capek banget memberitahunya, Ya Allah. Capek. Tapi semoga saja dia benar-benar diceramahi guru Arunika, biar sadar. Kalau perlu khotbah nanti isinya tentang pemaksaan kehendak!”
Nanang tersenyum karena dia kembali ke dekat kamar setelah menghilang dari pandangannya.
“Sudah nenek-nenek masih saja suka ngomel-ngomel. Tenggorokannya apa tidak kering itu.” Nanang menggelengkan kepala, tak tega, dia akhirnya membuka kamarnya.
“Sana cari minum, biar tambah lancar kamu ngomel-ngomelnya.”
Rinjani yang melepas sarung bantal dan seprai Nanang berkata, “Apa yang kamu lakukan sudah terlambat. Air mataku sudah habis. Perutku sudah sembuh, dan tanganku sudah bekerja!”
“Terserah kamu, dari muda sampai tua kamu slalu begitu. Hate, love, hate. Susah untuk mengerti dan mengerti kembali.”
Nanang meninggalkan kegiatan Rinjani yang membereskan kamarnya, walau sekali-kali wanita itu hampir membuang seluruh foto Nanang, terutama waktu muda.
-