NovelToon NovelToon
SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

SISTEM HEWAN KONTRAK TERKUAT

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Balas Dendam / Summon
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: samsu234

Saat ujian SMA, Rio menjadi bahan tertawaan satu sekolah karena mengontrak seekor monyet kurus dekil tingkat Warrior (Trash-Rank). Semua orang menganggap masa depannya hancur, namun sebuah panel gaib tiba-tiba muncul di hadapannya:

[Ding! Sistem Push Rank Immortal Aktif!][Target: Monyet Lumpur (Identitas Asli: Sun Wukong - Segel Dewa)][Status Pengguna: SSS-Rank Hidden Power]

Di saat murid lain sibuk pamer kekuatan di sekolah, Rio memilih "mabar" di Dungeon terlarang bersama lima hewan mitologi miliknya: Sun Wukong, Serigala Kegelapan, Qilin, Phoenix, dan Ratu Laba-laba. Ketika gerbang bencana dunia jebol, Rio melangkah maju membawa squad top globalnya yang sudah berada di tier MYTHICAL IMMORTAL!

Siapa bilang dia salah kontrak?

#System #SunWukong #Overpowered #HiddenPower #Evolution #Mythology

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon samsu234, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Delapan Jam

Bus antarkota jurusan Kota Randu berangkat pukul enam pagi dari terminal selatan.

Rio duduk di kursi paling belakang — pilihan yang sama seperti selalu, posisi yang memberikan pandangan ke seluruh isi bus tanpa ada yang bisa duduk di belakangnya. Jendela di sisinya penuh embun pagi yang belum kering, pemandangan kota yang pelan-pelan berubah menjadi pinggiran dan kemudian menjadi jalanan provinsi yang lebih sepi dan lebih berlubang.

Wukong di pundak kanannya sudah dalam mode kamuflase sejak terminal — kepala tertunduk, mata setengah terpejam, monyet peliharaan biasa yang menemani tuannya bepergian.

Serigala berbaring di lantai di antara kaki Rio setelah Rio membeli tiket kursi paling belakang untuk penumpang khayalan dan meletakkan tas di atasnya agar barisan itu terlihat terisi. Tidak sempurna tapi cukup untuk perjalanan delapan jam.

Di lekukan bahu dan leher kirinya, Abyssal Goddess Weaver dalam posisi yang sudah menjadi posisi defaultnya sejak kemarin — tidak bergerak, delapan mata aktif mengamati dunia yang bergerak di luar jendela.

Pertama kalinya ia melihat dunia di luar ruangan.

Pertama kalinya dalam delapan puluh empat tahun.

Dua jam pertama berlangsung tanpa kejadian yang berarti.

Bus berhenti dua kali di terminal kecil yang mengambil satu atau dua penumpang. Jalan provinsi yang bergelombang membuat penumpang bergoyang secara berkala. Sopir memutar radio dengan lagu dangdut yang volumenya terlalu keras untuk jam delapan pagi.

Rio menyandarkan kepala ke jendela dan membiarkan pikirannya bergerak ke arah yang sudah beberapa hari ini menunggu untuk sepenuhnya dijelajahi.

Pak Darmawan.

Enam puluhan tahun, rambut putih semua, punggung yang sedikit membungkuk dari terlalu banyak membungkuk di atas partitur. Guru musik yang selama tiga tahun Rio bersekolah di SMA Bakti Bangsa tidak pernah menjadi lebih dari latar belakang — wajah familiar di koridor, suara biola yang kadang terdengar dari ruang musik saat Rio lewat tanpa berhenti.

Yang ternyata menyimpan dua hal sekaligus selama tiga belas tahun tanpa sadar.

Rio menutup matanya.

Sesuatu berubah pukul delapan lewat tiga puluh tujuh menit.

Bukan suara. Bukan gerakan fisik yang bisa terdeteksi oleh siapapun di dalam bus. Tapi di lekukan bahu dan leher kirinya, kehangatan yang sudah tiga hari menjadi bagian dari ritme tubuhnya tiba-tiba berubah intensitasnya.

Lebih dalam. Lebih luas.

Dan kemudian — sesuatu masuk.

Bukan dari telinga. Bukan dari mata. Dari tempat yang sama dengan tempat suara fragment ketujuh ayahnya datang, tempat yang tidak punya koordinat fisik tapi terasa lebih nyata dari apapun yang bisa disentuh.

Gambar.

Bukan gambar yang Rio rekam dari pengalamannya sendiri.

Sudut pandang yang salah — terlalu rendah dari tanah, perspektif yang tidak bisa terjadi dari mata manusia. Cahaya yang terlalu tajam di sisi-sisinya, seperti cara makhluk yang punya delapan mata memproses cahaya secara berbeda dari makhluk yang punya dua.

Ingatan.

Ingatan yang bukan miliknya.

Gambar pertama: Sebuah ruangan besar. Lantai marmer putih. Langit-langit tinggi. Dan seseorang yang berdiri di tengahnya — laki-laki, punggungnya ke arah sudut pandang ingatan ini, rambut hitam yang sedikit berantakan di bagian belakangnya.

Laki-laki itu berbicara. Tidak ada suara dalam gambar ini tapi gerakan tangannya yang antusias dan cara tubuhnya bergerak ke depan saat berbicara menunjukkan seseorang yang sedang menjelaskan sesuatu yang sangat ia pedulikan kepada seseorang yang sangat ia percayai.

Kemudian laki-laki itu berbalik.

Wajahnya terlihat jelas.

Rio membuka matanya.

Bus bergoyang melewati lubang di jalan. Seorang penumpang dua baris di depan menggerutu pelan. Radio masih memainkan lagu yang sama.

Semuanya normal.

Kecuali di dalam kepala Rio, wajah yang baru saja ia lihat masih sangat jelas — seperti foto yang dicetak langsung ke dalam ingatan, tidak memudar, tidak blur.

Wajah laki-laki di dalam ingatan itu adalah wajahnya sendiri.

Dua puluh tahun lebih tua. Lebih lelah di sekitar matanya. Dengan senyum tipis yang persis sama.

Ayahnya.

Rio menarik napas pelan dan teratur, memastikan ekspresi wajahnya tidak berubah dari ekspresi penumpang yang sedang beristirahat.

Di lekukan bahu kirinya, kehangatan itu berdenyut sekali — seperti pertanyaan.

Kamu melihatnya?

"Iya," bisik Rio, cukup pelan untuk tenggelam dalam suara mesin bus. "Saya melihatnya."

Kehangatan itu berdenyut lagi. Berbeda dari yang pertama — lebih panjang, lebih kompleks. Bukan pertanyaan kali ini.

Sesuatu yang lebih dekat ke konfirmasi. Ke pernyataan.

Itu bukan hanya ingatanku. Itu juga milikmu.

Rio tidak menjawab dengan kata-kata.

Ia hanya menutup matanya lagi dan membiarkan gambar berikutnya masuk.

Gambar kedua lebih pendek.

Ruangan yang sama. Tapi kali ini sudut pandang lebih rendah lagi — kotak biola yang terbuka, dari dalam, melihat ke luar. Atap ruangan. Dan di atas kotak biola itu, wajah laki-laki yang sama menatap masuk dengan ekspresi yang Rio tidak bisa identifikasi dengan satu kata.

Campuran antara meminta maaf dan berterima kasih dan sesuatu yang tidak punya nama yang tepat tapi setiap orang yang pernah menitipkan sesuatu penting kepada seseorang yang mereka tidak yakin akan bertemu lagi akan mengenali ekspresi itu seketika.

Laki-laki itu berbicara.

Kali ini ada suaranya — sangat samar, seperti rekaman dari jarak yang terlalu jauh, tapi cukup untuk tiga kata terakhir yang Rio tangkap sebelum gambar itu memudar:

"...jaga dirimu."

Gambar ketiga adalah yang terakhir.

Bukan ruangan lagi. Di luar. Malam hari. Pohon-pohon yang besar di sisi jalan yang tidak Rio kenali, dengan bintang yang terlalu banyak di langitnya untuk langit kota manapun yang pernah ia lihat.

Dan seseorang yang berjalan menjauh di ujung jalan itu — punggungnya semakin kecil semakin jauh, sampai akhirnya menghilang di tikungan yang gelapnya lebih pekat dari sekelilingnya.

Tidak menoleh.

Tidak berhenti.

Hanya berjalan sampai tidak terlihat lagi.

Dan sudut pandang dari ingatan ini — Abyssal Goddess Weaver yang menyaksikan dari atas kotak biola yang dibawa seseorang lain yang berdiri di sisi jalan itu, mungkin Pak Darmawan — tidak bergerak mengikuti.

Hanya menyaksikan.

Sampai tidak ada lagi yang bisa disaksikan.

Rio membuka matanya untuk kedua kalinya.

Bus masih bergoyang. Radio masih berbunyi. Jalan provinsi masih berlubang di tempat-tempat yang tidak bisa diprediksi.

Tapi sesuatu di dalam dadanya terasa berbeda dari sebelum delapan lewat tiga puluh tujuh menit tadi — seperti ada ruang yang sebelumnya tidak ia tahu ada di sana, yang sekarang diisi oleh tiga gambar yang bukan miliknya tapi entah kenapa terasa seperti miliknya juga.

Di pergelangan kirinya, di bahu kirinya, di lekukan antara bahu dan leher — kehangatan Abyssal Goddess Weaver ada dengan cara yang berbeda dari tiga hari sebelumnya.

Tidak lebih kuat. Tidak lebih lemah.

Tapi lebih — hadir. Seperti seseorang yang sebelumnya duduk di sebelahmu dengan jarak satu kursi kosong di antara kalian, dan sekarang memindahkan dirinya satu kursi lebih dekat.

"Terima kasih," kata Rio sangat pelan. Untuk ingatan itu. Untuk tiga gambar yang bukan miliknya tapi diberikan kepadanya tanpa diminta, dengan kepercayaan yang hanya bisa dimiliki oleh makhluk yang sudah memutuskan bahwa ada seseorang yang layak untuk menerimanya.

Kehangatan itu berdenyut satu kali.

Singkat. Hangat.

Wukong di pundak kanannya mencicit sangat pelan — nada yang Rio terjemahkan sebagai pertanyaan tentang apa yang baru saja terjadi.

"Nanti aku ceritakan," bisik Rio.

Serigala di lantai menggerakkan telinganya satu kali tanpa membuka mata.

Tiga jam tersisa menuju Kota Randu.

Menuju rumah adik Pak Darmawan. Menuju mantan guru musik yang menyimpan koordinat yang dikodekan dalam cerita yang terdengar seperti cerita biasa. Menuju satu langkah lebih dekat ke ujung jalan di gambar ketiga itu — ujung yang laki-laki dengan wajah yang sama dengan wajah Rio belok kiri dan menghilang.

Dan mungkin, kalau koordinat itu nyata dan kalau tidak ada yang bergerak lebih cepat, di balik belokan itu ada jawaban.

Rio menyandarkan kepalanya kembali ke jendela.

Di luar, pohon-pohon sepanjang jalan provinsi bergerak cepat ke belakang — tidak seperti pohon-pohon di gambar ketiga yang gelap dan penuh bintang, tapi cukup untuk mengingatkan Rio bahwa ada banyak jalan di dunia ini yang terlihat seperti jalan biasa dari jendela kendaraan yang lewat, sampai seseorang turun dan berjalan dan menyadari bahwa di ujungnya ada sesuatu yang sudah lama menunggu untuk ditemukan.

Bus tiba di Kota Randu pukul dua siang. Alamat yang Raymond berikan mengarah ke gang kecil di pinggiran kota — rumah sederhana dengan pagar kayu yang sudah miring dan tanaman yang terlalu rimbun di halamannya. Rio mengetuk pintu. Dan orang yang membukanya bukan Pak Darmawan.

1
SANG
Lanjut cek....
SANG
Iklan untukmu brooooo👍💪💪💪👍👍👍👍
SANG
Hadiah bunga untukmu thor👍💪👍💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
SANG
Semangat ya💪💪💪💪💪
SANG
Aku datang sebagai tamu baru👍👍👍👍
,
lanjut
the misterius author 🐐: nanti malam kita lanjut kan ua bg
total 1 replies
Benni Yong
mantab
Jacky Hong
jadi gk sabar pengen liat si MC jadi kuat thor
semangat upnya thor
Benni Yong: dah tak kasih vote hari ini thor
akun baru soalnya yang akun Jacky kena hapus😁
total 2 replies
Jacky Hong
gas trus up thor
semangat dah tak krim kopinya👍
the misterius author 🐐: setiap hari minggu update 3 bab bg kalau hari biasa update 2 bab bg nanti kan jadwal nya ya bg jangan lupa ajak teman teman abg baca juga
total 1 replies
SANG
Beken deh, sip deh, tenar deh, mantap deh, keren deh, pokonya top mar ko top deh. Bintang sepuluh untukmu Thor.
SANG
Namanya mulai beken💪👍
the misterius author 🐐: udah mulai tenar kah bg 🤣
total 1 replies
SANG
Namamu pasti ku ingat💪👍
the misterius author 🐐: jangan di ingat thor 🤣
total 2 replies
SANG
Semangat. Lanjut💪👍
the misterius author 🐐: parah parah emang wkwk
total 9 replies
SANG
Bunga untukmu thor/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/Sembilan belas
SANG: Haha🤣🤣🤣👍👍👍
total 2 replies
SANG
Mantap banget💪👍
SANG
Pokonya keren deh💪👍
SANG
Keren deh💪👍
the misterius author 🐐: ok thor😍
total 3 replies
SANG
Wah novel baru lagi ya Thor💪👍
the misterius author 🐐: pokok nya fresh trus thor
total 6 replies
Jacky Hong
buat chpter 6 tak kasi kopi biar semungut upnya Thor
klo bsa up besok 2 chpter🤣
the misterius author 🐐: novel kita ogah main tingal bg
total 4 replies
Jacky Hong
lanjut up thor👍
the misterius author 🐐: sudah up bg 🤣
total 6 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!