Season Terakhir dari Keluarga Roberto.
Baca Dulu Season Sebelumnya:
1. Anak Genius Milik Sang Milliarder
2. Pesona Si Kembar (Ada Cerita di Balik Gerbang Sekolah)
3. Pesona Si Kembar 2 (Cinta Tersembunyi di Balik Gerbang Kampus)
4. Pesona Si Gadis Badas
Callie Noura Eleanor, bocah cilik berusia 3 tahun dan merupakan anak dari Rachel dengan Lucky. Si bocah cilik cerewet dan sangat genius. Usianya yang baru menginjak 3 tahun itu, dia sudah pintar berbicara dan memainkan senjata andalannya. Begitu licik, hingga membuat keluarga hanya bisa geleng-geleng kepala.
Jika sepupunya seringkali merahasiakan identitas keluarganya, justru berbeda dengan Callie. Dia akan terang-terangan mengaku dari Keluarga Roberto. Hal itu membuat dia selalu berada dalam bahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takut
Ibu Rosa selaku kepala sekolah hanya bisa melongo tak percaya. Di sekolah TK yang dipimpinnya ada guru yang memanfaatkan jabatannya demi melindungi anaknya. Bahkan siswa lain sampai mengalami perundungan. Wali kelas yang waktu itu jadi tempat Bimo melapor, langsung menundukkan kepalanya. Dia merasa khawatir kalau namanya disebut oleh Bimo.
"Saya akan melakukan rapat internal untuk mengevaluasi kinerja guru di sekolah ini, terutama TK agar sesuai dengan SOP. Untuk Arthur, terimakasih sudah mengungkap kejadian pembullyan ini. Semoga saja setelah ini tidak ada pembullyan lagi. Jadi saya mohon kepada wali siswa untuk tidak membuat demo yang menjadikan situasi di dalam sekolah ini kurang kondusif," ucap Ibu Rosa mencoba bijak dalam menanggapi permasalahan ini. Apalagi melihat tatapan para wali siswa yang seakan ingin memarahinya.
"Selama ini Ibu kelja apa sih di sekolah ini? Kok sampai ndak tahu. Ndak pelnah belangkat kelja ya," Callie mendelikkan matanya sinis. Callie menuntut kejelasan tentang pekerjaan yang diemban oleh Ibu Rosa sebagai kepala sekolah. Ibu Rosa pun hanya bisa diam, bingung harus menjawab apa. Menurutnya, bocah itu terlalu kritis untuk anak seusia 3 tahun.
"Bisa-bisanya anak anggota kelualga lobelto dianiaya begini," seru Callie membuat semua saling pandang.
Roberto?
"Saya akan menuntut pihak Yayasan untuk ikut campur permasalahan ini. Semua orang yang bekerja di sini harus dievaluasi, termasuk kepala sekolahnya." ucap Lucky tiba-tiba mengalihkan perhatian agar semakin tak banyak pertanyaan tentang keluarga Roberto. Dia akan memberi surat pada pihak Yayasan agar mengusut tuntas kejadian ini. Lucky juga akan meminta pihak Yayasan agar mendampingi korban bully.
"Tidak akan bisa kalian membawa masalah ini ke pihak Yayasan. Ini bisa diselesaikan oleh kami saja," ucap Ibu Rosa dengan cepat. Dia khawatir jika pihak Yayasan akan memecat dirinya. Sudah pasti dirinya akan disalahkan karena teledor.
Callie tersenyum sinis mendengar ucapan Ibu Rosa. Callie pun menerbangkan lalat robot milik Ronand yang sudah dimodifikasi olehnya. Tak lupa tadi dia sudah memasukkan ramuannya ke dalam robot lalat tersebut. Semua orang menahan nafas mendengar perdebatan sengit itu. Pihak kepolisian sudah meminta untuk diselesaikan secara kekeluargaan tapi Rachel dan Lucky tidak mau. Mereka tetap akan mengadukan kejadian ini pada pihak Yayasan. Pasalnya kejadian ini bukan satu atau dua hari saja. Sejak awal masuk sekolah, ternyata siswa sudah banyak yang mengeluhkan tentang pembullyan ini.
Happ...
"Pok..."
Pok... Pok... Pok...
"Pok apa, Ibu kepala sekolah?" tanya Callie saat tiba-tiba Ibu Rosa tak bisa mengeluarkan suaranya dan bibirnya kaku. Bibirnya sama sekali tak bisa digerakkan membuat semua orang terkejut.
Hah...
Puk... Puk...
Hah...
"Kenapa itu Ibu Rosa?" seru Ibu Kasih saat melihat bagaimana kepala sekolah kesusahan untuk berbicara. Bahkan hanya ada suara hembusan nafas saja dari bibirnya. Mereka juga melihat bagaimana Ibu Rosa menepuk bibirnya berulangkali dengan tangan.
"Sepertinya semua sudah selesai. Saya tetap akan meminta pihak Yayasan turun tangan menyelesaikan masalah ini. Setidaknya yang paling berperan dalam mengambil keputusan ini tentang guru adalah pihak Yayasan," ucap Lucky yang merasa sudah cukup untuk berdiskusi panjang lebar.
"Tolong, Pak. Jangan lap..."
Hah...
Hah...
Puk... Puk...
Callie terkikik geli melihat Ibu Mara yang ingin memohon pada Lucky akhirnya tidak jadi. Bahkan Ibu Mara juga terkena suatu hal yang sama dengan kepala sekolah. Dia tidak bisa berbicara dan bibirnya kaku. Bimo yang sedari tadi berada di samping Callie merasa aneh dengan kejadian ini. Sepertinya bukan hanya Bimo saja, melainkan semua orang. Bahkan Bimo tidak melihat pergerakan mencurigakan dari Callie. Callie menerbangkan kembali robot lalatnya untuk hinggap di bibir Ibu Mara. Namun yang melihatnya pasti akan berpikir bahwa itu adalah lalat biasa.
"Mama, tolong ini gimana? Mama saya nggak bisa ngomong," seru Dani yang ketakutan karena Ibu Mara tak bisa menggerakkan bibirnya.
"Jadi olang jangan jahat-jahat makanya. Itu bibilnya suluh diam sejenak, bial ndak gosip mulu." sindir Callie yang kemudian duduk di pangkuan Lucky.
"Sudah ayo pulang," ajak Lucky pada anak dan istrinya. Lagi pula polisi dan guru takkan pernah bisa mengubah apapun keputusannya. Semua wali siswa setuju dengan pendapat Lucky yang ingin pihak Yayasan juga bertanggungjawab.
"Kamu apakan tadi itu kepala sekolah dan gurunya? Pasti ulah mainanmu kan?" tanya Lucky dengan pelan pada Callie yang berada dalam gendongannya. Lucky sepertinya curiga kalau ini semua perbuatan Callie.
Hehehehe...
***
"Ayo ke lumahnya Callie," ajak Rose pada Vita.
Saat ini mereka menjadi teman akrab karena kejadian kemarin. Bahkan Fathur pun ikut membantu memperbaiki jalan. Cukup 2 hari saja jalanan itu sudah selesai diperbaiki dan halus. Tinggal tunggu sedikit kering agar bisa dilalui kendaraan. Semua sudah dibayar sesuai dengan kesepakatan di awal. Para warga sangat senang karena mereka bisa mendapatkan pendapatan tambahan.
"Ndak mau ah. Nanti kita malah diusil lho sama satpamnya. Tunggu Callie ajak kita aja, jadi bial balengan datangnya." Vita menolak ajakan Rose yang ingin pergi bermain ke rumah Callie. Namun alasan yang diucapkan oleh Vita itu hanya kebohongan. Sebenarnya Vita takut kalau akan diusir oleh Callie yang masih tak suka dengannya.
"Ndak kok, Omnya semua baik." ucap Rose meyakinkan Vita. Dia ingin bermain dengan Callie karena hari ini bocah cilik itu sepertinya tidak akan datang ke kampungnya.
"Kita ndak tahu si Callie itu ada di lumah apa ndak lho. Kalau ndak ada di lumah, kita ngapain? Tahu sendili kalau Bu lt itu sibuk sekali. Pasti sekalang Bu lt lagi mengulus walganya. Besok aja, siapa tahu Callie yang datang ke sini." Vita tetap kekeh dengan keinginannya untuk tidak datang ke rumah Callie.
"Coba dulu. Kalau ndak ada olangnya, kita pulang." rengek Rose sambil menggoyangkan lengan Vita.
Vita tampak menimbang permintaan Rose itu. Walaupun dia juga penasaran dengan rumah Callie yang katanya sangat mirip istana itu. Namun dia juga takut dengan penolakan Callie atas kedatangannya. Jika hanya Rose, mungkin keluarga Callie akan menerima karena sudah mengenal. Rose menarik tangan Vita yang malah melamun.
"Sudah ayo, kita ke lumah Callie. Dia itu ndak sibuk kok kalau diajak jajan," ucap Rose dengan santainya membuat Vita hanya bisa pasrah saja.
"Emangnya kamu bawa uang?" tanya Vita yang tahu kalau Rose selama ini jarang jajan. Bahkan berulangkali dia mengejek Rose yang tidak jajan seperti teman-temannya.
"Bawa dua libu," Rose tersenyum malu mengatakan tentang uang yang dibawanya.
"Ndak papa. Bisa dapat dua tusuk telul gulung," jawab Vita menenangkan. Dia sudah berjanji untuk berubah dan tak lagi mengejek oranglain. Rose tersenyum lega melihat respons dari Vita.
Gas kan...
Jajan kita di lumah Callie,
Hahaha...
🤣🤣🤣🤣