"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."
Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.
Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Kamar 3012
Pelukan Arka terasa begitu nyata, begitu erat, hingga Ayana bisa mendengar detak jantung pria itu yang berdegup kencang di balik dada bidangnya. Detak yang bukan disebabkan oleh serangan panik PTSD, melainkan oleh kepanikan murni seorang pria yang takut kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Aroma minyak wangi maskulin bercampur sisa angin perjalanan jauh dari Jakarta yang melekat pada kemeja linen hitam Arka seolah mengaburkan seluruh ketegangan yang baru saja terjadi di balkon hotel.
"P-Pak Arka... Anda bisa membuat saya mati lemas jika memeluk saya seerat ini," bisik Ayana pelan, suaranya teredam di dada Arka, mencoba mencairkan atmosfer yang mendadak berubah menjadi sangat intens dan emosional.
Arka tersadar. Ia melonggarkan cengkeramannya, namun kedua tangannya tidak turun dari bahu Ayana. Mata elangnya memindai wajah Ayana dengan teliti, memastikan tidak ada satu pun goresan atau tanda-tanda trauma fisik pada dokter pribadinya.
"Karina, bawa Dokter Ayana ke Presidential Suite di lantai tiga puluh sekarang juga," perintah Arka, suaranya kembali berubah menjadi nada komando dingin yang tak terbantah. Ia bahkan tidak menoleh ke arah sekretarisnya saat berbicara. "Seluruh lantai itu sudah dikosongkan dan dijaga oleh tim siber fase dua. Pastikan dia tidak keluar dari sana sampai saya menyelesaikan urusan di bawah."
Karina, yang wajahnya masih sedikit pucat akibat insiden pengacak sinyal tadi, langsung mengangguk patuh. "Baik, Pak Arka. Mari, Dokter Ayana."
Ayana sempat hendak memprotes. Sebagai seorang dokter pribadi yang rewel, ia merasa tugasnya adalah mendampingi Arka, terutama di lingkungan terbuka yang berpotensi memicu traumanya. Namun, tatapan mata Arka sore ini begitu gelap dan penuh tekad, sebuah tatapan yang menegaskan bahwa saat ini, peran mereka telah bertukar secara mutlak: Arka adalah sang pelindung, dan Ayana adalah orang yang harus dilindungi.
"Ikuti kata-kata saya kali ini saja, Ayana," bisik Arka, suaranya melunak sesaat saat ibu jarinya mengusap tengkuk Ayana dengan gerakan sekilas yang teramat protektif. "Biarkan saya menyelesaikan tikus-tikus kecil ini."
Sepuluh menit kemudian, Ayana sudah berada di dalam kamar 3012, sebuah Presidential Suite mewah di lantai tertinggi hotel yang menyuguhkan pemandangan lanskap kota Bandung secara tiga ratus enam puluh derajat. Di luar pintu kamar, empat pengawal bertubuh kekar berdiri tegak dengan alat komunikasi siber yang terus berkedip di telinga mereka. Jalur komunikasi di dalam lantai ini telah dipulihkan menggunakan jaringan satelit privat milik Pradipta Group, membuat perangkat pengacak sinyal di bawah tidak lagi berguna.
Ayana berjalan mondar-mandir di atas karpet beludru abu-abu, memegang cangkir tehnya yang kini sudah mendingin. Papan jalan medisnya tergeletak di atas meja kopi, terabaikan untuk pertama kalinya.
"Karina, apa yang sebenarnya terjadi di bawah?" tanya Ayana akhirnya, tidak bisa lagi menahan rasa cemasnya. "Bagaimana mungkin Pak Arka bisa tahu ada penyusup di sini? Jarak Jakarta-Bandung itu tidak dekat, bahkan dengan kecepatan penuh sekalipun."
Karina yang sedang sibuk memantau tablet operasionalnya mendongak. "Pak Arka tidak lewat jalur darat biasa, Dokter. Begitu tim siber mendeteksi sinyal enkripsi pendek dari faksi Kendra Pradipta yang mengarah ke Bandung, Pak Arka langsung menyewa helikopter privat dari helipad Pradipta Tower menuju bandara antara di Bandung, lalu dilanjutkan dengan pengawalan taktis darat. Beliau memotong waktu tempuh normal menjadi hanya empat puluh lima menit."
Karina tersenyum tipis, menatap Ayana dengan pandangan yang sarat akan makna. "Dokter Ayana... selama lima tahun saya bekerja untuk Arkananta Pradipta, saya belum pernah melihat beliau mengabaikan rapat kementerian atau mengeluarkan dana taktis sebesar ini hanya untuk mengamankan satu orang. Bagi Pak Arka, Anda bukan lagi sekadar dokter kontrak tiga bulan. Anda adalah garis merah yang tidak boleh dilewati oleh siapa pun."
Ayana tertegun. Kata-kata Karina bergema di dalam kepalanya, memicu debaran aneh yang kian sulit ia kendalikan. Di tengah lamunannya, pintu kamar suite mendadak terbuka.
Arka melangkah masuk. Penampilannya kini jauh lebih rapi, jas hitamnya sudah kembali dikenakan dengan sempurna, namun ekspresi wajahnya masih sedingin es di kutub. Di belakangnya, Yudha—kepala tim siber—mengekor dengan laptop yang masih menyala.
"Bagaimana di bawah, Pak Bos?" tanya Ayana langsung mendekatinya.
Arka mendudukkan dirinya di sofa tunggal, menyandarkan kepalanya sejenak sembari memejamkan mata. "Dua orang yang membawa perekam audio jarak jauh itu sudah diamankan oleh tim keamanan hotel dan diserahkan ke unit intelijen privat kita. Mereka adalah orang-orang bayaran dari agensi detektif swasta hitam di Jakarta Utara. Dan benar dugaan saya... mereka disewa langsung melalui rekening cangkang ketiga milik Kendra Pradipta."
Arka membuka matanya, menatap Ayana dengan pandangan yang tajam. "Kendra ingin merekam suara serangan panik saya saat kamu melakukan terapi luar ruangan di balkon tadi. Dia berencana menggunakan rekaman mentah itu untuk melakukan pemerasan siber dan memaksa Kakek membatalkan hak veto medis milikmu minggu depan."
Ayana mengepalkan tangannya di sisi tubuh. "Pria itu benar-benar pengecut. Dia tidak berani menghadapi Anda di lantai bursa, jadi dia mencoba menyerang metode pengobatan saya."
"Dia sudah selesai, Ayana," suara berat Arka memotong dengan intonasi yang dingin dan mutlak. "Saya tidak akan bermain defensif seperti saat menghadapi Elena. Yudha baru saja mengirimkan seluruh berkas manipulasi pajak, kepemilikan saham ilegal di perusahaan logistik fiktif, dan bukti percobaan sabotase fisik sore ini ke otoritas hukum tertinggi. Sebelum jam malam ini berakhir, Kendra Pradipta akan dijemput paksa di kediamannya di Menteng."
Arka berdiri dari sofanya, berjalan mendekati Ayana hingga jarak di antara mereka kembali terkikis. Pria itu menatap lurus ke dalam manik mata bulat Ayana, mengabaikan kehadiran Karina dan Yudha yang langsung pura-pura sibuk dengan sistem siber di sudut ruangan.
"Tugasmu di simposium ini sudah selesai, bukan?" tanya Arka lembut.
"Sudah... sesi saya sebagai pembicara tamu baru saja berakhir sebelum istirahat tadi," jawab Ayana, mendongak untuk menatap wajah tampan di depannya.
"Bagus. Karena malam ini, kita tidak akan kembali ke Jakarta dengan terburu-buru. Kita akan tinggal di Bandung selama satu malam," ujar Arka.
Ayana membelalakkan matanya. "Tinggal di sini? Tapi bagaimana dengan modul terapi volume dua puluh persen untuk besok sore?"
Arka seulas senyuman tipis yang teramat menawan terukir di bibirnya—sebuah pemandangan yang selalu sukses membuat pertahanan medis Ayana runtuh seketika. "Modul itu bisa menunggu, Dokter rewel. Sore ini, syaraf saya sudah melewati ujian paparan yang jauh lebih berat dibanding suara sirine digital; yaitu ketakutan nyata bahwa saya tidak bisa melindungimu. Dan melihatmu aman di sini... adalah obat penenang terbaik yang pernah saya miliki."
Arka mengulurkan tangannya, menyelipkan beberapa helai rambut cokelat Ayana yang berantakan ke belakang telinganya dengan gerakan yang teramat lembut dan intim. Sentuhan jarinya yang hangat mengirimkan desiran listrik yang membuat Ayana terpaku di tempatnya.
"Malam ini... biarkan kita melupakan sejenak tentang Pradipta Group, tentang faksi-faksi yang bertikai, dan tentang kontrak tiga bulan itu," bisik Arka, suaranya rendah dan penuh dengan ketulusan yang murni. "Malam ini, saya hanya ingin menjadi Arkananta... pria yang sedang menikmati malam bersama wanita yang telah menyelamatkan jiwanya dari kegelapan."
Ayana tidak bisa lagi membantah. Di bawah tatapan mata elang yang kini dipenuhi oleh kehangatan dan rasa memiliki yang begitu masif, sang dokter rewel akhirnya menyerah pada perasaannya sendiri. Ia mengangguk pelan, membiarkan senyuman tulus terukir di wajah cantiknya. Babak baru di Kota Bandung ini mungkin berawal dari bahaya senyap, namun malam ini, di dalam kamar 3012, kebersamaan mereka telah bertransformasi menjadi sebuah ikatan yang jauh lebih kuat dari sekadar aliansi korporat, siap menghadapi delapan puluh babak kehidupan apa pun yang menanti mereka di masa depan.
Bersambung.
good job Thor..up yg banyak LG ya Thor...👍👍🙂🙂👏👏
btw terima kasih thor upnya🤭
💪💪