Tidak ada kata tidak untuk dirinya, segala hal yang membuat dia tersenyum dan bahagia pasti akan aku lakukan, meski harus mengorbankan perasaan aku sendiri, karena dia adalah prioritas utama dalam hidupku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lissaju Liantie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#015
"Yes, akhirnya hari ini tiba juga, jadi nggak sabar nih!" Ujar Rakes diiringi senyum penuh kebahagiaan.
Dari tadi pagi Rakes tidak bisa tenang, jantungnya berdetak tak karuan, hatinya seolah dihampiri oleh bintang yang begitu bercahaya betapa tidak, karena siang ini Zea mengajaknya untuk makan siang bersama, yah karena dia ingin menepati janjinya tempo hari untuk mentraktir Rakes ketika ia sembuh.
Mata indah Rakes tidak bisa berhenti menatap jarum jam yang terasa begitu lambat bergerak, ia bahkan begitu tidak sabaran menunggu jarum jam menunjuk ke angka 12. Rakes terus saja membolak-balik kan badannya ke seluruh sisi kasur sambil bersenandung bahagia.
"Yessss! akhirnya, saatnya bersiap, ayo Rakes! hari ini kamu harus terlihat lebih tampan, pokoknya paling tampan sedunia sehingga Zea hanya akan memandang kearah mu saja. Oke, ini adalah langkah awal yang baik, setelah sekian tahun menatap dari jauh akhirnya hari ini tiba juga, terima kasih Zea, karena memberi abang kesempatan seperti ini, terima kasih." Ungkap Rakes.
Rakes segera beranjak bangun dan lekas bersiap-siap. Sepuluh menit berlalu, kini Rakes berdiri di depan cermin sambil menatap pantulan dari dirinya sendiri, mulai dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Celana jeans abu-abu, kaos hitam dan di lengkapi dengan kemeja abu-abu bergaris hitam membuat Rakes terlihat begitu sempurna.
"Perfect!" Seru Rakes dengan senyuman mautnya.
"Abang..." Panggil Zea sambil mengetuk pintu kamar Rakes.
"Iya...!" Jawab Rakes lalu membuka pintu hingga terlihatlah Zea yang berdiri tegap tepat di hadapannya.
"Abang mau kemana?"
"Hmmmm, sebenarnya kita..."
"Aaah abang mau jalan sama pacar abang ya? mau batalin janji kita? it's oke, nggak masalah, nggak usah merasa canggung gitu, lagi pula aku juga nggak bisa nemanin abang hari ini, soalnya aku harus selesaikan tugas kelompok sama teman-teman. Jadi abang nggak usah merasa nggak enak gitu, pergilah! aku akan traktir abang lain kali, bye!" Jelas Zea yang langsung bicara panjang lebar tanpa lebih dulu mendengarkan penjelasan yang ingin Rakes jelaskan.
"Oke, kalau gitu abang berangkat sekarang, udah telat juga nih!" Cetus Rakes.
Rakes langsung menutup pintu kamarnya lalu segera buru-buru menuruni tangga meninggalkan Zea begitu saja.
"Kenapa susah sekali mendekati abang? apa aku terlihat aneh di mata abang, sehingga abang terus saja menghindari aku? baiklah, aku tidak ingin mengusik zona aman abang, aku nggak akan mendekat, aku tidak ingin memaksakan kehendak aku, lagi pula aku masih punya abang Roger yang mau menerima aku dengan semua keanehan yang ada padaku. Tidak perlu bersedih Zea, cerita lama sudah usai, dia menyukai baby Zea, bukan Zea dengan wujud mengerikan seperti ini. Jangan bermimpi untuk berdampingan dengannya, dia sama sekali tidak tertarik dengan cewek yang kerjaannya balapan dan berkelahi, dia menyukai cewek feminim, anggun dan elegan, yah seperti Una bukan seperti kamu. Huffff, wahai hati kenapa rasanya sesakit ini, semuanya akan baik-baik saja kan? hmmm pasti akan baik-baik saja." Tegas Zea pada dirinya sendiri dengan tangan yang terus menekan bagian dadanya yang sesak dan mata yang mencoba mencegat air mata agar tidak mengguyur kedua pipinya.
_________________
"Haissssh! aaaaahhhhhhhhhh!" Teriak Rakes penuh kekesalan setelah menepikan motornya di sebuah jembatan.
"Haiiissss, kenapa jadi sesusah ini sih? kenapa Roger bisa melakukannya dengan mudah? kenapa Roger bisa mengajak Zea ikut bersamanya kapanpun ia mau, sedangkan aku, aku harus menghabiskan waktu bertahun-tahun namun masih saja tidak bisa melakukan, apa kurang aku dari Roger? kenapa aku tidak bisa melakukannya?" Gumam Rakes dengan amarah yang terus meluap dan memaki dirinya sendiri.
Kaki kanannya terus saja menendang-nendang bagian bawah jembatan, sedangkan kedua tangannya menggenggam erat besi pembatas jembatan yang sejajar dengan pinggangnya. Tatapan kosongnya terus menatap aliran deras air di bawah sana.
"Berapa lama lagi aku harus seperti ini? meski semua ini terlihat baik-baik saja, tapi hati ini terluka dan sialnya luka ini kian mendalam dari hari ke hari. Apa selamanya aku hanya akan jadi bayangan yang mengikutinya secara diam-diam. Apa tujuh belas tahun belum cukup, apa lagi yang harus aku lakukan agar dia melangkah kearah ku, Zea apa akhir kisah kita tidak akan seindah kisah cinta tante El dan om Iqbal? apa pengorbanan aku masih tidak sebanding dengan pengorbanan yang tante El lakukan hingga ia mendapat seluruh cinta dan sayang om Iqbal, tante El bahkan bisa menjinakkan om Iqbal yang begitu brutal, tidak hanya itu, dia bahkan bisa membuat om Iqbal bertekuk lutut di kakinya, lalu kenapa aku tidak bisa melakukannya? kenapa waktu yang harus aku tempuh begitu lama untuk mendapatkan semuanya??"
Sejenak Rakes memejamkan matanya, membiarkan air mata mengalir dari ujung kedua mata beningnya. Ia hanya bisa meresapi air mata yang perlahan melewati wajahnya hingga terjatuh menyatu bersama air sungai dibawah sana.
"Sesakit ini kah? Zea, aku sungguh-sungguh mencintaimu." Tegas Rakes penuh penekanan pada setiap kata yang ia ucapkan.
_________________
Perlahan Rakes membuka pintu utama rumah Iqbal dengan kunci cadangan yang memang Iqbal berikan khusus untuk dirinya. Setelah menutup pintu kembali, Rakes segera merogoh saku celananya, meraih ponselnya lalu menyalakan center untuk menerangi jalannya, karena lampu ruangan sudah dimatikan semuanya. Malam ini Rakes sengaja pulang terlambat, bahkan dia pulang tepat jam satu pagi, dia sengaja pulang larut untuk menghindari Zea.
Pelan-pelan Rakes terus melangkah menaiki tangga hingga sampai di kamarnya. Setelah membuka kemeja lalu menggantinya dengan jaket hitam, lalu mengenakan topi yang berwarna senada dengan jaketnya. Setelah memasangkan earphone di telinga kanannya lalu kembali menutup kepalanya dengan hoodie yang bahkan menutupi sebahagian wajahnya. Setelah mengubah penampilan, Rakes langsung keluar dari kamarnya, kemudian kembali menuruni tangga.
"Abang!" Panggil Zea yang berdiri tepat di tangga paling bawah sana.
"Astaghfirullah!!" Seru Rakes yang kaget bukan kepalang hingga membuat langkahnya terhenti.
"Boleh aku minta tolong?" Tanya Zea tanpa menatap wajah Rakes yang masih berdiri di anak tangga kelima dari bawah.
"Minta tolong? apa yang harus abang lakukan?" Tanya Rakes yang kembali menuruni tangga.
"Ponsel aku jatuh dari tangga, aku sudah mencarinya dimana-mana tapi belum juga ketemu. Tolong bantu aku mencarinya!"
"Kenapa tidak nyalakan saja lampunya? mencari dalam gelap sama aja bohong."
"Tadi udah aku nyalakan lampunya, tapi baru saja listrik padam. Lupakan! Abang pasti lagi buru-buru kan? aku akan mencarinya sendiri." Jelas Zea yang kembali meneruskan pencariannya di kedua sisi tangga.
"Tidak bisa di hubungi!" Jelas Rakes setelah menghubungi nomor Zea.
"Batrainya habis, aku turun untuk mengambil charger yang ketinggalan di ruang tamu, tapi yang terjadi malah aku menjatuhkan ponsel ku." Jelas Zea.
"Apa kamu sudah mencarinya ke seluruh ruangan ini? siapa tau kebanting jauh."
"Aku akan mencarinya dengan lebih teliti, abang pergilah, aku bisa melakukannya sendiri."
"Abang akan mencarinya ke sebelah sana!" Jelas Rakes yang langsung mencari ke sisi kanan.
Disaat keduanya sibuk mencari disaat itu pula ponsel Rakes berdering mengalihkan fokus keduanya yang langsung menoleh pada layar ponsel Rakes secara bersamaan.
"009? siapa?" Tanya Zea setelah melihat layar ponsel Rakes yang menampilkan nama kontak '009' yang sedang menghubunginya.
"Teman!"
"Selarut ini?"
"Hmmmmm"
"Abang baru saja pulang beberapa menit yang lalu dan sekarang abang mau pergi lagi, apa yang abang kerjakan di luar sana malam-malam begini?"
"Zea..."
"Dan ini bukan kali pertama abang keluar secara diam-diam di tengah malam terlebih dengan kostum yang seperti ini, aku melihatnya beberapa kali dan lucunya ayah sama sekali tidak protes padahal ayah tau kalau abang keluar."
"Zea, abang..."
"Apa yang sebenarnya abang coba sembunyikan dari aku? kenapa harus berbohong?"
"Zea, please dengarkan abang!"
"Nggak penting! aku nggak butuh semua itu!"
"Zea...."
"Stop, stop berlagak polos!" Gumam Zea dengan suara keras dan juga tatapan penuh amarah, seakan ia siap menerkam Rakes saat ini juga.
🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁
Jangan lupa LIKE KOMEN n VOTE ya 😉😉
Stay terus sama My Princess 😘😘😘
KaMsaHamida ❤️❤️❤️❤️❤️
kai baru marvel
mengandung bawang banget