Monique "Momo" Salim — gadis Tionghoa dari gang sempit Pecinan Semarang, anak haram yang dijual ayahnya sendiri, tabungan Rp 300.000 — terbangun di sebuah pulau mewah yang tak pernah ada di peta mana pun.
Di hadapannya berdiri seorang pria yang menguasai separuh ekonomi Asia Tenggara.
Renard Aurelius Widjaja.
CEO Widjaja Group. Konglomerat paling berkuasa — dan paling berbahaya — di Indonesia. Matanya amber seperti matahari terbenam, tapi tatapannya lebih dingin dari es.
"Kamu milikku," katanya. Bukan pertanyaan. Bukan permintaan. Itu pernyataan.
Momo dikurung. Bajunya diganti. Ponselnya disita. Satu-satunya yang tersisa: setengah gelang sakura di pergelangan tangannya — dan ingatan samar tentang pil putih yang memulai segalanya.
Tapi Momo bukan gadis yang mudah tunduk.
Di balik tembok emas penjara Renard, ada rahasia yang lebih gelap dari obsesinya:
— Seorang hacker jenius yang menawarkan kebebasan... dengan harga yang tak terduga.
— Sebuah password sembilan huruf yang menyimpan cinta bertahun-tahun.
— Dan kebenaran tentang keluarga Widjaja yang bisa menghancurkan segalanya.
Ketika cinta paksa berubah menjadi cinta sungguhan — siapa yang sebenarnya menjadi tahanan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 5
Bab 5: Hacker Nomor Satu Dunia
Pada hari keenam, Momo belajar bahwa Pulau Raja bukan hanya punya pagar.
Pulau itu juga punya mata.
Kamera di koridor mengikuti gerakannya dengan putaran halus. Pengawal di taman tidak selalu berdiri di tempat yang sama, tetapi bayangan mereka selalu ada di sudut pandang. Bahkan ketika ia duduk diam, Momo bisa merasakan sesuatu mengawasinya dari atas pohon, dari balik kaca, dari layar yang entah berada di mana.
Dan setelah malam ketika Renard menangkapnya mengintip, pengawasan itu terasa lebih dekat.
Renard tidak menyebut kejadian tersebut saat sarapan. Ia muncul dengan kemeja putih lengan panjang, rambut rapi, wajah dingin tanpa bekas lelaki yang semalam gemetar di lantai. Luka di tangannya tertutup plester tipis. Ia makan seperti biasa. Tidak menatap Momo lebih lama dari perlu.
Justru itu membuat Momo makin gelisah.
Pria itu bisa pecah di malam hari, lalu kembali menjadi tembok di pagi hari.
Monster macam apa yang punya luka seperti manusia?
Sore itu Albert membawa Momo ke pantai selatan. Katanya, Tuan tidak ada di pulau sampai malam. Momo tidak bertanya ke mana Renard pergi. Bertanya berarti peduli, dan ia tidak ingin memberi ruang bagi kata itu.
Pantai selatan lebih sepi daripada sisi lain. Pasirnya tidak seputih pantai dekat taman, lebih banyak kerikil dan karang hitam. Di belakangnya, tebing rendah membentuk dinding batu. Di depan, laut bergulung tenang, tetapi warnanya terlalu dalam untuk dipercaya.
Albert berdiri agak jauh, berbicara dengan dua pengawal. Momo memanfaatkan jarak itu untuk berjalan menyusuri garis air. Ia menunduk, melihat jejak kakinya sendiri muncul lalu dihapus ombak.
Satu langkah. Hilang.
Satu langkah lagi. Hilang lagi.
Pulau ini pandai menghapus.
"Kalau terus menatap laut seperti itu, kau akan terlihat sangat ingin tenggelam."
Momo berbalik cepat.
Seorang pria berdiri di dekat batu besar di sisi tebing.
Ia tidak muncul dari jalan setapak yang dijaga. Tidak juga dari arah Albert. Seolah ia baru saja keluar dari celah batu dan angin. Usianya mungkin akhir dua puluhan. Tubuhnya tinggi, tetapi tidak sebesar Renard. Rambutnya hitam agak berantakan, pakaiannya terlalu santai untuk pulau yang penuh pengawal, kaus gelap, jaket tipis, celana panjang, sepatu yang sudah terkena pasir.
Wajahnya tampan dengan cara yang berbeda dari Renard.
Renard seperti pisau mahal yang disimpan di kotak kaca. Pria ini seperti pisau lipat yang bisa muncul dari saku siapa saja, ringan, tenang, dan mungkin lebih berbahaya karena terlihat tidak serius.
Momo mundur setengah langkah. "Siapa kamu?"
Pria itu tersenyum. "Pertanyaan favorit semua orang di pulau ini rupanya sama."
"Jawab."
"Seno Hartono." Ia memasukkan kedua tangan ke saku jaket. "Panggil saja Sen."
Nama itu tidak berarti apa-apa bagi Momo. Tetapi cara pria itu mengucapkannya, terlalu santai, membuatnya semakin curiga.
"Kamu pengawal?"
Sen tertawa kecil. "Aku tersinggung."
"Tamu Renard?"
"Teman lama."
Momo hampir mengatakan pria seperti Renard tidak mungkin punya teman. Namun ia menahan diri. Mata Sen bergerak ke Gelang Sakura di pergelangan tangannya, lalu ke bekas plester kecil di lengannya yang mulai memudar karena Salep Mawar Biru.
"Dia benar-benar memakaikan itu padamu," gumamnya.
Momo langsung menutup gelang dengan tangan lain. "Kamu tahu benda ini?"
"Semua orang yang cukup pintar di pulau ini tahu benda itu."
"Berarti kamu cukup pintar?"
Senyum Sen melebar. "Lebih dari cukup."
Di belakang, Albert masih belum melihat mereka. Aneh. Mustahil pria asing bisa berdiri sedekat ini tanpa pengawal bergerak. Momo menoleh sedikit. Albert tampak sedang memeriksa tablet dari salah satu pengawal, wajahnya mengeras.
Sen mengikuti arah pandangnya. "Kau punya tiga menit sebelum mereka sadar."
"Sadar apa?"
Sen mengeluarkan tablet kecil dari balik jaket. Jarinyanya bergerak cepat di layar. "Bahwa kamera pantai selatan sedang menampilkan rekaman tiga menit lalu."
Momo menatapnya.
Sen memiringkan tablet supaya ia bisa melihat. Di layar, ada tampilan empat kamera sekaligus. Salah satunya menunjukkan Momo duduk di bangku batu, padahal ia jelas berdiri di pantai. Di sudut layar, angka waktu bergerak mundur aneh, lalu berhenti.
"Kamu meretas sistem keamanan?"
"Kata meretas terdengar kasar." Sen menatap layar dengan malas. "Aku hanya mengetuk pintu digital, dan pintunya malu-malu terbuka sendiri."
Momo tidak tahu apakah harus takut atau berharap.
"Kenapa?"
"Karena aku ingin bicara denganmu tanpa didengar Renard."
Nama itu diucapkan Sen dengan ringan, tetapi ada duri kecil di dalamnya. Momo menangkapnya.
Berbeda dengan Renard yang menekan seperti dinding, Sen berdiri seperti pintu yang sengaja dibiarkan sedikit terbuka. Sama berbahaya, hanya lebih menggoda untuk didorong. Momo membenci kenyataan bahwa dua pria asing di pulau ini sama-sama bisa membuat tubuhnya waspada, dengan cara yang bertolak belakang.
"Kalau kamu teman lamanya, kenapa harus sembunyi?"
"Karena pertemanan kami rumit."
"Aku tidak percaya kamu."
"Bagus." Sen terlihat puas. "Kalau kau langsung percaya orang asing yang muncul dari tebing, aku akan kecewa."
Dari arah pengawal terdengar suara radio pecah. Albert menoleh ke pantai, matanya menyipit. Sen tidak terlihat panik. Ia malah melangkah ke batu besar di samping tebing dan menekan sesuatu di sela karang.
Sebuah panel tipis terbuka.
Momo terperanjat.
"Masuk," kata Sen.
"Tidak."
"Kalau kau tetap di sini, Albert akan datang, lalu kita hanya bisa saling menatap canggung. Aku benci adegan canggung."
"Kamu pikir aku bodoh?"
"Tidak. Justru karena kau tidak bodoh, kau pasti ingin tahu bagaimana aku bisa masuk ke pulau yang katanya mustahil ditembus."
Itu mengenai bagian paling lemah dari diri Momo saat ini.
Jalan keluar.
Ia menoleh ke Albert. Pria itu mulai berjalan ke arah mereka. Jaraknya masih cukup jauh, tetapi tidak lama lagi.
Momo menggigit bibir, lalu masuk melalui panel batu itu.
Ruangan di balik tebing sempit, menurun seperti lorong servis. Udara di dalamnya dingin dan lembap, berbau kabel panas serta garam. Lampu kecil menyala otomatis di sepanjang dinding. Setelah beberapa meter, lorong itu membuka ke ruang bawah tanah kecil dengan panel listrik, pipa air, dan layar pengawas tua.
Sen masuk setelahnya, menutup panel batu. Suara ombak langsung mengecil.
"Tenang," katanya. "Aku tidak akan membunuhmu dalam tiga menit pertama."
Momo menatapnya tajam. "Lucu sekali."
"Aku memang sering begitu."
"Katakan apa maumu."
Sen menyandarkan bahu ke dinding, tablet masih di tangan. "Kau Monique Salim. Dipanggil Momo. Usia dua puluh. Lahir di Semarang. Dibesarkan Ama Hsia di Pecinan. Tabungan terakhir sebelum dibawa ke sini kurang dari harga sepatu Renard. Kau ingin masuk desain mode, tetapi bekerja serabutan untuk membayar obat Ama."
Setiap kalimat membuat wajah Momo makin pucat.
"Diam."
Sen tidak diam. Ia menyentuh layar tablet. Foto muncul.
Toko kelontong kecil di gang Pecinan Semarang.
Ama duduk di depan toko, memakai blus sederhana, rambut putihnya disanggul kecil. Di sampingnya ada rak mi instan dan botol kecap. Foto itu jelas diambil dari jauh.
Momo merasa darahnya berubah dingin.
"Jangan bawa Ama."
Untuk pertama kalinya, senyum Sen memudar sedikit.
"Aku tidak menyakitinya."
"Tapi kamu memantaunya."
"Aku memantau banyak hal."
"Itu tidak membuatku lebih tenang."
"Memang bukan tujuanku."
Sen mengucapkannya sambil menunduk sedikit, cukup dekat untuk membuat Momo mencium aroma dingin yang aneh dari tubuhnya, seperti udara dari ruangan ber-AC yang terlalu lama ditutup. Tidak hangat seperti manusia biasa. Senyum di bibirnya lembut, tetapi jarak yang ia curi membuat Momo sadar bahwa kelembutan pun bisa menjadi jebakan.
Momo maju satu langkah. Ruang itu sempit, tetapi kemarahannya lebih sempit lagi. "Kalau kamu tahu semua itu, berarti kamu sama gilanya dengan Renard."
Sen tersenyum lagi, kali ini lebih tipis. "Bedanya, Renard mengurungmu secara fisik. Aku hanya tahu cara membuka pintu."
Kalimat itu membuat Momo berhenti.
Sen melihat perubahan di wajahnya dan langsung menekan tepat di sana.
"Aku bisa mematikan kamera. Membuka kunci dermaga. Membuat jadwal pengawal kacau selama sebelas menit. Dengan persiapan yang benar, aku bisa membawamu keluar dari sini."
Keluar.
Kata itu seperti udara setelah tenggelam.
Namun Momo memaksa dirinya tidak bergerak. "Kenapa kamu mau membantuku?"
"Mungkin aku kasihan."
"Bohong."
"Mungkin aku benci Renard."
"Itu lebih mungkin."
"Mungkin dua-duanya."
Momo menatapnya. Mata Sen gelap, tenang, dan sulit dibaca. Tidak seperti Renard yang menakutkan karena terlalu jelas menguasai. Sen menakutkan karena ia menyembunyikan pisau di balik tawa.
"Apa harga bantuanmu?"
Sen tertawa pelan. "Akhirnya pertanyaan yang bagus."
Sebelum ia menjawab, layar di dinding berkedip. Salah satu kamera kembali normal. Di sana terlihat Albert berdiri di pantai, tepat di depan batu besar. Wajahnya dingin.
Sen melihat jam di tablet. "Waktu habis."
Panel batu terbuka dari luar dengan bunyi klik.
Albert berdiri di ambang lorong, satu tangan memegang pistol yang belum diarahkan, tetapi cukup terlihat.
"Sen," katanya.
Tidak ada sapaan hangat. Tidak ada keterkejutan. Hanya kewaspadaan lama yang sudah siap sebelum hari ini.
Sen mengangkat kedua tangan dengan santai. "Albert. Kau makin tinggi atau lorong ini makin pendek?"
"Menjauh dari Nona."
"Aku hanya berkunjung."
"Kau tidak pernah hanya berkunjung."
Momo menatap mereka bergantian. Jadi Albert mengenalnya. Jadi pria ini memang bukan penyusup biasa. Dan jika Albert sewaspada itu, maka Sen bukan sekadar teman lama Renard.
Sen menoleh kepada Momo. Senyumnya kembali, hangat di bibir, tetapi tidak sampai ke mata.
"Pikirkan tawaranku, Momo."
Albert melangkah masuk, tubuhnya menjadi penghalang di antara mereka. "Nona, ikut saya."
Momo tidak segera bergerak.
Tablet di tangan Sen sudah gelap. Kamera mungkin sudah kembali normal. Pantai di luar masih sama. Laut masih mengepung pulau. Tetapi sekarang, untuk pertama kalinya, Momo tahu ada seseorang yang bisa membuat sistem Renard berkedip.
Harapan itu kecil.
Dan justru karena kecil, ia terasa sangat berbahaya.
Sen menatapnya dari balik bahu Albert.
Senyumnya tetap ada.
Matanya tidak.