Perasaan yang benci lama-lama terluluhkan oleh seorang siswa yang super duper nakal yaitu Gita. Namun ia menemukan sikap dan sifat yang berbeda dari Gita yang membuat seorang guru sangat menyukainya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ria Martha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kegirangan
ia menghampiri pak Gito yang sedang termenung sendiri di taman.
"Kok ngga ikut ngumpul di dalam pak?" tanya Gita yang berada di belakang Pak Gito. Gito langsung melihat ke belakang, ia pun langsung tersenyum.
"malas aja. mereka palingan ngomongin bisnis" ujar Gito
"lho, emangnya kenapa pak? bapak ngga suka berbisnis kah?" tanya Gita sambil memperbaiki gardigannya, karena cuaca di luar lebih dingin.
"iya saya ngga suka aja berbisnis."
" dan kamu kenapa keluar? kamu ngga istirahat? oh ya, besok kamu jangan sekolah bapak kamu tadi sudah bilang saya kalau kamu besok izin. Besok saya akan sampaikan kepada pak Burhan" ujar Gito.
"ya malas aja di kamar melulu pak. Saya besok tetap sekolah kok pak. Saya udah baikan sekarang, ya tadi kan cuman panik aja. Oh ya pak, bapak jangan bilang guru-guru atau teman-teman ya pak kalau bapak saya pebisnis. Saya ngga suka aja kalau mereka mau berteman sama saya kalau ada mau nya aja." pinta Gita kepada Gito, akhirnya pertanyaan yang ada di benak Gito selama ini semuanya sudah terjawab, kalau Gita selama ini tidak ingin menunjukkan siapapun siapa dirinya yang sebenarnya kepada teman-temannya. Mungkin apa yang di katakan oleh Gita ada benarnya, terkadang seseorang ingin berteman dengan kita karena ada maunya saja. Makanya cara yang tepat dalam memilih teman kita jangan terlalu memamerkan kekayaan orang tua kita di depan teman-teman. Jika mereka memang ingin berteman dengan baik maka orang tersebut tidak akan melihat kita dari kalangan manapun.
"baiklah. Asalkan kamu harus nurut sama saya, kamu jangan suka bikin ulah lah di sekolah, pusing kepala saya. Kasihan bapak mu, dan kamu juga jangan suka pulang sendiri pakai angkot. Kayak susah aja, nanti kalau ada apa-apa gimana? kan repot juga" pinta Gito karena ia tidak mau hal seperti siang tadi terjadi lagi.
Gito pun tiba-tiba mengacak rambut Gita dan tersenyum. Ia ingat bagaimana Gita tadi memeluknya dengan sangat erat sambil menangis saat di jalan, ia ingat apa yang di katakan oleh ayahnya Gita jika Gita memerlukan seseorang tempat ia bersandar. Sebenarnya bukan hanya Gita saja yang memerlukan seseorang dalam hidupnya, setiap orang juga pasti juga memerlukan seseorang yang selalu ada untuknya.
"iiiiiiiihhhh bapak. jangan gitu dong nanti rusak rambut saya" gerutu Gita.
"Lagian ya pak, kalau saya pakai mobil ke sekolah pastinya akan ketahuan jika saya orang mampu"
'' ada benarnya juga apa yang di katakan Gita, tetapi itu juga demi keselamatan Gita" benak Gito
"Tetapi kan ini demi kebaikan kamu Gita, kamu jangan ngeyellah. Kamu harus nurut sama ayah kamu, kalau mereka mau berteman sama kamu atau ngga, itu urusan belakangan Gita. Kamu juga pasti tahu siapa yang ingin berteman dengan mau karena hartamu atau karena mereka memang baik adanya." ujar Gito, tetapi Gita tidak memperdulikannya, karena dirinya memang tidak suka memamerkan harta ayahnya itu.
Gito dan Gita tidak menyadari sedari tadi ayah mereka sudah melihat tingkah mereka berdua dari jendela. Mereka terlihat seperti sudah saling akrab satu dengan yang lainnya karena kejadian tadi, dan itu membuat kedua orang tua mereka bahagia.
"Pak, sepertinya mereka cocok" ucap pak Yuda.
"Saya juga merasa seperti itu pak"
"Tapi saya juga tidak ingin memaksa anak-anak saya dalam memilih pasangan masing-masing. Karena yang menjalankan mereka, bukan saya. Saya dan istri saya hanya sebagai perantara saja, meskipun benar adanya jika orang tua harus terlibat dalam menentukan pasangan anak-anak" Jawab pak Guno seolah mengerti apa yang di maksudkan Pak Yuda.
Dan Pak Yuda hanya membalas dengan senyuman karena ia merasa apa yang di ucapkan oleh Pak Guno ada benarnya. Ia tidak ingin anaknya tersiksa karena pilihan ayahnya, lagian Gita juga sudah besar dan sudah bisa menentukan pilihannya sendiri. Namun ia sangat berharap jika pilihan Gita nantinya adalah Gito. Selain ayah Gita mengetahui seluk beluk keluarga Gito, Gito juga memiliki kepribadian yang baik.
"Gito ayo kita pulang nak, sudah malam" pinta ayah Gito
"Baik pa" Gito pun langsung menghampiri ayah dan ibunya serta memberi salam kepada keluarga pak Yuda.
Selama di perjalanan Ayah Gito melihat Gito selalu tersenyum sendiri.
"Nak, kamu dalam memilih pasangan harus yang benar-benar nak. Soalnya kamu tau kan sekarang ini terlihat di depan baik, tapi di belakang busuk. Dan kamu juga harus bisa setia pada pasanganmu, jangan lihat cewek cantik kamu tertarik pula. Jangan seperti itu ya." pinta ayah Gito karena ayahnya tahu jika Gito sudah mempunyai pacar dan sekarang mereka LDR. Dan ayahnya ingin Gito belajar untuk lebih setia kepada pasangannya, Kita boleh menyukai siapapun karena itu hal wajar saja tetapi yang tidak wajar dalam suatu hubungan adalah menduakan pasangan atau bahkan meninggalkan pasangan demi orang lain.
"iya pa, Gito mah orangnya setia tau pa. Gito tidak pernah menduakan Aulia. Gito udah cinta mati lho pa" jawab Gito. Entah mengapa akhir-akhir ini Gito selalu memikirkan Gita, wajah Gita selalu terbayang di pikiran.
"cinta mati sama pacarnya aja. emang sama mama ngga?" tanya ibunya Gito
"Kalau mama ini ngga ada tandingannya, mama itu belahan jiwa ku selamanya. Setetes air mata mama aja aku jaga apalagi kesetiaan mama pasti aku jaga ma" ujar Gito yang membuat ibunya tersenyum bahagia. Bagi ibunya anak-anaknya adalah orang nomor satu di hidupnya, ia berani melakukan apapun demi anak-anaknya.
Gito pun langsung menghubungi pacarnya. Tetapi ketika di telfon no nya tidak aktif, Gito masih tetap berpikir positif, mungkin saja dia sedang sibuk dengan tugasnya karena pacarnya ingin mempersiapkan cutinya ke Kalimantan. ia pun juga memikirkan apa yang di katakan oleh ayahnya ada benarnya juga, ketika cinta harus di uji maka jangan pernah merenggangkan tali yang sudah di ikat.
sesampainya di rumah Gito langsung membersihkan diri dan langsung berbaring di kasurnya.
triiiiiiiiit..... triiiiiiiiit getar handphone Gito
"sudah sampai rumah kah pak?" tanya Gita.
Gito pun langsung duduk dan tersenyum sendiri, melihat chat dari Gita.
"iya sudah dari tadi datangnya😊"
"kamu kok belum tidur, katanya besok kamu mau sekolah" balas Gito
"iya pak, saya besok sekolah kok" balas Gita. Gita pun langsung melompat-lompat kegirangan di atas kasurnya, karena orang yang dia sukai membalas chatnya. Betapa bahagianya Gita, ia bahkan kadang kala menutup mukanya dengan bantal karena malu
"ya Tuhan, ini benaran dia balas chat gue" benak Gita sambil mengipas mukanya menggunakan bukunya.
"ya udah. tidur gih udah malam besok telat pula ke sekolahnya. jangan begadang, ngga baik cewek tidurnya kemalaman. good night 🤗" balas Gito.
"ahhhhhhhhh," teriak Gita dalam hati ia begitu senangnya sambil menggigit selimutnya.
kelanjutan nya..