Takdir tak akan berubah jika kau tak ingin merubahnya, berjuanglah untuk mendapatkan kebahagiaan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rhaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Ren turun ke bawah di mana ibu, kakak dan para sahabatnya sudah menunggu dirinya.
"Buset dah lama banget lu, dah laper ini!" Liam menggerutu menunggu sang sahabat yang di rasanya terlalu lama.
Nuna pun memukul belakang kepalanya "Lu dah makan oleh-oleh dari om gw masih laper aja lu!".
"Ya kan itu pagi Na— abis bantuin di bengkel ya laper lah!"
Nuna pun hanya berdecak sebal, mendengar jawaban dari sahabatnya itu.
"Bilang makasih ya buat om kamu, ampe repot-repot di bawain oleh-oleh segala"
"Iya bu— " Nuna pun mengangguk.
"Ayo makan— katanya udah pada laper" ibu pun membagikan piring untuk mereka makan.
Mereka makan di selingi canda tawa, dimana hanya Liam yang sudah menambah porsi makannya, dan membuatnya jadi bahan ledekan mereka semua.
.
.
.
Setelah selesai Ren, Taksa dan Nuna memutuskan kembali ke bengkel, sedang Liam pulang kerumah karena dia harus berangkat ke kampus.
Di perjalanan mereka memilih lewat jalan besar, karena Ren dan Taksa akan mampir ke toko yang menjual spearpart motor.
Saat di perjalanan pulang, di seberang jalan mereka tiba-tiba ada mobil yang mengalami kecelakan.
.
.
.
Fayre sedang mengendarai mobilnya setelah mengantar pesanan pelanggannya, ya cafe Fayre juga memiliki layanan Delivery order.
Sebenarnya dia memiliki karyawan khusus untuk Delivery order, tapi dia memutuskan pergi mengantar sendiri pesanan pelanggannya itu karena akan membeli kebutuhan cafenya.
Saat di perjalanan Hpnya berbunyi, dia hendak mengangkatnya tiba-tiba ada seekor kucing melintas, dia pun segera membanting stir dan menabrak pohon di depannya.
Untung dia mengendari kendaraannya tidak dengan kecepatan tinggi, sehingga tak terjadi apa-apa dengan dirinya, hanya mobilnya yang agak sedikit ringsek.
Dia pun segera turun dan melihat kondisi mobilnya, di tengah kepanikan dia di datangi dua orang lelaki dan sorang gadis yang mengendarai motor mereka. Ya mereka Ren, Taksa dan Nuna.
.
.
.
Ren pun mendekati gadis itu yang tampak raut prustasi di wajahnya.
"Lu ngga papa?" Ren bertanya cemas.
"Mobil gw—" Fay ingin sekali menangis.
"Kenapa ampe nabrak gini?" tanya Taksa.
Fayre yang masih panik hanya memegang kepalanya, dia sangat ketakutan.
Dia pun langsung mengambil hp di mobilnya hendak menghubungi para sahabatnya.
Fayre menghubungi nomor Ivy tak ada jawaban, dia pun beralih ke nomor Myla.
"Myl— ' sambil menangis ' gw kecelakan!" terdengar Myla menjawabnya dengan nada panik.
"Di jalan perempatan daerah xx!" jelasnya.
Fayre pun segera mematikan hpnya dan berjongkok sambil mencengkram erat kepalanya dengan kedua tangan.
Dia sangat ketakutan, bukan tanpa sebab ia begitu, jika sang ayah mengetahui kejadian ini, dia yakin ayahnya itu akan segera menyeretnya pulang, dan dia pasti akan di kekang lagi.
Kemana-mana akan di antar sopir, sungguh membuatnya frustasi, karena sang ayah akan membatasi geraknya dalam bergaul.
Ren pun mendekati gadis yang tampak kacau di pinggir jalan itu.
"Hei—!" menyapa berharap tak menakuti gadis itu.
Fayre yang mendengar ada seseorang di sebelahnya lantas menengok ke arahnya.
Dia mengerjap, lelaki di hadapannya ini sangat tampan, walaupun berpakaian agak urakan, jantungnya berdebar debar, jarak dirinya dengan sang lelaki tak terlau jauh, karena lelaki itu sedikit membungkuk untuk menyapanya.
Fayre pun lekas berdiri dan sedikit salah tingkah, dia pun merapikan anak rambutnya untuk mengalihkan kegugupannya.
"Lu— ngga papa kan? mengulangi pertanyaan yang tadi belum di jawab gadis itu.
'Cantik ' Ren menambahkan dalam hati, melihat gadis di hadapannya ini tak menampik dia memujinya, walaupun keadaan sang gadis tampak kacau, dengan mata bengkak dan hidung yang memerah.
Fayre pun hanya mengangguk, dia tampak merona, sungguh dia terpesona dengan lelaki di hadapannya ini, dengan senyum yang sangat menawan.
Pradipa adalah laki-laki dewasa, walaupun memiliki wajah yang tampan tapi bisa di katakan masih kalah dengan lelaki di hadapannya ini. Perbedaannya mungkin faktor umur, dan cara berpakaiannya saja.
Nuna yang melihat gadis itu salah tingkah, langsung berdiri di tengah mereka, dia tak suka jika lelaki incaran hatinya itu di dekati wanita lain.
"Ngga nelpon derek aja, bawa nih mobil ke bengkel!" ketusnya, sambil melipat tangannya di dada.
Fayre hanya menggeleng sedikit berjengit mundur saat tiba-tiba gadis itu berdiri di hadapannya.
Tak lama Ivy dan Myla datang dengan mobil mereka. Dan mereka langsung memeluk Fayre, sambil memutar-mutar tubuh Fay, memeriksa apa gadis itu terluka.
Fayre yang tau sahabatnya itu khawatir pun menghentikan kegiatan mereka dan mengatakan dia baik-baik saja.
Taksa terbengong-bengong melihat kumpulan gadis cantik di hadapannya ini.
Ivy yang tak tau apa-apa mendadak langsung memandang tajam Ren dan teman-temannya " kalian yang bikin temen gw kecelakaan ya!" semprotnya.
Ren yang melihat gadis di hadannya ini salah paham lantas menggeleng-geleng kepalanya dengan tawa mencibir.
Fayre menyentuh lengan Ivy karena gadis itu asal ucap saja tanpa bertanya terlebih dahulu kepada dirinya.
Nuna langsung melotot, sedang Taksa langsung menjawabnya " whoa....whoa.....whoaa...relax— temen lu nabrak sendiri, justru kita ini niat mo nolongin!"
Fayre pun langsung menjelaskan penyebab dirinya kecelakaan, Ivy yang malu pun segera meminta maaf.
"Makanya klo ngomong jangan asal jeplak, tanya dulu! maen nuduh aja!" Sinis Nuna masih dengan melipat tangannya.
"Kan gw dah minta maaf!" Ivy pun membalas dengan tak kalah ketusnya.
"Ya udah kita balik dulu!" Ren pun pamit karena merasa gadis itu sudah di temanin oleh kawan-kawannya.
Fayre pun langsung mencekal tangan Ren berusaha menghentikan langkah lelaki itu.
Ren pun menengok kembali, sedangkan Nuna langsung menghempaskan tangan Fay yang mencekal tangan Ren, emosinya merangkak naik ingin sekali dia mengacak-ngacak gadis di hapannya ini.
Fay yang kaget hanya pasrah dan melanjutkan bertanya ke arah Ren "lu tau bengkel mobil di sini?."
"Di sini ngga ada bengkel mobil, kebanyakan bengkel motor" jawabnya.
"Di kota noh bengkel mobil banyak, disini mah daerah pinggiran!" Nuna masih menjawab dengan ketus.
"Tapi pasti tau mesin mobil kan?" dia tau ini daerah pinggir kota, jika dia membawa mobilnya ke bengkel mobil yang ada di kota sudah di pastikan ayahnya akan mengetahuinya.
Bukan apa-apa, mereka pasti akan tahu dari plat mobilnya, pemiliknya adalah pengusahawan yang terkenal di kota ini dan mereka pasti akan mencari muka terhadap sang ayah, mereka tidak tau saja bahwa ia enggan jika ayahnya itu tau.
"Ngga tau dah! tapi klo lu penasaran gw bisa bawa lu kesana"
Ren masih mencoba membantu.
Fayre pun hanya mengangguk, Ren meminta kunci mobilnya dan Fayre pun menyerahkannya begitu saja. Ren segera masuk ke mobil itu.
Ivy segera mencekal bahu Fay menghentikan saat gadis itu akan menaiki mobilnya di kursi penumpan.
"Yakin lu sama orang-orang ini Fay?" tanyanya merasa tak yakin dengan penampilan Ren.
"Gw ngga punya pilihan laen, lu ikutin gw aja dari belakang"
Fay pun memasuki mobilnya.
Ren pun mengendarai mobil Fay ke arah bengkel tempatnya bekerja, om Tisna sedang duduk karena dia baru saja selesai memperbaiki motor pelanggannya, ia pun menengok ke arah depan bengkel saat ada mobil dengan keadaan sedikit ringsek itu parkir di depannya.
.
.
...****************...
-YOU'RE MINE, SERRA
-POSESSIVE PILOT
-"AFFAIR WITH UNCLE++"
-My best friend's Daddy is my husband
-Pengantin Pengganti Tersakiti