Kecelakaan itu telah membuat Ayuna harus kehilangan ingatannya. Mirisnya dia harus hidup terpisah dari orang tua kandungnya. Dia dibesarkan oleh orang tua angkat dengan penuh tekanan. Suatu hari dia terlibat skandal dengan pria asing hingga membuatnya melahirkan dua bocah kembar.
Perseteruannya dengan orang tua angkat membuatnya tak betah dan memutuskan untuk pergi dan hidup bertiga dengan anaknya.
Mampukah Ayuna hidup dalam kekurangan dengan menafkahi kedua anaknya?
Siapa kira-kira pria yang seharusnya bertanggung jawab atas kelahiran dua bocah kembar tersebut?
Yuk, ikuti kisahnya ekslusif di Noveltoon.
Follow Instagram me: Ika Novelis
Facebook:Ika Dwi Indrawati, Ika Dw (Author)
Tiktok: ikaindrawati73, penulis.novel76
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ika Dw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24. Ancaman
"Pak! Perlu anda ketahui saja! Orang yang bernama Ayuna itu bukan cuma saya saja. Di luar sana masih banyak orang yang namanya Ayuna, jangan Bapak pikir wanita yang anda cari itu saya," bantah Ayuna.
Melihat wajah Ayuna yang tegang membuat Erlangga semakin yakin kalau wanita itu berusaha untuk mengelak. Ia tidak tahu apa alasannya mengelak. Mungkin jika itu terjadi pada wanita lain akan beda lagi ceritanya.
"Em..., begitu ya? Maaf kalau tebakan saya salah. Tapi bukankah ini foto kamu?"
Erlangga mengeluarkan handphonenya dan membuka folder di mana ia menyimpan sebuah foto yang didapat dari manager hotel Mustika.
Ayuna terkejut dengan mata terbelalak. "Loh! Bukannya ini foto saya? Bapak kok simpan foto saya? Ini Bapak dapat dari mana?"
Satu alis Erlangga terangkat. "Kenapa? Kamu mulai peduli dengan foto ini."
"Ya jelas saya peduli, pak! Ini privasi. Ini barang milik saya, dan sekarang ada pada Bapak. Sebenarnya tujuan Bapak itu apa sih? Kenapa anda selalu melibatkan saya ke dalam urusan anda?"
Emosi Ayuna kian meledak. Cukup lama ia diam tak begitu menanggapinya, tapi saat mengetahui salah satu dari fotonya ada pada pria itu ia tak bisa mengendalikan emosinya lagi.
"Saya akan selalu melibatkanmu ke dalam urusan saya sampai kamu mengaku bahwa kejadian di hotel itu benar-benar kamu, bukan wanita lain."
Ayuna menarik napasnya yang tertahan. "Huft ..., terus apa untungnya buat saya jika saya mengaku?"
"Saya akan bertanggungjawab."
"Dengan cara?" tanya Ayuna dengan tersenyum smirk.
"Menikahimu, dan memberimu status sebagai istri sah."
Ayuna menggigit bibirnya gelisah. Mimpi apa semalam hingga tak disangka-sangka bakalan dilamar oleh seorang pria penguasa sekaligus orang yang pernah membuatnya kehilangan arah.
"Pak, anda ini seorang pengusaha yang sukses. Anda memiliki kekuasaan. Kenapa anda malah berkeinginan untuk menikahi saya yang hanya wanita miskin dan tak jelas asal-usulnya. Anda bisa mendapatkan wanita yang lebih baik daripada saya. Saya juga tidak akan meminta anda buat menikahi saya. Saya cukup tahu diri pak, benteng pertahanan anda terlalu kokoh untuk saya tembus. Saya tidak ingin membuat masalah dengan anda atau orang-orang di sekitar anda."
"Jadi benar kau wanita itu?"
Ayuna mengangguk pelan. "Iya." Terpaksa ia mengakuinya. Erlangga sendiri tidak akan berhenti untuk terus mengejarnya. Cepat ataupun lambat kebohongan itu juga pasti akan terbongkar. Lebih baik berterus terang daripada mempersulit diri sendiri.
"Terus kenapa kamu langsung pergi? Kenapa nggak nunggu sampai aku bangun." Erlangga seketika mengubah cara bicaranya agar tidak terlihat begitu formal. Ia cukup lega setelah mendapatkan pengakuan dari Ayuna, wanita yang membuatnya hampir setengah gila.
"Kan tadi sudah saya jelaskan. Kehidupan kita bagaikan bumi dan langit, sangat tidak seimbang. Lagi pula anda sudah memiliki kekasih, kenapa masih harus mengejar saya? Bagaimana jika sampai kekasih anda marah? Saya tidak ingin tertawa di atas penderitaan orang lain, Pak!"
"Jangan sok tahu kamu!"
Ayuna mengernyit. "Sok tahu? Saya bukannya sok tahu pak! Tapi Bapak sendiri pernah bilang kalau anda sudah memiliki tunangan dengan keluarga Wijaya. Sekarang anda meminta saya buat setuju menikah dengan anda. Apa itu tidak menyinggung nona Wijaya?"
"Dan nona Wijaya yang kau maksud itu sudah tiada. Dia meninggalkanku tanpa jejak. Di sisi lain aku sudah melakukan hal yang tidak pantas dan memalukan."
Ayuna mengatupkan bibirnya dengan wajah menunduk. Dia tidak bisa ditatap begitu intens oleh lawannya, apalagi pria itu memiliki kekuasaan yang besar di kotanya.
"Coba pikirkan baik-baik tawaranku ini. Jika kau mau menikah denganku, aku bakalan jamin kehidupanmu. Kau tak perlu tinggal di kontrakan yang sempit. Kau juga tidak akan kehabisan uang."
Ayuna menggigit bibirnya dengan meremas jemarinya gelisah. Dia bingung, haruskah menerima tawaran itu?
"Tapi saya sudah memiliki anak, Pak," gumamnya lirih namun masih terdengar jelas di telinga Erlangga.
"Aku tahu, dan mereka itu anakku."
Deg,, Ayuna mendongak terkejut. "Bapak ini lucu. Anda tahu darimana kalau mereka itu anak-anak anda?"
"Itu tidaklah sulit bagiku."
Erlangga mengeluarkan kertas putih di dalam amplop yang disimpan rapi di tas kerjanya.
"Lihat dan baca baik-baik."
Ayuna mengambilnya dan membukanya. "Tes DNA?" Dia mematung membaca sekilas di bagian atas. "Anda melakukan tes DNA dengan anak-anak saya pak?"
"Bukan aku, tapi ibuku yang melakukannya."
"Tapi kenapa bisa? Bahkan tidak meminta izin padaku."
"Apa yang tidak kami bisa," bantah Erlangga. "Kalau minta izin padamu apa sekiranya kau bakalan izinkan?"
Ayuna diam mengatupkan bibirnya.
"Kau itu sangat keras kepala. Bahkan berani menyembunyikan hal terbesar dalam hidupku. Kau menyembunyikan identitas anak-anakku. Kau bisa kutuntut."
Ayuna melotot. "Anda sadar dengan apa yang anda katakan," serunya. "Anda ingin menuntut saya, memangnya apa kesalahan saya pada anda? Justru sebaliknya, saya bisa menuntut anda karena sudah merudapaksa saya hingga membuat masa depan saya hancur. Saya bahkan tidak melakukan itu karena saya masih bisa menjaga citra anda sebagai orang ternama."
"Tapi mereka itu benihku. Tanpa aku kau tidak akan pernah memiliki mereka," bantah Erlangga yang tak mau kalah. "Sebagai ibu kau terlalu egois. Kau menganggap ayah mereka mati, padahal pada kenyataannya aku masih hidup dan berdiri di sini. Kalau sampai mereka tahu apa sekiranya mereka bakalan memaafkanmu?"
"Tapi mereka tidak butuh Ayah," desis Ayuna. "Sejak bayi mereka sudah mengalami kerasnya kehidupan. Hidup bersama orang-orang yang membencinya itu tidaklah mudah, tapi mereka kuat menjalaninya. Saya rasa mereka memang tidak butuh simpati dari siapapun."
Rahang Erlangga mengeras dengan tangan mencengkram kuat di meja. Begitu kerasnya wanita itu hingga sulit untuk dibujuk. Tapi ia tak akan mengalah atau mundur. Ia yakin masih ada cara untuk membuatnya bertekuk lutut dan mengharapkan belas kasihnya.
Drett... Drett...
Suara getaran handphone di sakunya. Ayuna buru-buru meraih dan membukanya.
Nomer tak dikenal. Nomor yang menghubunginya bukanlah bagian dari teman-temannya, atau bahkan keluarga angkatnya. Karena rasa penasarannya Ayuna terpaksa mengangkatnya.
"Halo, siapa ini?"
"Siapkan uang lima ratus juta sekarang! Jika tidak nyawa anakmu akan melayang."
Serrr.... Darah Ayuna seolah menyembur panas tumpah tak tersisa. Nomer itu datang untuk mengancamnya.
"Siapa kau? Di mana anakku!"
"Tenang nyonya, anakmu masih aman bersamaku. Siapkan saja uang itu, karena jika tidak kau akan kehilangan mereka."
Hahahaha..., suara gelak tawanya terdengar keras menghantam telinganya. Tubuh Ayuna tergetar hebat, hingga membuatnya kehilangan keseimbangan. Untungnya Erlangga masih ada di posisinya guna menangkapnya.
"Penjahat kalian! Dimana kau sembunyikan anakku! Aku mohon jangan sakiti mereka. Mereka tidak bersalah."
Erlangga yang samar-samar mendengar percakapan mereka langsung menyahut handphone yang dipegang Ayuna.
"Jangan macam-macam denganku! Cepat kembalikan anakku jika hidupmu ingin selamat."