Planet 3212—planet sampah paling melarat.
Tri, bocah tujuh tahun, bertahan dari rongsokan—tapi ia menyimpan ingatan insinyur mecha dewa dari kehidupan sebelumnya. Kesalahan pendaftaran melemparkannya ke jurusan tempur paling brutal. Semua meremehkan bocah sampah ini—sampai ia menghancurkan lawan, rancangan "jelek"nya mengguncang forum maestro, dan kekuatan 3S-Agung yang terpendam mulai terkuak.
Diburu Kabut Hitam, dilindungi rival terkuatnya, Tri harus pilih: tunduk—atau bangkit menelan takhta bintang. Dari tumpukan sampah menuju singgasana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fajar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 17
Bab 17 — Pesanan Sayap Menembus Awan
Lima puluh juta kredit masuk ke akun Tri pada pukul dua belas lewat tiga belas menit malam.
Ia sedang menggigit roti kering.
Roti itu jatuh ke lantai.
Hendra, yang tidur miring di kursi 707, langsung terbangun karena suara Kom Tri menjerit seperti alarm kebakaran.
“Apa yang meledak?”
Tri menatap layar.
Saldo sementara:
50.093.700 kredit.
Pengirim:
TepiBaratKarang.
Catatan:
Sayap. Busur hitam. Jangan jelek.
Hendra bangkit setengah sadar, melihat angka itu, lalu benar-benar sadar. “Tri.”
“Hm.”
“Itu bukan angka yang boleh masuk ke akun murid baru jam dua belas malam.”
Tri mengambil roti dari lantai, meniup debu, lalu memakannya.
“Lima detik.”
“Apa?”
“Gue menikmati jadi orang kaya lima detik.”
Kom bergetar lagi.
Pesan baru dari TepiBaratKarang:
Bengkel Hitam lantai kerja tiga. Besok malam. Kalau tidak sanggup, kembalikan.
Tri menatap kata kembalikan.
Kata itu lebih menusuk daripada tantangan.
“Lo tidak akan pergi,” kata Hendra.
Tri sudah membuka daftar harga bahan.
“Tri.”
“Sayap yang bisa dipakai untuk terbang, intai, dan tembak tidak murah.”
“Itu poinku. Lo tidak tahu siapa dia.”
“Tahu. Orang yang bayar dulu.”
“Itu bukan identitas, itu bahaya.”
Tri memperbesar daftar bahan. Sayap ringan butuh rangka lentur, kristal energi kecil, sensor mikro, dan lapisan luar yang tidak pecah saat berubah sudut. Busur hitam butuh tarikan stabil, jalur penyimpanan energi, dan pengunci yang tidak membunuh pemakai saat ditembakkan dari udara.
Lima puluh juta terlihat besar.
Lalu daftar bahan membuka mulut.
Angka itu mendadak terlihat lapar.
Tri tersenyum.
“Gue bisa.”
Hendra duduk di tepi tempat tidur, rambut berantakan. “Lo baru saja mendapat uang setara rumah bagus di Planet 3212, dan wajah lo seperti melihat baut diskon.”
“Karena ini bukan uang. Ini bahan yang belum dibeli.”
“Kadang gue lupa kau rusak di tempat yang sangat spesifik.”
Malam berikutnya, Tri keluar dari kamar 707 dengan tas alat di punggung.
Jam keluar resmi sudah lewat.
Gerbang asrama terkunci.
Gerbang akademi lebih terkunci.
Tri berdiri di bawah dinding belakang Damokles, menatap kabel sensor yang dipasang terlalu rapi untuk sekolah yang mengaku tidak memanjakan murid.
Hendra mengirim pesan:
Jangan.
Tri membalas:
Terlambat membaca.
Ia mematikan notifikasi.
Dinding itu tinggi, tetapi bukan tanpa jalur. Ada pipa pembuangan lama di sisi barat, bekas perbaikan yang meninggalkan celah antara sensor gerak dan kamera sudut. Tri mengaitkan tali, menunggu lampu patroli melewati titik buta, lalu memanjat.
Di puncak dinding, angin Pasira membawa pasir halus ke wajahnya.
Ia melompat turun.
Sepatu pengait buatannya menggigit dinding luar, memperlambat jatuh. Ia mendarat tanpa suara besar, hanya lututnya memprotes sedikit.
“Denda kalau tertangkap,” gumamnya. “Jadi jangan tertangkap.”
Bengkel Hitam lantai kerja tiga tidak seramai arena.
Di sana suara orang bertaruh diganti suara mesin potong, alat las, kipas pembuangan, dan kutukan teknisi yang menemukan komponen palsu. Bau logam panas lebih tebal. Uang di tempat ini tidak berteriak lewat penonton, tetapi lewat bahan yang disimpan di lemari berkunci.
TepiBaratKarang menunggu di ruang kerja nomor delapan.
Ia tidak memakai masker setengah wajah malam ini. Wajahnya masih sebagian tertutup bayangan tudung, tetapi sikapnya sama: tenang, bersih, seolah-olah semua pintu sudah terbuka sebelum ia menyentuhnya.
Di belakangnya berdiri sebuah Mecha ringan berwarna gelap.
Tri berhenti dua langkah setelah masuk.
Mecha itu bukan L0 rongsok.
Sendinya halus, rangkanya ramping, punggungnya sengaja dikosongkan untuk modul tambahan. Ini mesin yang dibuat untuk orang yang menganggap medan perang sebagai papan catur, bukan jalan berlumpur.
“Sayap,” kata TepiBaratKarang.
“Saya lihat.”
“Bisa?”
Tri berjalan mengelilingi Mecha. Ia menyentuh punggung rangka, lutut, pusat keseimbangan, lalu berhenti di bahu kiri.
“Bisa kalau kau tidak keberatan jadi lebih berat.”
“Aku keberatan.”
“Kalau begitu bayar lebih.”
TepiBaratKarang menatapnya.
Tri balas menatap.
Beberapa detik kemudian, TepiBaratKarang berkata, “Berapa?”
Tri menyukai orang ini sedikit lebih banyak.
Orang yang langsung bertanya berapa setelah mendengar masalah adalah orang yang bisa diajak hidup di dunia nyata.
“Semua lima puluh juta masuk bahan,” kata Tri. “Mungkin lebih.”
“Kau tidak ambil upah?”
“Kalau hasilnya bagus, nama gue naik. Kalau buruk, gue mati karena harus mengembalikan uang. Upah bisa menyusul.”
TepiBaratKarang terdiam sejenak, lalu meletakkan sebuah busur hitam di meja. “Aku butuh ini bisa ditembakkan dari posisi udara.”
Tri mengangkat busur itu.
Beratnya bagus.
Masalahnya, berat bagus juga berarti sayap harus tidak bodoh.
Ia membuka papan desain.
Tiga ratus dua puluh empat keping sayap.
Bukan dua lempeng besar seperti hiasan panggung. Setiap keping harus bisa bergerak mandiri dalam kelompok kecil: membuka untuk menahan udara, menutup untuk menyelinap, mengunci untuk menjadi pelindung, dan pada sudut tertentu menjadi jalur peluncur panah energi pendek.
Terbang.
Intai.
Tembak.
Tiga fungsi, satu punggung.
Tri menggambar cepat.
TepiBaratKarang yang awalnya berdiri santai mulai mendekat.
“Keping sebanyak itu akan sulit dikendalikan.”
“Kalau dikendalikan satu per satu, iya.”
“Lalu?”
“Kelompokkan seperti sisik. Dua belas kelompok besar, masing-masing dua puluh tujuh keping. Sisa keping untuk pengarah ekor dan stabilizer busur.”
“Dua belas kali dua puluh tujuh itu tiga ratus dua puluh empat.”
“Lo bisa berhitung. Bagus.”
TepiBaratKarang tidak marah. “Dan Daya Indra?”
“Jangan paksa pilot mengingat sayap. Buat sayap mengikuti pusat massa dan sudut busur. Pilot cukup memberi niat arah. Modul yang menerjemahkan.”
“Itu bukan modifikasi kecil.”
“Uangnya juga bukan kecil.”
Mereka bekerja sampai tiga malam berturut-turut.
Tri keluar Damokles lewat dinding belakang, masuk Bengkel Hitam sebelum patroli kedua, kembali sebelum subuh, tidur di kelas teori, lalu hampir ditembak Pak Cakra karena menguap saat memegang senapan.
Hendra mengetahui semuanya, tentu saja.
Pada malam kedua, ia masuk kamar 707 tanpa mengetuk, membawa selimut, dan langsung tidur di lantai.
Tri pulang lewat jendela pukul empat pagi dan hampir menginjak kepalanya.
“Kenapa lo di sini?”
Hendra membuka satu mata. “Kalau kau tidak pulang, gue tahu sejak kapan mulai mencari mayat.”
“Itu perhatian?”
“Itu manajemen risiko.”
“Tidur di kasur.”
“Kasur lo penuh gambar sayap.”
Tri melihat tempat tidur.
Benar.
Ia tidur di kursi.
Pada malam keempat, Pesanan Sayap Menembus Awan selesai.
Tri memberi nama itu bukan karena puitis.
Karena TepiBaratKarang menolak nama “Sayap Murah Tiga Fungsi” dengan wajah yang terlalu sopan untuk disebut jijik.
Modul punggung terbuka.
Tiga ratus dua puluh empat keping hitam menyebar dari belakang Mecha seperti kipas logam tipis. Tidak indah dalam arti mewah. Indah karena tiap keping tahu tugasnya. Saat busur hitam ditarik, dua kelompok sayap mengunci menjadi rel energi. Saat Mecha melompat, empat kelompok lain menyesuaikan udara, membuat tubuhnya melayang satu detik lebih lama daripada yang seharusnya.
Satu detik di udara bisa membunuh orang.
TepiBaratKarang menguji tiga kali.
Pada tes ketiga, panah energi menembus tiga target bergerak sekaligus.
Ia turun dari kokpit, menatap sayap di punggung Mecha, lalu menatap Tri.
“Ini lebih dari pesananku.”
Tri sedang melihat daftar pengeluaran.
Bahan utama: 41.200.000.
Kristal mikro: 6.750.000.
Sewa ruang kerja: 1.200.000.
Potongan Bengkel Hitam dan biaya tutup mulut teknisi: 1.000.000.
Komponen kecil tambahan: 870.000.
Total: 51.020.000.
Tri menutup mata.
Ia rugi 1.020.000.
TepiBaratKarang menunggu jawaban.
Tri membuka mata. “Tentu lebih. Kalau pas-pasan, orang akan tahu itu dibuat orang miskin.”
“Kau rugi?”
“Tidak.”
“Kau berbohong buruk.”
“Itu karena gue sedang berduka.”
TepiBaratKarang mengambil Kom, hendak mentransfer tambahan. Tri mengangkat tangan.
“Tidak. Harga sudah disepakati.”
“Kau aneh.”
“Kalau gue ubah harga setelah kerja, nanti orang kaya belajar menawar di tengah jalan. Itu bencana.”
Di luar ruang kerja, Bang Salim, pemilik lantai kerja yang sejak tadi pura-pura memeriksa baut, akhirnya mendekat.
“Anak muda,” katanya, mata tidak lepas dari desain sayap. “Gambar modul itu kau jual?”
Tri menoleh.
Uang bisa menyelamatkan kesedihan.
“Hak pakai terbatas,” katanya. “Tidak boleh salin penuh, tidak boleh jual ulang, tidak boleh menyebut nama gue.”
Bang Salim tersenyum. “Berapa?”
Tri ingin bilang satu juta.
Lalu melihat wajah Bang Salim.
Orang itu sudah tahu ia rugi.
“Lima ratus ribu. Tunai.”
Bang Salim membayar tanpa menawar.
Tri makin sedih.
Berarti harusnya lebih mahal.
Saat ia keluar dari Bengkel Hitam menjelang subuh, kantongnya hanya sedikit lebih berat daripada saat datang. Tetapi di belakangnya, Sayap Menembus Awan sudah menempel di Mecha milik TepiBaratKarang, dan satu pemilik bengkel baru saja membeli hak pakai desainnya.
Nama tidak muncul.
Uang tidak banyak.
Tetapi jejaknya mulai tertinggal di mesin orang lain.
Tri berjalan melewati Gang Kelabu untuk memotong jalan pulang.
Pada belokan kedua, ia berhenti.
Suara langkah di belakangnya juga berhenti.
Tri melanjutkan jalan.
Langkah itu ikut.
Ia masuk ke bar kecil yang masih buka untuk pekerja malam, memesan air termurah seharga enam belas ribu kredit, lalu duduk di dekat pintu belakang. Harga air itu membuat hatinya berdarah, tetapi pintu belakang bar mengarah ke tiga lorong sempit.
Ia keluar setelah dua menit.
Belok kiri.
Naik tangga servis.
Turun lewat tangga darurat.
Masuk lorong pendingin.
Keluar di sisi lain Gang Kelabu.
Tidak ada langkah.
Tri menghela napas.
Lalu udara di belakang lehernya terasa dingin.
Seseorang masih melihatnya.
Bukan dari dekat.
Bukan dari tempat yang mudah dibaca.
Tatapan itu tajam, stabil, dan terlatih.
Tri berbalik.
Lorong kosong.
Lampu neon berkedip.
Pasir Pasira bergeser pelan di lantai.
Tidak ada orang.
Tetapi rasa dibidik itu belum hilang.
Tri memasukkan tangan ke saku alat, menggenggam obeng pendek, dan menatap ujung lorong.
“Mahal sekali malam ini,” gumamnya.