Bagaimana bisa seorang agen rahasia berdarah dingin yang ditakuti dunia mafia mati mengenaskan di rumahnya sendiri... hanya karena tersedak air putih?
Takdir bercanda saat jiwanya terlempar ke tubuh seorang gadis kaya yang terkenal pendiam, lambat, dan selalu ditindas. Lebih parah lagi, gadis itu terikat pernikahan dingin dengan seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpengaruh.seorang CEO kejam yang diam-diam memimpin sindikat mafia paling berpeSang CEO berdarah dingin dibuat pusing setengah mati melihat istrinya yang dulu pemalu kini berubah menjadi wanita impulsif yang dengan santainya melumpuhkan puluhan penjahat, walau uniknya masih sering tersandung kaki sendiri saat berjalan.
Di tengah kecamuk perang antar-mafia, intrik bisnis triliunan rupiah, dan tingkah konyol yang tak terduga, mampukah sang Raja Mafia menundukkan jiwa liar di tubuh istrinya, atau justru dialah yang akan berlutut di hadapan sang istri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30
Tiga bulan telah berlalu sejak konfrontasi besar di ruang rapat pemegang saham Vane Group. Kota yang dulunya dipenuhi oleh bayang-bayang intrik politik keluarga dan perebutan takhta bisnis kini berangsur tenang. Nama Vane Group semakin kokoh di puncak kejayaan, dipimpin oleh kombinasi kepemimpinan Adrian Vane yang dingin nan tegas serta kecerdasan taktis Aura Valeria Vane.
Pagi itu, suasana di Mansion Vane terasa sangat hangat. Sinar matahari menerobos masuk melalui jendela besar kamar utama, menyinari sprei putih yang lembut.
Aura terbangun dari tidurnya, duduk bersandar di kepala tempat tidur sambil menyesap cangkir teh hangatnya. Di sebelahnya, Adrian sudah rapi dengan kemeja putih yang lengan bajunya tergulung hingga siku. Pria itu baru saja selesai memeriksa beberapa laporan rutin di tablet pribadinya, sebelum akhirnya mematikan layar dan mengalihkan perhatian sepenuhnya kepada sang istri.
"Kamu terlihat agak lelah beberapa hari terakhir ini, Aura," kata Adrian lembut sambil mengusap helai rambut hitam Aura yang jatuh di bahunya. "Apa pekerjaan di Konsorsium Nusantara terlalu menumpuk?"
Aura menggeleng pelan, mengulas senyum tipis yang sarat akan kehangatan. "Pekerjaan di konsorsium berjalan sangat lancar, Adrian. Sistem manajemen baru yang kita terapkan berhasil memotong jalur birokrasi, jadi semuanya serba cepat dan efisien."
"Lalu kenapa beberapa hari ini kamu selalu bangun lebih lambat dan menolak kopi pagimu?" tanya Adrian, menyipitkan matanya dengan tatapan penuh perhatian dan sedikit kecemasan.
Aura meletakkan cangkir tehnya di atas meja samping tempat tidur. Ia menatap Adrian dengan tatapan yang sulit diartikan—campuran antara rasa canggung, haru, dan kebahagiaan yang meluap-luap.
Aura meraih tangan hangat Adrian, lalu mengarahkannya untuk mengelus lembut perut ratanya sendiri.
"Aku menolak kopi..." bisik Aura pelan, suaranya yang biasa cepat kini terdengar begitu lembut dan bergetar haru, "...karena dokter keluarga bilang, anak kita tidak suka bau kafein sejak tiga minggu lalu."
Degh!
Tubuh Adrian seketika mematung di tempat! Sang CEO Mafia yang terkenal tak pernah gentar menghadapi ratusan musuh bersenjata atau krisis keuangan puluhan triliun itu kini tertegun tanpa kata. Matanya membelalak kaget, menatap tangan kokohnya yang berada di atas perut Aura, lalu beralih menatap mata bulat istrinya.
"Kamu... kamu serius, Aura?" suara Adrian bergetar hebat, sesuatu yang sangat jarang terjadi dalam hidupnya.
Aura tertawa kecil, air mata kebahagiaan menyelimuti sudut matanya. Bicaranya yang lancar kembali keluar dengan nada hangat. "Iya, Tuan CEO konyol! Dokter menyatakannya resmi kemarin sore waktu kamu masih ada rapat dengan menteri. Di dalam sini... ada calon penerus Vane Group yang sedang tumbuh."
Tanpa mengulur waktu satu detik pun, Adrian langsung menarik Aura ke dalam dekapannya! Pria itu memeluk istrinya sangat erat namun penuh kehati-hatian, menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Aura. Dada bidang Adrian naik turun menahan rasa haru dan kebahagiaan yang tak terlukiskan dengan kata-kata.
"Terima kasih, Aura... Terima kasih banyak, Istriku," bisik Adrian tulus, suaranya serak oleh emosi. Ia melepaskan pelukannya sebentar, lalu mencium kening, kedua pipi, dan bibir Aura secara bertubi-tubi dengan penuh kasih sayang.
Aura tertawa lepas menerima perlakuan manis suaminya itu. Benteng dingin dari jiwa mantan agen elit yang dulu pernah bertengger erat di dalam dirinya kini telah mencair sepenuhnya oleh kehangatan keluarga yang mereka bangun bersama.
Sore harinya, Adrian membatalkan seluruh agenda rapatnya di kantor dan mengajak Aura berjalan-jalan di bukit pribadi di belakang Mansion Vane. Bukit itu menyajikan pemandangan lanskap kota dari kejauhan serta hamparan padang rumput hijau yang luas.
Mereka berdua berjalan bergandengan tangan di bawah pendar cahaya keemasan matahari sore. Angin sejuk berhembus pelan, membuat suasana terasa sangat damai.
"Aku sudah menyuruh tim keamanan untuk memperketat seluruh penjagaan mansion dan area perjalananmu mulai hari ini," ujar Adrian mantap sambil memegang erat jemari Aura. "Tidak ada lagi penerbangan malam, tidak ada lagi manuver taktis jalanan, dan tidak ada lagi pekerjaan kantor sampai larut malam."
Aura melirik suaminya sambil terkekeh pelan. "Adrian, aku cuma sedang hamil, bukan sedang sakit parah! Jangan berlebihan seperti itu."
"Ini bukan berlebihan, Nyonya Vane," jawab Adrian tegas namun penuh tatapan cinta. "Kamu dan anak kita adalah seluruh hidupku sekarang. Melindungi kalian adalah prioritas utamaku di atas segalanya."
Aura menghentikan langkahnya, berdiri menghadap Adrian. Ia memegang kedua pipi Adrian dengan tangan halus nya, menatap mata gelap suaminya yang sangat jujur.
"Dulu..." kata Aura pelan, suaranya mengalir hangat, "...aku pikir pernikahan kita cuma sebatas perjanjian bisnis untuk saling memanfaatkan dan bertahan hidup. Aku tidak pernah membayangkan kalau akhir dari perjalanan ini... aku bakal menemukan rumah, perlindungan, dan cinta yang sejati bersamamu."
Adrian tersenyum sangat menawan, menggenggam tangan Aura yang ada di pipinya lalu mengecup telapak tangan istrinya satu per satu.
"Kamu bukan cuma menemukan rumah, Aura," bisik Adrian lembut. "Kamu adalah rumah itu sendiri buatku. Tempat aku kembali dari setiap badai dan pertempuran."
Adrian lalu merogoh saku jasnya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru hitam kecil. Ia membukanya, memperlihatkan sebuah kalung liontin emas putih berbentuk elang dengan permata zamrud di tengahnya—simbol kebebasan dan kekuatan yang sangat cocok dengan karakter Aura.
Adrian memasangkan kalung cantik itu di leher halus Aura, lalu mengecup tengkuk istrinya dengan lembut.
"Ini simbol bahwa kamu adalah Ratu sejati di Vane Group," ujar Adrian dekat earlobe Aura. "Bebas terbang ke mana pun, tapi selalu punya tempat untuk pulang."
Aura menyentuh liontin cantik di lehernya, matanya berbinar bahagia. Ia berbalik, melingkarkan kedua tangannya di leher Adrian, lalu mendongak untuk mendaratkan ciuman manis di bibir suaminya.
Adrian membalas ciuman itu dengan penuh kehangatan, merangkul pinggang Aura dengan protektif dan lembut. Di bawah naungan langit sore yang indah dan embusan angin bukit yang menyejukkan, dua sosok penguasa yang dulunya disatukan oleh takdir kini menyongsong babak baru kehidupan mereka—sebagai suami istri, pasangan pemimpin, dan calon orang tua yang tak tergoyahkan oleh apa pun.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
TBC ❤️🥰😘