....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon rerevana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengganti
Pagi itu, suasana kampus ramai seperti biasa.
Cheyrin duduk di salah satu kursi panjang di bawah pohon rindang, berbincang dengan beberapa teman. Mereka tertawa kecil membahas tugas yang baru saja dikumpulkan, suasana terasa ringan dan menyenangkan.
Tiba-tiba langkah kaki yang familiar terdengar mendekat.
Steven muncul bersama Juno, membawa sebuah buku di tangannya.
“Cheyrin,” panggil Steven pelan.
Cheyrin menoleh, alisnya sedikit terangkat karena kaget.
“Eh, Steven? Kenapa?”
Steven mengulurkan buku itu kepadanya.
“Buku lo ketinggalan di perpustakaan semalam. Gue ketemu waktu mau pulang.”
Cheyrin menerima buku itu dengan cepat, matanya berbinar.
“Ah iya! Gue nyari-nyari tadi pagi. Makasih banyak, ya.”
Steven hanya tersenyum tipis, matanya menatap Cheyrin lurus.
“Sama-sama. Jangan sampai hilang lagi.”
Lisa yang duduk di sebelah Cheyrin ikut menoleh, menunggu setidaknya sepatah sapa darinya.
Namun Steven tidak sekali pun menoleh ke arahnya. Setelah menyerahkan buku itu, ia hanya mengangguk singkat pada Cheyrin, lalu berbalik bersama Juno dan meninggalkan tempat itu.
Keheningan singkat menggantung di udara.
Cheyrin masih memegang buku itu, sementara Lisa menatap punggung Steven yang menjauh dengan wajah yang sedikit mengeras.
Tangannya yang sedari tadi bertumpu di atas pahanya tanpa sadar mengerat sedikit. Rasanya sesak, padahal ia sudah terbiasa dengan sikap Steven yang dingin. Tapi kali ini berbeda. Senyum tipis itu, tatapan lurus itu, semuanya hanya untuk Cheyrin.
“Untung ya, ketemu Steven. Kalau nggak, tugas kita bisa kacau,” ujar salah satu teman Cheyrin, mencoba memecah suasana.
Lisa mengangguk pelan, tapi bibirnya hanya terangkat tipis, bukan senyum yang sebenarnya.
Suara Cheyrin yang menjawab santai itu malah membuatnya makin kesal.
Begitu Steven hilang dari pandangan, Lisa menarik napas panjang dan bersandar ke belakang. Ia berusaha bersikap biasa, tapi nada suaranya jadi sedikit lebih datar dari biasanya.
--
16:01
Lapangan basket kampus sore itu ramai anak-anak yang sedang latihan seperti biasa. Suara bola memantul, sepatu bergesekan dengan lantai, dan teriakan singkat saat latihan berlangsung.
Bulan depan ada pertandingan antar jurusan, jadi Jayden, Steven, dan Juno rutin latihan bersama.
Juno yang paling berisik. Setiap kali berhasil memasukkan bola, ia langsung mengangkat tangan dan bersorak.
“Liat tu! Ahli tiga poin, bos!” katanya sambil tertawa lebar.
Di sebelahnya, Steven hanya mengangguk singkat. Ekspresinya datar, fokus pada dribelnya. Ia jarang bicara, tapi setiap gerakannya cepat dan presisi. Dingin seperti biasanya.
Jayden berdiri di tengah lapangan, mengatur alur latihan. Suaranya tegas, tidak banyak basa-basi.
“Steven, kiri. Juno, jaga posisi. Ulangi lagi.”
Rambut Jayden basah oleh keringat, menempel di dahinya. Wajahnya serius, tapi ada wibawa yang membuat dua temannya langsung mengikuti instruksi. Saat ia mengoper bola dengan satu tangan, gerakannya cepat dan rapi, bola meluncur tepat ke arah Steven tanpa meleset.
Di tepi lapangan, Dara duduk di kursi taman sambil memeluk buku catatannya. Ia sengaja mampir untuk melihat latihan mereka.
Jayden sempat melirik sekilas ke arahnya. Hanya sedetik, lalu kembali fokus pada permainan. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum.
Tapi justru itu yang membuat Dara tersenyum kecil.
Gerakan Jayden saat mengoper bola tadi terlihat keren. Tegas, cepat, tanpa ragu.
Ia menatap lapangan lagi, merasa senang hanya dengan melihat mereka berlatih.
Latihan selesai. Peluit Juno menutup sesi sore itu dengan teriakan panjang yang setengah bercanda.
“Udah, cukup! Kalau dipaksa lagi, lutut gue protes!”
Steven langsung beranjak ke bangku untuk mengambil handuk. Jayden mengusap keringat di lehernya dengan kaos, lalu berjalan ke tepi lapangan untuk mengambil botol minum.
Dara berdiri dari kursi taman. Ia mendekat pelan, menahan sedikit gugup.
“Jay,” panggilnya pelan.
Jayden menoleh. Wajahnya masih tegas, tapi tidak sekeras waktu di lapangan.
“Ada apa?”
“Latihannya keren,” kata Dara sambil tersenyum. “Operan lo tadi pas banget.”
Jayden mengangguk singkat, sudut bibirnya naik sedikit.
“Thanks.”
Hening lagi. Dara menatap Jayden, lalu akhirnya bertanya pelan,
“Jadi... Cheyrin, dia pengganti gue?”
Jayden terdiam. Tangannya berhenti memutar tutup botol minum. Ia menatap Dara beberapa detik, wajahnya tetap datar tapi tidak ada nada ketus.
“Iya”
Jawabannya singkat dan sopan. Ia melirik jam di pergelangan tangan, lalu mengaitkan handuk di leher.
“Gue duluan ya.”
Tanpa menunggu balasan, Jayden berbalik dan berjalan ke parkiran. Sore ini ia memang harus mengantar Cheyrin kerja.
Dara berdiri di tempat, menatap punggung Jayden yang makin menjauh. Jawaban itu jelas, tapi justru membuat dadanya terasa sesak.
.
.
.
.
Sore itu Jayden menghentikan kendaraannya di depan kos-kosan Cheyrin. Kaos basket yang ia kenakan masih basah oleh keringat, Rambutnya berantakan, tetapi ia tidak sempat pulang untuk berganti pakaian terlebih dahulu.
Cheyrin sudah berdiri di teras kos dengan tas kerja di tangan. Wajahnya tampak kesal.
"Lo telat lima belas menit, Jayden," ucapnya begitu melihat Jayden turun dari motor. Nada bicaranya ketus, meskipun tidak terdengar benar-benar marah.
"Gue kira lo nggak jadi jemput."
Jayden menggaruk tengkuknya, sedikit salah tingkah.
"Maaf. Latihan nambah waktu. Coach minta ulang drill pertahanan."
Cheyrin mendesah pelan, lalu keluar dan menutup gerbang.
"Alesan mulu. Emang kalau gue telat kerja, coach lo yang mau gantiin?"
Jayden tersenyum tipis sambil menyerahkan helm kepadanya.
"Nggak. Makanya gue ke sini langsung. Biar nggak tambah telat."
Cheyrin menerima helm tersebut, masih menggerutu kecil tetapi akhirnya naik ke boncengan.
"Besok kalau telat lagi, lo yang jalan kaki anter gue."
"Siap, bos" jawab Jayden singkat sambil menghidupkan mesin.
"Naik yang bener."
Motor itu melaju perlahan meninggalkan gerbang kos, dengan Cheyrin yang masih bergumam kesal di belakang, dan Jayden yang hanya tertawa kecil mendengarnya.