Elisa tidak pernah menyangka novel yang baru semalam ia baca akan menjadi awal petaka hidupnya. Saat membuka mata, ia sudah berada di tubuh Lady Nandikara, putri bangsawan dari Wilayah Timur yang terkenal cantik, tapi angkuh, bermulut tajam, dan paling dibenci semua orang.
Tapi bagusnya, Lady Nandikara itu hanya karakter pendukung saja, yang Elisa ingat, dia muncul hanya sesekali, tokoh yang tidak penting.
Ketika mengetahui posisinya dalam novel, Elisa mengambil satu keputusan. Dia tidak akan ikut campur dalam alur cerita. Cukup hidup tenang, menjadi gadis pendiam, lalu bertahan sampai akhir.
Namun, rencananya mulai berantakan. Ketika sepasang mata tajam dan sedingin es milik Putra Mahkota mulai terpaku padanya. Sejak saat itu, kedamaian yang selama ini ia rencanakan dengan matang perlahan hancur, Elisa terseret ke dalam obsesi seorang pria yang tak pernah menerima penolakan.
Semakin Elisa berusaha menjauh dari alur cerita, semakin takdir menyeretnya ke pusat konflik.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Saasaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keluarga Duke Timur
"Yang ini terlalu mencolok," gumam Elisa sambil menggeleng pelan."Aku lebih suka yang sederhana, tetapi tetap elegan."
Sejak memasuki butik, Elisa tampak begitu bersemangat memilih gaun. Jemarinya berpindah dari satu lembar kain sutra ke kain lainnya. Sesekali ia mengangkat sebuah gaun ke depan tubuhnya, membayangkan bagaimana penampilannya jika mengenakan pakaian itu.
"Yang ini sempurna."
"Bahkan seleramu dalam memilih pakaian pun berubah, Kara," ucap Suri sambil terus memperhatikan adik tirinya.
Bukan hanya sikap dan tabiat Nandikara yang berubah. Cara gadis itu berpakaian, berdandan, bahkan caranya berbicara kini terasa sangat berbeda. Seolah-olah orang yang berdiri di hadapannya bukanlah Nandikara yang selama ini ia kenal.
Elisa hanya melirik sekilas ke arah Suri.
Pagi itu, mereka sudah berada di butik pakaian terbaik di pusat kota. Dengan sedikit paksaan, Elisa berhasil mengajak Suri menemaninya membeli beberapa gaun baru untuk dipakai sehari-hari. Semua gaun milik Nandikara yang memenuhi lemari kamarnya benar-benar tidak sesuai dengan seleranya.
"Entah kenapa aku baru menyadarinya sekarang Suri, semua gaun yang ada di lemari pakaianku membuat mataku sakit," keluh Elisa sambil menghela napas.
Selera pemilik tubuh ini benar-benar buruk.
Suri hanya terdiam sambil memperhatikan setiap gerak-gerik Elisa. Entah sejak kapan dia bisa mengobrol senyaman ini dengan Nandikara yang dulu terkenal angkuh, pemarah, dan selalu memandang rendah orang lain. Sangat aneh, dan janggal. Tetapi perubahan ini justru sangat bagus untuk Suri, karena membuat hidupnya lebih damai, dia tak lagi dijebak dengan drama rendahan adik tirinya yang selalu saja mencari perhatian sang Ayah.
"Lihat yang ini, Suri." Elisa mengambil sebuah gaun berwarna hitam dengan pita merah lembut di bagian pinggang."Menurutku ini sangat cocok untukmu. Sederhana, anggun, dan akan sangat pas jika dipadukan dengan wajah datarmu yang menyebalkan itu."
Alih-alih tersinggung, Suri justru tersenyum tipis. Entah mengapa, ejekan ringan seperti itu terdengar jauh lebih menyenangkan dibandingkan ucapan-ucapan tajam yang biasanya keluar dari mulut Nandikara.
Namun, kehangatan suasana itu tidak berlangsung lama.
Bel kecil di atas pintu butik berdenting pelan, menandakan kedatangan tamu baru. Refleks, Suri menoleh ke arah pintu. Begitu melihat siapa yang baru masuk, wajahnya langsung berubah tegang.
Dia langsung mendekati adiknya."Kara," panggilnya pelan."Kau sudah mendapatkan gaun yang kau inginkan, bukan? Sebaiknya kita segera pergi."
Elisa yang masih sibuk memperhatikan gaun di tangannya mengerutkan dahi."Tapi aku belum selesai. Banyak yang harus kubeli."
"Leon ada di sini," bisik Suri dengan nada terburu-buru.
Elisa langsung terdiam.
Leon?
Siapa itu?
Meski dipenuhi rasa penasaran, ia memilih untuk tidak bertanya. Jika sampai salah bicara, Suri bisa kembali mencurigainya. Lebih baik mengikuti keinginan wanita itu untuk sementara waktu.
Melihat Nandikara diam dan tidak membantah, Suri segera menggenggam tangan adiknya dan mengajaknya keluar dari butik. Sayangnya, langkah mereka terhenti.
"Suri Winter, dan..."
Suara seorang gadis terdengar lembut dari belakang.
"Nandikara? Hampir saja aku tidak mengenalimu. Penampilanmu..."
"Lady Jasmine Snow," Suri buru-buru memotong ucapan gadis itu, lalu membungkukkan badan dengan sopan. Pandangannya kemudian beralih kepada pria yang berdiri di samping Jasmine."Leonardo Snow."
Suri mengucapkan nama itu dengan tenang, tetapi dalam hati ia terus mengawasi reaksi Nandikara. Ia sudah bersiap menghadapi kemungkinan terburuk. Apakah Nandikara akan mengamuk? Atau langsung menjambak rambut Leonardo seperti yang pernah ia lakukan sebelumnya? Terserah saja.
Namun, dugaan Suri meleset. Nandikara hanya berdiri dengan tenang. Bahkan, ia membalas tatapan Jasmine dan Leon dengan senyum manis.
Tidak ada amarah.
Tidak ada makian.
Tidak ada sedikit pun tanda-tanda kegilaan yang biasanya muncul saat melihat pria itu.
"Kalau begitu, kami permisi lebih dulu," ucap Suri cepat."Masih ada beberapa urusan yang harus kami selesaikan. Ayo, Kara." Tanpa memberi kesempatan bagi Jasmine ataupun Leon untuk melanjutkan percakapan, Suri segera menarik Elisa keluar dari butik.
Kepergian kedua kakak beradik itu menyisakan kebingungan di wajah Jasmine dan Leon. Jasmine bahkan masih menatap ke arah pintu butik yang baru saja tertutup. Penampilan Nandikara kini berubah drastis, jauh lebih sederhana, tetapi justru memancarkan kesan anggun yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Yang lebih mengejutkan lagi, gadis itu sama sekali tidak mengamuk, dia bahkan tersenyum padanya dan Leon.
Padahal, sejak dua minggu lalu, disaat Leon menolak lamaran Nandikara secara terang-terangan. Nandikara selalu saja murka jika melihat wajah Leon, bahkan menurut rumor yang beredar, gadis itu sampai mau bunuh diri karena tidak kuat menahan malu.
"Kurasa rumor tentang depresinya memang benar," gumam Jasmine sambil tersenyum kecil. Pandangannya tak lepas dari pantulan dirinya di cermin saat ia mencoba beberapa gaun yang dipajang di butik itu.
"Setelah cintanya ditolak mentah-mentah, Nandikara jadi kehilangan akal. Sikapnya benar-benar aneh sekarang. Bisa-bisanya dia tersenyum padaku? Kemana wajah masamnya itu?"
"Jaga ucapanmu, Jasmine. Seorang lady tidak pantas berbicara seperti itu."
Leon yang sejak tadi hanya diam akhirnya angkat bicara. Tatapannya tetap tenang, tetapi nada suaranya cukup tegas untuk membuat adiknya berhenti berceloteh. Meski begitu, dalam hati ia tak bisa sepenuhnya menyangkal ucapan Jasmine. Perubahan Nandikara memang terlalu mencolok. Gadis yang dulu selalu ribut dan gemar mencari perhatian kini justru menjadi pendiam. Entah apa yang terjadi pada gadis itu?
"Itu memang salah satu isi rumor yang sedang beredar di kalangan para lady, Kak. Aku hanya mengulanginya saja," jawab Jasmine sambil mengangkat bahu."Akhir-akhir ini kehidupan Nandikara sedang jadi bahan pembicaraan di mana-mana. Mereka pasti akan sangat terkejut jika melihat betapa akrabnya Suri dan Nandikara tadi. Suri bahkan menggandeng tangan adiknya. Jika aku tidak melihatnya secara langsung, aku mungkin tidak akan percaya walaupun kakakku sendiri yang mengatakannya. Bukankah itu sesuatu yang nyaris mustahil? Selama ini mereka terkenal sebagai musuh bebuyutan."
"Bukankah itu justru kabar baik? Berarti hubungan persaudaraan mereka semakin bagus," sahut Leon."Berhentilah mencampuri urusan orang lain. Lebih baik cepat pilih gaunmu. Bukankah tadi kau bilang sudah lapar? Setelah ini kita cari makan, di sebelah jalan sana ada tempat makan yang enak, kita akan kesana jadi cepatlah."
Leon memang sosok bangsawan sejati. Ia tidak tertarik membahas gosip yang tak ada kaitannya dengan dirinya. Baginya, menjaga nama baik keluarga dan mengurus urusan sendiri jauh lebih penting daripada ikut larut dalam desas-desus yang belum tentu benar.
Jasmine mengembuskan napas panjang lalu cemberut."Kakak memang tidak seru."