~
Melani, seorang bidan muda yang berdedikasi, harus menelan pil pahit akibat keteguhan prinsipnya. Karena berani menolak lamaran untuk menjadi istri siri dari pejabat Dinas Kesehatan yang berkuasa, ia "dibuang" ke sebuah desa paling terpencil dan terperosok yang nyaris terisolasi dari peradaban.
~
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 17
****
Embun pagi masih tersisa di balik helai daun jati ketika Pustu Hulu Rawa mulai diramaikan oleh langkah-langkah kaki mungil yang berlarian tanpa alas kaki. Pagi itu, rahasia indah yang terucap di tepi hulu sungai kemarin sore masih tersimpan rapat di antara Melani dan Rangga Wira. Belum ada seorang warga pun yang tahu tentang pernyataan cinta sang Ketua Adat kepada bidan cantik kesayangan desa tersebut.
Bagi dunia luar, hubungan mereka masih sebatas rasa hormat antara pimpinan tertinggi adat dan tenaga medis desa. Namun, ada pendar kehangatan yang berbeda dalam cara Melani menyunggingkan senyumnya pagi ini.
Di teras panggung Pustu yang beralaskan tikar pandan, Melani duduk bersila. Bidan muda itu mengenakan kemeja katun merah muda lembut dengan bagian lengan digulung rapi hingga siku, dipadukan dengan rok tenun khas Hulu Rawa. Rambut hitam lurusnya diikat ikal ke belakang, membiarkan beberapa helai membingkai wajah ayunya yang segar.
Di sekelilingnya, hampir lima belas anak desa duduk melingkar dengan mata berbinar-binar penuh antusiasme.
"Nah, Adik-adik..." buka Melani lembut, suaranya jernih membelah keheningan pagi. "Sebelum Bu Bidan melanjutkan cerita ksatria penunggang kuda kemarin, kita belajar berhitung dulu, ya. Siapa yang ingat kemarin kita sudah belajar sampai angka berapa?"
"Angka sepuluh, Bu Bidan!" seru Bimo bersemangat, mengangkat tangannya tinggi-tinggi.
"Pintar sekali Bimo!" puji Melani seraya menepuk pelan puncak kepala sang bocah. "Sekarang, coba Bu Bidan mau tanya... Kalau Ratih punya tiga buah rambutan hutan, lalu Bimo memberi dua rambutan lagi... rambutan Ratih sekarang ada berapa?"
Ratih—bocah perempuan berambut ikal—menghitung jari-jemari mungilnya seraya menggebu-gebu. "Ada... satu, dua, tiga, empat... lima, Bu Bidan! Ada lima!"
"Wah, hebat!" Melani bertepuk tangan gembira, memicu derai tawa renyah anak-anak desa di teras Pustu.
Tiba-tiba, bayangan tegap memotong pendar sinar matahari pagi di tangga panggung. Langkah kaki yang berat dan mantap membuat anak-anak menoleh serentak.
Sosok Rangga Wira melangkah menaiki tangga kayu. Sang Ketua Adat yang biasa tampil gahar dan penuh wibawa itu pagi ini melepas jubah kebesarannya. Ia hanya mengenakan kemeja kain kasar berwarna hitam gelap dengan lengan digulung hingga memperlihatkan otot otentik lengannya. Di tangan kirinya, Rangga membawa sebuah keranjang bambu berisi potongan-potongan kayu lunak yang sudah dihaluskan dan beberapa pisau ukir tumpul.
Melani tersentak kaget, matanya membelalak pelan melihat kedatangan pria itu. Pipi cantiknya seketika merona merah muda saat ingatan tentang bisikan Rangga di tepi sungai kemarin sore kembali terlintas di kepalanya.
"Pak... Pak Rangga?" panggil Melani gagap, buru-buru membetulkan duduknya. "Ada apa Pagi-pagi ke sini?"
Rangga Wira menghentikan langkahnya tepat di tepi tikar pandan. Manik mata hitamnya yang sehitam malam menatap lurus ke arah Melani, memancarkan binar kelembutan rahasia yang hanya ditujukan untuk sang bidan sebelum ia mengalihkan pandangannya pada anak-anak.
"Saya dengar hari ini ada kelas belajar di Pustu," tutur Rangga Wira dengan suara baritonnya yang berat namun terdengar sangat bersahabat. "Saya membawa kayu-kayu halus ini. Anak-anak Hulu Rawa tidak hanya harus pintar berhitung, tapi juga harus mahir mengukir dan mengenal kekayaan hutan kita."
Anak-anak desa bersorak riuh. Bimo bahkan melompat kegirangan. "Huraaa! Ki Rangga ikut belajar! Ki Rangga mau ngajarin ukir kayu!"
Rangga menyunggingkan senyum tipisnya, lalu melipat kakinya yang panjang dan melangkah duduk bersila di atas tikar pandan—tepat di samping Melani. Jarak duduk mereka yang begitu dekat membuat aroma khas kayu cendana dari tubuh tegap Rangga menguar kuat, membuat dada Melani berdebar kencang tak beraturan.
"Rangga... kamu serius mau ikut mengajar?" bisik Melani pelan, mengalihkan wajahnya sedikit agar merona merah di pipinya tak terlalu kentara.
"Kenapa? Apakah Ketua Adat dilarang belajar bersama Bidan Pelindungnya?" balas Rangga berbisik setengah bergurau, matanya mengerling goda yang amat jarang ia perlihatkan.
Melani menahan senyum manisnya, menggigit bibir bawahnya karena salah tingkah. "Bukan begitu... saya cuma kaget saja. Nanti warga bingung melihat Ketua Adatnya mengajari anak-anak."
"Biarkan saja," sahut Rangga santai seraya meraih sepotong kayu dan pisau ukir kecil. "Anak-anak ini adalah masa depan Hulu Rawa. Perlu keterpaduan antara ilmunu dan tradisi saya untuk menempa mereka."
Proses belajar mengajar pagi itu berubah menjadi sangat hidup dan penuh kehangatan. Melani dengan telaten membimbing anak-anak menulis angka dan membaca di atas papan kayu, sementara Rangga Wira mengajari jemari-jemari mungil anak-anak cara memegang pisau tumpul untuk membentuk motif dedaunan dan hewan pada kayu lunak.
"Lihat, Bu Bidan! Ki Rangga mengajari saya membuat ukiran bentuk burung engang!" seru Bimo bangga, memamerkan hasil ukirannya yang masih kasar.
Melani membungkukkan tubuhnya mendekati Bimo, menatap ukiran itu dengan takjub. "Wah, bagus sekali Bimo! Bimo berbakat sekali, ya."
"Iya dong! Kata Ki Rangga, garis lengkungnya harus pas seperti huruf 'C' yang diajari Bu Bidan tadi!" pangkas Bimo polos.
Rangga yang menyaksikan keakraban itu terkekeh pelan. Saat Melani berpaling padanya untuk tersenyum, mata mereka saling beradu lurus dalam jarak beberapa jengkal. Ada getaran kebahagiaan yang membuncah di dada mereka berdua—sebuah harmoni indah dari dua insan yang saling mengayomi.
Di sudut tikar, Ratih dan dua anak perempuan lainnya sibuk berbisik-bisik seraya mengumpulkan bunga-bunga hutan berwarna kuning, merah, dan ungu serta untaian daun pakis segar yang tadi mereka petik di pinggir halaman Pustu. Jemari mungil mereka dengan terampil merangkai bunga dan daun itu menggunakan serat kayu halus.
"Selesai!" bisik Ratih kegirangan pada teman-temannya.
Dengan langkah berjinjit yang menggemaskan, Ratih melangkah mendekati Melani dan Rangga dari belakang.
"Bu Bidan! Ki Rangga! Tundukkan kepalanya sebentar dong!" pinta Ratih dengan suara mungilnya yang menuntut.
Melani mengernyitkan dahi bingung, namun tetap tertawa kecil dan menundukkan kepalanya. Rangga Wira yang heran pun ikut menundukkan tubuh tegapnya.
Dengan penuh hati-hati, Ratih dan kawan-kawan menyematkan dua buah mahkota rangkaian bunga dan daun pakis yang cantik di atas kepala Melani dan Rangga Wira.
"Nah! Sekarang Bu Bidan sama Ki Rangga sudah pakai mahkota!" seru Ratih bertepuk tangan gembira.
Melani menyentuh mahkota bunga di kepalanya, menatap anak-anak dengan raut haru. "Wah, cantik sekali... Terima kasih banyak ya, Ratih, Adik-adik..."
"Bukan cuma cantik, Bu Bidan!" celetuk Bimo polos dari depan, menunjuk Melani dan Rangga bergantian dengan kayu ukirnya. "Kalau pakai mahkota begitu, Bu Bidan sama Ki Rangga kelihatan seperti Bapak dan Ibu kita semua! Seperti Bapak dan Ibu Pelindung Desa Hulu Rawa!"
Deg!
Kata-kata polos Bimo bagaikan petir manis yang memicu gemuruh di dada Melani dan Rangga.
Sontak, anak-anak lainnya ikut bersorak riuh sambil bertepuk tangan. "Iya! Bapak dan Ibu Pelindung! Cocok sekali! Ki Rangga ganteng, Bu Bidan cantik!"
Pipi Melani seketika membara merah padam, pekat bagaikan warna buah tomat matang. Rasa malu dan manis bercampur aduk secara luar biasa di dalam dadanya. Bidan muda itu buru-buru menundukkan kepalanya dalam-dalam, pura-pura sibuk merapikan buku rekam medis untuk menyembunyikan wajahnya yang merona hebat.
Rangga Wira tertegun sejenak mendengarnya. Seulas senyum amat tampan dan penuh kepuasan hati terukir lebar di bibir tegas sang Ketua Adat. Ia tidak membantah ucapan anak-anak itu sedikit pun. Jemari kekarnya mengusap pelan mahkota bunga di kepalanya, lalu beralih menatap sosok Melani yang sedang salah tingkah di sebelahnya.
Dengan gerakan yang sangat lembut dan sarat akan kasih sayang, Rangga mengulurkan tangannya di bawah tikar, menyentuh dan menggenggam pelan jemari lentik Melani yang gemetar malu.
Melani tersentak tipis, mendongak pelan menatap Rangga. Dari samping, Rangga menatapnya dengan binar mata yang begitu dalam, membisikkan kata tanpa suara dari bibirnya: Suatu hari nanti... ucapan mereka akan menjadi kenyataan.
Genggaman tangan Rangga yang hangat serta sorot mata penuh ketulusan itu meluluhkan seluruh kepanikan Melani. Rasa hangat merayap memenuhi hatinya. Di teras Pustu yang sederhana itu, diiringi gelak tawa polos anak-anak desa dan semilir angin pagi yang sejuk, dua jiwa tersebut menikmati momen kebahagiaan paling murni yang pernah mereka miliki di tanah Hulu Rawa.
Bersambung..
kasih pelajaran lah buat Pak pramono tuuu... gemesssss
pasti lancar ya Thor 🤭