NovelToon NovelToon
Istri Albino Sang CEO

Istri Albino Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:692
Nilai: 5
Nama Author: QueenMardhiah

Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.

----------

Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.


Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.

----------

Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kembali Pulang

Sesampainya di samping mobil, Baskara langsung membuka pintu penumpang dengan kasar namun cukup lebar untuk memasukkan tubuh Yasmin.

"Masuk!" perintahnya singkat.

Yasmin naik dengan tertatih, tubuhnya masih gemetar hebat. Ia duduk di kursi empuk itu, menyelimutkan diri lebih rapat dengan hoodie milik suaminya yang kini menjadi satu-satunya sumber kehangatan baginya. Bau maskulin khas Baskara terasa begitu kuat, sedikit menenangkan rasa takutnya.

Baskara segera berkeliling ke sisi pengemudi, masuk dan membanting pintu lagi. Suasana di dalam mobil langsung hening, hanya terdengar suara mesin yang menyala halus dan suara hujan yang memukul atap mobil.

Pria itu tidak langsung menjalankan mobilnya. Ia menoleh tajam ke arah samping, menatap lekat-lekat wajah istrinya yang tertunduk lesu, basah kuyup, pucat dan gemetar.

"Lihat dirimu sekarang... seperti orang gila!" umpat Baskara lagi, tangannya mengambil handuk kecil yang ada di dasbor lalu melemparkannya kasar ke pangkuan Yasmin. "Seka badanmu! Keringkan rambutmu! Bodoh sekali! Hujan-hujanan begini pasti sakit!"

"Ma... af... Pak..." isak Yasmin pelan, tangannya gemetar mengambil handuk itu lalu menyeka wajah dan lehernya dengan gerakan lambat. "Saya... tidak sengaja..."

"Tidak sengaja apa?! Tidak sengaja tersesat atau tidak sengaja ingin mati kedinginan?!" Baskara memutar setir dengan keras, memutar balik arah mobil menuju ke apartemen dengan kecepatan yang cukup tinggi namun tetap terkontrol.

"Jawab aku! Kenapa bisa sampai di tempat sepi itu?! Kenapa tidak cari orang untuk bertanya jalan?!" tanyanya menuntut, matanya tetap fokus ke jalan tapi telinganya menunggu jawaban.

Yasmin tersentak, tangannya berhenti menyeka air.

"Sa... Saya takut... Pak..." jawabnya lirih, suaranya serak.

"Takut apa?! Takut setan atau takut diculik?! Kau ini wanita dewasa! Bukan anak kecil!"

"Sa... Saya takut orang tahu... kalau Saya istri Bapak...." cicit Yasmin pelan tapi jelas terdengar di telinga Baskara.

Tangan yang memegang setir itu seketika menegang. Baskara menoleh sekilas, melihat wajah Yasmin yang penuh ketakutan dan rasa rendah diri.

"Maksudmu?"

"Sa... Saya takut... kalau Saya tanya jalan, saya salah bicara dan malam mengaku saya istri Pak Baskara, Pak Baskara kan pengusaha terkenal... Bapak juga bilang agar tidak memberitahukan status kita pada orang lain... Nanti Bapak malu dan marah..."

Yasmin menunduk semakin dalam, air mata kembali menetes.

"Terus juga... Saya tidak hafal nama gedungnya... Saya cuma ingat warnanya putih dan kaca... Saya panik... terus saya lari... sampai akhirnya capek dan berhenti di situ..."

Baskara diam. Mulutnya yang tadi siap mengeluarkan umpatan lain, kini terkunci rapat. Jantungnya terasa ditampar keras oleh pengakuan istrinya.

Wanita itu tidak bertanya dan membiarkan dirinya kedinginan bukan karena bodoh atau keras kepala, tapi karena... dia takut mempermalukannya? Takut merusak nama baiknya? Dan takut jika sampai menyebutkan status mereka dan membuat Baskara murka lada akhirnya.

'Dasar bodoh... bodoh sekali...' batin Baskara menggerutu, tapi kali ini bukan karena marah, melainkan karena sebuah perasaan aneh yang menghangat di dadanya.

Selama ini orang-orang di sekitarnya hanya memikirkan keuntungan, jabatan, atau uang. Tapi wanita di sampingnya ini... dia rela menderita kedinginan, tersesat, dan ketakutan sendirian hanya demi menjaga harga dirinya?

"Kau ini..." Baskara mendengus pelan, suaranya tidak lagi sekeras tadi, nada marahnya perlahan luntur digantikan oleh nada kesal yang bercampur sayang. "Kepalamu ini isinya apa sih? Pusing Saya melihatnya."

Ia menyalakan pemanas mobil maksimal, mengarahkan angin hangat ke arah Yasmin.

"Sudah jangan menangis! Suara isakmu itu mengganggu pendengaran Saya!" bentaknya tapi pelan. "Dan mulai sekarang hafalkan alamat rumah dengan benar! Jangan sampai ada lagi kejadian memalukan seperti ini!"

"I... Iya Pak... Akan Saya hafalkan... " Sahut Yasmin terbata-bata, merasa sedikit lega karena suami sepertinya tidak akan memukul atau membentaknya terlalu keras lagi.

"Hm." Baskara mengangguk singkat.

Perjalanan dilanjutkan dalam keheningan yang tidak lagi mencekam. Sesekali terdengar suara desisan napas Yasmin yang masih menggigil dan suara batuk kecil yang ditahannya.

Mendengar suara batuk itu, alis Baskara kembali berkerut. Tangannya meraih selimut tebal yang ada di bagian belakang kursi, lalu melemparkannya ke tubuh Yasmin tanpa menoleh.

"Tutup badanmu rapat-rapat! Jangan sampai demam! Kalau sampai demam dan merepotkan Saya di apartemen, sungguh Saya tidak akan Sudi merawatmu!" ancamnya, tapi ancaman itu terdengar lebih seperti perhatian yang dipaksakan.

"Siap, Pak..." jawab Yasmin lemah, ia segera membungkus dirinya dengan selimut itu hingga tersisa hanya wajahnya yang terlihat.

Ia melirik sekilas ke arah wajah tampan suaminya yang terbayang cahaya lampu jalan. Wajah itu memang garang dan serius, tapi Yasmin tahu, di balik semua kemarahan itu, pria ini sudah melakukan hal paling luar biasa: mencarinya sampai malam, menjemputnya, dan melindunginya dari hujan.

"Ma... afkan Saya ya, Pak..." bisiknya pelan sekali, hampir tak terdengar.

Baskara tidak menjawab, tapi jempol kakinya sedikit mengurangi kecepatan mobil, memastikan perjalanan pulang kali ini lebih mulus dan nyaman bagi istrinya yang sedang sakit dan ketakutan.

*****>>>{}<<<*****

Sesampainya di lobi apartemen, Baskara tidak langsung memarkirkan mobilnya di basement, melainkan menurunkannya di depan pintu masuk utama.

"Tunggu di sini! Jangan bergerak!" perintahnya singkat sebelum turun dan berjalan cepat memutar ke sisi penumpang.

Ia membuka pintu, lalu tanpa basa-basi langsung menggendong tubuh mungil Yasmin keluar dari mobil. Yasmin yang kaget hanya bisa memejamkan mata dan memeluk leher suaminya erat-erat, menyembunyikan wajahnya di dada bidang pria itu. Bau tubuh Baskara yang hangat dan maskulin menjadi penenang baginya di tengah rasa dingin yang masih menyelimuti.

"Pak... Bapak... Saya bisa jalan kok..." cicitnya malu.

"Diam! Kakimu sudah bengkak dan lemas! Kalau sampai jatuh dan pingsan di sini, aku yang malas menggotongmu!" gertak Baskara, tapi tangannya justru semakin menguatkan gendongannya, memastikan Yasmin tidak akan terjatuh.

Ia berjalan cepat melewati lobi yang mewah dan sepi. Para satpam dan resepsionis yang melihatnya hanya bisa menunduk hormat, tak berani bertanya apa-apa melihat wajah bos mereka yang tampak sangat murka, karena tanpa diketahui Yasmin, Baskara adalah pemilik seluruh properti unit apartemen tersebut.

1
Santy 2a
semoga banyak yang baca semangat kak
QueenMardhiah: aamiin... terimakasih sudah mampir. jangan lupa follow juga ya 🙏🏻
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!