Suara tangisan bayi di ruang bersalin malam itu tidak membawa kebahagiaan bagi Husein. Bagi pria itu, jeritan napas pertama putri kecilnya adalah detik terakhir dari hembusan napas wanita yang paling dicintainya. Istrinya mengembuskan napas terakhir tepat setelah merenggang nyawa demi melahirkan sang buah hati.
"Namanya... Kirana Husein..." bisik Husein dengan suara bergetar, memeluk tubuh istrinya yang telah mendingin tanpa sedikit pun menatap bayi di dalam boks bayi.
Sejak hari itu, Kirana tumbuh bukan sebagai lambang cinta, melainkan sebagai bayangan duka yang teramat dalam bagi Husein. Setiap kali melihat wajah polos Kirana, yang terbayang di benak Husein hanyalah penderitaan dan kepergian istrinya. Rasa benci yang tidak adil mulai mengakar di dada Husein. Bagi Husein, kehadiran Kirana adalah alasan utama mengapa belahan jiwanya telah tiada.
Demi menjauhkan Kirana dari pandangannya, Husein mengirim putri tunggalnya itu ke sekolah asrama di tempat yang sangat jauh sejak usia K
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dendam Yang Membara
Setelah menyapukan tanda tangan megahnya di atas berkas tersebut, Devan sendiri yang mengantar Kirana sampai ke depan pintu ruang kerjanya. Sebelum pintu tertutup, Devan menyempatkan diri mengusap lembut puncak kepala Kirana, memberi dorongan semangat penuh kehangatan untuk sang istri.
Kirana merapikan kembali pakaiannya, memeluk berkas yang kini sudah ditandatangani, lalu melangkah menuju lift untuk kembali ke lantai 12. Langkah kakinya terasa begitu ringan, membawa rasa percaya diri yang berlipat ganda.
Sementara itu di lantai 12, suasana sempat tegang. Siska terus-menerus melirik ke arah pintu lift dengan senyum sinis yang tak sabar. Ia sudah membayangkan Kirana turun sambil menangis terisak-isak, membawa berkas yang ditolak, atau bahkan dikawal pengawal untuk diberhentikan saat itu juga.
Ting!
Pintu lift terbuka. Kirana melangkah keluar dengan anggun, memancarkan aura tenang yang sama sekali tidak menunjukkan raut wajah sedih atau tertekan. Justru sebaliknya, sebuah senyum kemenangan yang amat manis dan memikat terukir jelas di bibirnya.
Seluruh isi ruangan mendadak hening. Siska terperanjat dari duduknya, membelalak tak percaya melihat Kirana berjalan santai menghampiri mejanya.
"Ini berkasnya, Mbak Siska," ujar Kirana seraya menyerahkan stopmap tebal itu dengan gerakan yang sangat rapi dan elegan.
Siska menyambar berkas itu dengan tangan sedikit gemetar. Ketika ia membukanya, matanya hampir melompat keluar—tanda tangan resmi milik Devan Corp, bertinta emas dan lengkap dengan stempel privat sang CEO, tertera sempurna di halaman utama.
"B-bagaimana mungkin...?" gagap Siska dengan wajah pias, menatap lembaran itu dan Kirana secara bergantian. "Kau... bagaimana kau bisa mendapatkan tanda tangan Tuan Devan semudah ini?!"
Kirana menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kecerdikan. Ia memiringkan kepalanya sedikit, menatap Siska yang kini tampak pucat pasi.
"Tuan Devan sangat ramah dan efisien, Mbak Siska," bisik Kirana cukup pelan namun penuh penekanan. "Ternyata meminta tanda tangan beliau tidak seseram yang Mbak bayangkan. Lain kali, jika Mbak Siska ragu atau takut menghadapinya, berikan saja berkasnya padaku."
Siska bungkam seribu bahasa. Tenggorokannya terasa tercekat, tak mampu membalas satu kata pun. Rekan-rekan kerja di sekeliling mereka mulai berbisik-bisik, terkagum-kagum pada Kirana yang baru hari pertama bekerja namun sudah berhasil menyelesaikan tugas 'mustahil' dari Siska.
Kirana kembali duduk di meja kerjanya dengan tenang, menyalakan layarnya, dan mulai mengetik tugas pertamanya—meninggalkan Siska yang terpaku dalam rasa panik dan kekalahan telak.
Siska merebut berkas bertanda tangan emas itu dari meja Kirana lalu berbalik dengan hentakan kaki yang keras. Ia berjalan kembali ke mejanya di sudut ruangan dengan wajah yang memerah padam menahan malu dan amarah yang meluap-luap.
Setibanya di kursi, Siska melemparkan stopmap itu ke mejanya hingga menimbulkan suara cukup nyaring. Beberapa rekan kerja meliriknya, namun Siska hanya menatap mereka balik dengan sorot mata tajam yang membuat orang-orang kembali berpura-pura sibuk dengan layar komputer masing-masing.
Ia mengepalkan tangannya rapat-rapat hingga kukunya memutih. Matanya yang penuh kebencian melirik ke arah Kirana yang sedang fokus mengetik laporan di mejanya dengan tenang, seolah tidak pernah terjadi hal besar.
Kamu masih beruntung, Kirana. Tapi lihat saja nanti... ini baru hari pertama. Lain kali kamu pasti akan kalah! ucap Siska dalam hati dengan penuh pendar dendam.
Siska menyandarkan punggungnya, memutar otak mencari celah baru. Bagi Siska, keberhasilan Kirana mendapatkan tanda tangan Devan hanyalah sebuah kebetulan murni—mungkin Tuan Devan sedang dalam suasana hati yang baik, pikirnya mencoba menghibur diri.
Ia tidak akan membiarkan anak magang tanpa latar belakang yang jelas itu bersinar dan merebut posisi pusat perhatian di divisi ini. Siska bertekad akan memasang perangkap yang jauh lebih rapi dan mematikan di tugas-tugas berikutnya, sebuah jebakan yang dipastikannya tak akan bisa diloloskan lagi oleh Kirana.