NovelToon NovelToon
Menantu yang Diremehkan

Menantu yang Diremehkan

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Balas Dendam / Menantu Pria/matrilokal / Tamat
Popularitas:8.9k
Nilai: 5
Nama Author: Pelukis Mimpi

"Tiga tahun Surya Prasetyo hidup sebagai menantu yang diinjak-injak. Dicaci maki mertua, dihina saudara ipar, dijadikan budak dapur oleh istrinya sendiri.

Sampai malam itu—malam ulang tahun pernikahan ketiga—dia mendengar semuanya.

Istrinya selingkuh. Istrinya mengincar asuransi jiwa lima miliar. Istrinya sudah menjadwalkan dia sebagai donor ginjal paksa. Dan istrinya... sudah merencanakan kematiannya.

*""Genggam erat-erat tanganku, Pak. Karena ini terakhir kalinya.""*

Dari seorang laki-laki yang tidur di pinggir sungai, Surya bangkit. Lulus ujian advokat. Menghancurkan perusahaan mantan istri. Membangun kerajaan bisnis. Membuat semua orang yang pernah menginjak-injaknya... berlutut.

Tapi balas dendam hanyalah permulaan. Di balik semua ini, ada kekuatan yang jauh lebih besar yang mengawasi setiap langkahnya—dan rahasia terbesarnya tersembunyi di orang yang paling dia percaya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pelukis Mimpi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 35

Bab 35: Batas yang Tidak Terlampaui

Surya tidak langsung menjawab.

Di restoran hotel itu, musik piano terdengar lembut, pelayan bergerak tanpa suara, dan Surabaya malam hari berkilau di balik kaca. Tetapi di depan Surya, Diana Santoso yang biasanya tajam seperti bilah kini terlihat seperti orang yang baru saja kehilangan tiang terakhir di dalam dirinya.

"Bu Diana," kata Surya pelan, "kalau Ibu butuh ditemani supaya tidak sendirian, saya bisa duduk di ruang tamu kamar atau lobby. Tapi saya perlu tahu Ibu aman."

Diana tertawa kecil, pahit. "Bahkan saat aku kacau, kamu masih menyusun mitigasi risiko."

"Ibu yang mengajari saya."

Mereka naik ke lantai hotel tanpa banyak bicara. Kamar Diana adalah suite kecil dengan ruang tamu terpisah. Begitu pintu tertutup, Diana melepas blazer dan duduk di sofa, menutup wajah dengan kedua tangan.

Pertahanannya runtuh lewat napas yang patah.

"Aku bodoh," katanya. "Aku pikir setelah semua tahun ini, aku sudah selesai. Aku pikir kalau aku bekerja cukup keras, menang cukup banyak, menjadi cukup berguna, luka itu akan malu sendiri lalu pergi."

Surya berdiri beberapa langkah dari sofa. "Tidak ada luka yang pergi karena dipermalukan."

Diana menatapnya. Air mata sudah turun. Namun, matanya masih mencoba marah kepada dirinya sendiri.

"Dia dulu bilang aku terlalu ambisius. Terlalu keras. Terlalu sibuk. Katanya laki-laki butuh rumah, bukan ruang sidang." Ia tertawa lagi, kali ini lebih hancur. "Sekarang dia bertunangan dengan perempuan yang keluarganya punya grup rumah sakit. Ternyata dia tidak benci perempuan kuat. Dia hanya benci perempuan kuat yang tidak bisa dia pakai."

Surya mengambil gelas, menuang air putih, lalu menaruhnya di meja.

"Minum dulu."

Diana tidak mengambil gelas itu. Ia berdiri mendadak dan melangkah ke arah Surya. Sebelum Surya sempat mundur, ia memeluknya. Tubuhnya gemetar, wajahnya menempel di dada Surya.

"Kenapa..." suaranya pecah, "kenapa semua laki-laki yang aku cintai pergi?"

Surya mengangkat tangannya, berhenti di udara.

Ada banyak cara seorang pria bisa gagal dalam satu detik. Sebagian terlihat seperti kekerasan. Sebagian terlihat seperti kelembutan yang salah waktu.

Surya menarik napas, lalu memegang bahu Diana dengan hati-hati. Ia tidak mendorong kasar. Ia hanya menciptakan jarak yang cukup agar Diana bisa bernapas tanpa kehilangan martabat.

"Bu Diana," katanya lembut, "Ibu adalah guru terbaik yang pernah saya temui. Saya tidak akan memanfaatkan saat Ibu lemah. Itu bukan cara seorang murid."

Diana membeku.

Kalimat itu seperti memukul kesadarannya dari belakang. Ia melepas pelukan perlahan, mundur satu langkah, lalu mengusap wajahnya dengan jari yang masih gemetar.

"Bocah ini..." Ia tertawa kecil di antara sisa tangis. "Benar-benar gentleman sejati, ya."

"Saya sudah tidak terlalu bocah."

"Tetap saja menyebalkan."

"Itu bagian dari metode pendidikan Ibu juga."

Diana akhirnya mengambil gelas air. Ia minum sedikit, duduk kembali di sofa, lalu menunjuk kursi di seberangnya. "Duduk di situ. Jangan terlalu dekat. Kalau aku mulai bodoh lagi, lempar aku dengan bantal."

Surya duduk di kursi yang ditunjuk. "Baik."

Malam itu, mereka tidak membicarakan cinta seperti orang mabuk yang mencari alasan. Mereka membicarakan kegagalan, kesepian, dan harga yang dibayar perempuan seperti Diana untuk tidak tunduk kepada ukuran orang lain. Surya lebih banyak mendengar. Sesekali ia menjawab, pendek, tidak menggurui.

Menjelang pukul dua pagi, Diana sudah tenang.

"Kamu tahu apa yang paling memalukan?" tanyanya.

"Apa?"

"Aku hampir membiarkan laki-laki yang meninggalkanku bertahun-tahun lalu merusak sidang besok."

"Itu belum terjadi."

Diana menatap map perkara di meja. Matanya pelan-pelan kembali tajam. "Benar. Belum."

Pagi berikutnya, Diana masuk Pengadilan Niaga Surabaya seperti tidak pernah menangis. Rambutnya rapi, blazer biru gelapnya tegas, dan suaranya kembali dingin.

Adrian Mahesa menyerang sesuai dugaan.

"Yang Mulia, data uji yang ditampilkan pihak penggugat tidak dapat dijadikan dasar tunggal. Ada celah rantai penyimpanan. Kami meragukan apakah sampel yang disebut prototipe ketiga benar-benar berasal dari periode yang diklaim."

Diana berdiri.

"Kami sudah mengantisipasi keberatan itu."

Surya mengaktifkan layar.

Ia menampilkan log laboratorium Aruna, tanda tangan digital internal, bukti pengiriman sampel ke fasilitas uji independen di Sidoarjo, invoice kurir, rekaman CCTV area penerimaan barang, dan email mantan konsultan yang meminta akses file dua minggu sebelum ia pindah menjadi penasihat teknis pemasok Kencana.

"Data uji bukan berdiri sendiri," kata Surya. "Ia didukung jejak waktu, jejak akses, dan jejak perpindahan orang."

Diana melanjutkan dengan tenang. "Pihak tergugat ingin membuat perkara ini terlihat seperti perbedaan parameter teknis. Padahal inti sengketa ada pada akses ilegal terhadap proses riset yang belum dipublikasikan. Kalau seseorang menemukan hasil yang sama setelah melewati jalan yang sama, pada tanggal yang tepat setelah ia membuka pintu yang tidak boleh ia buka, maka itu bukan kebetulan ilmiah. Itu pencurian yang memakai jas laboratorium."

Beberapa orang di ruang sidang menahan napas.

Adrian mencoba menyerang lagi. "Tuduhan terhadap klien kami didasarkan pada asumsi."

Diana menoleh kepada majelis. "Maka izinkan kami memanggil saksi ahli dan saksi fakta tambahan. Selain itu, kami mengajukan bukti baru berupa korespondensi antara pemasok Kencana dan pihak bernama Rama Putra, yang bertindak tanpa terdaftar dalam surat kuasa. Namun, memberi arahan strategi kepada tim tergugat."

Surya melihat wajah Adrian berubah sepersekian detik.

Nama Rama Putra membuat beberapa orang di meja Kencana saling pandang.

Dalam sidang lanjutan yang dipercepat karena bukti teknis sudah lengkap dan pihak tergugat mulai terdesak, satu demi satu pertahanan Kencana runtuh. Saksi teknis mereka tidak bisa menjelaskan mengapa formula yang disebut independen mengandung kesalahan dari prototipe gagal Aruna. Pemasok mereka tidak bisa membantah pernah menerima file dari mantan konsultan Aruna. Dan ketika jejak pembayaran konsultasi dari rekening perantara yang terhubung ke orang Kevin muncul sebagai lampiran, ruang sidang berubah dingin.

Hakim tidak menghukum Kevin hari itu. Nama Kevin belum menjadi terdakwa, belum menjadi pihak langsung. Tetapi pola pengaruhnya terbuka cukup untuk membuat Kencana Abadi mundur dari sikap sombong.

Putusan memenangkan Aruna Biopak atas pelanggaran hak paten dan penyalahgunaan rahasia proses produksi. Kencana diperintahkan menghentikan produksi varian bermasalah, menarik stok dari distributor tertentu, membayar ganti rugi komersial bertahap, dan membuka audit terbatas atas jalur pemasok terkait.

Di luar ruang sidang, direktur Aruna menggenggam tangan Diana dan Surya.

"Kami hampir menyerah," katanya.

Diana menjawab datar, "Jangan biasakan menyerah sebelum bayar honor."

Surya menunduk agar tidak tertawa terlalu jelas.

Saat mereka masuk mobil menuju bandara, Wulan mengirim laporan singkat. Rama Putra pernah menjadi konsultan tidak resmi Kevin dalam beberapa proyek Perkasa. Jejak pembayarannya lewat vendor event dan rekening perantara. Belum cukup untuk perkara pidana. Namun, cukup untuk menunjukkan Kevin menggerakkan Kencana dari belakang.

Diana membaca laporan itu, lalu menyerahkan ponsel kembali.

"Kevin mulai kehilangan kesabaran."

"Berarti dia akan membuat kesalahan."

"Dan kamu akan menunggu dia membuat kesalahan itu?"

Surya menatap jalanan Surabaya. "Saya akan menyiapkan tempat jatuhnya."

Di pesawat kembali ke Jakarta, Diana duduk diam lama. Kali ini diamnya tidak rapuh. Lebih seperti seseorang sedang merapikan isi ruangan setelah badai.

Ketika pesawat menembus awan, ia berkata tanpa menoleh, "Surya... terima kasih. Bukan hanya untuk semalam. Tapi untuk mengingatkanku siapa aku."

"Saya hanya melakukan yang seharusnya."

"Tidak semua orang melakukan yang seharusnya ketika diberi kesempatan melakukan yang mudah."

Surya tidak membalas.

Diana menutup mata. Namun, sudut bibirnya naik sedikit. "Mulai minggu depan, aku akan buka jaringan klien restrukturisasi yang selama ini belum kuberikan kepadamu. Notaris, kurator, banker, valuator, semua. Kamu sudah cukup matang untuk masuk meja itu."

Surya menatapnya. "Itu berarti pekerjaan saya akan bertambah."

"Banyak."

"Saya menyesal bertanya."

"Bagus. Penyesalan adalah tanda kamu masih waras."

Surya tertawa pelan.

Di luar jendela, awan bergerak seperti lantai putih yang luas. Di dalam pesawat, hubungan guru dan murid itu telah melewati garis paling berbahaya tanpa mengotorinya.

Dan karena tidak dilewati, garis itu justru menjadi lebih kuat.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!