Jeslyn tidak percaya jika dirinya masuk kedalam cerita novel dan parahnya menjadi istri kedua yang tidak diceritakan dalam novel, ibu tiri dari pria yang diceritakan akan meninggal karena memperebutkan seorang wanita.
Jeslyn istri tidak diinginkan suaminya serta anak tirinya berniat mengubah takdir Lucian anak tirinya, siapa sangka niatnya hanya ingin menyelamatkan tokoh Lucian saja malah mendapatkan bonus jika suaminya malah jatuh cinta padanya dan juga Lucian yang bucin pada ibu tirinya.
Mampukah Jeslyn menyelamatkan Lucian dan mengubah takdir Lucian? Selamat Membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riri-can, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bekal Buat Lucian
Suasana dapur mansion yang biasanya sedingin kulkas industri kini mendadak berubah menjadi hiruk-pikuk yang aneh. Aroma tumis bawang, ayam goreng, dan wangi mentega memenuhi ruangan. Di tengah kepulan asap yang sedap, Jeslyn atau Jeje tengah berjoget kecil mengikuti irama lagu yang ia senandungkan sendiri.
"Dikit lagi... tambahin kecap manis, kasih sedikit cinta, terus... ta-da!" Jeje menyeka keringat di dahinya dengan punggung tangan, senyum lebarnya tak kunjung pudar.
Di sudut ruangan, dua orang pelayan berbisik-bisik, melirik Jeje dengan tatapan sinis.
"Lihat deh, Nyonya Jeslyn sudah gila ya? Biasanya bangun tidur cuma minta kopi sama kartu kredit, sekarang malah sibuk main masak-masakan," bisik salah satu pelayan.
"Cari muka kali," balas yang lain.
"Mau sok jadi ibu yang baik buat Tuan Muda Lucian, padahal kan dia yang bikin rumah tangga Tuan Keith berantakan."
Jeje mendengar jelas bisikan itu, tapi ia hanya memutar bola mata.
"Cari muka? Emang iya! Gue emang lagi cari muka sama Lucian, bukan sama kalian," batinnya geli. Ia tidak peduli dengan aib peran "pelakor" yang ia sandang. Baginya, mengubah nasib tragis Lucian adalah misi utama.
Tak lama, suara langkah kaki berat terdengar mendekat. Jeje menoleh dan matanya langsung berbinar. Lucian muncul di ambang pintu dapur. Remaja itu tampak berantakan kemeja seragamnya keluar dari celana, dasinya miring, dan rambut cokelatnya yang acak-acakan justru membuatnya terlihat seperti model majalah yang baru bangun tidur.
"Ganteng banget, ampun!" batin Jeje histeris.
"Selamat pagi, anak mami!" seru Jeje dengan nada ceria yang hampir memekakkan telinga.
Sontak, dapur yang tadi berisik karena gosip langsung hening. Para pelayan melongo, mulut mereka terbuka lebar. Lucian sendiri berhenti melangkah, matanya membelalak sedikit sebelum kembali ke ekspresi datarnya yang menusuk.
"Apa... apa kamu bilang?" tanya Lucian, suaranya sedingin es kutub.
"Anak mami! Kamu ganteng banget sih pagi ini, Lucian. Sini, sini, mami udah masak sarapan spesial!" Jeje melambai-lambaikan spatula dengan semangat.
Lucian menatap Jeje seolah wanita di depannya baru saja menelan alien.
"Drama apalagi yang kamu lakukan sekarang, Jeslyn?" tanyanya dingin, menekan nama Jeje dengan nada penuh peringatan.
"Drama? Enggak, ini murni kasih sayang seorang ibu!" Jeje berjalan mendekat, tapi Lucian malah melangkah mundur.
"Jangan panggil aku dengan sebutan itu. Kamu bukan ibuku. Kamu cuma orang asing yang merusak rumah ini." Lucian berbalik badan, berniat pergi meninggalkan dapur tanpa menghiraukan tawaran sarapan.
"Eh, tunggu!" Jeje tidak tinggal diam. Ia berlari kecil sebisanya, dengan perut buncit yang masih terasa sedikit aneh lalu menangkap lengan Lucian dengan mantap.
"Lepaskan!" perintah Lucian tegas.
"Nggak mau! Sebelum kamu ambil ini," Jeje menyodorkan sebuah lunch box berwarna merah muda terang yang dihiasi stiker kartun lucu di tutupnya.
Lucian menatap kotak bekal itu dengan pandangan jijik seolah bertanya "Apa itu?".
"Ini sarapan buat kamu. Kalau kamu nggak mau makan di rumah, setidaknya makanlah di sekolah. Aku yang masak sendiri, lho! Sumpah, tenang aja, itu nggak beracun. Aku nggak mungkin ngeracunin anak kesayangan aku sendiri, kan?" Jeje nyengir lebar.
Lucian menatap wajah Jeje, mencari kebohongan di sana. Namun, yang ia temukan hanya binar tulus yang aneh. Ia kembali menatap kotak bekal pink yang mencolok itu.
"Kamu benar-benar sudah gila."
"Mungkin iya, tapi aku gila karena sayang sama kamu," balas Jeje tanpa ragu sedikit pun.
"Semangat belajarnya ya, Lucian! Mami bakal tunggu kamu di rumah. Nanti sore kita main bareng, ya? Kamu mau main game? Atau nonton film? Aku punya banyak ide!"
"Aku tidak akan pulang cepat," ujar Lucian datar, lalu dengan gerakan kasar, ia menyambar kotak bekal pink itu dari tangan Jeje.
"Jangan berharap banyak!"
Lucian berjalan pergi dengan langkah lebar, menyisakan Jeje yang masih berdiri di tengah dapur dengan wajah berseri-seri. Ia memperhatikan punggung Lucian sampai remaja itu menghilang di balik pintu besar mansion.
"Tadi dia bilang nggak mau, tapi akhirnya diambil juga," gumam Jeje sambil menahan tawa.
"Duh, Lucian, kamu itu sebenarnya manja ya kalau dilihat dari dekat."
Salah satu pelayan memberanikan diri mendekat. "Nyonya... apa Anda tidak merasa aneh dengan diri Anda sendiri? Tuan Muda Lucian tidak pernah suka diganggu."
Jeje menoleh, tersenyum lebar hingga matanya menyipit. "Kalian denger ya, mulai hari ini, kehidupan di mansion ini bakal berubah total. Kalau Lucian nggak suka diganggu, berarti dia harus belajar suka. Karena aku nggak bakal berhenti sampai dia merasa bahagia di rumah ini."
Jeje kembali ke mejanya, mengambil sisa keripik singkong yang sempat ia beli kemarin.
"Hmm, besok harus masak apa ya buat dia? Bento karakter? Atau nasi goreng pelangi?"
Sementara itu, di koridor panjang menuju pintu keluar, Lucian berhenti sejenak. Ia menatap kotak bekal berwarna merah muda di tangannya dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia mendengus pelan, seolah ingin membuang kotak itu, tapi tangannya justru memegangnya lebih erat.
"Wanita aneh," gumamnya, namun sudut bibirnya yang dingin nyaris hanya nyaris terangkat sedikit.
Jeje di dapur masih asyik dengan dunianya sendiri, tidak menyadari bahwa satu tindakan "cari muka" yang ia lakukan barusan telah menanamkan satu benih kecil rasa bingung di hati sang anak tiri yang dingin. Baginya, ini adalah awal dari perubahan besar yang akan menyelamatkan nyawa Lucian dari alur cerita yang tragis.
"Satu langkah buat Lucian, satu langkah buat perubahan takdir!" seru Jeje pelan, menutup sarapannya dengan segelas susu cokelat penuh kemenangan.
Bersambung...
Semoga kalian suka ya, jangan lupa untuk tinggalkan jejak kalian.