Kanaya Leticia Clarissa hanya ingin masa SMA-nya berjalan tenang tanpa gangguan. Namun, kecantikannya yang mencolok justru menjadikannya target perundungan oleh senior OSIS yang iri. Di tengah ketakutan itu, Alden Arsenio Malik—sang Ketua OSIS yang dikenal sempurna dan dingin—datang mengulurkan tangan. Letta mengira itu adalah sebuah perlindungan, tanpa menyadari bahwa di balik tatapan tegas Alden, ada obsesi gelap dan posesif yang siap mengurung seluruh hidupnya.
"Kamu aman di sini, Letta. Tapi ingat, kamu hanya milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nalara amora, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
pusat perhatian di aula
Begitu punggung tegap Alden menghilang di balik pintu besar aula, keheningan di antara kedua gadis itu pecah seketika.
Marsha langsung berbalik, mencengkeram kedua bahu Aleta dan menggoyang-goyangkannya dengan heboh. Wajahnya memerah padam dengan mata yang berbinar-binar penuh histeria yang tertahan.
"Gila! Gila! Demi apa?! Aleta, kamu barusan ditolongin sama Kak Alden?!" seru Marsha setengah berbisik dengan nada yang sangat antusias.
"Ya ampun, dari dekat ternyata dia ganteng banget! Sumpah, ketampanannya nggak manusiawi, kayak keluar dari komik!"
Aleta yang bahunya masih digoyang-goyang hanya bisa pasrah dengan kepala yang sedikit pusing.
"Eh... iya, Sa. Tapi dia menyeramkan—"
"Menyeramkan gimana? Dia bahkan rela nganterin nametag kamu yang ketinggalan!" potong Marsha, masih tidak percaya dengan kejadian barusan.
"Padahal rumornya Kak Alden itu kejam banget dan nggak peduli sama sekali sama anak baru. Tapi barusan? Dia malah nyamperin kamu! Kamu kok bisa kenal dia, sih?"
Aleta meringis pelan, buru-buru memasang kembali nametag kardus itu ke lehernya. Ia tidak mungkin menceritakan kejadian di UKS tadi, di mana sang Ketua OSIS sempat mengunci pintu dan membelai lehernya dengan tatapan mematikan. Bisa-bisa Marsha makin histeris atau malah mengira yang tidak-tidak.
"Enggak kok, nggak kenal. Cuma kebetulan aja tadi pagi aku pingsan di lapang, jadi dia tahu," kilah Aleta mencoba mencari alasan paling aman. "Udah yuk, mending kita masuk sekarang sebelum diamuk lagi sama dia di dalam."
💽💽💽
Krieeek...
Suara pintu besar aula yang dibuka perlahan terasa begitu nyaring di tengah keheningan ruangan yang luas itu. Begitu kaki Aleta dan Marsha melangkah masuk, atmosfer di dalam aula seketika berubah.
Ratusan pasang mata yang semula fokus ke depan, serempak menoleh. Semua orang langsung menyorot tajam ke arah mereka berdua karena menjadi murid yang datang paling akhir—meskipun secara waktu mereka sama sekali tidak terlambat. Bisik-bisik miring tentang insiden pingsannya Aleta pagi tadi kembali berdengung riuh di seisi ruangan.
Ditatap oleh ratusan orang sekaligus membuat nyali Aleta menciut seketika. Ia refleks menundukkan kepalanya dalam-dalam, meremas ujung kaos olahraganya dengan pasrah, siap membiarkan dirinya kembali menjadi bahan gunjingan.
Namun, di sampingnya, Marsha menunjukkan reaksi yang berbanding terbalik.
Bukannya ciut atau ikut menunduk kikuk, Marsha justru menegakkan bahunya dengan tegas. Sifatnya yang pemberani dan cenderung cuek membuat gadis itu sama sekali tidak gentar. Mengerti bahwa sahabat barunya sedang ketakutan, Marsha dengan sengaja menggeser posisi berdirinya sedikit ke depan, sengaja memposisikan dirinya sebagai tameng untuk menutupi tubuh Aleta dari sorotan mata yang menghakimi.
Sambil memeluk map dokumennya, Marsha mengedarkan pandangan dengan berani, membalas satu per satu tatapan sinis dari murid-murid di sekitar mereka dengan pandangan menantang seolah berkata, 'Apa lihat-lihat? Ada yang salah?'
"Nggak usah didengerin. Anggap aja mereka semua patung pajangan," bisik Marsha santai tanpa menurunkan kepalanya sedikit pun. Ia kemudian menggenggam tangan Aleta yang dingin, menariknya dengan langkah tegap membelah barisan murid baru demi mencari tempat duduk.
Tindakan berani Marsha yang terang-terangan melindunginya membuat Aleta tertegun, Ada rasa hangat dan haru yang mendalam di hati Aleta. Di saat semua orang menjauhinya, Marsha justru berdiri paling depan untuk membelanya.
langkah tegap Marsha mendadak terhenti ketika sebuah suara bariton yang berat dan dingin menggema dengan sangat berwibawa melalui pengeras suara dari arah depan aula.
"Leticia. Marsha. Kenapa masih berdiri di sana? Cepat masuk barisan."
Aleta tersentak. Suara itu... Alden sudah berdiri tegak di atas podium depan aula, menatap lurus ke arah mereka berdua dengan mikrofon di tangannya.
Meskipun Marsha adalah gadis yang berani dan tidak gentar menghadapi tatapan murid satu angkatannya, aura kepemimpinan Alden sebagai Ketua OSIS ternyata memiliki level intimidasi yang berbeda. Mendengar suara bariton Alden yang begitu dingin dan tegas bergema lewat pengeras suara, Marsha tidak bodoh untuk memantik masalah dengan senior nomor satu di sekolah itu.
Nyali Marsha yang tadinya berkobar seketika mengempis. Tanpa berniat membantah sepatah kata pun, Marsha langsung menurut.
Sambil tetap menggandeng erat tangan Aleta, Marsha menarik gadis itu dengan langkah cepat menuju barisan tengah yang masih menyisakan dua tempat duduk kosong. Mereka berdua segera mendudukkan diri di lantai aula, berusaha melebur dengan ratusan peserta MPLS lainnya agar tidak lagi menjadi pusat perhatian.
Setelah pantatnya mendarat dengan aman di lantai, Marsha mengembuskan napas panjang yang sejak tadi ditahannya. Ia menyenggol lengan Aleta pelan sambil berbisik lirik,
"Gila,... suaranya Kak Alden lewat mic barusan bikin merinding banget. Aura galaknya langsung keluar."
Aleta hanya bisa mengangguk pelan sebagai jawaban. Tangannya bergerak merapikan letak nametag kardus di dadanya, sementara matanya melirik sekilas ke arah podium di depan.
Di atas sana, Alden tampak menurunkan mikrofonnya sejenak. Tatapan mata elangnya sempat tertuju lurus ke posisi duduk Aleta selama beberapa detik—memastikan gadis itu benar-benar menuruti perintahnya—sebelum akhirnya sang Ketua OSIS kembali mengedarkan pandangan ke seluruh aula untuk memulai penyampaian aturan sekolah.
Debaran di dada Aleta masih belum sepenuhnya reda. Berada di dalam satu ruangan yang sama dengan Alden, ditambah fakta bahwa cowok itu memegang kendali penuh di depan sana, membuat jam terakhir MPLS ini terasa akan berjalan sangat panjang bagi Aleta.
💽💽💽
Setelah hampir Tiga puluh menit suasana aula diliputi keheningan karena semua murid baru mendengarkan dengan serius poin-poin regulasi sekolah, Alden akhirnya menjauhkan sedikit mikrofon dari bibirnya. Ia melirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangannya sejenak.
"Itu tadi beberapa aturan poin krusial mengenai kedisiplinan, seragam, dan atribut selama kalian bersekolah di sini," suara Alden kembali menggema, terdengar mutlak dan tak terbantahkan.
"Sekarang, saya buka sesi tanya jawab. Kalau ada aturan yang kurang jelas, silakan angkat tangan."
Suasana aula mendadak senyap. Murid-murid baru saling lirik, sebagian besar terlalu takut untuk membuka suara di depan Ketua OSIS yang terkenal kejam itu.
keheningan itu tidak bertahan lama. Di samping Aleta, Marsha dengan percaya diri langsung mengacungkan tangannya tinggi-tinggi ke udara. Tindakan berani Marsha itu tak pelak membuat beberapa murid di sekitar mereka menoleh kaget.
"Ya, Marsha yang di barisan tengah. Sebutkan nama dan gugus," ucap Alden datar, matanya langsung tertuju ke arah Marsha—dan otomatis, ke arah Aleta yang duduk tepat di sebelahnya.
Marsha berdiri dengan tegap.
"Saya Marsha adinta dari Gugus Dua, Kak. Saya mau tanya soal poin keterlambatan. Kalau ada murid yang terlambat karena alasan darurat atau urusan medis, apakah jenis hukumannya akan tetap disamakan dengan mereka yang sengaja terlambat?"
Mendengar pertanyaan Marsha, jantung Aleta langsung mencelos. Ia tahu betul pertanyaan itu merujuk pada kasus dirinya yang terlambat pagi tadi karena insiden tak terduga. Aleta refleks menarik-narik ujung baju olahraga Marsha, memberi kode agar temannya itu tidak memancing singa yang sedang tidur.
Di atas podium, Alden sempat diam selama beberapa detik. Tatapan matanya yang tajam beralih dari Marsha, lalu turun dan mengunci tepat pada manik mata Aleta yang sedang menunduk cemas. Garis wajah Alden terlihat mengeras, namun sebuah senyuman tipis yang sangat samar terukir di sudut bibirnya.
"Sanksi keterlambatan berlaku mutlak untuk siapa saja, tanpa terkecuali," jawab Alden tenang namun penuh penekanan, matanya masih belum lepas dari Aleta.
"Alasan medis atau apa pun bukan kelonggaran untuk melanggar aturan di hari pertama. Tapi..." Alden menggantung kalimatnya sengaja, membuat seisi aula menahan napas.
"Panitia dan OSIS masih punya kebijakan untuk memberikan 'hukuman alternatif' yang disesuaikan dengan kondisi fisik murid yang bersangkutan. Tentu saja, jenis hukumannya ditentukan langsung oleh saya selaku Ketua OSIS. Jelas, Marsha?"
Marsha mengangguk tegas.
"Jelas, Kak. Terima kasih jawabannya."
Begitu Marsha kembali duduk di sampingnya, Aleta rasanya ingin menghilang saat itu juga dari muka bumi. Kalimat 'hukuman alternatif yang ditentukan langsung oleh saya' yang diucapkan Alden barusan jelas-jelas adalah sindiran maut yang ditujukan khusus untuk dirinya.
💽💽💽
Teeet...! Teeet...!
Suara bel panjang yang menandakan berakhirnya hari pertama MPLS akhirnya berbunyi, menggema ke seluruh penjuru aula. Suara itu terdengar seperti musik paling indah di telinga Aleta. Rasa tegang yang menjerat dadanya sejak tadi seketika menguap, berganti dengan rasa lega yang luar biasa.
"Oke, materi hari ini selesai. Kalian dibubarkan. Langsung pulang ke rumah masing-masing, jangan ada yang nongkrong atau membuat keributan di luar gerbang sekolah," tegas Alden menutup sesi siang itu lewat mikrofon.
Begitu kalimat Alden selesai, suasana aula yang tadinya tertib langsung berubah riuh. Ratusan murid baru serempak berdiri, mengobrol heboh sembari merapikan barang-barang mereka ke dalam tas.
"Asyik, akhirnya pulang juga! Sumpah, kaki aku udah pegal banget duduk di lantai," seru Marsha riang, langsung menyandang tas ranselnya dan membantu Aleta berdiri.
Aleta tersenyum tipis, mengangguk setuju sembari membersihkan debu yang menempel di celana olahraganya.
"Iya, Sa. Akhirnya selesai juga hari ini."
"Yuk, langsung keluar! Kita harus buru-buru sebelum gerbangnya penuh sesak sama angkutan atau jemputan," ajak Marsha antusias.
Marsha kemudian merangkul lengan Aleta dengan akrab, menuntun sahabat barunya itu membelah kerumunan murid lain yang mulai berdesakan menuju pintu keluar aula. Aleta hanya menurut, berjalan cepat di samping Marsha tanpa berani menoleh lagi ke arah podium depan—takut kalau-kalau matanya harus kembali bertubrukan dengan tatapan intimidasi dari sang Ketua OSIS.
Fokus Aleta saat ini hanya satu: keluar dari lingkungan sekolah ini secepat mungkin dan mengistirahatkan tubuhnya yang lelah.
Suasana di dekat pintu keluar aula mendadak berubah seperti pasar malam. Ratusan murid saling berdesakan, menciptakan kerumunan padat yang membuat langkah kaki Aleta dan Marsha tersendat. Mereka berdua terpaksa ikut berhimpit-himpitan di tengah riuhnya lautan manusia yang berebut ingin segera pulang.
"Sabar, bentar lagi kita nyampe pintu!" teriak Marsha sedikit keras agar suaranya tidak tenggelam di antara kebisingan.
tepat saat Aleta baru saja melangkah selangkah lagi, sebuah cengkeraman tangan yang kuat dan hangat mendadak mengunci pergelangan tangan kanannya. Sebelum Aleta sempat menyadari apa yang terjadi, tubuh mungilnya ditarik agak paksa ke arah berlawanan, keluar dari jalur kerumunan.
Aleta tersentak kaku. Rasa kaget membuat jantungnya mencelos.
"Eh?!"
Marsha yang merasakan rangkulan lengannya terlepas langsung menoleh ke belakang dengan cepat. Matanya membelalak sempurna saat melihat siapa oknum yang dengan berani menarik tangan Aleta di tengah keramaian itu.
Alden. Cowok itu berdiri menjulang dengan wajah sedingin es, mencengkeram pergelangan tangan Aleta tanpa memedulikan tatapan bingung dari beberapa murid di sekitar mereka yang menyadarinya.
Aleta menatap Marsha dengan mata melebar, menyuarakan tanda permintaan tolong yang sangat jelas lewat ekspresi wajahnya yang panik. 'Marsha, tolongin aku!' jerit Aleta dalam hati.
begitu Marsha menyadari bahwa sang Ketua OSIS-lah yang sedang memegang kendali, nyali badass gadis itu langsung menguap entah ke mana. Alih-alih menarik balik tangan Aleta atau melayangkan protes, Marsha justru mundur satu langkah dengan kikuk.
Sambil memamerkan cengiran bersalah, Marsha buru-buru mengangkat tangan kirinya dan melambaikan tangan pasrah pada Aleta.
"D-Duluan ya, Ta! Dadah... semangat!" cicit Marsha tanpa bersalah, lalu dengan gerakan kilat langsung berbalik dan melebur hilang di dalam kerumunan murid yang keluar aula.
Aleta melongo tidak percaya. Sahabat baru yang digadang-gadang akan menjadi tamengnya itu ternyata langsung kabur meninggalkannya di kandang macan.
Aleta kini benar-benar sendirian. Perlahan, ia memutar lehernya dengan kaku, mendongak untuk menatap wajah Alden yang kini tengah menunduk, menatapnya dengan sepasang mata elang yang mengunci seluruh pergerakannya.
💽💽💽
"Eh... Kak Ketua Senior? Ada apa ya?" tanya Aleta dengan nada suara yang dibuat sepolos mungkin, lengkap dengan kombinasi panggilan formal yang terdengar agak konyol di telinga.
Ia bahkan sengaja menggoyangkan sedikit pergelangan tangannya yang masih berada dalam cengkeraman Alden, memberi kode halus agar cowok itu melepaskannya. "Tangan saya sakit, Kak. Hehe..." cicitnya lagi, mencoba peruntungan dengan tawa canggung.
Alden tidak langsung menjawab. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Aleta, membaca kepura-puraan yang terpampang jelas di wajah gadis di depannya. Bukannya melepaskan cengkeramannya, Alden justru sedikit mempererat genggamannya—tidak sampai menyakiti, tapi cukup kuat untuk menegaskan bahwa Aleta tidak akan bisa kabur ke mana-mana.
Sudut bibir Alden terangkat sedikit, membentuk senyuman tipis yang terlihat misterius sekaligus berbahaya. Ia sedikit merundukkan tubuhnya, memangkas jarak di antara mereka hingga Aleta bisa mencium lamat-lamat aroma parfum maskulin yang menguar dari tubuh cowok itu.
"Sok polos," bisik Alden dengan suara rendahnya yang berat, langsung menembak tepat pada sasaran hingga senyum palsu di wajah Aleta seketika luntur.
"Kamu pikir kamu bisa pulang begitu saja dengan tenang, Leticia?"
Aleta langsung bungkam. Senyum kaku di wajahnya lenyap seketika, digantikan oleh ringisan pelan saat menyadari bahwa pesona sok polosnya sama sekali tidak mempan pada cowok di hadapannya ini.
Alden menegakkan kembali tubuhnya, namun matanya masih mengunci Aleta dengan lekat. "Kamu punya ingatan yang pendek, atau pura-pura amnesia?" tanya Alden dingin, nadanya terdengar sangat menyebalkan di telinga Aleta.
"K-Kak, kan tadi saya udah ikut materi di aula sampai selesai. Nggak telat lagi," bela Aleta, mencoba mencari pembenaran dengan suara yang agak mencicit.
"Itu materi umum. Urusan kamu sama saya belum selesai," potong Alden cepat dan mutlak. Cowok itu melepaskan cengkeraman tangannya di pergelangan tangan Aleta, lalu beralih melipat kedua tangannya di depan dada, menatap Aleta dari atas ke bawah.
"Saya sudah bilang di UKS tadi, kan? Kamu masih punya utang hukuman pengganti karena sudah bikin kekacauan di hari pertama MPLS. Dan berhubung sekarang bel pulang sudah bunyi..." Alden sengaja menggantung kalimatnya, membuat jantung Aleta kembali berdegup kencang karena firasat buruk.
"...sekarang waktunya kamu bayar utang itu."
Aleta membelalakkan matanya. "Hah? Sekarang, Kak? Tapi kan ini udah jam pulang sekolah!" protes Aleta refleks, melupakan sejenak statusnya yang merupakan seorang murid baru yang tidak punya power di hadapan Ketua OSIS.
"Nggak ada bantahan," jawab Alden mutlak tanpa ekspresi. "Ikut saya sekarang."
Aleta baru saja hendak membuka mulut untuk kembali melayangkan protes, namun urung saat melihat Alden tiba-tiba mengernyitkan alisnya. Cowok itu menatap Aleta dengan pandangan tidak suka, seolah ada sesuatu dari ucapan Aleta tadi yang mengganggu pendengarannya.
"Dan satu lagi," potong Alden sebelum Aleta sempat bersuara. Tatapannya menajam. "Jangan panggil saya dengan sebutan konyol itu."
Aleta mengerjap bingung, otaknya mendadak lemot karena dilanda panik dan lelah.
"Hah? Sebutan konyol apa, Kak?"
"Kakak Ketua Senior," beo Alden dengan nada datar, menirukan ucapan sok polos Aleta tadi dengan penekanan yang terdengar sangat menyindir.
"Panggilan itu aneh. Dan saya punya nama."
Aleta menelan ludah, meremas tali ranselnya dengan canggung. Ya lagian, siapa juga yang nggak takut sama lo sampai harus mikirin panggilan yang estetik? gerutu Aleta dalam hati.
"Y-ya... terus saya harus panggil apa, Kak?" tanya Aleta akhirnya, menyerah.
Alden maju selangkah, membuat Aleta otomatis mundur hingga punggungnya nyaris membentur pilar aula. Cowok itu menunduk sedikit, menatap lurus ke dalam manik mata Aleta dengan intensitas yang sanggup membuat pasokan udara di sekitar mereka terasa menipis.
"Alden," ucap cowok itu pendek, suaranya berat dan terdengar begitu mutlak.
"Panggil nama saya. Alden. Jelas, Leticia Kanaya Clarisa?"
Mendengar namanya sendiri disebut dengan nama panjang begitu intim oleh cowok paling berkuasa di sekolah ini, bulu kuduk Aleta seketika meremang. Jantungnya berkhianat, berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya. Sambil menahan napas, Aleta akhirnya mengangguk pasrah.
"I-iya, Kak Alden..." cicit Aleta pelan, hampir menyerupai bisikan.
Alden kembali menegakkan tubuhnya, tampak puas dengan kepatuhan gadis di depannya meskipun wajahnya masih sedingin es.
"Bagus. Sekarang, bawa tas kamu dan ikut saya."
💽💽💽
Di sudut aula yang lain, dekat pintu keluar khusus panitia, sekelompok anggota OSIS angkatan atas rupanya sedang memperhatikan mereka dengan saksama.
Di antara kerumunan panitia itu, berdiri Felicia.
Gadis cantik dengan bando merah yang menghiasi rambut panjangnya itu menatap ke arah Alden dan Aleta dengan rahang yang mengeras. Kedua tangannya yang memegang papan jalan terkepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya memancarkan rasa tidak suka dan cemburu yang amat kentara saat melihat bagaimana Alden memperlakukan murid baru itu dengan sangat intens—bahkan sampai mengunci pergerakannya di pilar aula.
Bukan rahasia lagi di kalangan pengurus OSIS dan anak-anak seangkatan mereka, kalau Felicia sudah lama menaruh hati pada Alden. Felicia bahkan sudah beberapa kali mengungkapkan perasaannya secara terang-terangan di depan umum. Namun, setiap penolakan dingin dari Alden tidak pernah membuat gadis itu mundur. Melihat Alden yang biasanya tak tersentuh kini justru menginisiasi kontak fisik dengan seorang siswi baru, tentu saja membuat hati Felicia terbakar hebat.
"Wah, wah... pemandangan langka macam apa ini?"
Sebuah suara kekehan santai terdengar dari sebelah Felicia. Farhan, cowok jangkung yang merupakan sahabat dekat sekaligus tangan kanan Alden di OSIS, menyandarkan tubuhnya ke dinding sembari melipat tangan di dada.
Bukannya merasa keberatan atau terganggu seperti Felicia, wajah Farhan justru dipenuhi senyuman lebar yang usil. Ia tampak sangat kesenangan melihat pemandangan di depan sana, seolah baru saja menemukan tontonan yang sangat menghibur.
"Ternyata es kutub utara kita bisa meleleh juga kalau sama dedek gemes yang itu," sindir Farhan sengaja, melirik Felicia dari sudut matanya dengan nada memprovokasi.
"Farhan, diam ya. Nggak lucu," desis Felicia tajam, suaranya sarat akan kekesalan sebelum akhirnya ia berbalik badan dan melangkah pergi dengan hentakan kaki yang kesal, meninggalkan area aula dengan hati yang dongkol.
Farhan hanya mengedikkan bahu acuh, lalu kembali menatap ke arah Alden dan Aleta yang kini mulai berjalan meninggalkan aula. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya gemas, Farhan bergumam pelan, "Menarik juga. Kayaknya MPLS tahun ini nggak bakal ngebosenin."
💽💽💽
Aduhhh Aleta mau di bawa ke mana yaaa😅